Posted by: lenteraimpian | March 18, 2010

SENI DALAM ASUHAN PERSALINAN KALA I

Paradigma kebidanan

Adalah suatu cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan dimana keberhasilan pelayanan tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang bidan dalam kaitan atau hubungan timbal balik antara manusia/perempuan, lingkungan, perilaku, pelayanan kebidanan.

Komponen paradigma

  • Perempuan

Makhluk bio, psiko, sosila, kultural dan spiritual yang utuh dan unik yang memiliki kebutuhan dasar bermacam-macam sesuai dengan perkembangannya.

  • Lingkungan
  • Perilaku
  • Pelayanan kebidanan

Filosofi asuhan kebidanan

Menggambarkan keyakinan yang dianut oleh bidan dan dijadikan sebagai panduan yang diyakini dalam memberikan asuhan kebidanan. Dalam filosofi asuhan kebidanan ini dijelaskan beberapa keyakinan yang akan mewarnai asuhan tersebut.

Kehamilan dan persalinan

  • Pandangan bahwa tentang asuhan kebidanan didasari bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah/fisiologis. Normal dan bukan penyakit.
  • Proses childbirth : kejadian fisik, psikososial dan kultural

Seni dalam asuhan kebidanan

  • Seni dalam asuhan kebidanan mencakup terhadap kebutuhan perempuan dan keluarga sehingga bidan dapat memberikan pelayanan yang tepat.
  • Seni dalam asuhan kebidanan meliputi pengetahuan, kapan dan bagaimana memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan, serta mempertahankan proses persalinan berjalan alamiah

Prinsip seni dalam asuhan kebidanan

  • Proses kelahiran anak merupakan proses alamiah dan fisiologis
  • Menggunakan cara sederhana dan non intervensi
  • Aman (sesuai evidence based) : keselamatan ibu
  • Orientasi pada ibu
  • Support : ibu dan keluarga aktif dalam pengambilan keputusan
  • Menghormati praktik : adat, kebudayaan, keyakinan agama
  • Memelihara : kesehatan fisik, psikologis, spiritual, dan sosial ibu atau keluarga
  • Promotion dan prevention

Aspek budaya yang berhubungan dengan persalinan

  • Perempuan merupakan makhluk yang unik dimana keunikan secara fisik, emosional, sosial dan budaya membedakan setiap perempuan
  • Perbedaan mengenai budaya yang terdapat pada setiap perempuan yang menuntut bahwa asuhan yang diberikan harus sesuai dan menghargai budaya yang dianut oleh perempuan tersebut

Isue-isue yang berhubungan dengan asuhan pada masa persalinan

  • Informed consent
  • Gap antara teori dan lapangan
  • Kehadiran sibling
  • Lokasi
  • Contunity of care

Seni dalam asuhan kebidanan pada kala I persalinan

  • Setiap bidan dalam memberikan asuhan persalinan harus berpandangan bahwa proses tersebut adalah alamiah dan normal sehingga dalam memberikan asuhan seorang bidan tidak perlu memberikan intervensi yang berlebihan
  • Dalam memberikan asuhan setiap bidan mempunyai metode tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi klien, serta budaya yang dianut oleh klien dan keluarga

Pengambilan keputusan kala I persalinan

  • Dalam pengambilan keputusan, hal yang perlu dipertimbangkan tidak hanya seputar kondisi fisik dari klien namun budaya yang dianut serta “mind” pada klien itu sendiri
  • Dari hal diatas dapat dipastikan bahwa walaupun menemui kasus pada klien yang sama namun seringkali keputusan maupun asuhan yang diberikan oleh bida dapat berbeda. Dalam proses tersebut seorang bidan tidak hanya berpatokan pada knowledge yang dimiliki namun terletak juga pada intuisinya sebagai bidan.

Posted by: lenteraimpian | March 17, 2010

GIZI SEIMBANG IBU HAMIL

Kesehatan adalah suatu hal dalam kehidupan yang dapat membuat keluarga bahagia. Pada kehamilan terjadi perubahan fisik dan mental yang bersifat alami dimana para calon ibu harus sehat dan mempunyai kecukupan gizi sebelum dan setelah hamil. Agar kehamilan berjalan sukses, keadaan gizi ibu pada waktu konsepsi harus dalam keadaan yang baik dan selama hamil mendapatkan tambahan protein, minimal seperti zat besi dan kalsium, vitamin, asam folat dan energi.

Gizi ibu hamil

Didalam kandungan terjadi proses tumbuh kembang (tumbang) dalam waktu 40 minggu, yang dimulai dari 2 sel yang kemudian menjadi bayi sempurna dengan BB 2,5-4 Kg. Sejumlah otot, tulang, darah dan alat tubuh lain dibuat dari zat-zat gizi yang berasal dari makanan ibu. Zat-zat gizi tersebut dialirkan melalui plasenta kedalam tubuh janin.

Kekurangan atau kelebihan makanan pada masa hamil dapat berakibat kurang baik bagi ibu, janin yang dikandung serta jalannya persalinan. Oleh karena itu, perhatian terhadap gizi dan pengawasan berat badan (BB) selama hamil merupakan salah satu hal penting dalam pengawasan kesehatan pada masa hamil.

Selama hamil, calon ibu memerlukan lebih banyak zat-zat gizi daripada wanita yang tidak hamil, karena makanan ibu hamil dibutuhkan untuk dirinya dan janin yang dikandungnya, bila makanan ibu terbatas janin akan tetap menyerap persediaan makanan ibu sehingga ibu menjadi kurus, lemah, pucat, gigi rusak, rambut rontok dan lain-lain.

Demikian pula,  bila makanan ibu kurang, tumbuh kembang janin akan terganggu, terlebih bila keadaan gizi ibu pada masa sebelum hamil telah buruk pula. Keadaan ini dapat mengakibatkan abortus, BBLR, bayi lahir prematur atau bahkan bayi lahir mati. Pada saat bersalin dapat mengakibatkan persalinan lama, perdarahan, infeksi dan kesulitan lain yang mungkin memerlukan pembedahan. Sebaliknya, makanan yang berlebihan dapat mengakibatkan kenaikan BB yang berlebihan, bayi besar, dan dapat pula mengakibatkan terjadinya preeklampsi (keracunan kehamilan). Bila makanan ibu kurang, kemudian diperbaiki setelah bayi lahir, kekurangan yang dialami sewaktu dalam kandungan tidak dapat sepenuhnya diperbaiki.

Makanan ibu sebelum dan selama kehamilan berperan penting dalam ketersediaan asam lemak essensial pada simpanan jaringan lemak ibu. Jenis asam lemak :

  • Asam lemak omega 3, yaitu asam lemak linoleat, yang terdiri dari asam eikosapentaenoat (EPA) dan asam dekosahektaenoat (DHA)
  • Asam lemak omega 6, yaitu asam lemak linoleat (LNA), yang didalam tubuh dikonversi menjadi asam lemak arakidonat.

Fungsi asam lemak omega 3 pada ibu hamil (bumil) dan ibu meneteki (buteki)

  • DHA merupakan 50% dari asam lemak di jaringan otak dan retina
  • DHA merupakan 2/3 dari asam lemak di sel penerima cahaya pada retina
  • Mempengaruhi fungsi membran sel-sel syaraf
  • Termasuk fungsi enzim, aktivitas reseptor dan hantaran rangsang yang akan mempengaruhi fungsi otak untuk pertumbuhan dan perkembangan plasenta dan fetus

Fungsi lain asam lemak omega 3

  • Mencegah asterosklerosis dan penyakit jantung koroner
  • Penyembuhan penyakit nefritis dan arthritis

Fungsi asam lemak omega 6

  • Pertumbuhan dan janin bayi
  • Kesehatan kulit ibu, janin dan bayi

Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang otak dan kecerdasan anak

  • Faktor genetik
  • Faktor lingkungan

Otak manusia mulai dibentuk pada awal kehamilan dan berkembang terus sampai lahir

  • Berat otak saat lahir 400 gram
  • Berat otak pada usia 6 bulan 1000 gram
  • Otak tumbuh pesat pertama pada kehamilan 25 minggu sampai bayi berusia 6 bulan
  • Pertumbuhan otak sempurna hingga anak berusia 2-3 tahun

Faktor yang mempengaruhi gizi ibu hamil

  • Umur
  • Berat badan
  • Suhu lingkungan
  • Pengetahuan ibu hamil dan keluarga tentang zat gizi dalam makanan
  • Kebiasaan dan pandangan wanita terhadap makanan
  • Aktivitas
  • Status kesehatan
  • Status ekonomi

Trimester pertama (usia kehamilan 1-3 bulan)

  • Merupakan masa penyusunan ibu terhadap kehamilannya
  • Pertumbuhan janin masih berlangsung lambat sehingga kebutuhan gizi untuk pertumbuhan janin belum banyak
  • Kebutuhan gizi ibu hamil pada masa ini masih sama dengan wanita dewasa biasa
  • Diketahui bahwa keluhan yang timbul pada trimester 1 adalah kurang nafsu makan, mual, pusing, halusinasi, ingin makan yang aneh-aneh, mual muntah dan lain-lain.
  • Dalam batas tertentu hal ini masih wajar, yang perlu dianjurkan adalah makan berupa makanan yang mudah dicerna dalam porsi sedikit tapi sering
  • Bahan makanan yang baik diberikan adalah makanan kering dan segar seperti roti panggang, biskuit dan sereal serta buah-buahan segar atau sari buah
  • Keluhan emesis (muntah) dapat dihindari dengan tidak makan dan minum secara bersamaan atau sebaiknya diberi jarak sekitar 15-30 menit.

Trimester kedua (4-6 bulan) dan ketiga (7-9 bulan)

  • Pertumbuhan janin berlangsung cepat pada masa ini
  • 50% dari penambahan BB terjadi pada bulan keenam dan ketujuh
  • Nafsu makan meningkat
  • Kemampuan mencerna makanan bertambah baik
  • Pada masa ini tambahan  zat gula diperlukan untuk memelihara kesehatan yang baik

Dampak kekurangan gizi ibu hamil

  • Anemia gizi besi

Kekurangan zat besi banyak terdapat di Indonesia sehingga ibu hamil dinajurkan agar mengkonsumsi tambahan zat besi atau makanan yang mengandung zat besi. Seperti hati ayam dan lain-lain.

  • Kenaikan BB yang rendah selama hamil

Di negara maju rata-rata kenaikan BB selama hamil 12-14 kg. Bila ibu hamil kurang gizi kenaikan BB hanya 7-8 kg berakibat melahirkan bayi BBLR. Tapi, berdasarkan perkembangan terkini juga disampaikan bahwa ternyata penambahan BB selama kehamilan tidak terlalu mempengaruhi BB janin, karena ada kalanya ibu yang penambahan BB nya cukup ternyata BB janinnya masih kurang dan ada juga ibu yang penambahan berat badannya kurang selama kehamilan tapi BB janinnya sesuai.

  • Ngidam (pica) dan mual muntah berlebihan selama kehamilan (hiperemesis gravidarum)

Mual muntah yang berlebihan yang sampai menyebabkan ibu pingsan dan lemah memerlukan penanganan khusus. Namun , biasanya emesis ini hanya terjadi pada awal-awal kehamilan saat kebutuhan gizi janin belum terlalu besar.

Kebutuhan gizi ibu hamil

Kebutuhan energi

Kebutuhan energi pada bumil tergantung pada BB sebelum hamil dan pertambahan BB selama kehamilan, karena adanya peningkatan basal metabolisme dan pertumbuhan janin yang pesat terutama pada trimester II dan III, direkomendasikan penambahan jumlah kalori sebesar 285-300 kalori pada trimester II dan III. Dampak kekurangan energi adalah pertumbuhan dalam janin terhambat (IUGR) bahkan dampak lebih parah dapat mengakibatkan kematian.  Pada trimester 1 energi masih sedikit dibutuhkan, pada trimester 2  energi dibutuhkan untuk penambahan darah, perkembangan uterus, pertumbuhan massa mammae/payudara, dan penimbunan lemak, sedangkan pada trimester 3 energi dibutuhkan untuk pertumbuhan janin dan plasenta. Sumber energi adalah hidrat arang seperti beras, jagung, gandum, kentang, ubi-ubian dan lain-lain.

Protein

Tambahan protein diperlukan untuk pertumbuhan janin, uterus, jaringan payudara, hormon, penambahan cairan darah ibu serta persiapan laktasi. 2/3 dari protein yang dikonsumsi sebaiknya berasal dari protein hewani yang mempunyai nilai biologi tinggi. Tambahan protein yang diperlukan selama kehamilan sebanyak 12 gr/hari. Sumber protein hewani terdapat pada daging, ikan, unggas, telur, kerang dan sumber protein nabati banyak terdapat pada kacang-kacangan.

Vitamin

  • Asam folat dan vitamin B12 (sianokobalamin)

Berfungsi untuk memenuhi kebutuhan volume darah janin dan plasenta (pembentukan sel darah), vitamin B12 merupakan faktor penting pada metabolisme protein. Dalam bahan makanan asam folat dapat diperoleh dari hati, sereal, kacang kering, asparagus, bayam, jus jeruk dan padi-padian.

Asam folat dianjurkan untuk dikonsumsi sebanyak 300-400mcg/hari. Berfungsi untuk mencegah anemia megaloblastik, mengurangi resiko defek tabung neural jiak dikonsumsi sebelum dan selama 6 minggu pertama kehamilan.

  • Vitamin B6 (piridoksin)

Penting untuk pembuatan asam amino dalam tubuh. Vitamin B6 juga diberikan untuk mengurangi keluhan mual-mual pada ibu hamil.

  • Vitamin C (asam askorbat)

Jika kekurangan/defisiensi vitamin C dapat mengakibatkan keracunan kehamilan, ketuban pecah dini (KPD). Vitamin C berguna untuk mencegah terjadinya ruptur membran, sebagai bahan semen jaringan ikat dan pembuluh darah. Fungsi lain dapat mengakibatkan absorbsi besi non hem, meningkatkan absorbsi suplemen besi dan profilaksis perdarahan post partum. Kebutuhannya 10 mg/hari lebih tinggi dari ibu tidak hamil.

  • Vitamin A

Berfungsi pada pertumbuhan sel dan jaringan, pertumbuhan gigi dan pertumbuhan tulang, penting untuk mata, kulit, rambut dan mencegah kelainan bawaan. Bila kelebihan vitamin A dapat mengakibatkan cacat tulang wajah dan kepala, otak, jantung. Sumber vitamin A banyak terdapat pada minyak ikan,kuning telur, wortel, sayuran berwarna hijau dan buah-buahan berwarna merah. Bumil sebaiknya tidak mengkonsumsi bahan kosmetik yang mengandung vitamin A dosis tinggi. Kebutuhan vitamin A ibu hamil 200 RE/hari lebih tinggi daripada ibu tidak hamil.

  • Vitamin D

Selama kehamilan akan mencegah hipokalsemia, membantu penyerapan kalsium dan fosfor, mineralisasi tulang dan gigi. Sumber vitamin D banyak terdapat pada kuning telur, susu, produk susu dan juga dibuat sendiri oleh tubuh dengan bantuan sinar matahari. Dapat menembus plasenta sehingga dapat memasuki tubuh bayi. Bila terjadi defisiensi, gigi tidak normal dan lapisan luar gigi anak buruk.

  • Vitamin E

Jarang terjadi defisiensi. Berfungsi pada pertumbuhan sel dan jaringan dan integrasi sel darah merah. Dinajurkan dikonsumsi melebihi 2 mg/hari. Pada binatang percobaan defisiensi vitamin E menyebabkan keguguran.

  • Vitamin K

Jarang terjadi defisiensi. Bila terjadi kekurangan dapat mengakibatkan gangguan perdarahan pada bayi.

Mineral

  • Kalsium (Ca)

Jumlah Ca janin sekitar 30 gram, terutama diperlukan pada 20 minggu terakhir kehamilan. Rata-rata setiap hari penggunaan Ca pada bumil 0,08 gram dan sebagian besar untuk perkembangan tulang janin. Bila intake Ca kurang, maka kebutuhan ca akan diambil dari gigi dan tulang ibu. Sehingga tak jarang bagi bumil yang kurang asupan Ca giginya menjadi caries atau pun keropos serta diikuti dengan nyeri pada tulang dan persendian.

Metabolisme Ca memerlukan vitamin D yang cukup. Namun demikian, ibu yang sering hamil cenderung terjadi defisiensi, akibatnya janin menderita kelainan tulang dan gigi.  Sumber kalsium terdapat pada susu dan produk susu (yoghurt, keju), ikan, kacang-kacangan, tahu, tempe dan sayuran berdaun hijau. Konsumsi Ca yang dianjurkan untuk ibu hamil sebanyak 900-1200 mg/hari.

  • Fosfor

Fosfor berhubungan erat dengan Ca. Fosfor berfungsi pada pembentukan rangka dan gigi janin serta kenaikan metabolisme kalsium ibu. Jika jumlah didalam tubuh tidak seimbang sering mengakibatkan kram pada tungkai.

  • Zat besi (Fe)

Sangat esensial, berhubungan dengan meningkatnya jumlah eritrosit ibu (kenaikan sirkulasi darah ibu dan kenaikan kadar Hb) diperlukan untuk mencegah terjadinya anemia. Intake yang tinggi dan berlebihan pada Fe juga tidak baik, karena dapat mengakibatkan konstipasi (sulit BAB) dan nausea (mual muntah).

Zat besi paling baik dikonsumsi diantara waktu makan bersama jus jeruk. Sedangkan kopi, teh dan susu dapat mengurangi absorbsi zat besi nonhem, sehingga sebaiknya menghindari minum kopi, teh ataupun susu jika akan mengkonsumsi FE. Sumber zat besi banyak terdapat pada daging merah, ikan, unggas, kacang-kacangan, kerang, sea food dan lain-lain.

  • Seng (Zn)

Berkaitan dengan pembentukan tulang selubung syaraf tulang belakang. Hasil study menunjukkan bahwa rendahnya kadar Zn pada ibu ditemukan padapersalinan abnormal dan BBLR (berat bayi lahir rendah <2500gram). Sumber Zn terdapat pada kerang dan daging. Kadar Zn yang dibutuhkan pada bumil yaitu sebanyak 20mg/hari atau lebih besar 5 mg dari pada kadar wanita dewasa yang hanya 15 mg/hari.

  • Fluor

Dalam air minum sebenarnya cukup mengandung fluor. Fluor diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Bila kurang dari kebutuhan gigi tidak terbentuk sempurna. Dan jika kadar fluor berlebih warna dan struktur gigi tidak normal.

  • Yodium

Defisisensi yodium mengakibatkan kretinisme. Jika kekurangan terjadi kemudian, pertumbuhan anak akan terhambat. Tambahan yaodium yang diperlukan sebanyak 25 ug/hari.

  • Natrium

Kebutuhan natrium meningkat sejalan dengan meningkatnya kerja ginjal. Memegang peranan penting dalam metabolisme air dan bersifat emngikat cairan dalam jaringan sehingga mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pada ibu hamil. Natrium pada  ibu hamil bertambah sekitar 3,3 gram per minggu sehingga ibu hamil cenderung menderita edema.

Contoh menu makanan ibu hamil

Makan pagi

Nasi 150 gram = 1 gelas

Telur 60 gram = 1 butir

Tempe 50 gram = 2 potong

Sayuran 50 gram = 1/2 gelas

Minyak 5 gram = 1/2 sendok makan

Susu 200 cc = 1 gelas

Pukul 10 : bubur kacang hijau 1 gelas

Makan siang/sore

Nasi 200 gram = 1 1/2 gelas

Ikan 50 gram = 1 potong

Tempe 50 gram = 2 potong

Sayuran 100 gram = 1 gelas

Pepaya 100 gram = 1 potong

Minyak 10 gram = 1 sendok makan

Pukul 16.00 : susu 1 gelas

Tanda kecukupan gizi pada ibu hamil (Nadesul, 2004)

Kategori Penampilan
Keadaan umum Responsive, gesit
Berat badan Normal sesuai dengan tinggi badan dan bentuk tubuh
Postur tubuh Tegak, tungkai dan lengan lurus
Otot Kenyal, kuat, sedikit lemak dibawah kulit
Syaraf Perhatian baik, tidak mudah tersinggung, refleks normal, mental stabil
Pencernaan Nafsu makan baik
Jantung Detak dan irama normal, tekanan daran normal
Vitalitas umum Ketahanan baik, energik, cukup istirahat, penuh semangat
Rambut Mengkilat, kuat, tidak mudah rontok, kulit kepala normal
Kulit Licin, lembab, segar
Muka dan leher Warna sama (tidak ada perubahan warna), licin, tampak sehat, segar
Bibir Licin, lembab, tidak pucat, tidak bengkak
Mulut Tidak ada luka, selaput merah
Gusi Merah normal, tidak ada perdarahan
Lidah Merah normal, licin, tidak ada luka
Gigi Tidak berlubang, tidak nyeri, mengkilat, bersih, tidak ada perdarahan, lurus dagu normal
Mata Bersinar, bersih, konjungtiva tidak pucat, tidak ada perdarahan
Kelenjar Tidak ada perdarahan dan pembesaran
Kuku Keras dan kemerahan
Tungkai Kaki tidak bengkak

Kebutuhan makanan ibu hamil per hari (sumber : widya karya pangan dan zat gizi indonesia)

Jenis makanan Jumlah yang dibutuhkan Jenis zat gizi
Sumber zat tenaga (karbohidrat) 10 porsi nasi/pengganti

2 sdm gula

4 sdm minyak goreng

Karbohidrat
Sumber zat pembangun dan mineral 7 porsi terdiri dari:

2 ptg ikan/daging, @ 50 gr

3 ptg tempe/tahu, @50-75 gr

1 porsi kacang hijau/merah

Protein, vitamin
Sumber zat pengatur 7 porsi terdiri dari :

4 porsi sayuran berwarna @ 100 gr

3 porsi buah2an @ 100 gr

Vitamin dan mineral
Susu 2-3 gelas Karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral

Tanda kecukupan gizi pada wanita dewasa dan  ibu hamil

Zat gizi Satuan Wanita dewasa Ibu hamil
Energi Kal 2200 2485
Protein gr 48 60
Vitamin A RE 500 700
Vitamin D ug 5 15
Vitamin E mg 8 18
Vitamin K mg 65 130
Thiamin mg 1,0 1,2
Riboflavin mg 1,2 1,4
Niacin mg 9 9,1
Vitamin B12 mg 1,0 1,3
Asam folat ug 150 300
Piridoksin mg 1,6 3,8
Vitamin C mg 60 70
Kalsium mg 500 900
Fosfor mg 450 650
Zat besi mg 26 46
Seng mg 15 20
Yodium ug 150 175
Selenium ug 55 70

Angka kecukupan gizi pada ibu menyusui

Zat gizi Satuan Ibu menyusui (0-6 bln) Ibu menyusui

(7-12 bln)

Energi Kal 2900 2700
Protein gr 64 60
Vitamin A RE 850 800
Vitamin D ug 15 15
Vitamin E mg 20 18
Vitamin K mg 130 130
Thiamin (vit B1) mg 1,3 1,3
Riboflavin (vit B2) mg 1,6 1,5
Niacin mg 12 12
Vitamin B12 mg 1,3 1,3
Asam folat ug 200 190
Piridoksin (vit B6) mg 3,7 3,7
Vitamin C mg 85 70
Kalsium mg 900 900
Fosfor mg 750 650
Zat besi mg 28 28
Seng mg 25 25
Yodium ug 200 200
Selenium ug 80 75

Posted by: lenteraimpian | March 16, 2010

ASUHAN PADA IBU BERSALIN KALA 2

Persalinan kala 2 adalah proses pengeluaran buah kehamilan sebagai hasil pengenalan proses dan penatalaksanaan kala pembukaan yang dimulai dengan pembukaan lengkap dari serviks dan berakhir dengan lahirnya bayi.

Lamanya kala dua menurut Friedman adalah 1 jam untuk primigravida dan 15 menit untuk multigravida. Pada kala 2 yang berlangsung lebih dari 2 jam pada primigravida atau 1 jam pada multipara dianggap sudah abnormal oelh mereka yang setuju dengan pendapat Friedman, tetapi saat ini hal tersebut tidak mengindikasikan perlunya melahirkan bayi dengan forceps atau vakum ekstraksi.

Kontraksi selama kala dua adalah sering, kuat dan sedikit lebih lama yaitu kira-kira 2 menit yang berlangsung 60-90 detik dengan interaksi tinggi dan semakin ekspulsif sifatnya.

