Posted by: lenteraimpian | February 8, 2010

PSIKOLOGI PERKAWINAN

Haid atau menstruasi merupakan peristiwa penting pada masa pubertas anak gadis yang juga merupakan pertanda “biologis” dari “kematangan seksual”, dimana mulai timbul perasaan “hetero seksual” yaitu tertarik pada lawan jenisnya dan mulai berusaha untuk mencari pacar/pasangan hidup/jodoh/belahan jiwanya, yang biasanya diikuti dengan hasrat untuk mempercantik diri agar bisa tampil menarik di depan orang lain khususnya lawan jenis.

Jika seorang wanita mempunyai hasrat untuk mempercantik diri hal ini merupakan “khas feminim” yang juga merupakan ciri dari diri yang sehat. Namun, jika tidak ada hasrat untuk mempercantik diri maka kemungkinan terjadi “dekadensi psikis” atau kemunduran.

Dalam menyeleksi pasangannya setiap karakter wanita mempunyai prinsip yang berbeda-beda ada yang menyeleksi berdasarkan ciri karakteristik yang ada persamaannya dengan diri sendiri yaitu “tendensi homogami” atau ikatan perkawinan berdasarkan persamaan ciri tertentu, misalnya ingin mencari pasangan yang satu suku dengannya. Dan ada juga yang ingin mempunyai pasangan yang mempunyai sifat karakteristik yang justru berlawanan. Misalnya seseorang yang pemarah ingin mendapatkan pasangan yang sabar, agar bisa menenangkannya dan meredam emosinya kelak.

A. Perkawinan

Adalah suatu perkawinan sepasang mempelai yang dipertemukan secara formal di hadapan penghulu/kepala agama, para sksi dan sejumlah hadirin yang disahkan secara resmi sebagai suami isteri dengan upacara ritual-ritual tertentu. Dimana bentuk proklamasi laki-laki dan wanita bersifat dwi tunggal yakni saling memiliki satu sama lain.

B. Regulasi/pengaturan perkawinan

  • Umur
  • Seks
  • Upacara perkawinan
  • Pembayaran uang nikah
  • Hak dan kewajiban suami isteri
  • Pembagian harta
  • Perceraian

C. Tujuan regulasi

Bukan untuk menghalangi perkawinan tapi untuk menjamin perkawinan

  1. Ditegakkannya kesejahteraan sosial
  2. Mencegah perkawinan dengan keluarga dekat/incest
  3. Untuk memperbaiki ras/keturunan
  4. Mencegah perceraian yang sewenang-wenang
  5. Menjamin kebahagiaan individu, kelestarian keluarga, kestabilan struktur masyarakat

Adanya pergeseran standar dan norma seks menajdi hyper modern dan radikal merupakan hal yang bertentangan dengan norma masyarakat, yang juga dapat menimbulkan :

1. Perkawinan periodik/term marriage

  • Kontrak tahap 1 = 3-5 tahun
  • Kontrak tahap 2 = 10 tahun
  • Kontrak tahap 3 = saling memiliki

2. Kawin percobaan/trial marriage

Dengan alasan perkawinan harus dicoba terlebih dahulu beberapa bulan dan jika tidak cocok dapat segera berpisah

3. Kawin persekutuan/companionate marriage

Yaitu perkawinan tanpa anak dan perceraian atas dasar persetujuan bersama

4. Poligami

5. Perkawinan eugenis

Yaitu perkawinan untuk memperbaiki keturunan

D. Alasan/motivasi perkawinan

  1. Distimulis oleh dorongan-dorongan romantik
  2. Hasrat untuk mendapatkan kemewahan hidup
  3. Ambisi untuk mencapai status sosial tinggi
  4. Keinginan untuk mendapatkan jaminan/asuransi hidup di masa tua
  5. Keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan pasangannya
  6. Hasrat untuk melepaskan diri dari belenggu atau kungkungan orang tua/keluarga
  7. Dorongan cinta terhadap anak dan ingin mempunyai anak
  8. Keinginan untuk mengabadikan nama leluhur
  9. Malu kalau sampai disebut sebagai “perawan tua”

E. Alasan-alasan tidak kawin

  1. Tidak pernah mencapai kematangan yang sebenarnya, dimana kematangan tidak hanya secara khronologis, fisik dan mental saja tapi juga harus mencapai taraf kematangan secara sosial
  2. Identifikasi secara ketat terhadap orang tua, menginginkan pasangan hidup yang benar-benar memiliki ciri baik fisik maupun karakter seperti orang tuanya (fiksasi ayah/kompleks elektra dan fiksasi ibu/kompleks oedipus)
  3. Egosentrisme dan narsisme yang berlebihan, merasa diri sangat sempurna dan hanya pantas memilik pasangan yang juga sederajat dengannya
  4. Kebudayaan individualisme yaitu tidak terbiasa bergaul dengan orang lain, ingin bebas hidup sendiri dan  tidak mau hidupnya diatur.

Faktor kepercayaan dalam beragama, contohnya : pendeta, suster dan biarawan

Terfokus pada pekerjaan, mengabdikan diri pada kemanusiaan, sehingga tidak sempat dan tidak tertarik untuk menikah

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: