GlitterFly.com - Customize and Share your images

KONSEP KELUARGA

Konsep keluarga bukan lagi kaku secara teori konvensional bahwa keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak kandung.

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dalam suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. (depkes RI 1998)

Fungsi keluarga menurut WHO

  • Fungsi biologis
  • Fungsi psikologis
  • Fungsi sosial budaya
  • Fungsi sosial ekonomi
  • Fungsi pendidikan

Single parent adalah seorang ayah atau seorang ibu yang memikul tugasnya sendiri sebagai kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga.

Penyebab single parent

  • Perceraian
  • Kematian
  • Kehamilan diluar nikah
  • Bagi seorang wanita atau laki-laki yang tidak mau menikah, kemudian mengadopsi anak orang lain (majalah ayah bunda)

dampak single parent dikaitkan dengan fungsi keluarga :

  • Fungsi seksual dan reproduksi
  • Fungsi sosialisasi
  • Fungsi ekonomi
  • Fungsi budaya
  • Fungsi edukasi
  • Fungsi agama
  • Fungsi perlindungan

Hal-hal yang perlu dilakukan oleh single parent

  1. Keterbukaan

Menyandang status single parent (janda/duda) sebenarnya bukanlah suatu hal yang harus ditutup-tutupi. Ketika masyarakat menilai status itu dengan prasangka negatif, sebagian orang justru bisa menunjukan bahwa menjadi single parent justru bukan sesuatu yang buruk.

  1. Mengisi waktu

Sebagai manusia biasa, kehilangan pasangan hidup bisa menimbulkan rasa kesepian, rasa kesendirian yang mendalam biasanya muncul ketika dia sedang dilanda masalah.

  1. Membuka diri untuk masa depan

Berbagi cerita dengan orang-orang yang bernasib sama adalah salah satu terapi yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan psikologis. Kegiatan ini juga dilakukan oleh mereka yang tidak siap menjalani statusnya sebagai single parent (janda/duda). Melalui komunitas berbagi ini mereka dapat membuka diri untuk pergaulan meski tetap masih memilih-milih teman.

Hal-hal yang harus diperhatikan oleh single parent berkaitan dengan anaknya

  • Selain berharap ayah dan ibunya berumur panjang, anak-anak mengharapkan kedua orang tuanya itu senantiasa hadir ditengah-tengah mereka
  • Terjadinya kesepahaman antara suami dan isteri dalam berbagai hal yang berhungan dengan kehidupan pribadi dapat berpengaruh pada diri anak
  • Terdapatnya sistem dan aturan yang sama dalam membina rumah tangga dan mendidik anak bukan berarti meniadakan sistem dan aturan yang lain
  • Tersedianya berbagai perlengkapan rumah tangga tentunya untuk kehidupan yang wajar dan tidak bermegah-megahan
  • Adanya rasa kasih sayang yang bersumber dari keyakinan dan keimanan, inilah yang akan mempersatukan suami dan isteri dengan anggota keluarga yang lain

Dilema anak

Selain berbagi kiat cara menghadapi stigma sosial, komunitas tersebut juga dapat saling memberikan masukan tentang bagaimana menjadi orang tua tunggal, untuk selalu terbuka dengan anaknya dalam berbagai masalah.

Mental anak

  • Ketidakhadiran ayah bagi anak perempuan tidak memberi dampak yang besar dibandingkan dengan ketidakhadiran ayah pada anak laki-laki.
  • Jangan mengevaluasi anak dengan kata-kata yang negatif sehingga anak-anak kehilangan kepercayaan diri
  • Libatkan dia dengan lingkungan keluarga yang memiliki anak laki-laki dan izinkan dia untuk mengambil keputusan atas nama dan untuk dirinya sendiri

Dampak single parent bagi perkembangan anak

  • Tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik sehingga anak kurang dapat berinteraksi dengan lingkungan, menjadi minder dan menarik diri
  • Pada anak single parent dengan ekonomi rendah, biasanya nutrisi tidak seimbang sehingga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan terganggu
  • Single parent kurang dapat menanamkan adat istiadat dan murung dalam keluarga, sehingga anak kurang dapat bersopan santun dan tidak meneruskan budaya keluarga, serta mengakibatkan kenakalan karena adanya ketidakselarasan dalam keluarga
  • Dibidang pendidikan, single parent sibuk untuk mencari nafkah sehingga pendidikan anak kurang sempurna dan tidak optimal
  • Dasar pendidikan agama pada anak single parent biasanya kurang sehingga anak jauh dari nilai agama
  • Single parent kurang bisa melindungi anaknya dari gangguan orang lain, dan bila dalam jangka waktu lama, maka akan menimbulkan kecemasan pada anak atau gangguan psikologis yang sangat berpengaruh pada perkembangan anak

Dampak single parent terhadap ibu

  • Beban ekonomi
  • Fungsi seksual dan reproduksi
  • Hubungan dalam interaksi sosial

Ciri keluarga single parent yang berhasil

  • Menerima tantangan yang ada selaku single parent dan berusaha melakukan dengan sebaik-baiknya
  • Pengasuhan anak merupakan prioritas utama
  • Disiplin diterapkan secara konsisten dan demokratis, orang tua tidak kaku dan tidak longgar
  • Menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan pengungkapan perasaan
  • Mengakui kebutuhan untuk melindungi anak-anaknya
  • Membangun dan memelihara tradisi dan ritual dalam keluarga
  • Percaya diri selaku orang tua dan independent
  • Berwawasan luas dan beretika positif
  • Mampu mengelola waktu dan kegiatan keluarga

6 karakter dalam keluarga single parent yang prima

  • Adanya kualitas waktu yang dihabiskan bersama dalam anggota keluarga.
  • Memberikan perhatian lebih, termasuk dalam hal-hal kecil, seperti meninggalkan pesan yang melukiskan perhatian dari orang tua
  • Keluarga yang prima adalah keluarga yang saling komitmen satu sama lainnya
  • Menghormati satu sama lain, contohnya : dengan mengucapkan atau mengekspresikan rasa sayang kepada anak-anak, mengucapkan terima kasih pada saat anak-anak selesai melakukan tugas yang diberikan
  • Kemampuan berkomunikasi penting dalam membangun keluarga yang prima
  • Kondisi krisis dan stress dianggap sebagai tahapan kesempatan untuk terus berkembang

Pentingnya konseling agar dapat :

  • Menyesuaikan diri terhadap lingkungan
  • Penerimaan ibu dan anak dalam lingkaran keluarga
  • Masuk dalam lingkungan keluarga/masyarakat secara wajar
  • Upaya menyatukan kembali keluarga, bagi keluarga mereka yang ditelantarkan suami/ayah

Sumber :

Singe parent, Dr. Ali Qaini

Jurnal perempuan 33 tentang perempuan dan pemulihan konflik

Informed choice berarti membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang alternatif asuhan yang akan dialaminya, pilihan (choice) harus dibedakan dari persetujuan (concent). Persetujuan penting dari sudut pandang bidan, karena itu berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedur yang dilakukan oleh bidan. Sedangkan pilihan (choice) lebih penting dari sudut pandang wanita (pasien)sebagai konsumen penerima jasa asuhan kebidanan.