Tanda-tanda bahwa kala 2 persalinan sudah dekat

  • Ibu merasa ingin meneran (dorongan meneran/doran)
  • Perineum menonjol (perjol)
  • Vulva vagina membuka (vulka)
  • Adanya tekanan pada spincter anus (teknus)
  • Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat
  • Meningkatnya pengeluaran darah dan lendir
  • Kepala telah turun didasar panggul
  • Ibu kemungkinan ingin buang air besar

Diagnosis pasti

  • Telah terjadi pembukaan lengkap
  • Tampak bagian kepala janin melalui bukaan introitus vagina

Perubahan fisiologi kala 2 persalinan

  • Kontraksi, dorongan otot-otot dinding uterus
  • Pergeseran dinding uterus
  • Ekspulsi janin

Kontraksi uterus dan dorongan otot-otot dinding uterus

dorongan otot2 dinding uterus => kontraksi>>> => ketuban pecah => kepala terdorong memasuki vagina => terjadi penekanan kepada kepala bayi => terjadi fleksi => kontraksi makin kuat (efek umpan balik+) => Ferguson’s refleks

Pergeseran organ dasar panggul

penekanan kepala => pergeseran organ dasar panggul => anterior : kandung kemih terdorong ke abdomen, posterior : rektum => musculus levator ani berdilatasi => perineum menonjol => kepala terlihat di vulva => crowning => ekspulsi

Pemantauan Ibu

  • Periksa nadi ibu setiap 30 menit
  • Pantau frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
  • Memastikan kandung kemih kosong melalui bertanya kepada ibu secara langsung sekaligus dengan melakukan palpasi
  • Penuhi kebutuhan hidrasi, nutrisi ataupun keinginan ibu
  • Periksa penurunan kepala bayi melalui pemeriksaan abdomen (pemeriksaan luar) setiap 30 menit dan pemeriksaan dalam setiap 60 menit atau kalau ada indikasi
  • Upaya meneran ibu
  • Apakah ada presentasi majemuk atau tali pusat disamping kepala
  • Putaran paksi luar segera setelah bayi lahir
  • Adanya kehamilan kembar setelah bayi pertama lahir

Pemantauan janin

Saat bayi belum lahir

  • Lakukan pemeriksaan DJJ setiap selesai menera atau setiap 5-10  menit
  • Amati warna air ketuban jika selaputnya sudah pecah
  • Periksa kondisi kepala, vertex, caput, molding

Saat bayi lahir

  • Nilai kondisi bayi (0-30 detik) dengan menjawab 2 pertanyaan, apakah bayi menangis kuat dan atau tanpa kesulitan? Apakah bayi bergerak aktif atau lemas?

Kondisi yang harus diatasi sebelum penatalaksanaan kala 2

  • Syok
  • Dehidrasi
  • Infeksi
  • Preeklampsia/eklampsia
  • Inersia uteri
  • Gawat janin
  • Penurunan kepala terhenti
  • Adanya gejala dan tanda distosia bahu
  • Pewarnaan mekonium pada cairan ketuban
  • Kehamilan ganda/kembar
  • Tali pusat menumbung/lilitan tali pusat

Persiapan penolong persalinan

  • Sarung tangan dan barier protektif lainnya
  • Tempat persalinan yang bersih dan steril
  • Peralatan dan bahan yang diperlukan
  • Tempat meletakan dan lingkungan yang nyaman bagi bayi
  • Persiapan ibu dan keluarganya (asuhan sayang ibu, bersihkan perineum dan lipat paha, kosongkan kandung kemih, amniotomi dan menjelaskan peran suami/pendamping)

Penatalaksanaan kala 2

  • Setelah pembukaan lengkap, pimpin ibu untuk meneran apabila timbul dorongan spontan untuk melakukan hal itu
  • Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontrkasi
  • Berikan pilihan posisi yang nyaman bagi ibu
  • Pantau kondisi janin
  • Bila ingiin meneran tapi pembukaan belum lengkap, anjurkan ibu untuk bernafas cepat atau biasa, atur posisi agar nyaman, dan upayakan untuk tidak meneran hingga pembukaan lengkap

MENOLONG PERSALINAN SESUAI APN

Melihat tanda dan gejala kala 2

  • Mengamati tanda dan gejala kala 2

Menyiapkan peralatan pertolongan persalinan

  • Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial yang siap digunakan. Mematahkan mapul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai didalam partus set
  • Mengenakan baju penutup atau celemek plastik
  • Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang megalir dan mengeringkan tangan dengan handuk 1x pakai/handuk pribadi yang bersih
  • Memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi
  • Menyiapkan oksitosin 10 unit kedalam spuit (dengan memakai sarung tangan) dan meletakannya kembali di partus set tanpa dekontaminasi spuit

Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik

  • Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air DTT
  • Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap (bila ketuban belum pecah maka lakukan amniotomi)
  • Mendekontaminasi sarung tangan
  • Memeriksa DJJ setelah berakhir setiap kontraksi (batas normal 120-160x/menit)

Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran

  • Memberitahukan ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman
  • Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran
  • Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk meneran

Persiapan pertolongan kelahiran

  • Jika kepala telah membuka vulva dengan diameter 4-5 cm, meletakan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi
  • Meletakan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu
  • Membuka partus set
  • Memakai sarung tangan steril

Memulai meneran

  • Jika pembukaan belum lengkap, tenteramkan ibu dan bantu pilihkan posisi yang nyaman
  • Jika ibu merasa ingin meneran namun pembukaan belum lengkap, berikan semangat dan anjurkan ibu untuk bernafas cepat dan bersabar agar jangan meneran dulu
  • Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantulah ibu memilih posisi yang nyaman untuk meneran dan pastikan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
  • Jika pembukaan sudah lengkap namun belum ada dorongan untuk meneran, bantu ibu memilih posisi yang nyaman dan biarkan berjalan-jalan
  • Jika ibu tidak merasa ingin meneran setelah pembukaan lengkap selama 60 menit, anjurkan ibu untuk memulai meneran pada saat puncak kontraksi, dan lakukan stimulasi puting susu serta berikan asupan gizi yang cukup
  • Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit, lakukan rujukan (kemungkinan CPD, tali pusat pendek)

Cara meneran

  • Anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya selama kontraksi
  • Jangan menganjurkan untuk menahan nafas selama meneran
  • Anjurkan ibu untuk berhenti meneran dan segera beristirahat diantara kontraksi
  • Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ibu mungkin merasa lebih mudah untuk meneran jika ibu menarik lutut kearah dada dan menempelkan dagu ke dada
  • Anjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saay meneran
  • Jangan melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi. Dorongan pada fundus meningkatkan resiko distosia bahu dan ruptur uteri

Menolong kelahiran bayi

  • Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain, letakan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak mengahmbat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan atau bernafas cepat saat kepala lahir
  • Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa bersih
  • Memeriksa lilian tali pusat dan jika kendurkan lilitan jika memang terdapat lilitan dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi
  • Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan
  • Tempatkan kedua tangan dimasing-masing sisi kedua muka bayi
  • Menelusurkan tangan mulai dari kepala bayi yang berada dibagian bawah kearah perienum tangan membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan tersebut
  • Menelusurkan tangan yang berada diatas anterior dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangga saat punggung dan kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

Penanganan bayi baru lahir

  • Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakan bayi diatas perut ibu dengan posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya
  • Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat
  • Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat/umbilical bayi
  • Memegang tali pusat dengan satu tangan smabil melindungi bayi dari gunting, dan tangan yang lain memotong tali pusat diantara dua klem tersebut
  • Mengganti handuk basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut bersih, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka
  • Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya

Yang harus diperhatikan pada saat pengeluaran bayi

  • Posisi ibu saat melahirkan bayi
  • Cegah terjadinya laserasi atau trauma
  • Proses melahirkan kepala
  • Memeriksa lilitan tali pusat pada leher bayi
  • Proses melahirkan bahu
  • Proses melahirkan tubuh bayi
  • Mengusap muka, mengeringkan dan rangsang taktil pada bayi
  • Memotong tali pusat

Gejala dan tanda distosia bahu

  • Turtle sign adalah kepala terdorong keluar tetapi kembali kedalam vagina setelah kontraksi atau ibu berhenti meneran
  • Tidak terjadi puataran paksi luar apabila kepala telah lahir
  • Kepala tetap pada posisinya (dalam vagina) walau ibu meneran sekuat mungkin

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

Adalah gerakan janin yang mengakomodasikan diri terhadap panggul ibu

Penyesuaian diri berupa : fleksi, rotasi dari janin. Hal ini sangat penting untuk kelahiran melalui vagina oleh karena janin tersebut harus menyesuaikan diri dengan ruangan yang tersedia didalam panggul. Diameter-diameter yang lebih besar dari janin harus menyesuaikan diri dengan diameter yang paling besar dari panggul ibu agar janin bisa masuk melalui panggul untuk dilahirkan.

Panggul dan fetal skull

Tubuh janin

Letak : hubungan poros panjang janin ke poros panjang ibu

  • Membujur
  • Melintang
  • Miring/oblique

Letak bayi

Presentasi : menunjukkan pada bagian bawah janin memasuki jalan masuk panggul bagian atas

  • Kepala : verteks, sinpital, dahi, muka
  • Bokong : murni, lengkap, presentasi kaki
  • Bahu

Sikap

  • Flexi : dagu melekat ke dada
  • Lurus
  • Ekstensi : occiput mendekat ke belakang

Posisi :hubungan antara bagian terendah janin dan sisi panggul ibu

Synclitisma/Asynclitisma

  • Synclitismus : sutura sagitalis berada pada pertengahan antara simpisis pubis dengan promontorium
  • Asynclitismus : sutura sagitalis mendektai simpisis pubis atau promontorium

Tengkorak kepala janin

Terdiri dari 5 tulang, 4 sutura dan 2 ubun-ubun

Batasan tengkorak kepala dalam persalinan

  • Ubun-ubun anterior : dibentuk oleh pertemuan sutura frontalis, sagitalis dan coronaria, berbentuk segi empat (diamond)
  • Ubun-ubun posterior : dibentuk dari sutura sagitalis dan lamboidea, berbentuk seperti segitiga
  • Sutura sagitalis : sutura antara 2 tulang pariental, yang merupakan petunjuk synclitismus
  • Molding : perubahan bentuk kepala (kepala tumpang tindih) sebagai penyesuaian kepala saat melewati panggul
  • Caput succadenum : pembengkakan edematous diatas kepala janin yang diakibatkan oleh tekanan kepala saat melewati rongga panggul

Diameter

  • Jarak biparietal : merupakan diameter melintang terbesar dari kepala janin, dipakai dalam definisi penguncian (engagement)
  • Jarak suboccipitobregmatika : jarak antara batas leher dengan occiput ke anterior fontanella, ini adalah diameter yang berpengaruh membentuk presentasi kepala
  • Jarak occipitomental : merupakan diameter terbesar dari kepala janin. Ini adalah diameter yang berpengaruh untuk membentuk presentasi dahi

MEKANISME PERSALINAN

  • Turunnya kepala dibagi menjadi dua yaitu masuknya kepala dalam pintu atas panggul, dan majunya kepala
  • Pembagian ini terutama berlaku pada primigravida. Masuknya kedalam pintu atas panggul pada primigravida (yang baru pertama kali hamil) sudah terjadi pada bulan terkahir kehamilan tetapi pada multigravida (yang sudah pernah hamil sebelumnya) biasanya baru terjadi pada permulaan persalinan.
  • Masuknya kepala kedalam pintu atas panggul biasanya dengan sutura sagitalis, melintang dan dengan fleksi yang ringan
  • Masuknya sutura sagitalis terdapat ditengah-tengah jalan lahir, ialah tepat diantara simpisis dan promontorium, maka kepala dikatakan dalam synclitismus dan synclitismus os parietal depan dan belakang sama tingginya
  • Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati simpisis atau agak kebelakang mendekati promontorium maka posisi ini disebut asynclitismus. Pada pintu atas panggul biasanya kepala dalam asynclitismus posterior yang ringan. Asynclitismus posterior ialah jika sutura sagitalis mendekati simpisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal depan. Asynclitismus anterior ialah jika sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang
  • Majunya kepala pada primigravida terjadi setelah kepala masuk kedalam rongga panggul dan biasanya baru dimulai pada kala 2. Pada multigravida sebaiknya majunya kepala dan masuknya kepala kedalam rongga panggul terjadi bersamaan. Yang menyebabkan majunya kepala : Tekanan cairan intrauterin, tekanan langsung oleh fundus pada bokong, kekuatan meneran, melurusnya badan janin oleh perubahan bentuk rahim
  • Penurunan terjadi selama persalinan oleh karena daya dorong dari kontraksi dan posisi, serta peneranan selama kala 2 oleh ibu
  • Fiksasi (engagement) merupakan tahap penurunan pada waktu diameter biparietal dari kepala janin telah masuk panggul ibu
  • Desensus merupakan syarat utama kelahiran kepala, terjadi karena adanya tekanan cairan amnion, tekanan langsung pada bokong saat kontraksi, usaha meneran, ekstensi dan pelurusan badan janin
  • Fleksi, sangat penting bagi penurunan kepala selama kala 2 agar bagian terkecil masuk panggul dan terus turun. Dengan majunya kepala, fleksi bertambah hingga ubun-ubun besar. Keuntungan dari bertambahnya fleksi ialah ukuran kepala yang lebih kecil melalui jalan lahir yaitu diameter suboccipito bregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter suboccipito frontalis (11,5 cm). Fleksi disebabkan karena janin didorong maju, dan sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul, serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari kekuatan dorongan dan tahanan ini terjadilah fleksi, karena moment yang menimbulkan fleksi lebih besar dari moment yang menimbulkan defleksi.
  • Putaran paksi dalam/rotasi internal, pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar ke depan ke bawah sympisis. Pada presentasi belakang kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar kedepan kebawah simpisis. Putaran paksi dalam mutlak perlu untuk kelahiran kepala karena putara paksi merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya bentuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam tidak terjadi tersendiri, tetapi selalu kepala sampai ke hodge III, kadang-kadang baru setelah kepala sampai di dasa panggul. Sebab-sebab putaran paksi dalam : Pada letak fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian terendah dari kepala. Pada bagian terendah dari kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit yaitu pada sebelah depan atas dimana terdapat hiatus genetalis antara M. Levator ani kiri dan kanan. Pada ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter anteroposterior
  • Rotasi internal dari kepala janin akan membuat diameter enteroposterior (yang lebih panjang) dari kepala akan menyesuaikan diri dengan diameter anteroposterior dari panggul
  • Ekstensi, setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai didasar panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini terjadi pada saat lahir kepala, terjadi karena gaya tahanan dari dasar panggul dimana gaya tersebut membentuk lengkungan Carrus, yang mengarahkan kepala keatas menuju lubang vulva sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melaluinya. Bagian leher belakang dibawah occiputnya akan bergeser dibawah simpisis pubis dan bekerja sebagai titik poros. Uterus yang berkontraksi kemudian memberi tekanan tambahan atas kepala yang menyebabkan ekstensi kepala lebih lanjut saat lubang vulva-vagina membuka lebar. Pada kepala bekerja dua kekuatan, yang satu mendesaknay ekbawah dan satunya kerena disebabkan tahanan dasar panggul yang menolaknya keatas. Resultantenya ialah kekuatan kearah depan atas.
  • Setelah subocciput tertahan pada pinggir bawah sympisis maka yang dapat maju karena kekuatan tersebut diatas adalah bagian yang berhadapan dengan subocciput, maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum ubun-ubun besar, dahi hidung dan mulut dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi. Subocciput yang menjadi pusat pemutaran disebut hypomoclion
  • Rotasi eksternal/putaran paksi luar, terjadi bersamaan dengan perputaran interior bahu. Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang etrjadi karena putaran paksi dalam. Gerakan ini disebut putaran restitusi. Restitusi adalah perputaran kepala sejauh 45ᴼ baik kearah kiri atau kanan bergantung pada arah dimana ia mengikuti perputaran menuju posisi oksiput anterior. Selanjutnya putaran dilanjutkan hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber ischidicum. Gerakan yang terakhir ini adalah gerakan paksi luar yang sebenarnya dan disebabkan karena ukuran bahu, menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul.
  • Ekspulsi, setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah sympisis dan menjadi hypomoclion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahi mengikuti lengkung carrus (kurva jalan lahir).

MOLDING (Molase)

Adalah perubahan bentuk kepala sebagai akibat penumpukan tulang tengkorak yang saling overlapping satu sama lain karena belum menyatu dengan kokoh dan memungkinkan terjadinya pergeseran sepanjang garis sambungnya. Molding melibatkan seluruh tengkorak kepala, dan merupakan hasil dari tekanan yang dikenakan atas kepala janin oleh struktur jalan lahir ibu. Sampai batas-batas tertentu, molding akan memungkinkan diameter yang lebih besar bisa menjadi lebih kecil dan dengan demikian bisa sesuai melalui panggul ibu

MANUVER  TANGAN DAN LANGKAH-LANGKAH DALAM PERTOLONGAN PERSALINAN

MANUVER ALASAN
Letakkan telapak tangan pada bagian vertex yang terlihat, sambil hati-hati agar jangan membiarkan tangan masuk kedalam vagina. Lakukan penekanan terkendali dan tidak menghambat kepala janin untuk keluar Jari-jari tangan didalam vagina bisa membawa masuk organisme dan meningkatkan resiko robekan perineum. Tekanan yang dilakukan terhadap kepala pada saat ini akan membantu kepala agar fleksi sehingga daerah subocciput menyentuh pinggir bawah simpisis pubis dan proses pengekstensian dimulai
Dengan tangan lainnya, support perineum untuk mencegah kepala terdorong keluar terlalu cepat sehingga merusak perineum. Tutupilah tangan yang mensupport perineum dengan handuk. Letakkan ibu jari dipertengahan pada salah satu sisi perineum dan letakkan jari telunjuk dipertengahan sisi perineum yang berlawanan. Secara perlahan tekanlah ibu jari dan jari telunjuk kebawah dan kearah satu sama lain untuk mengendalikan peregangan perineum. Gerakan kebawah dan kedalam ini melibatkan jaringan yang cukup dalam aksi tersebut dan mendistribusikan jaringan tambahan kearah bagian tengah dan perineum yaitu daerah yang paling besar kemungkinannya mengalami laserasi. Handuk akan mencegah tangan yang bersarung tangan terkena kontaminasi secara tidak sengaja
Dengan cermat dan hati-hati perhatikan perineum saat kepala janin terus muncul dan lahir, usaplah mulut bayi dengan jari yang dibungkus kain kasa Garis-garis putih yang tipis akan segera tampak sebelum terjadinya perobekan pada perineum. Gunakan kain kasa untuk menghapus lendir yang mungkin terhisap pada saat bayi mulai bernafas untuk pertama kali
Pada waktu kepala sudah lahir, luncurkan salah satu jari tangan dari salah satu tangan ke leher bayi untuk memeriksa apakah ada lilitan tali pusat disekeliling leher janin, biasanya tali pusat tersebut hanya perlu dilonggarkan sedikit agar kepala janin bisa dilahirkan tanpa kesulitan Meluncurkan jari tangan ke leher bayi sampai ke puncak punggungnya akan memungkinkan penolong untuk mengetahui dimana letak tali pusatnya
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan longgar, upayakan agar tali pusat tersebut dapat dilonggarkan lewat kepalanya. Jika lilitan tali pusat tersebut terlalu ketat untuk bisa dilepas lewat kepala bayi, tetapi tidak terlalu ketat melilit leher bayi, lepaskan melalui bahunya saat bayi lahir.

Jika tali pusat tersebut melilit leher bayi dengan ketat, pasanglah dua buah klem pada tali pusat tersebut dengan segera. Pastikan ibu mendapatkan penjelasan tentang apa yang penolong lakukan, dan sebaiknya ibu hanya bernafas pendek saja dan tidak meneran.

Tali pusat yang ketat bisa menyebabkan terjadinya hipoksia bayi. Menaganjurkan ibu bernafas pendek-pendek akan mencegah meneran dan mencegah lilitannya menjadi lebih ketat.
Tunggulah sampai terjadi rotasi eksternal pada kepala bayi. Setelah kepala bayi berputar menghadap ke paha ibu, letakkan tangan pada kedua sisi kepala bayi, tangan kebawah untuk melahirkan bahu anterio, kemudian tangan mengarah keatas lagi untuk melahirkan bahu posterior Menunggu, dan tidak melakukan manuver tangan hingga restitusi kepala selesai adalah penting untuk keselamatan kelahiran tersebut. Dalam kelahiran yang normal perlu melakukan intervensi agar kepala bayi berputar, sambil menunggu beri dukungan pada ibu
Setelah bahu dilahirkan, letakan salah satu tangan dibawah leher bayi untuk menopang kepala, leher dan bahunya, sedangkan 4 jari tangan yang satu lagi menopang lengan dan bahu anterior. (sementara melakukan hal tersebut, bungkukan badan secukupnya untuk mengamati perineum dan memastikan bahwa tidak ada tekanan berlebihan pada perineum) Badan bayi haruslah meluncur keluar dengan dituntun oleh tangan sepanjang kurva jalan lahir (Carus) dan menopangnya dari tekanan yang berlebihan oleh perineum ibu. Pemegangan yang seperti ini akan memungkinakan penolong untuk mengendalikan kelahiran tubuh bayi
Pada saat badan bayi dilahirkan, luncurkan tangan atas kebawah badan bayi, dan selipkan jari telunjuk diantara kaki bayi dan terus ke bawah hingga menggenggam kedua pergelangan kaki bayi Bagaimana licinnya bayi, cara seperti ini akan menghasilkan pegangan yang aman
Lahirkan tubuh bayi dalam gerak lengkung yang rata (ingat kurva carus) keluar supaya kepalanya sekarang ditopang oleh permukaan telapak tangan yang satu lagi. Tangan yang menopang kepala hendaknya lebih rendah dari tubuh bayi. Hal ini akan membuat bayi berada dalam ketinggian yang sama dengan plasenta dan mencegah bayi terlepas atau terkena tekanan yang berlebihan terhadap jaringan bayi. Merendahkan posisi kepala bayi akan mendorong pengeluaran lendir sementara bayi dikeringkan
Sementara mengevaluasi kondisi bayi, keringkanlah lalu letakkan bayi diatas abdomen ibu Bayi saat ini harus sudah mulai bernafas, kering, dan kontak dengan kulit ibu sedapat mungkin untuk mencegah hipotermia, untuk mendorong terciptanya ikatan batin serta pemberian ASI

Sumber :

Simkin P & Ancheta R. 2005. Buku Saku Persalinan. EGC. Jakarta

Varney, Kriebs JM, Gegor CL. 2002. Buku Saku Bidan. EGC. Jakarta

MHN. 2008. Asuhan Persalinan Normal depkes RI. Jakarta

Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. 2003. Asuhan Intrapartum. Depkes RI. Jakarta

Saifuddin, Abdul bari. 2002. Buku Panduan Praktik Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPSP. Jakarta

Oxorn H. Patologi dan Fisiologi Persalinan

Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifery. Jones and Barlett. New York

Sastrowinata, S. 1983. Obstetri Fisiologi. Unpad. Bandung

Depkes RI. 2003. Standar Asuhan Kebidanan Bagi Bidan di Rumah sakit dan Puskesmas

Direktorat Keperawatan dan Keteknisan Medik

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Depkes RI. jakarta

Posted by: lenteraimpian | March 16, 2010

ASUHAN SAYANG IBU DAN POSISI MENERAN

ASUHAN SAYANG IBU

  • Asuhan yang aman, berdasarkan evidence based dan turut meningkatkan angka kelangsungan hidup ibu
  • Membantu ibu merasa nyaman dan aman selama proses persalinan yang menghargai kebiasaan budaya praktek keagamaan dan kepercayaan
  • Melibatkan ibu dan keluarga sebagai pengambil keputusan
  • Menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah dan bahwa intervensi yang tidak perlu dan pengobatan untuk proses alamiah harus dihindarkan
  • Berpusat pada ibu dan bukan pada petugas kesehatan dan selalu melihat dahulu ke cara pengobatan yang sederhana dan non intervensi sebelum berpaling ke teknologi
  • Menjamin bahwa ibu dan keluarganya diberitahu tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang bisa diharapkan
  • Panggil ibu sesuai dengan namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai dengan martabatnya
  • Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu selama proses persalinan dan kelahiran dan anjurkan keluarga agar terlibat dalam asuhan sayang ibu
  • Berikan dukungan dan semangat pada ibu dan anggota keluarganya
  • Tenteramkan hati ibu selama kala 2 persalinan
  • Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran
  • Saat pembukaan lengkap, jelaskan pada ibu untuk hanya meneran apabila ada dorongan kuat untuk meneran. Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
  • Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi selama kala 2 persalinan
  • Berikan rasa aman, semangat dan tenteramkan hati ibu selama proses persalinan dengan memberikan penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan
  • Menghargai privasi ibu
  • Mmenghargai dan memperbolehkan praktek-praktek keagamaan maupun tradisional yang tidak memberi pengaruh yang merugikan
  • Hindari tindakan yang berlebihan dan mungkin dapat membahayakan seperti episiotomi, kateterisasi rutin, pencukuran dan klisma
  • Anjurkan pada ibu untuk memeluk bayinya segera setelah kelahiran bayi
  • Membantu memulai pemberian ASI dalam 1 jam pertama setelah kelahiran
  • Siapkan rencana rujukan (bila diperlukan)

Kerugian pencukuran perineal, enema, kateterisasi rutin

  • Pencukuran perineal dapat menyebabkan laserasi kecil yang bisa menjadi jalan masuk bagi organisme serta sebagai saluran masuk infeksi. Pencukuran akan terasa tidak nyaman pada saat bulu pubis mulai tumbuh kembali
  • Enema bisa menambah rasa tidak nyaman bagi ibu, menimbulkan kram pada rektum sehingga feses tidak bisa dikendalikan, menyebabkan lingkungan persalinan tidak bersih. Adanya kram pada bagian anus juga bisa menimbulkan kram pada bagian uterus dan dapat menyebabkan pengeluaran bayi yang terlalu cepat (partus presipitatus)
  • Kateterisasi dapat menimbulkan rasa sakit, meningkatkan resiko infeksi dan kemungkinan luka pada saluran kemih

Kehadiran keluarga atau teman dalam persalinan

  • Persepsi ibu mengenai kelahiran anak lebih baik
  • Memberikan rasa nyaman
  • Sebagai dukungan psikologis maupun emosional
  • Waktu persalinan terasa lebih pendek
  • Intervensi medis menjadi lebih sedikit karena rasa nyeri ibu menjadi teralihkan dengan kehadiran orang-orang yang dicintai
  • Hasil persalinan yang baik, ternyata erat hubungannya dengan dukungan keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan (Enkin, et al, 2000)

Hasil penelitian (Enkin, et al 2000)

  • Meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernafas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu sehingga menyebabkan resiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen melalui plasenta
  • ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Kecukupan asupan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal tersebut.