Tujuannya adalah untuk mendorong wanita memilih asuhannya. Peran bidan tidak hanya membuat asuhan dalam manajemen asuhan kebidanan tetapi juga menjamin bahwa hak wanita untuk memilih asuhan dan keinginannya terpenuhi. Hal ini sejalan dengan kode etik internasional bidan yang dinyatakan oleh ICM 1993, bahwa bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab untuk hasil dari pilihannya.

Rekomendasi

1)      Bidan harus terusmeningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam berbagai aspek agar dapat membuat keputusan klinis dan secara teoritis agar dapat memberikan pelayanan yang aman dan dapat memuaskan kliennya

2)      Bidan wajib memberikan informasi secara rinci dan jujur dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh wanita dengan menggunakan media laternatif dan penerjemah, kalau perlu dalam bentuk tatap muka secara langsung

3)      Bidan dan petugas kesehatan lainnya perlu belajar untuk membantu wanita melatih diri dalam menggunakan haknya dan menerima tanggung jawab untuk keputusan yang mereka ambil sendiri

4)      Dengan berfokus pada asuhan yang berpusat pada wanita dan berdasarkan fakta, diharapkan bahwa konflik dapat ditekan serendah mungkin

5)      Tidak perlu takut akan konflik tapi menganggapnya sebagai suatu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang objektif, bermitra dengan wanita dari sistem asuhan dan suatu tekanan positif.

Bentuk pilihan (choice) yang ada dalam asuhan kebidanan

Ada beberapa jenis pelayanan kebidanan yang dapat dipilih oleh pasien antara lain :

1)      Gaya, bentuk pemeriksaan antenatal dan pemeriksaan laboratorium/screaning antenatal

2)      Tempat bersalin (rumah, polindes, RB, RSB, atau RS) dan kelas perawatan di RS

3)      Masuk kamar bersalin pada tahap awal persalinan

4)      Pendampingan waktu bersalin

5)      Clisma dan cukur daerah pubis

6)      Metode monitor denyut jantung janin

7)      Percepatan persalinan

8)      Diet selama proses persalinan

9)      Mobilisasi selama proses persalinan

10)   Pemakaian obat pengurang rasa sakit

11)   Pemecahan ketuban secara rutin

12)   Posisi ketika bersalin

13)   Episiotomi

14)   Penolong persalinan

15)   Keterlibatan suami waktu bersalin, misalnya pemotongan tali pusat

16)   Cara memberikan minuman bayi

17)   Metode pengontrolan kesuburan

Informed concent bukan hal yang baru dalam bidang pelayanan kesehatan. Informed concent telah diakui sebagai langkah yang paling penting untuk mencegah terjadinya konflik dalam masalah etik.

Informed concent berasal dari dua kata, yaitu informed (telah mendapat penjelasan/keterangan/informasi) dan concent (memberikan persetujuan/mengizinkan. Informed concent adalah suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapatkan informasi.

Menurut Veronika Komalawati  pengertian informed concent adalah suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah pasien mendapatkan informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi

Dalam PERMENES no 585 tahun 1989 (pasal 1)

Informed concent diatfsirkan sebagai persetujuan tindakan medis adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang dilakukan terhadap pasien tersebut.

Langkah-langkah pencegahan masalah etik

Dalam pencegahan konflik etik dikenal ada 4, yang urutannya adalah sebagai berikut :

1)      Informed concent

2)      Negosiasi

3)      Persuasi

4)      Komite etik

Informed concent merupakan butir yang paling penting, kalau informed concent gagal, maka butir selanjutnya perlu dipergunakan secara berurutan sesuasi dengan kebutuhan.

Informed concent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien/walinya yang berhak terhadap bidan untuk melakukan suatu tindakan kebidanan terhadap pasien sesudah memperoleh informasi lengkap dan yang dipahaminya mengenai tindakan itu.

Dalam proses informed concent :

1)      Dimensi yang menyangkut hukum

dalam hal ini informed concent merupakan perlindungan bagi pasien terhadap bidan yang berprilaku memaksakan kehendak, dimana proses informed concent sudah memuat :

  1. Keterbukaan informasi dari bidan kepada pasien
  2. Informasi tersebut harus dimengerti pasien
  3. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk memberikan kesempatan yang baik

2)      Dimensi yang meyangkut etik

Dari proses informed concent terkandung nilai etik sebagai berikut :

  1. Menghargai kemandirian/otonomi pasien
  2. Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila dibutuhkan/diminta sesuai dengan informasi yang telah dibutuhkan
  3. Bidan menggali keinginan pasien baik yang dirasakan secara subjektif maupun sebagai hasil pemikiran yang rasional

1.       PERKEMBANGAN PELAYANAN KEBIDANAN

Tenaga yang sejak dulu hingga saat ini memegang peranan penting dalam perkembangan kebidanan adalah dukun bayi. Dukun diminta pertimbangan pada masa kehamilan, mendampingi persalinan hingga selesai dan mengurus ibu serta bayinya dalam masa nifas.

Dukun bayi biasanya seorang wanita, umumnya berumur diatas 30 tahun dan buta huruf. Dukun adalah pekerjaan turun temurun di keluarga, ia mendapat pelatihan dari dukun yang elbih tua yang kelak akan digantikan. Pengetahuan mereka tentang fisiologi dan patologi kehamilan, persalinan dan nifas sangat terbatas hingga timbul komplikasi, ia tidak mampu mengatasi dan tidak menyadari akibatnya, meski demikian dukun dalam masyarakat mempunyai pengaruh yang besar, tidak hanya memberi pertolongan tapi juga emosional kepada wanita yang sedang bersalin serta keluarganya karena ia dapat membantu jalannya proses persalinan karena adanya doa-doanya.

Praktek kebidanan modern dibawa masuk ke Indonesia oleh dokter Belanda yang bekerja pada pemerintahan Hindia Belanda. Tahun 1850 dibuka kursus kebidanan yang pertama, tapi kemudian ditutup pada tahun 1873, kemudian pada tahun 1879 dibuka kembali.

Pendidikan dokter secara sederhana dimulai pada tahun 1815 dengan didirikannya Sekolah Dokter Jawa. Berkat peningkatan di segala bidang pendidikan termasuk tenaga kesehatan hingga pada pertengahan tahun 1979 telah ada 8000 dokter dan lebih dari 16.888 tenaga bidan. Khusus pelayanan kebidanan untuk masyarakat desa sebagian besar masih di dominasi tenaga-tenaga tradisional. Pada tahun 1978 kira-kira 90% persalinan masih ditangani dukun, 6% oleh bidan dan hanya 1 % yang ditangani dokter. Pada tahun 1950 dilaksanakan Program Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang pada umumnya dipimpin oleh bidan. Pada BKIA itu diselenggarakan pemeriksaan antenatal, post natal, KB, pemeriksaan dan pengawasan penyuluhan gizi pada anak dibawah umur 5 tahun serta pembinaan dukun bayi

Bidan juga dapat dipanggil ke rumah jika dapat kesulitan dalam persalinan. Di BKIA juga diadakan persalinan dukun bayi karena pada waktu itu tenaga dukun masih sangat diperlukan sehingga mereka dapat lebih cepat mengenal tanda-tanda bahaya yang dapat timbul dalam kehamilan dan persalinan dan segera minta pertolongan pada bidan.

Demikian pula dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu peragaan terintegrasi kepada masyarakat yang dinamakan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Pada tahun 1957 puskesmas memberikan pelayanan didalam gedung dan diluar gedung dan berorientasi di wilayah kerja. Pelayanan kebidanan yang diberikan diluar gedung adalah pelayanan kesehatan dan pelayanan di pos pelayanan terpadu (posyandu). Pelyanan di posyandu mencakup empat kegiatan yaitu pemeriksaan hamil, KB, imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan.

Mulai tahun 1990 pelaksanaan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat, sesuai dengan kebutuhan masyarakat sesuai instruksi presiden tahun 1992 yaitu penempatan bidan di desa sebagai pelaksana kesehatan KIA khususnya pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir termasuk pembinaan dukun bayi. Serta mengembangkan pondok bersalin sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Bidan yang di rumah sakit memberikan poliklinik antenatal, senam hamil, kamar bersalin, ruang nifas, dan ruang perinatal kamar opersai kebidanan.

Bidan dalam melaksanakan peran fungsinya didasarkan pada kemampuan yang diberikanyang diatur melalui permenkes dimulai dari :

1). Permenkes no 5380/IX/1963 wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri disamping tugas yang lain

2). Permenkes 623/1989 wewenang bidan dibagi menjadi 2 yaitu wewenang umum dan khusus dalam hal ini bidan melaksanakan tindakan dibawah pengawasan doker

3).  Permenkes no 572/VI/1996 tentang registrasi dan praktek bidan dalam melaksanakan tindakan

2.     PERKEMBANGAN PENDIDIKAN BIDAN

Perkembangan pendidikan bidan berhubungan dengan perkembangan pelayanan, yang dimaksud dengan pendidikan kebidanan adalah pendidikan formal dan non formal

1)         Pendidikan bidan dimulai pada masa penjajahan hindia belanda, tahun 1851 dokter militer belanda membuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di batavia

2)       Tahun 1904 mulai diibuka pendidikan bidan di rumah sakit militer di batavia

3)       Tahun 1911/1912 dimulai tenaga keperawatan di RSUP semarang dan batavia

4)       Tahun 1935-1938 pemerintah belanda mendidik bidan lulusan mulo (setingkat SMP) dan dibuka sekolah bidan di RSB Budi Kemuliaan Jakarta, RSB Palang Dua dan RSB Mardi Waluyo di Semarang

5)       Tahun 1950-1953 dibuka sekolah bidan dari lulusan SMP dengan batasan usia minimal 17 tahun dan lama pendidikan 3 tahun. Mengingat kebutuhabn tenaga untuk menolong persalinan cukup banyak, dibuka pendidikan pembantu bidan /jenjang kesehatan E dan ditutup tahun 1976

6)       Tahun 1953 dibuka kursus tambahan bidan (KTB) di yogaykarta lamanya kursus antara 7-12 minggu

7)        Tahun 1954 dibuka pendidikan guru bidan bersama dengan guru perawat di bandung, dan awal 1972 institusi pendidikan dilebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP), dan pendidikan ini menerima calon dari lulusan sekolah perawat dan bidan

8)       Tahun 1970 dibuka program pendididkan yang menerima lulusan sekolah pengatur rawat ditambah 2 tahun pendidikan bidan yang disebut sekolah pendidikan lanjutan jurusan kebidanan dan ini tidak dilaksanakan secara merata dari seluruh provinsi

9)         Tahun 1974 dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) dengan tujuan adanya tenaga di lapangan dimana salah satu tugasnya adalah menolong persalinan normal

10)     Tahun 1975-1985 institusi pendidikan bidan ditutup

11)       Tahun 1981 dibuka pandidikan D, kesehatan ibu dan anak, yang berlangsung hanya satu tahun

12)      Tahun 1985 dibuka program pendidikan bidan lulusan SPB dan SPK, lamanya pendidikan 1 tahun dan lulusannya dikembalikan kepada institusi yang mengirim

13)      Tahun 1989 dibuka Cresh program pendidikan bidan secara normal yang lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan (PPB/A), lama pendidikan 1 tahun dan lulusannya ditempatkan di desa dengan tujuan untuk memberikan pelajaran kesehatan terutama ibu dan anak di daerah pedesaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menurunkan angka kematian ibu dan anak. Mulai tahun 1996 status bidan di desa sebgaai pegawai tidak tetap (PTT)

14)      Tahun 1993 dibuka PPB program bidan yang peserta didukungnya dari lulusan akper dengan lama pendidikan 1 tahun yang tujuannya untuk mempersiapkan tenaga pengajar pada program pendidikan bidan A

15)      Tahun 1993 dibuak PPB program C yang menerima lulusan SMP dilakukan di 11 provinsi di wilayah sumatera, kalimantan, sulawesi selatan, NTT, maluku dan irian

16)      Tahun 1994-1995 pemerintah menyelenggarakan uji coba pendidikan PPB jarak jauh di 3 Provinsi jawa barat, jawa tengah, jawa timur. Pengaturan penyelenggaraan telah diatur dalam SK menkes no 1247/menkes/SK/XII/1994

17)      Tahun 1994 dilakukan pelatihan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal LLSS

18)      Tahun 1996 Ibi bekerja sama dengan depkes dan American College of Nurse Midwife (ACNM) dan RS swasta menjadikan training kepada anggota IBI sebanyak 8 orang untuk LSS yang kemudian menjadi tim pelatih LSS inti di PP IBI

19)      Tahun 1995-1998 IBI bekerja sama dengan mother care melakukan pelatihan dan peer review bagi bidan RS, bidan puskesmas dan bidan desa di provinsi kalimantan selatan

20)    Tahun 2000 ada pelatihan APN yang dikoordinasikan untuk maternal neonatal health (MNH) sampai saat ini telah melalui APN di beberapa provinsi

Sumber :          bidan menyongsong masa depan 50 tahun IBI

                          Ilmu kebidanan

1.       Kekerasan terhadap perempuan

Adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ranah publik atau dalam kehidupan pribadi.