POSISI MENERAN

Seorang bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin dan melahirkan memilih sendiri posisi persalinan yang diinginkannya dan bukan berdasarkan keinginan bidannya sendiri. Dengan kebebasan untuk memutuskan posisi yang dipilihnya, ibu akan lebih merasa aman.

Berdasarkan penelitian  pilihan posisi berdasarkan keinginan ibu

  • Memberikan banyak manfaat
  • Sedikit rasa sait dan ketidaknyamanan
  • Kala 2 persalinan menjadi lebih pendek
  • Laserasi perineum lebih sedikit
  • Lebih membantu meneran
  • Nilai apgar lebih baik

Posisi meneran

  • Posisi terlentang (supine) dapat menyebabkan hipotensi karena bobot uterus dan isinya menekan aorta, vena cava inferior serta pembuluh-pembuluh darah lain sehingga menyebabkan suplai darah ke janin menjadi berkurang, dimana akhirnya ibu dapat pingsan dan bayi mengalami fetal distress ataupun anoksia janin. Posisi ini juga menyebabkan waktu persalinan menjadi lebih lama, besar  kemungkinan terjadinya laserasi perineum dan dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.
  • Posisi berjongkok, berlutut merangkak akan meningkatkan oksigenisasi bagi bayi dan bisa mengurangi rasa sakit punggung bagi ibu
  • Posisi jongkok/setengah duduk akan membantu dalam penurunan janin dengan bantuan gravitasi bumi untuk menurunkan janin kedalam panggul dan terus turun kedasar panggul. Posisi berjongkok akan memaksimumkan sudut dalam lengkungan Carrus, yang akan memungkinkan bahu besar dapat turun ke rongga panggul dan tidak terhalang (macet) diatas simpisis pubis. Dalam posisi berjongkok ataupun berdiri, seorang ibu bisa lebih mudah mengosongkan kandung kemihnya, dimana kandung kemih yang penuh akan dapat memperlambat penurunan bagian bawah janin
  • Posisi merangkak dapat membantu penurunan kepala janin lebih dalam ke panggul

Posted by: lenteraimpian | March 16, 2010

AMNIOTOMI DAN EPISIOTOMI

AMNIOTOMI/pemecahan selaput ketuban

  • Selama membran amnion masih utuh, bayi akan terlindung dari infeksi
  • Cairan amnion berfungsi sebagai perisai untuk melindungi bayi dari tekanan kontraksi uterus
  • Kantung ketuban akan pecah secara spontan

Istilah untuk menjelaskan penemuan cairan ketuban/selaput ketuban

  • Utuh (U), membran masih utuh, memberikan sedikit perlindungan kepada bayi uterus, tetapi tidak memberikan informasi tentang kondisi
  • Jernih (J), membran pecah dan tidak ada anoksia
  • Mekonium (M), cairan ketuban bercampur mekonium, menunjukkan adanya anoksia/anoksia kronis pada bayi
  • Darah (D), cairan ketuban bercampur dengan darah, bisa menunjukkan pecahnya pembuluh darah plasenta, trauma pada serviks atau trauma bayi
  • Kering (K), kantung ketuban bisa menunjukkan bahwa selaput ketuban sudah lama pecah atau postmaturitas janin

Alasan untuk menghindari pemecahan ketuban dini

  • Kemungkinan kompresi tali pusat
  • Molase yang meningkat serta kemungkinan kompresi kepala yang tidak merata
  • Tekanan yang meningkat pada janin mengakibatkan oksigenasi janin yang berkurang

Indikasi amniotomi

  • Jika ketuban belum pecah dan serviks telah membuka sepenuhnya
  • Akselerasi persalinan
  • Persalinan pervaginam menggunakan instrumen

Mekanisme amniotomi

  • Saat melakukan pemeriksaan dalam, sentuh ketuban yang menonjol, pastikan kepala telah engaged dan tidak teraba adanya tali pusat atau bagian-bagian kecil janin lainnya.
  • Pegang ½ klem kocher/kelly memakai tangan kiri dan memasukan kedalam vagina dengan perlindungan 2 jari tangan kanan yang mengenakan sarung tangan hingga menyentuh elaput ketuban
  • Saat kekuatan his sedang berkurang, dengan bantuan jari-jari tangan kanan, goreskan klem ½ kocher untuk menyobek 1-2 cm hingga pecah
  • Tarik keluar klem ½ kocher/kelly dengan tangan kiri dan rendam dalam larutan klorin 0,5%. Tetap pertahankan jari-jari tangan kanan didalam vagina untuk merasakan turunnya kepala janin dan memastikan tetap tidak teraba adanya tali pusat. Keluarkan jari tangan kanan dari vagina, setelah yakin bahwa kepala turun dan tidak teraba tali pusat. Cuci dan lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik didalam larutan klorin 0,5%
  • Periksa kembali denyut jantung janin

EPISIOTOMI

  • Tidak dilakukan secara rutin
  • Bila tidak tepat waktu dan prosedurnya salah, terjadi peningkatan jumlah perdarahan, laserasi derajat 3 atau 4 dan kejadian hematoma
  • Menyebabkan nyeri pasca persalinan
  • Meningkatkan resiko infeksi

Persiapan

  • Pertimbangkan indikasi episiotomi dan pastikan bahwa episiotomi penting untuk kesehatan dan kenyamanan ibu/bayi
  • Pastikan perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia dan steril
  • Gunakan teknik aseptik setiap saat, cuci tangan dan gunakan sarung tangan steril
  • Jelaskan kepada ibu alasan dilakukannya episiotomi dan diskusikan prosedurnya dengan ibu, berikan dukungan dan dorongan pada ibu

Indikasi

  • Terjadi gawat janin dan persalinan mungkin harus diselesaikan dengan bantuan alat (ekstraksi cunam atau vakum)
  • Adanya penyulit (distosia bahu, persalinan sungsang)
  • Adanya perut yang menghambat proses pengeluaran bayi

Jenis episiotomi

Medialis

Otot yang terpotong

  • M. Transversa perinei
  • M. Bulbocavernosi
  • M. Bulbococcygeal
  • M. Iliococcygei

Manfaat

  • Secara anatomis lebih alamiah
  • Menghindari pembuluh-pembuluh darah dan syaraf, jadi penyembuhan tidak terlalu sakit
  • Lebih mudah dijahit karena anatomis jaringan lebih mudah
  • Nyeri saat berhubungan (dispareunia) jarang terjadi
  • Kehilangan darah lebih sedikit
  • Jarang terjadi kesalahan penyembuhan

Bahaya

  • Jika meluas bisa memanjang sampai ke spincter ani yang mengakibatkan kehilangan darah lebih banyak, lebih sulit dijahit dan jika sampai spincter ani harus dirujuk

Mediolateralis

Pemotongan dimuali dari garis tengah fossa vestibula vagina ke posterior ditengah antara spina ischiadica dan anus. Dilakukan pada ibu yang memiliki perineum pendek,  pernah ruptur grade 3.

Manfaat

  • Perluasan laserasi akan lebih kecil kemungkinannya menjani spincter ani

Bahaya

  • Penyembuhan terasa lebih sakit dan lama
  • Mungkin kehilangan  darah lebih banyak
  • Jika dibandingkan dengan medialis (yang tidak sampai spincter ani) lebih sulit dijahit
  • Bekas luka parut kurang baik
  • Pelebaran introitus vagina
  • Kadangkala diikuti dispareunia (nyeri saat berhubungan)
Posted by: lenteraimpian | March 9, 2010

KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TRIMESTER I DAN II

ANEMIA KEHAMILAN

Yang dimaksud dengan anemia kehamilan adalah jika kadar hemoglon < 11 gr/dL pada trimester 1 dan 3,  atau jika kadar hemoglobin < 10,5 gr/dL pada trimester 2

Tingkatan anemia

  • Anemia ringan : 9-10 gr/dL
  • Anemia sedang : 7-8 gr/dL
  • Anemia berat : < 7 gr/dL

Gejala : pucat, mudah pingsan, TD normal, gejala klinik dapat terlihat pada tubuh yang malnutrisi

Jika hasil pemeriksaan kadar hemoglobin tidak akurat, hal ini mungkin akibat dari kadar LED darah yang cepat ataupun spesimen yang tidak tercampur dengan baik.

Pembagian anemia

  • Anemia defisiensi besi
  • Anemia megaloblastik
  • Anemia hipoplastik
  • Anemia hemolitik

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Adalah penurunan jumlah sel darah merah akibat dari kekurangan zat besi

Patofisiologi

  • Darah meningkat 50% dalam kehamilan (hipervolemia), penambahan sel darah tidak sebanding dengan plasma darah (plasma 30%, sel darah 18%, Hb 19%)
  • Terjadi pengenceran darah
  • Pembentukan sel darah merah terlalu lambat
  • Volume darah bertambah sejak usia kehamilan 10 minggu
  • Puncaknya penambahan darah pada usia kehamilan 32-36 minggu

Etiologi

  • Makanan tidak cukup mengandung zat besi (Fe)
  • Komposisi makanan tidak baik untuk penyerapan
  • Adanya gangguan penyerapan (penyakit usus)
  • Kebutuhan Fe meningkat

Gejala klinis

  • Data subjektif : ibu mengatakan sering pusing, cepat lelah, lemas, susah bernafas
  • Data objektif : konjungtiva pucat, muka pucat, ujung-ujung kuku pucat

Komplikasi

  • Trimester 1 : missed abortus, kelainan kongenital, abortus
  • Trimester 2 : partus prematurus, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (PJT), asfiksia, gestosis/manifestasi keracunan karena kehamilan, IQ bayi rendah, dekompensasi kordis)
  • Trimester 3 : gangguan his primer dan sekunder, janin lahir anemia, persalinan dengan tindakan tinggi, ibu cepat lelah

Pemantauan

  • Periksa kadar Hb setiap 2 minggu
  • Bidan memberikan suplemen zat besi kepada kliennya yang memeriksakan diri
  • Efek samping berupa gejala gangguan gastrointestinal : konstipasi, diare, rasa terbakar di ulu hati, nyeri abdomen dan mual

Pencegahan

  • Sulfas ferrosus 1 tablet/hari
  • Anjurkan makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang banyak mengandung vitamin dan mineral
  • Pemberian preparat besi
  • Pemeriksaan kadar Hb pada trimester 1 dan 2
  • Pemberian vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. Penyerapan zat besi yang terbaik adalah pada waktu perut kosong
  • Susu dan antasida dapat mengurangi penyerapan zat besi
  • Hindari kafein, misalnya kopi dan teh
  • Sebelum dan selama kehamilan mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi, asam folat dan vitamin B

Penatalaksanaan

  • Oral : pemberian fero sulfat,/fero gluconat/Na-fero bisitrat 60 mg/hari, 800 mg selama kehamilan, 150-100 mg/hari
  • Parenteral : pemberian ferum dextran 1000 mg (20 ml) IV atau 2×10 ml/IM

ANEMIA MEGALOBLASTIK

Adalah anemia yang terjadi karena kekurangan asam folat

Peran asam folat

  • Untuk pertumbuhan dan replikasi sel
  • Mencegah terjadinya perubahan pada DNA yang dapat menyebabkan kanker
  • Penting dalam pembentukan sel
  • Darah merah membutuhkan asam folat
  • Membantu perkembangan janin

Gejala

  • Tangan atau kaki kesemutan dan kaku
  • Kehilangan sensasi sentuh
  • Kehilangan kemampuan indera penciuman
  • Sulit berjalan dan terlihat goyah
  • Demensia (kehilangan kemampuan psikis atau mental)
  • Kejiwaan terganggu (halusinasi, paranoia, psikosis/gangguan jiwa yang disertai dengan disintegrasi kepribadian)