KUHP  :

  • Pasal 89-90          : kekerasan dan luka berat
  • Pasal 351-356     : penganiayaan
  • Pasal 285-301     : kejahatan susila
  • Pasal 338-340     : pembunuhan
  • Pasal 324-337     : penghilangan kemerdekaan
  • Pasal 310-321     : penistaan
  • Pada umumnya tidak membedakan korban laki-laki dan perempuan kecuali pada kejahatan susila

BENTUK-BENTUK KEKERASAN

  • Fisik
  • Psikologis
  • Seksual
  • finansial

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

1). FAKTOR MASYARAKAT

  • kemiskinan
  • urbanisasi
  • keluarga ketergantungan obat
  • lingkungan kekerasan dan kriminalitas

2). FAKTOR KELUARGA

  • keluarga yang sakit kelainan mental
  • keluarga yang kacau dan tidak bahagia
  • keluarga yang kurang akrab

3). FAKTOR INDIVIDU

  • wanita single, bercerai/ingin bercerai
  • berumur 17-28 tahun
  • ketergantungan obat
  • wanita hamil
  • pasangan yang cemburu berlebihan

PENATALAKSANAAN

Rehabilitasi :

  • fisik
  • psikologis
  • sosial
  • yuridis

2.       Perkosaan

Adalah hubungan seksual tanpa kehendak bersama, yang dipaksakan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang juga dapat merupakan tindak pseudo seksual yaitu perilaku seksual yang tidak selalu di motivasi dorongan seksual sebagai motivasi primer, melainkan berhubungan dengan penguasaan dan dominan, agresi dan perendahan pada satu pihak (korban) oleh pihak lainnya (pelaku).

Persepsi masyarakat tentang perkosaan

  • Biasanya korban yang memprovokasi/mengundang kejadian perkosaan dengan menggunakan pakaian yang minim ataupun dandanan yang berlebihan
  • Sebenarnya perempuan dapat menghindari terjadinya tindakan perkosaan
  • Hanya perempuan tertentu yang akan diperkosa
  • Perkosaan hanya terjadi di daerah asing pada malam hari
  • Perkosaan hanya dilakukan oleh orang sakit/kriminal
  • Pria baik-baik tidak akan memperkosa kecuali karena undangan/rayuan dari perempuan
  • Perempuan sering mengaku diperkosa untuk balas dendam, mendapat santunan atau pun karena ia mempunyai kepribadian mencari perhatian
  • Perkosaan terjadi karena pelaku tidak dapat mengendalikan impuls seksualnya

Reaksi yang terjadi setelah kejadian perkosaan

  • Fase akut (segera setelah serangan terjadi)

Korban mengalami syok dan rasa takut yang sangat kuat, kebingungan, disorganisasi, lemah, lelah tidak dapat dijelaskan secara rinci/tepat apa yang terjadi (apa, siapa dan bagaimana ciri penyerang)

  • Fase kedua (adaptasi awal)

Individu menghayati berbagai emosi negatif seperti pemberontakan, ketakutan, terhina, malu, mual, dan jijik yang pada berikutnya dapat ditanggapi dengan represi dan pengingkaran sebagai upaya untuk mencoba menutup pengalaman ayng menyakitkan.

  • Fase reorganisasi jangka panjang

Bertahun-tahun ditandai dengan upaya individu untuk keluar dari trauma yang dialami dan sungguh-sungguh menerima apa yang terjadi sebagai sesuatu fakta yang memang terjadi. Pada fase ini tidak jarang individu menampilkan ciri-ciri depresi, mengalami mimpi-mimpi buruk atau kilas balik kejadian.

PERAN PETUGAS KESEHATAN

  • Bersikap dengan santun dan jangan menyalahkan
  • Merawat gangguan kesehatan korban
  • Menulis semua hasil pemeriksaan sebagai bukti
  • Merawat kebutuhan jiwa dan berusaha untuk menajdi sahabat yang bisa dipercaya
  • Membantu dalam membuat keputusan
  • Memberikan motivasi dan arahan untuk bangkit kembali menatap mas adepan
  • Membantu untuk memberitahukan kepada orang tua/keluarga korban

3.       Pelecehan seksual

Adalah perilaku atau tindakan yang mengganggu, melecehkan dan tidak diundang yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap pihak lain, yang berkaitan langsung dengan jenis kelamin pihak yang diganggunya dan dirasakan menurunkan martabat dan harga diri orang yang diganggunya.

Kategori pelecehan seksual

a.       Quid pro quo

Pelecehan seksual yang seperti ini adalah pelecehan seksual yang biasanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki kekuasaan otoritas terhadap korbannya, disertai iming-iming pekerjaan atau kenaikan gaji atau promosi

b.      Hostile work environment

Pelecehan seksual yang terjadi tanpa janji atau iming-iming maupun ancaman

Kategori pelecehan seksual menurut Nichaus

1).    Blitz rape yaitu pelecehan seksual yang terjadi sangat cepat, sedangkan pelaku tidak saling kenal

2).    Confidence rape yaitu pelecehan seksual dengan penipuan, hal ini jarang dilaporkan karena malu

3).  Power rape yaitu pelecehan seksual yang saling tidak mengenal, pelaku bertindak cepat dan menguasai korban, dilakukan oleh orang yang berpengalaman dan yakin korban akan menikmati

4). Anger rape, yaitu pelecehan seksual dimana korban menjadi marah dan balas dendam.

5). Sadistie rape yaitu pelecehan seksual dengan ciri kekejaman atau sampai pembunuhan

Macam-macam pelecehan seksual

1). Pelecehan seksual dengan orang yang kita kenal

  • Pelecehan oleh suami/mantan suami
  • Pelecehan yang dialami seorang wanita oleh pacar/mantan pacar
  • Pelecehan seorang wanita oleh teman kerja atau atasan
  • Pelecehan seksual pada anak-anak oleh anggota keluarga

2). Pelecehan seksual dengan orang yang tidak dikenal

  • Pelecehan di penjara
  • Pelecehan saat terjaid perang

3). Pelecehan seksual dengan ketakutan, dimana akan terjadi kekerasan jika korban menolak

4). Pelecehan dengan iming-iming atau paksa, dimana pelaku memiliki otoritas pada korban

5). Pelecehan seksual mental, dengan menyerang harga diri korban melalui kata-kata kasar, mempermalukan dengan memperlihatkan pornografi

Penyebab terjadinya pelecehan seksual

  • Dilihat dari si peleceh
  • Dilihat dari si korban
  • Dilihat dari tempat dan waktu kejadian

 

Respon korban pelecehan seksual

  1. yang paling sering adalah ketidakberdayaan, kehilangan kontrol diri, takut, malu dan perasaan bersalah
  2. respon emosi korban terbagi menjadi dua, yaitu respon ekspresif  (ketakutan, kemarahan, gelisah, tegang, menangis terisak-isak) dan respon terkontrol (menyembunyikan perasaannya, tampil tenang, menunduk dan lembut)
  3. respon lain yaitu: mandi sebersih-bersihnya, pindah rumah, menambah pengamanan, membuang/menghancurkan benda yang berkaitan dengan pelecahan
  4. beberapa hari kemudian akan timbu memar/lecet pada bagian tubuh, sakit kepala, lelah, gangguan pola tidur, nyeri lambung, mual, muntah, nyeri pada daerah pacinela, gatal dan keluar darah pada vagina, marah, merasa terhina, menyalahkan diri sendiri, ingin balas dendam, takut akan penyiksaan diri dan kematian
  5. respon atau dampak jangka panjang : gelisah, mimpi buruk, phobia sendirian, merasa menjadi orang yang kotor dan menjijikkan, depresi, bahkan ada yang sampai menggunakan obat-obatan terlarang maupun ingin bunuh diri.