Sumber asam folat

  • Hewani maupun nabati seperti hati, kuning  telur, ginjal, ragi, sayuran hijau (bayam, brokoli) dan susu
  • 80% kandungan asam folat hilang selama proses pemasakan
  • Sereal siap saji yang difortifikasi mengandung asam folat
  • Asam folat sintesis, struktur kimianya lebih sederhana sehingga lebih mudah diserap tubuh (asam pteroil glutamat)

Kebutuhan

  • Orang dewasa 400 mcg (0,4 mg)/hari
  • Ibu hamil 600 mcg/hari
  • Ibu menyusui 500 mcg/hari
  • Harus disiapkan sebelum kehamilan, karena gangguan sering terjadi pada bulan pertama kehamilan, dimana ibu biasanya belum menyadari bahwa dirinya tengah hamil

Efek samping

  • Terselubungnya komplikasi syaraf akibat defisiensi vitamin B12
  • Tidak dianjurkan > 1000mg/hari
  • Asam folat termasuk golongan vitamin B yang larut dalam air, jika kelebihan dapat larut dalam air

ANEMIA HIPOPLASTIK

  • Adalah anemia yang terajdi akibat sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru
  • Jarang dijumpai dalam kehamilan
  • Disertai dengan trombositopenia, dan leucopenia
  • Disertai kelainan kongenital sering terjadi akibat obat-obatan, zat kimia, infeksi, irradiasi, leukemia dan kelainan immunologik
  • Bisa juga trejadi akibat transplantasi sumsum tulang atau transfusi darah berulang kali

ANEMIA HEMOLITIK

  • Adalah anemia yang terjadi akibat sel darah merah lebih cepat hancur dari pembentukannya
  • Etiologi tidak jelas
  • Kejadian langka
  • Hemolisis berat timbul secara dini dalam kehamilan dan hilang beberapa bulan setelah bersalin
  • Penambahan darah tidak memberikan hasil
  • Transfusi darah untuk meringankan penderitaan ibu dan mengurangi bahaya hipoksia pada janin

HIPEREMESIS GRAVIDARUM (HEG)

  • Adalah gejala mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil
  • Dapat berlangsung sampai usia kehamilan 4 bulan dan keadaan umum menjadi buruk
  • Etiologi belum diketahui secara pasti
  • Dibagi menjadi 3 tingkatan menurut beratnya gejala yang timbul

HEG tingkat 1

  • Muntah terus menerus
  • Ibu merasa lemah
  • Nafsu makan tidak ada
  • Berat badan turun
  • Nyeri epigastrium
  • Nadi meningkat sekitar 100x/menit
  • Tekanan darah turun
  • Turgor kulit mengurang
  • Lidah mengering
  • Mata cekung

HEG tingkat 2

  • Ibu lebih lemah dan apatis
  • Turgor kulit lebih mengurang
  • Lidah mengering dan nampak kotor
  • Nadi rendah dan cepat
  • Suhu tubuh kadang-kadang naik
  • Mata cekung dan sedikit ikterus
  • BB dan TD turun
  • Hemokonsenterasi, oliguria dan konstipasi
  • Ditemukan aseton pada air kencing

HEG tingkat 3

  • Keadaan umum lebih parah
  • Muntah berhenti
  • Kesadaran menurun dari somnolen sampai koma
  • Nadi kecil dan cepat
  • Suhu meningkat
  • TD dan BB turun
  • Ensepalopati Wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental

Penatalaksanaan

  • Rawat inap
  • Stop makan dan minum dalam 24 jam pertama
  • Obat-obatan diberikan secara parenteral
  • Infus D10% (2000 ml) dan RL 5% (2000 ml) per hari
  • Pemberian antiemetik (metokopramid hidrochlorid)
  • Roborantia/obat penyegar
  • Diazepam 10 mg IM (jika perlu)
  • Psikoterapi
  • Lakukan evaluasi dalam 24 jam pertama
  • Bila keadaan membaik, boleh diberikan makan dan minum secara bertahap
  • Bila keadaan tidak berubah : stop makan/minum, ulangi penatalaksanaan seperti sebelumnya untuk 24 jam kedua
  • Bila dalam 24 jam tidak membaik pertimbangkan untuk rujukan
  • Infus dilepas setelah 24 jam bebas mual dan muntah
  • Jika dehidrasi berhasil diatasi, anjurkan makan makanan lunak porsi kecil tapi sering, hindari makanan yang berminyak dan berlemak, kurangi karbohidrat, banyak makan makanan yang mengandung gula

Kriteria pulang

  • Mual dan muntah tidak ada lagi
  • Keluhan subjektif sudah tidak ada
  • TTV baik

ABORTUS

  • Adalah berhentinya kehamilan pada usia < 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin
  • BBL  <500 gram, PB <25 cm
  • Angka harapan hidup sangat kecil yaitu <1%
  • Batasan berbeda tentang abortus 18-24 minggu, WHO 22 minggu

Pembagian abortus

  • Abortus spontan (imminens, insipiens, incompletus, completus)
  • Abortus induced (therapeutik, sugenic, electiv)
  • Abortus septik
  • Abortus habitualis
  • Missed abortion

Etiologi

Maternal

  • Kelainan kromosom
  • Infeksi kronis (sifilis, TB aktif)
  • Keracunan
  • Trauma fisik
  • Gangguan endokrin (hipotiroid, DM)
  • Penyakit kronis
  • Oksidan (rokok, alkohol)
  • Defisiensi hormonal

Fetal

  • Kematian janin akibat kelainan bawaan
  • Mola hidatidosa
  • Penyakit plasenta dan desidua

ABORTUS IMMINENS

  • Perdarahan bercak-sedang
  • Perdarahan ringan (lebih dari 5 menit basahi pembalut)
  • Dilatasi serviks tertutup
  • Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
  • Gejala/tanda : kram perut bawah uterus (hilang timbul)
  • USG, pengaruhi rencana tindakan
  • Diagnosa banding : mola, KET

Penatalaksanaan

  • Bed rest, tidak perlu pengobatan khusus ataupun tirah baring total
  • Jangan melakukan aktifitas fisik berlebihan
  • Kurangi hubungan seksual
  • Tidak perlu terapi hormonal baik estrogen maupun progesteron
  • Tidak perlu pemberian tokolitika ( salbutamol, indometasin)
  • Pemberian fenobarbital 3×30 mg/hari
  • Pemberian papaverin 3×40 mg/hari
  • Observasi perdarahan (jika berhenti : lakukan asuhan antenatal seperti biasa, lakukan penilaian jika terjadi perdarahan lagi. Jika terus berlangsung : nilai kondisi janin lewat uji kehamilan/USG, konfirmasi penyebab lain jika ditemukan ukuran uterus yang lebih besar dari usia kehamilan.

ABORTUS INSIPIEN (sedang berlangsung)

  • Perdarahan sedang-banyak
  • Konsepsi dalam uterus
  • Perdarahan berat hanya butuh waktu kurang  dari 5 menit untuk basahi pembalut
  • Serviks terbuka
  • Ukuran uterus sesuai usia kehamilan
  • Gejala/tanda ; kram/nyeri pada perut bagian bawah

Penatalaksanaan

Jika usia kehamilan < 16 minggu, evaluasi uterus dengan AVM, jika evaluasi tidak dapat dilakukan, segera lakukan :

  • Pemberian ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang setelah 15 menit jika perlu), atau pemberian misoprostol 400 mg/oral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu)
  • Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus

Jika usia kehamilan >16 minggu

  • Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi
  • Jika perlu pasang infus 20 IU oksitosin dalam RL atau garam fisiologik 500 ml IV, dengan kecepatan 40 tetes/menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi

Tetap pantau kondisi ibu setelah penanganan

Pasang infus D5% = oksitosin 10 IU

ABORTUS INKOMPLETUS

  • Perdarahan sedang-banyak
  • Serviks terbuka
  • Uterus sesuai usia kehamilan
  • Gejala/tanda : kram/nyeri perut bagian bawah dengan rasa sakit yang kuat
  • Terjadi ekspulsi sebagian hasil konsepsi

Penatalaksanaan

  • Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis)
  • Keluarkan sisa konsepsi secara digital atau dengan menggunakan cunam ovum dan evaluasi perdarahan
  • Jika perdarahan berhenti, berikan ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg/oral
  • Jika perdaraan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM
  • Jika terdapat tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika profilaksis
  • Jika terjadi perdarahan hebat dan < 16 minggu, segera evakuasi dengan AVM
  • Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas ferrosus 600mg/hari selama 2 minggu (anemia sedang ) atau transfusi darah (anemia berat)

ABORTUS KOMPLETUS

  • Perdarahan bercak-sedang
  • Serviks tertutup atau terbuka
  • Uterus lebih kecil dari usia kehamilan normal
  • Gejala/tanda : sedikit/tanpa nyeri pada perut bagian bawah
  • Riwayat ekspulsi hasil konsepsi
  • Janin akan keluar dari rahim, baik secara spontan maupun alat bantu

Penatalaksanaan

  • Tidak perlu evaluasi
  • Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak
  • Bila kondisi baik, cukup berikan ergometrin 3×1 tablet/hari selama 3 hari
  • Tetap pantau kondisi ibu setelah penanganan
  • Bila terjadi anemia sedang berikan sulfas ferrosus tablet 600 mg/hari selama 2 mingg dan anjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi
  • Untuk anemia berat lakukan transfusi darah
  • Bila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberikan antibiotika atau apabila khawatir akan infeksi dapat diberi antibiotika profilaksis
  • Lakukan konseling pasca abortus dan lakukan pemantauan lebih lanjut

ABORTUS HABITUALIS

  • Adalah kejadian abortus berulang, umumnya disebabkan karena kelainan anatomik uterus (mioma, septum, serviks inkompeten dan lain-lain) atau kelainan faktor-faktor immunologi
  • Idealnya dilakukan pemeriksaan USG untuk melihat ada atau tidaknya kelainan anatomi

MISSED ABORTION

  • Adalah kematian janin dan nekrosis jaringan konsepsi tanpa adanya pengeluaran, terjadi pada usia kehamilan 4 minggu atau lebih (beberapa buku 8 minggu)
  • Biasanya didahului tanda dan gejala abortus imminens yang kemudian menghilang spontan atau menghilang setelah pengobatan

Pentalaksanaan

  • Keluarkan jaringan konsepsi dengan laminaria, dan stimulasi kontraksi uterus dengan oksitosin
  • Jika diputuskan untuk melakukan tindakan kuretase, harus sangat berhati-hati karena jaringan telah mengeras dan dapat terjadi gangguan pembekuan darah akibat hipofibrinogenemia

ABORTUS THERAPEUTIK

  • Adalah abortus yang dilakukan atas pertimbangan/indikasi kesehatan wanita, dimana bila kehamilan itu dilanjutkan akan membahayakan dirinya, contohnya pada wanita dengan penyakit jantung, hipertensi, ginjal dan korban perkosaan (masalah psikis)
  • Dapat juga dilakukan atas pertimbangan kelainan janin yang berat

Syarat-syarat abortus therapeutik

  • Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ahli dan berwenang
  • Meminta pertimbangan ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi)
  • Melakukan informed consent
  • Saran kesehatan memadai
  • Prosedur tidak dirahasiakan
  • Dokumen medik harus lengkap

ABORTUS SEPTIK

  • Adalah abortus yang mengalami komplikasi berupa infeksi setelah abortus spontan/tidak aman
  • Terjadi jika terdapat sisa hasil konsepsi atau penundaan pengeluaran hasil konsepsi
  • Tindakan : resusitasi dan perbaiki keadaan umum ibu, berikan antibiotik spektrum luas dosis tinggi, keluarkan sisa konsepsi dalam 6 jam

DIAGNOSTIK ABORTUS

  • Anamnesis : perdarahan, haid terakhir, pola siklus haid, ada tidaknya gejala/keluhan lain, cari faktor resiko/predisposisi, riwayat penyakit umum dan obstetri
  • Prinsip : wanita usia reproduktif dengan perdarahan pervaginam abnormal HARUS selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya kehamilan
  • Pemeriksaan fisik umum : KU, TTV, jika KU buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi segera
  • Pemeriksaan ginekologik : ada tidaknya tanda akut abdomen, jika memungkinkan cari sumber perdarahan apakah dari dinding vagina atau jaringan serviks atau keluar ostium. Jika perlu ambil darah/cairan/jaringan untuk pemeriksaan penunjang (ambil sediaan sebelum PD), lakukan PD dengan hati-hati
  • Bimanual : tentukan besar dan letak uterus, tentukan apakah 1 jari pemeriksa dapat masuk kedalam ostium dengan mudah/lunak atau tidak (lihat ada/tidaknya dilatasi serviks), jangan dipaksakan. Adneksa dan parametrium diperiksa, ada/tidaknya massa atau tanda akut lainnya.

PENATALAKSANAAN PASCA ABORTUS

  • Lakukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebab aborts agar kejadian ini tidak berulang pada kehamilan berikutnya
  • Perhatikan involusi uterus dan kadar B-hCG selama 1-2 bulan
  • Anjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan
  • Anjurkan pemakaian kontrasepsi kondom atau pil

PRINSIP (perdarahan pervaginam pada kehamilan < 12 minggu)

  • JANGAN LANGSUNG DILAKUKAN KURETASE
  • Tentukan dulu, janin mati atau hidup. Jika memungkinkan periksa dengan USG
  • Jangan terpengaruh dengan B-hCG yang positif, meski janin sudah mati, kadar B-hCG mungkin masih tinggi dan bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin

ABORTUS PROVOKATUS KRIMINALIS

  • Akibat : perforasi, luka pada serviks uteri, perlekatan pada kavum uteri, perdarahan infeksi
  • Cara umum : olah raga berlebihan, naik kuda, mendaki gunung, berenang, naik turun tangga, trauma
  • Cara lokal : menggunakan alat-alat yang dapat menusuk kedalam vagina, alat memasang IUD, alat yang dialiri arus listrik, aspirasi jarum suntik

METODE KONTRASEPSI PASCA ABORTUS

Kontrasepsi Waktu Efektivitas
Kondom Segera Kedisiplinan klien, mencegah PMS
Pil Segera Minum secara teratur setiap hari dengan waktu yang sama
Suntik Segera Konseling untuk pilihan hormon tunggal dan kombinasi
Implan/susuk Segera Punya > 1 anak, jangka panjang
AKDR Segera Setelah kondisi pulih
Tubektomi Segera Menghentikan fertilitas

Beberapa wanita mungkin butuh

  • Jika klien pernah imunisasi, dinding vagina atau kanalis servikalis luka, berikan booster TT 0,5 ml
  • Riwayat imunisasi tidak jelas, beri serum anti tetanus 1500 IU IM diikuti dengan TT 0,5 ml setelah 4 minggu
  • Penatalaksanaan PMS
  • Penapisan kanker serviks

KEHAMILAN EKTOPIK

Patofisiologi

  • Ovum yang telah dibuahi berimplantasi di tempat lain selain di endometrium kavum uteri
  • Gangguan interferensi mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri
  • Kemungkinan implantasi : paling sering di tuba falopii (90-95 %, dengan 70-80% di ampula), serviks, ovarium, abdomen dan sebagainya.

Etiologi

  • Kelainan tuba adalah karena adanya riwayat penyakit tuba, seperti salpingitis
  • Riwayat operasi tuba, sterilisasi
  • Riwayat penyakit radang panggul
  • IUD
  • Ovulasi yang multipel akibat induksi obat-obatan, usaha fertilisasi in vitro dan sebagainya

Gejala

  • Amenorhea
  • Nyeri perut bagian bawah yang snagat dan berawal dari satu sisi, tengah, seluruh perut bagian bawah akibat robeknya tuba
  • Penderita bisa sampai pingsan dan syok
  • Perdarahan pervaginam biasanya berwarna hitam
  • Pusing, perdarahan, berkeringat, pembesaran payudara, perubahan warna pada vagina dan serviks, perlunakan serviks, pembesaran uterus, frekuensi BAK meningkat

Diagnosis

  • Pemeriksaan panggul, tentukan lokasi sakit
  • Lakukan tes B-hCG
  • Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui konsentrasi hormon progesteron
  • Pemeriksaan USG
  • Diagnosis banding : usus buntu (apendisitis akut), radang panggul
  • Penanganan : methotrexate
  • Prognosis : HCG (kuantitatif) untuk melihat sisa jaringan
  • Kesempatan hamil tergantung dari kerusakan tuba (1x operasi tuba : 55-60%, jika slauran satunya tidak ada atau rusak : 45%, >2x pembedahan ektopik dan komservatif : 30%)

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Gejala

  • Kolaps dan kelelahan
  • Nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih)
  • Hipotensi
  • Hipovolemia
  • Abdomen akut dan nyeri pelvis
  • Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya darah bebas
  • Nyeri lepas
  • Pucat

Diagnosis

  • Anamnesis : riwayat terlambat haid atau amenorhea, gejala dan tanda kehamilan muda dapat ada atau tidak ada, perdarahan pervaginam, nyeri perut pada kanan/kiri bawah
  • Pemeriksaan fisis : KU dan TTV dapat baik sampai buruk, ada tnada akut abdomen, saat pemeriksaan adnexa ada nyeri goyang portio
  • Pemeriksaan penunjang : tes urine B-hCG (+), kuldosentesis (ditemukan darah di kavum douglasi), USG

Penatalaksanaan KE dengan ruptur tuba

  • Optimalisasi KU ibu dengan transfusi, infus oksigen atau kalau dicurigai adanya infeksi diberikan juga antibiotika
  • Hentikan sumber perdarahan segera dengan laparatomi dan salpingektomi (memotong bagian tuba yang terganggu)

Sebelum pulang

  • Konseling prognosis kesuburannya
  • Konsleing metode kontrasepsi dan penyediaan metode kontrasepsi
  • Perbaiki anemia dengan sulfas ferrosus 600 mg/hari per oral selama 2 minggu
  • Kontrol ulang 4 minggu

KEHAMILAN SERVIKAL

  • Jarang terjadi
  • Perdarahan pervaginam tanpa disertai rasa nyeri
  • Terjadi abortus spontan sangat besar
  • Jika kehamilan tumbuh sampai besar, perdarahan atau ruptur yang terjadu sangat besar dan bisa dilakukan histerektomi lokal.

KEHAMILAN OVARIAL

Ditegakkan atas dasar kriteria Spiegelberg :

  • Tuba pada sisi kehamilan harus normal
  • Kantung janin harus terletak di ovarium
  • Jaringan ovarium yang nyata harus ditemuka dalam dinding kantung janin

MOLA HIDATIDOSA

  • Hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari vili korialis disertai dengan degenerasi hidropik
  • Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi yang normal, tidak dijumpai adanya janin, kavum uteri hanya terisi oleh jaringan sperti rangkaian buah anggur
  • Resiko terjadi keganasan (koriokarsinoma)

Pembagian

Mola hidatidosa klasik/komplet

  • Janin atau bagian tubuh janin tidak ada
  • Sering disertai pembentukan kista lutein (25-30%)

Mola hidatidosa parsial/inkomplet

  • Janin atau bagian tubuh janin ada
  • Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya mati pada trimester pertama

Gejala

  • Hiperemesis
  • Hipertiroid
  • Preeklampsia
  • Anemia
  • Uterus lebih besar dari umur kehamilan
  • Tanda pasti kehamilan tidak ditemukan
  • Perdarahan
  • Bisa juga disertai preeklampsia/ eklampsia

Diagnosa

  • Ditegakkan dengan USG
  • Pengosongan jaringan mola dengan vakum kuret
  • Pemeriksaan tindak lanjut dilakukan untuk mengetahui kemungkinan keganasan
  • Kadar hCG dipantau hingga minimal 1 tahun pasca kuretase
  • Bila >8 minggu pasca kuretase hCG tinggi berarti trofoblast masih aktif
  • Anamnesis : hamil disertai gejala dan tanda hamil muda yang berlebihan, perdarahan pervaginam berulang berwarna coklat, gelembung seperti busa
  • Pemeriksaan fisik : pada mola klasik ukuran uterus > besar dari usia kehamilan yang sesuai, tidak teraba bagian janin, DJJ tidak ada. Uji batang sonde tidak ada tahanan massa konsepsi. Pada mola parsial, gejala seperti missed abortion, uterus < gestasi
  • Pemeriksaan penunjang : periksa kadar B-hCG kuantitatif dan USG. Pada USG gambaran seperti badai salju (snowflake/snowstorm-like appearance)

Penatalaksanaan

  • Perhatikan sindroma yang mengancam fungsi vital (depresi nafas, hipertiroid/tirotoksikosis dan sebagainya). Resusitasi bila KU buruk
  • Evakuasi jaringan mola : dengan AVM dan kuret tajam. Suction dapat mengeluarkan sebagian besar massa mola, sisanya bersihkan dengan kuret. Dapat juga dilakukan induksi, pada waktu evakuasi berikan oksitosin untuk merangsang kontraksi uterus dan mencegah refluks cairan mola ke arah tuba
  • Pada wanita yang tidak mengharapkan anak lagi dapat dianjurkan histerektomi

Follow up

  • Profilaksis terhadap keganasan dengan sitostatika terutama pada kelompok resiko keganasan tinggi
  • Pemeriksaan ginekologik dan B-hCG kuantitatif rutin tiap 2 minggu teratur tiap 3 bulan-1 tahun
  • Foto toraks pada awal terapi, ulang bila kadar B-hCG menetap atau meningkat
  • Kontrasepsi hormonal 1 tahun pasca kuretase, sebaiknya preparat progesteron oral selama 2 tahun
  • Penyuluhan pada pasien akan kemungkinan keganasan

Posted by: lenteraimpian | March 5, 2010

PROSES ADAPTASI IBU HAMIL

Aspek Psikologi Masa Hamil

Respon psikologis masa hamil berubah setiap saat sesuai dengan trimesternya, yang diawali dengan suatu ketidakpastian (ambivalent) pada kehamilannya dan berfokus hanya pada diri sendiri lalu lambat laun fokus tersebut mulai bergeser ke arah bagaimana ia dapat melindungi janin yang dikandungnya.

RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 1

Reaksi psikologis dan emosi yang biasanya timbul pada wanita terhadap kehamilan :

  • Kecemasan
  • Kegusaran
  • Ketakutan
  • Perasaan panik

Dalam pikiran wanita, kehamilan merupakan ancaman, kegawatan, ketakutan dan bahaya bagi dirinya. Sehingga tak jarang terdapat beberapa wanita yang pada awal kehamilannya tidak hanya bersikap menolak kehamilan, tapi juga berusaha untuk menggugurkan kandungannya, bahkan ada yang mencoba untuk bunuh diri.

Gambaran respon terhadap rasa tidak pasti

Selama beberapa minggu kehamilan seorang wanita ragu, apakah ia benar-benar hamil/tidak. Sehingga wanita tersebut berusaha untuk membuktikan kehamilannya, dengan cara mengamati perubahan tubuh dengan seksama, mencari tanda-tanda kehamilan, membahas ketidakpastian dengan keluarga, teman tentang kemungkinan hamil dan untuk memastikannya wanita melakukan tes kehamilan (periksa ke bidan, tes urin, USG dan lain-lain)

Reaksi terhadap ketidakpastian hamil

Respon terhadap ketidakpastian hamil bersifat sangat individual hal ini bergantung dari masing-masing wanita, ada yang menjadi sangat bergembira dengan berita kehamilannya karena memang sangat dinanti-nantikan dan sudah direncanakan sebelumnya, ada pula yang merasakan takut terhadap adanya kemungkinan kehamilan dan mengharapkan bukan petunjuk adanya kehamilan saat ini. Biasanya wanita tersebut mencari kepastian dari dokter atau pun bidan dalam waktu 12 minggu pertama tidak haid dan mengharap bukan petunjuk adanya kehamilan saat ini.