Dampak psikologis pelecehan seksual

  • Frekuensi terjadinya pelecehan
  • Parah tidaknya (halus atau kasar)
  • Mengancam keselamatan fisik ataukah hanya sebatas pelecehan verbal
  • Apakah mengganggu kinerja pekerja

Hukum-hukum yang mengatur tentang pelecehan seksual

  • Pasal 289-296 tentang pencabulan
  • Pasal 295-298 dan 506 tentang penghubungan pencabulan
  • Pasal 286-288 tentang persetubuhan dengan wanita dibawah umur

Hal-hal yang dilakukan ketika terjadi pelecehan seksual

  • Katakan TIDAK dengan tegas tanpa senyum dan minta maaf
  • Buat jurnal kejadian
  • Cari informasi tentang si peleceh dan orang-orang sekitarnya
  • Buat pernyataan tertulis kepada si peleceh, bahwa anda tidak suka dengan perilakunya
  • Hubungi atasan atau pihak yang berwenang atau yang mempunyai kedudukan, seperti polisi/bos/orang tua/tokoh agama/tokoh masyarakat dan jeaskan apa yang terjadi

 

4.       Pekerja seks komersial (PSK/pelacur)

Adalah setiap orang yang memperjualbelikan seks dengan uang atau dengan berbagai macam keuntungan. Pada umumnya penyediaan seksual dengan imbalan uang.

Adalah setiap orang yang memperjualkan seks dengan uang atau dengan  bermacam-macam jenis keuntungan kepada siapapun tanpa keterlibatan emosi sama sekali.

Pada tahun 50an di Jakarta banyak lonte yang berkeliaran, namun sejak tahun 60an mereka tidak ada lagi, namun bukan berarti mereka atau penerusnya tidak lagi berkeliaran tapi karena kata lonte itu dianggap tidak manusiawi atau kasar.

Menurut kamus besar bahasa indonesia, lonte adalah manusia jalang, wanita tuna susila, pelacur, sundal. Dan sejak saat itu, istilah lonte berganti menjadi wanita tuna susila (WTS).

Istilah WTS kemudian menimbulkan banyak protes, terutama dari pihak perempuan, misalnya apakah tuna susila hanya menjadi watak perempuan? Apakah tidak ada lagi laki-laki yang berwatak tuna susila?, karena itu sejalan dengan era reformasi maka munculah istilah baru yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK). Istilah ini nampaknya sangat menjunjung harkat dan martabat wanita, dimana PSK mencoba mengangkat posisi dirinya agar setara dengan orang pencari nafkah atau pekerja  lainnya.

PSK biasanya hanya dilihat sari aspek kesusilaan, dan hanya ditujukan pada perempuan yang menjadi PSK nya, tetapi tidak kepada laki-laki atau konsumen yang menggunakan jasa mereka, dimana laki-laki yang membeli seks diberi istilah klien atau customer atau pelanggan.

Prostitusi

 Adalah bentuk penyimpangan seks dengan pola-pola organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi, dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa kendali dengan banyak orang (promiskuitas), disertai eksploitasi dan komersialisasi seks yang impersonal tanpa afeksi

Pelacuran

Adalah perbuatan perempuan atau laki-laki yang menyerahkan tubuhnya untuk berbuat cabul secara seksual dengan mendapatkan upah

Eksploitasi seks

Adalah penggunaan serta pemanfaatan relasi seks semaksimal mungkinoleh pihak pria

Kategori pelacuran

  1. Pergundikan
  2. Tante girang
  3. Gadis penggilan
  4. Gadis bar
  5. Gadis juvenile delinguent
  6. Gadis binal
  7. Gadis taksi
  8. Penggali emas
  9. Hostes atau pramuria
  10. Promiskuitas

Ciri khas pelacur

  1. Wanita, lawan pelacur adalah gigolo (pelacur pria)
  2. Biasanya cantik, ayu, rupawan, manis, atraktif, menarik
  3. Muda
  4. Pakaian mencolok, beraneka warna, eksentrik
  5. Teknik seksual mekanistik, cepat, tidak hadir secara psikis
  6. Mobile
  7. Berasal dari strata ekonomi rendah
  8. 60-80 % intelektual normal

Motif yang melatarbelakangi

  1. Kesulitan hidup
  2. Nafsu seks abnormal
  3. Tekanan ekonomi
  4. Aspirasi materiil tinggi
  5. Kompensasi terhadap perasaan inferior
  6. Ingin tahu pada masalah seks
  7. Pemberontakan terhadap otoritas orang tua
  8. Simbol keberanian dan kegagahan
  9. Gadis dari daerah slums dengan lingkungan immoril
  10. Bujuk rayu laki-laki dan/calo
  11. Stimulasi seksual melalui film, gambar, bacaan
  12. Pelayan dan pembantu RT
  13. Penundaan perkawinan
  14. Disorganisasi dan disintegrasi kehidupan keluarga
  15. Mobilitas pekerjaan atau jabatan pria
  16. Ambisi besar mendapatkan status sosial ekonomi tinggi
  17. Mudah dilakukan
  18. Pecandu narkoba
  19. Traumatis cinta
  20. Ajakan teman
  21. Tidak dipuaskan pasangan/suami

Menurut jumlahnya, prostitusi dibagi dalam

  1. Individual
  2. Bantuan organisasi dan sindikat

Menurut lokasinya

  1. Segregasi/lokalisasi
  2. Rumah panggilan ‘call house”
  3. Dibalik front organisasi/bisnis terhormat

Klasifikasi

  1. Sektor formal (kompleks lokalisasi, panti pijat, club malam, perempuan pendamping, penyedia perempuan panggilan)
  2. Sektor informal (berorientasi secara tidak tetap)

Pelacur pada umumnya cepat menjadi tua dan layu, karena:

  1. Kebiasaan buruk
  2. Badan lemas dan lelah
  3. Badan dimanipulir dan di eksploitasi
  4. PMS termasuk HIV/AIDS, kehamilan, infertil
  5. Kekerasan
  6. Penghasilan lambat laun menurun
  7. Usia lebih dari 30 tahun biasanya mengalami konflik jiwa

Masalah-masalah yang timbul dari PSK

  1. Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Gonorrhoe, HIV/AIDS, siphilis, Klamidia
  2. Timbul kehamilan yang pada umumnya tidak diinginkan
  3. Timbul Kekerasan
  4. Mengganggu ketenangan lingkungan tempat tinggal

Faktor-faktor yang menyebabkan PSK dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bermoral :

  1. Pekerjaan ini identik dengan perzinahan yang merupakan suatu kegiatan seks yang dianggap tidak bermoral oleh banyak agama
  2. Perilaku seksual oleh masyarakat dianggap sebagai kegiatan yang berkaitan dengan tugas reproduksi yang tidak seharusnya digunakan secara bebas demi untuk memperoleh uang.
  3. Pelacuran dianggap sebagai ancaman terhadap kehidupan keluarga yang dibentuk melalui perkawinan dan melecehkan nilai sakral perkawinan.
  4. Kaum wanita membenci pelacuran karena dianggap sebagai pecuri cinta dari laki-laki (suami) mereka sekaligus pencuri hartanya

Penanggulangan prostitusi

1. Preventif

  • Penyempurnaan UU larangan/pengaturan penyelenggaraan pelacuran
  • Intensifikasi pendidikan keagamaan
  • Kesibukan untuk penyaluran energi yang positif
  • Memperluas lapangan kerja
  • Pendidikan seks
  • Koordinasi berbagai instansi untuk pencegahan/penyebaran pelacuran
  • Penyitaan buku, film dan gambar porno
  • Meningkatkan kesejahteraan rakyat

2. Represif dan kuratif (menekan, menghapuskan dan menyembuhkan wanita dari ketunasusilaannya)

  • Melakukan pengawasan dan kontrol yang sangat ketat terhadap lokalisasi yang sering ditafsirkan sebagai legalisasi
  • Aktivitas rehabilitasi dan resosialisasi
  • Penyempurnaan tempat penampungan dan pembinaan
  • Pemberian pengobatan
  • Membuka lapangan kerja baru
  • Pendekatan keluarga
  • Mencarikan pasangan hidup
  • Pemerataan penduduk dan perluasan lapangan kerja

Peran sebagai petugas kesehatan

  1. Memberikan pelayanan secara sopan seperti melayani pasien-pasien yang lain
  2. Belajar membuat diagnosa dan mengobati PMS
  3. Mengenal berbagai jenis obat yang masih efektif, terbaru, murah dan cobalah menjaga kelangsungan pengadaan obat
  4. Cari pengadaan kondom yang cukup dan rutin bagi masyarakat.
  5. Memastikan ketersediaan pelayanan kesehatan termasuk KB, perawatan PMS dan obat yang terjangkau serta penanggulangan obat terlarang.

Haid atau menstruasi merupakan peristiwa penting pada masa pubertas anak gadis yang juga merupakan pertanda “biologis” dari “kematangan seksual”, dimana mulai timbul perasaan “hetero seksual” yaitu tertarik pada lawan jenisnya dan mulai berusaha untuk mencari pacar/pasangan hidup/jodoh/belahan jiwanya, yang biasanya diikuti dengan hasrat untuk mempercantik diri agar bisa tampil menarik di depan orang lain khususnya lawan jenis.

Jika seorang wanita mempunyai hasrat untuk mempercantik diri hal ini merupakan “khas feminim” yang juga merupakan ciri dari diri yang sehat. Namun, jika tidak ada hasrat untuk mempercantik diri maka kemungkinan terjadi “dekadensi psikis” atau kemunduran.

Dalam menyeleksi pasangannya setiap karakter wanita mempunyai prinsip yang berbeda-beda ada yang menyeleksi berdasarkan ciri karakteristik yang ada persamaannya dengan diri sendiri yaitu “tendensi homogami” atau ikatan perkawinan berdasarkan persamaan ciri tertentu, misalnya ingin mencari pasangan yang satu suku dengannya. Dan ada juga yang ingin mempunyai pasangan yang mempunyai sifat karakteristik yang justru berlawanan. Misalnya seseorang yang pemarah ingin mendapatkan pasangan yang sabar, agar bisa menenangkannya dan meredam emosinya kelak.

A. Perkawinan

Adalah suatu perkawinan sepasang mempelai yang dipertemukan secara formal di hadapan penghulu/kepala agama, para sksi dan sejumlah hadirin yang disahkan secara resmi sebagai suami isteri dengan upacara ritual-ritual tertentu. Dimana bentuk proklamasi laki-laki dan wanita bersifat dwi tunggal yakni saling memiliki satu sama lain.

B. Regulasi/pengaturan perkawinan

  • Umur
  • Seks
  • Upacara perkawinan
  • Pembayaran uang nikah
  • Hak dan kewajiban suami isteri
  • Pembagian harta
  • Perceraian

C. Tujuan regulasi

Bukan untuk menghalangi perkawinan tapi untuk menjamin perkawinan

  1. Ditegakkannya kesejahteraan sosial
  2. Mencegah perkawinan dengan keluarga dekat/incest
  3. Untuk memperbaiki ras/keturunan
  4. Mencegah perceraian yang sewenang-wenang
  5. Menjamin kebahagiaan individu, kelestarian keluarga, kestabilan struktur masyarakat

Adanya pergeseran standar dan norma seks menajdi hyper modern dan radikal merupakan hal yang bertentangan dengan norma masyarakat, yang juga dapat menimbulkan :

1. Perkawinan periodik/term marriage

  • Kontrak tahap 1 = 3-5 tahun
  • Kontrak tahap 2 = 10 tahun
  • Kontrak tahap 3 = saling memiliki

2. Kawin percobaan/trial marriage

Dengan alasan perkawinan harus dicoba terlebih dahulu beberapa bulan dan jika tidak cocok dapat segera berpisah

3. Kawin persekutuan/companionate marriage

Yaitu perkawinan tanpa anak dan perceraian atas dasar persetujuan bersama

4. Poligami

5. Perkawinan eugenis

Yaitu perkawinan untuk memperbaiki keturunan

D. Alasan/motivasi perkawinan

  1. Distimulis oleh dorongan-dorongan romantik
  2. Hasrat untuk mendapatkan kemewahan hidup
  3. Ambisi untuk mencapai status sosial tinggi
  4. Keinginan untuk mendapatkan jaminan/asuransi hidup di masa tua
  5. Keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan pasangannya
  6. Hasrat untuk melepaskan diri dari belenggu atau kungkungan orang tua/keluarga
  7. Dorongan cinta terhadap anak dan ingin mempunyai anak
  8. Keinginan untuk mengabadikan nama leluhur
  9. Malu kalau sampai disebut sebagai “perawan tua”

E. Alasan-alasan tidak kawin

  1. Tidak pernah mencapai kematangan yang sebenarnya, dimana kematangan tidak hanya secara khronologis, fisik dan mental saja tapi juga harus mencapai taraf kematangan secara sosial
  2. Identifikasi secara ketat terhadap orang tua, menginginkan pasangan hidup yang benar-benar memiliki ciri baik fisik maupun karakter seperti orang tuanya (fiksasi ayah/kompleks elektra dan fiksasi ibu/kompleks oedipus)
  3. Egosentrisme dan narsisme yang berlebihan, merasa diri sangat sempurna dan hanya pantas memilik pasangan yang juga sederajat dengannya
  4. Kebudayaan individualisme yaitu tidak terbiasa bergaul dengan orang lain, ingin bebas hidup sendiri dan  tidak mau hidupnya diatur.

Faktor kepercayaan dalam beragama, contohnya : pendeta, suster dan biarawan

Terfokus pada pekerjaan, mengabdikan diri pada kemanusiaan, sehingga tidak sempat dan tidak tertarik untuk menikah

Ialah kontak seksual yang dilarang oleh karena hubungan keluarga. Kontak seksual tersebut dapat terjadi antara ayah dan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-laki, antara saudara laki-laki dan perempuan, laki-laki dengan laki-laki (homoseksual), sepupu tertentu, ayah tiri dan anak perempuannya, dan banyak lagi yang dilarang secara agama maupun kultur. Misalnya sesama sepupu dimana ayah keduanya adalah kakak beradik, pada sebagian kultur hal ini tidak bermasalah, tapi pada kultur lain hal ini dilarang. Namun, bila hal ini tetap terjadi maka telah terjadi incest.

Kontak seksual incest dapat dilarang secara kultur, dapat pula dilarang secara kesehatan. Larangan secara kultur disebabkan oleh beberapa hal yang terjadi tergantung pada kultur masing-masing, yang kadang-kadang sulit dimengerti kenapa bisa terjadi demikian. Namun, incest bisa saja terjadi karena kekacauan dalam hubungan antara satu dengan yang lain dalam suatu keluarga. Misalnya, kakak beradik yang sudah lama terpisah, yang selanjutnya bertemu dan menikah namun tidak tahu jika mereka sebenarnya bersaudara.

Kontak seksual antara ayah tiri dan anak tiri sebenarnya tidak menimbulkan masalah medis, namun dapat menimbulkan masalah keluarga. Kontak seksual antara sepupu tertentu dapat menimbulkan masalah medis. Sebagian kontak seksual ataupun perkawinan antara sepupu diizinkan karena dalam kultur tertentu dulunya hidup dalam satu daerah dimana mereka sulit untuk menembus batas daerah tersebut untuk menikah dengan keluarga lain yang jauh dari tempatnya. Untuk memberi kesempatan pernikahan kepada anggota daerah tersebut maka diizinkan menikah untuk saudara sepupu tertentu.

Secara genetis, 25% anak hasil incest akan mengalami kelainan bawaan. Besar kemungkinan dahulu hal ini ditemukan pada nenek moyang manusia, sehingga hal ini dilarang secara kultur.  Incest dapat terjadi oleh karena kesengajaan yang secara sengaja dilakukan walaupun telah diketahui melanggar hukum. Misalnya, kontak seksual antara ayah dan anak tirinya. Semua orang mengetahui bahwa perilaku tersebut dilarang keras tetapi dilakukan juga. Penyebab kelainan ini dapat terjadi karena berbagai hal.

Faktor yang menyebabkan terjadinya incest :

1. Kemiskinan

Kemiskinan yang absolut menyebabkan seluruh anggota keluarga suami isteri dan anak-anak tidur dalam satu tempat tidur. Bila satu waktu seorang ayah bersentuhan dengan anak perempuannya yang masih gadis, maka ada kemungkinan salah satu dari keduanya bisa terangsang yang akhirnya terjadi hubungan seksual, paling tidak kontak seksual.

2. Kekurangan pergaulan (kuper)

Kekurangan pergaulan yang dimana pada keluarga tertentu dilarang bergaul dengan dunia luar. Kadang-kadang ada juga penyebab dimana satu keluarga dilarang menikah diluar kalangannya agar semua harta yang dimiliki tidak keluar dari keluarga besarnya. Ada juga kemungkinan diharapkan supaya turunan mereka lebih asli sebagai bangsawan

3. Salah satu anggota keluarga tidak berfungsi

Pada incest antara ayah-anak perempuan cukup sering terjadi karena ibu yang tidak berfungsi. Dalam keadaan misalnya ibu yang invalid, sakit berat, maka seluruh kebutuhan seksual ayah, akhirnya akan tertuju kepada anak perempuannya. Dan akhirnya terjadi incest.

Akibat incest :

Kemungkinan akibat yang bisa ditimbulkan dari hubungan incest dapat dibagi dua, yaitu :

1. Akibat fisik

Terjadinya gangguan fisik dari mulai meninggal sampai dengan luka berat ataupun ringan dan anak yang dihasilkan pun kemungkinan besar menjadi cacat.

2. Akibat psikoseksual

Akibat psikoseksual dapat terjadi pada incest, yang pada umumnya terbagi menjadi :

a. Depresi

Adalah keadaan dimana seseorang menjadi putus asa, tidak bisa tidur, gelisah, menyendiri serta menganggap diri sudah tidak berharga lagi. Pada sebgaian orang ayng mengalami depresi mempunyai akibat dimana fungsi seksnya tidak lagi bekerja.

Pada wanita dapat terjadi penurunan libido, sampai pada gangguan orgasme. Keadaan ini tidak dapat diperbaiki hanya dengan konsleing psikologi tapi harus bersama dengan pengobatan. Dengan pengobatan yang sempurna sebagian besar bisa berfungsi normal kembali.

b. Aersion seksual

Adalah keadaan korban menolak hubungan psikologis kepada lawan jenis. Seseorang tidak mau menikah karena merasa kontak seksual adalah kotor, mengerikan dan tidak normal.

c. Penularan agresi seksual

Penularan agresi seksual terjadi terhadap korban. Bial dia selamat dari korban seksual, maka tidak sadar si korban dapat berlaku sebagai agresor seksual. Keadaan ini dapat berlaku pada incest atau pun pada pelecehan seksual yang lain.

TUJUAN UPAYA PENCAPAIAN PERAN PADA WANITA KETIKA HAMIL

  1. Meyakinkan keamanan, kesejahteraan fisik diri dan bayinya ketika hamil dan melahirkan
  2. Memastikan penerimaan sosial untuk diri dan anaknya
  3. Meningkatkan ikatan affinial dalam bentuk image dan identitas “saya” dan“kamu”
  4. Mengeksplorasi kedalam makna dari tingkah laku transitif dalam memberi dan menerima

(Rubin 1984)

TIGA ASPEK IDENTITAS PERAN KEIBUAN

  1. Ideal image, yaitu seluruh ide tentang atribut yang positif dan aktivitas wanita sebagai ibu
  2. Self  image, yaitu diri yang dilihat dan dialami oleh wanita sehingga mempresentasikan ketetapan dirinya
  3. Body image, yaitu perubahan badan ketika hamil dan pentingnya perubahan ini dalam kerangka perubahan dalam kehamilan

 

 IDENTITAS KEIBUAN DICAPAI DENGAN

  1. Taking in activities, yaitu melalui aktivitas meniru (mimicry) dan role play
  2. Taking on activities, yaitu melalui aktivitas fantasi dan introjection-projection-rejection
  3. Letting go aktivities, yaitu melalui gief  work

 

KONSEP KUNCI ASUHAN KEBIDANAN

  1. Orang (person)

Wanita dalam perkembangannya sebagai wanita, identitas sebagai wanita, ibu dan anggota masyarakat. Fokus utama dalam teori ubin adalah pencapaian wanita dalam identitasnya sebagai seorang ibu

  1. Kesehatan

Kesehatan dalam kehamilan sangat penting sejak terjadi pembuahan pada tubuh (rahim) yang belum pernah dialami sebelumnya

  1. Lingkungan/sistem sosial

Tingkah laku keibuan sebagai aktivitas sosial yang ditunjukan dalam inetraksi dan hubungan yang lain dalam sistem sosial wanita. Tugas kehamilan berkaitan dengan kondisi bayi, dukungan keluarga, teman dan petugas kesehatan

  1. Bidan

Adalah wanita yang terlibat dalam proses tumbuh kembang kehamilan ia memberikan intervensi mendukung suatu kegiatan dan pencapaian Tugas keibuan antara lain dengan memberikan informasi tentang makanan dan latihan awal dalam kehamilan

TEORI RUBIN MENEKANKAN PADA ASPEK PERSON DAN LINGKUNGAN

 

TEORI PENCAPAIAN PERAN KEIBUAN (RUBIN, 1984)

  • Teori peran yang bertujuan untuk mengeksplorasi perkembangan peran keibuan
  • Posisi seseorang di masyarakat seperti guru, ibu
  • Seseorang mempunyai posisi pada fase yang berbeda dalam hidupnya dan sejumlah posisi pada suatu waktu tertentu secara bersamaan
  • Teori ini menjadi dasar untuk menjelaskan perkembangan identitas dan pengalaman keibuan

 

TEORI RAMONA T MERCER

(Teori stress sebelum melahirkan dan pencapaian peran keibuan)

  • Teori ini menekankan pada pemahaman proses perawatan anak dengan memperhitungkan data dari teori besar dalam asuhan (Marriney torney, 1989)
  • Teori ini dipengaruhi oleh teori rubin, tetapi ramona juga mengembangkan sejumlah alat pengukur untuk risetnya
  • Mengembangkan teori dan riset untuk suatu tindakan
  • Teori ini dipakai dalam asuhan perawatan dan teknik obstetric (berorientasi praktis)
  • Riset dan teori ini dibangun dalam dua area utama :
  1. Efek dari stres sebelum melahirkan pada keluarga, hubungan timbal balik dalam keluarga dan fungsi keluarga
  2. Pencapaian peran keibuan

 

PENCAPAIAN PERAN KEIBUAN (MERCER)

  • Menjadi ibu adalah suatu identitas baru, hal ini emlibatkan berfikir ulang dan mendefinisikan ulang dari “diri”
  • Peran menjadi ibu penting sebab beberapa wanita sulit emngatasi peran keibuan yang memiliki konsekuensi pada anaknya
  • Dalam pandangan interaksi cara individu mengatasi dan bertingkah laku dalam peranannya adalah tergantung pada reaksi dan interaksi yang mereka peroleh dari lingkungannya

 

EFEK DARI STRES SEBELUM MELAHIRKAN PADA KELUARGA

Terdapat 6 variabel yang berhubungan dengan status kesehatan, hubungan timbal balik dan fungsi keluarga :

  1. Stres sebelum melahirkan merupakan kombinasi dari life event yang negatif dengan tingkat resiko kehamilan
  2. Social support
  3. Self esteem (harga diri)
  4. Sense of mastery (rasa kebanggaan)
  5. Kecemasan
  6. Depresi

Menopause/klimakterium

menopause

Men                 = bulan

Pause              = periode/tanda berhenti à berhentinya secara definif menstruasi

Klimakterium

Climacter      = perubahan, pergantian yang berbahaya àterjadinya banyak perubahan dalam fungsi-fungsi psikis dan fisik

Periode “krisis” yaitu terjadinya krisis-krisis dalam kehidupan yang berupa psikosomatis/rohani dan jasmani mengalami perubahan-perubahan dalam sistem hormonal

Sehingga berlangsung proses kemunduran yang progresif dan total

Klimakterium diawali dengan fase pendahuluan atau ”fase preliminer” yaitu suatu proses “pengakhiran”

Tanda-tanda menopause

  1. Menstruasi tidak teratur, menajdi lebih lambat atau lebih awal dari biasanya
  2. Darah yang keluar banyak sekali atau pun sedikit sekali
  3. Gangguan vasomotoris, penyempitan/pelebaran pembuluh darah
  4. Pusing-pusing/sakit kepala
  5. Neuralgia/gangguan syarafàfenomena klimakteris

simptom-simptom klimakterium

  1. Depresi
  2. Mudah tersinggung, marah atau pun curiga
  3. Cemas
  4. Insomnia, bingung, gelisah

Klimakterium à dianggap sebagai “jeritan minta tolong” agar wanita tersebut masih diperbolehkan meneruskan aktivitasnya

Praklimakterium :

-Mirip dengan pra pubertas, dimana pada pubertas kedua muncul tingkah laku yang lucu-lucu, aneh-aneh, janggal dan tidak pada tempatnya. Mislanya : wanita usia lebih dari 50 tahun pada siang hari menggunakan rok panjang merah, denganperhiasan emas warna-warni, make up berlebihan dan jalan-jalan di mall.

- Meningkatkan rangsangan seksual yang menimbulkan nafsu yang besar untuk berhubungan seksual dan kegairahan yang menyala-nyala

- Mengingkari ketuaannya agar tampak masih remaja

- Manifestasi individual periode klimakterium dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing individu

- Struktur kepribadian yang terintegrasi dengan baik akan memapu mengkompensasi gangguan fisiologis dan psikis dalam bentuk perbuatan-perbuatan ynag intelek yaitu mampu mengendalikan diri dan mampu mengatasi gangguan psikosomatis dengan menyalurkan pada perbuatan yang inteligen, produktif dan kreatif

BEBERAPA GANGGUAN PERILAKU PADA FASE KLIMAKTERIUM

  1. Depresi menstrual, yang merupakan manifestasi dari kepedihan hat dan ekkecewaan sebagai wanita yang tidak lengakp lagi
  2. Perubahan kehidupan seksual, akan terjadi kegairahan seksual yang luar biasa hingga kemungkinan melakukan mastirbasi. Dan dapat juga bersikap dingin
  3. Obsesi untuk hamil lagi, yaitu ingin mempertahankan kapasitas reproduksi dan kemudaannya
  4. Ilusi, yaitu mempertanyakan apakah sauminya masih cukup berharga, sehingga tidak segan-segan bergaul dnegan anak-anak muda (tante girang)àterjadi pada wanita yang tidak mampu mengendalikan diri

KONDISI PSIKIS KLIMAKTERIUM

Hampir setiap wanita usia klimakteris mengalami sausana hati “depresif” dan “melankolis” (ada yang relatif pendek dan ada yang relatif panjang)

Sebab utamanya adalah :

  1. Mengingkari dan memprotes proses biologis yang mengarah pada ketuaan
  2. Menganggap dramatis proses penuaan
  3. Kemunduran jasmani diartikan sebagai tidak ada gunanya lagi hidup karena sudah mendekati kematian
  4. Hidupnya sudah dianggap tidak ada harapan, penuh kepedihan dan dilupakan semua orangàdipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosialnya di masa lampau

Wanita yang hidup dalam suasana yang harmonis, ekonomi berkecukupan, bahagia, selalu mendapat kepuasan seksual dapat mengahadapi ini dengan rasa tenang. Wanita yang mempunyai masa lampau penuh kenangan cinta yang indah dan bahagia maka kecantikannya akan tetap awet dan terpancar (kecantikan psikis)

Next Page »