Gambaran ambivalensi

  • Kebanyakan wanita menunjukan ambivalen terhadap kehamilannya
  • Ada yang merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk hamil
  • Sekalipun kehamilan diharapkan/direncanakan sering kali wanita mengatakan tidak berfikir akan hamil secepat itu
  • Wanita merasa belum siap dengan kehamilannya
  • Wanita sering ingin tidak hamil sampai tercapai suatu tujuan tertentu/bila rencananya sudah matang

Beberapa hal yang belum diketahui wanita sebagai calon ibu

  • Apa arti kehamilan, dalam pengertian terjadinya perubahan dalam kehidupan
  • Apa yang dapat wanita tersebut berikan sebagai hasil dari kehamilan
  • Pada kehamilan yang pertama, seorang wanita mungkin saja khawatir tentang bertambahnya tanggung jawab
  • Wanita tersebut tidak yakin terhadap kemampuannya sebagai orang tua yang baik
  • Beberapa wanita yang sudah mempunyai anak akan mencemaskan kehamilannya akan mempengaruhi hubungannya dengan anak-anaknya yang lain yang juga sebagai calon kakak dari janin yang dikandungnya
  • Wanita juga mencemaskan kehamilannya akan mempengaruhi hubungannya dengan suami

Diri sebagai fokus utama

  • Pada awal kehamilan fokus utama wanita hanya pada dirinya sendiri dan bukan pada janinnya
  • Respon fisik, seperti mual dan letih, sebenarnya isyarat sesuatu telah terjadi pada dirinya, walaupun kepastian tentang janin belum menentu dan tidak nyata
  • Berat badan ibu belum bertambah
  • Wanita lebih sering mengatakan “Saya hamil” daripada “Saya akan mempunyai anak”
  • Perubahan fisik dan meningkatnya derajat hormonal dapat menyebabkan emosi menjadi labil
  • Mood berubah dengan cepat, dari gembira menjadi mudah tersinggung
  • Ibu yang optimis menjadi lebih ingin tidur
  • Menunda pekerjaan
  • Keadaan perubahan itu membingungkan pasangan yang ingin ikut mempertahankan kestabilan hubungan
  • Peran bidan membantu menerangkan pada pasangan bahwa perubahan mood merupakan hal yang normal dan jangan dijadikan sebagai masalah yang tidak terselesaikan

RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 2

Konsep abstrak kehamilan menjadi identifikasi nyata

  • Perut menjadi membesar
  • Gerakan janin terasa (quickening) dan gerakan ini merupakan peristiwa penting karena gerakan janin yang lembut ini menandakan bahwa kehidupan terjadi dalam rahim,
  • Saat memeriksakan diri kepada bidan terdengar suara denyut jantung janin ataupun melihat janin bergerak-gerak saat melakukan USG ke dokter
  • Wanita sudah dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan
  • Wanita mulai memikirkan, janin merupakan bagian dari dirinya yang secara keseluruhan bergantung kepadanya sehingga wanita berusaha untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi yang dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang janinnya, istirahat yang cukup dan lain-lain
  • Sekarang wanita tersebut mengatakan “Saya akan mempunyai bayi”

Perubahan fisik

  • Perubahan fisik sudah jelas terlihat
  • Pada wanita yang mendambakan kehamilan, adanya janin menjadi terasa “nyata” baginya
  • Rahim membesar dengan cepat dan teraba
  • Berat badan bertambah
  • Perubahan pada payudara

Janin sebagai fokus utama

  • Pada trimester ini janin sebagai fokus utama
  • Ibu hamil biasanya merasa sehat
  • Ketidaknyamanan pada trimester pertama biasanya berkurang
  • Perubahan dari ukuran dirinya tidaklah merubah kegiatannya
  • Wanita ingin memiliki janin sehat
  • Mencari informasi tentang dietari (makanan yang cocok untuk ibu hamil dan janin)
  • Mencari informasi tentang tumbuh kembang janin
  • Wanita tersebut berusaha untuk tetap energik
  • Kebanyakan wanita menyadari kemampuannya untuk melindungi janinnya yang dimanifestasikan dalam bentuk narsisme dan introversi

Narsisme dan introversi

Narsisme secara harfiah berarti cinta/jatuh cinta kepada diri sendiri. Dalam psikiatri/psikologi narsisme menandakan keterkaitan minat dan perhatian pada diri/tubuh sendiri

Manifestasi narsisme

  • Hati-hati dalam memilih baju yang baik untuk digunakan
  • Hati-hati dalam memilih makanan yang dimakan
  • Memilih lingkungan yang lebih nyaman dari sebelumnya
  • Wanita lebih mengarahkan perhatiannya pada kehamilannya
  • Wanita dapat ketakutan kalau-kalau aktivitasnya dapat membahayakan janin

Introversi suatu keadaan dimana wanita lebih memikirkan tentang dirinya sendiri tapi bertujuan untuk janinnya, wanita tersebut akan membesar-besarkan kesalahannya sendiri, membesarkan perasaannya dan menjadi kurang berminat kepada dunia luar dan berfokus hanya pada janinnya.

Kesan tubuh (body image)

Positif

  • Dapat menerima perubahan tubuh yang cepat dari sebelum hamil menjadi hamil, dari yang ramping menjadi lebih gemuk
  • Perubahan tubuh menunjukan pertumbuhan janin, sebagai kebanggaan diri dan pasangan

Negatif

  • Perubahan tubuh disertai striae (gurat-gurat/garis-garis pada perut) kehamilan dan hiperpigmentasi (perubahan warna pada kulit, dimana kulit menjadi lebih gelap)
  • Menurunnya daya tahan tubuh, ketidaknyamanan pelvis (panggul) dan perut bagian bawah

Perubahan dalam seksualitas

  • Tidak dapat diduga, dapat meningkat/menurun/tidak berubah
  • Kenyamanan fisik/ketenteraman sejalan dengan keinginan aktivitas seks
  • Rasa takut keguguran seperti disebabkan menghindari hubungan seksualitas terutama yang berpengalaman kehilangan kehamilan
  • Rasa bersalah berkembang ke arah ansietas (kecemasan) bila aktivitas seksual dikurangi
  • Saran :

Pada trimester 1 : suami isteri boleh melakukan hubungan seksual namun frekuensinya dikurangi dan sebaiknya menggunakan kondom karena sperma mengandung hormon prostaglandin yang dapat mempengaruhi kontraksi uterus yang bisa memicu abortus

Pada trimeter 2 : dalam melakukan hubungan seksual suami isteri diberi kebebasan untuk menggunakan kondom atau pun tidak, namun frekuensi tetap harus dikurangi

Pada trimester 3 : posisi hubungan seksual sebaiknya diubah (menyesuaikan perubahan tubuh wanita)

RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 3

  • Wanita sudah dapat menyesuaikan diri
  • Kehidupan psikologik-emosional dikuasai oleh perasaan dan pikiran mengenai persalinan yang akan datang
  • Pikiran dan perasaan akan tanggung jawab sebagai ibu yang akan mengurus anaknya

Bermacam penjelmaan dapat terjadi

  • Semula menolak kehamilan—sekarang menunjukkan sikap positif dan menerima kehamilan
  • Semula jarang memeriksa kehamilan—sekarang lebih teratur dan mendaftarkan diri untuk bersalin
  • Persiapan perawatan bayi sudah disiapkan di rumah

Dua golongan wanita yang perlu mendapat perhatian karena diliputi rasa takut

  • Wanita dengan pengalaman tidak menyenangkan dalam kehamilan/persalinan sebelumnya dan primigravida (wanita yang baru pertama kali hamil) yang mendengar pengalaman menakutkan/mengerikan dari wanita lain
  • Multipara (wanita yang sudah pernah hamil) lanjut usia, kehamilan dan persalinan normal lancar. Kecemasan bukan pada dirinya tetapi pada janin dan anak yang lain, siapa yang akan mengurus anak-anaknya apabila terjadi apa-apa dengan dirinya pada waktu persalinan
  • Pada kedua keadaan ini penting pengertian dari bidan dan keluarga terhadap wanita tersebut agar lebih tenang dan relaks dalam menghadapi persalinan
  • Pendekatan psikologis yang tepat antara tenaga kesehatan dengan wanita tersebut
  • Hubungan saling percaya antara bidan dan wanita akan meringankan beban penderitaannya
  • Kesemuanya ini bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi

Kerentanan

  • Kerentanan meningkat pada trimester ketiga terutama pada kehamilan 7 bulan
  • Sering merasakan bayi yang amat berharga dapat saja hilang/mengalami hal buruk bila tidak dilindungi sepanjang waktu
  • Fantasi/mimpi buruk tentang janinnya (wanita jadi sangat berhati-hati)
  • Menghindari tempat ramai oleh karena tidak mampu melindungi janinnya

Meningkatnya kebutuhan akan ketergantungan

  • Merasakan sangat mendambakan suaminya
  • Meningkatnya kebergantungan pada pasanga/suami pada akhir-akhir minggu kehamilan
  • Dalam sehari dapat berulang-ulang menelpon suami
  • Meningkatnya kebutuhan cinta dan perhatian dari pasangan
  • Butuh kepastian dukungan dan kemampuan pasangan agar merasa lebih mantap akan kemampuannya dalam menghadapi persalinan
  • Mengaharapkan pasangan mengerti perasaannya (wanita menjadi lebih rentan jika pasangan tidak menunjukkan rasa simpati)

Persiapan untuk melahirkan

  • Secara bertahap perasaan rentan akan menurun sesuai dengan situasinya
  • Janin bertumbuh terus dan pergerakannya tidak lagi lembut (mendorong—menyodok—menendang) merupakan ekspresi gangguan bayi terhadap kondisi sesak dan aktivitas meningkat
  • Hubungan wanita dan janin berubah, pengertian bayi bukan bagian dari dirinya—sesuatu yang ada didalam—walaupun sadar terpisah tetapi wanita merasa akrab
  • Kebanyakan wanita menaydari kemampuannya menentukan kapan akan melahirkan
  • Wanita mulai memperhatikan tanda-tanda persalinan, menanyakan teman/keluarga yang pernah bersalin
  • Banyak pasangan merasa cemas mereka tidak/belum sampai di klinik/RS saat melahirkan
  • Pasangan tersebut menyadari tentang bagaimana menangani persalinan
  • Minggu terakhir kehamilan, kesadaran akan tanggal perkiraan persalinan makin meningkat didasarkan pengalaman sebelumnya
  • Beberapa wanita merasa ketakutan terhadap tanggal perkiraan persalinan maupun untuk melahirkan. Ketidaknyamanan terjadi sampai tepat terjadi persalinan
  • Selama trimester 3 ibu yang mendambakan kehamilannya dapat mengatakan “Saya akan menjadi ibu” persiapan untuk janinnya –pakaian—tempat tidur bayi—membicarakan pembagian tugas rumah tangga dengan pasangan
  • Pasangan melengkapi pengetahuan tentang persalinan

Posted by: lenteraimpian | March 5, 2010

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PSIKOLOGIS IBU HAMIL -2nd-

Berbagai faktor yang berhubungan dengan ibu hamil

  • Dukungan kepada ibu hamil dan nifas
  • Dukungan dari tenaga kesehatan (nakes)
  • Menciptakan rasa aman dan nyaman selama hamil dan nifas
  • Persiapan menjadi orang tua
  • Mempersiapkan saudara (sibling). Menerima dan memahami janin dalam kandungan/BBL

DUKUNGAN KEPADA IBU HAMIL DAN NIFAS

  • Wanita yang telah/belum dianugerahi anak disaat ia menginginkan hamil/dalam menghadapi kehamilan dan bersalin membutuhkan dukungan
  • Mereka mengharapkan dukungan dari :
    • Suami
    • Keluarga (keluarga dekat) : ortu-mertua-saudara kandung-ipar dan lain-lain
    • Lingkungan : keluarga selain keluarga dekat-tetangga-teman dan lain-lain

Dukungan suami

Dari penelitian kualitatif di Indonesia diperoleh berbagai dukungan suami yang diharapkan isteri :

  • Suami sangat mendambakan bayi dalam kandungan isteri
  • Suami senang mendapatkan keturunan
  • Suami menunjukkan kebahagiaan pada kehamilan ini
  • Suami memperhatikan kesehatan isteri yakni menanyakan keadaan isteri/janin yang dikandungnya
  • Suami mengantar dan atau menemani isteri untuk memeriksakan kandungannya
  • Suami tidak menyakiti isteri baik secara fisik maupun perasaan
  • Suami menghibur/menenangkan ketika ada masalah yang dihadapi isteri
  • Suami menasihati agar isteri tidak terlalu capek bekerja di rumah/di tempat kerja
  • Suami membantu tugas isteri
  • Suami berdoa untuk kesehatan dan keselamatan isteri dan anaknya
  • Suami menunggu ketika isteri melahirkan
  • Suami menunggu ketika istreri dioperasi

Diperoleh atau tidak diperoleh dukungan suami tergantung pada :

  • Keintiman hubungan
  • Adanya komunikasi yang bermakna
  • Adanya kekhawatiran/masalah dalam biaya

Dukungan keluarga

  • Ayah-ibu kandung, maupun mertua sangat mendukung kehamilan ini
  • Ayah-ibu kandung maupun mertua sering berkunjung dalam periode ini
  • Seluruh keluarga berdoa untuk keselamatan ibu dan bayi
  • Walaupun ayah-ibu kandung maupun mertua ada didaerah lain, sangat didambakan dukungan melalui telepon, surat ataupun doa dari jauh
  • Selain itu, ritual tradisional dalam periode ini seperti upacara 7 bulanan pada beberapa orang mempunyai arti tersendiri yang tidak boleh diabaikan

Dukungan lingkungan

  • Diperoleh dari ibu-ibu pengajian/perkumpulan/kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan/sosial dalam bentuk doa bersama untuk keselamatan ibu dan janinnya
  • Membicarakan/menceritakan/menasihati tentang pengalaman hamil dan bersalin
  • Ada diantara mereka yang mau mengantarkan ibu hamil untuk periksa
  • Mereka dapat menjadi seperti saudara bagi ibu hamil dan nifas

RASA AMAN DAN NYAMAN SELAMA KEHAMILAN DAN PASCA BERSALIN

  • Tingkat kemudahan dan kepuasan pada seseorang yang berubah menjadi orang tua terutama bergantung kepada keberhasilan mereka (suami isteri) dalam mengartikan dan menerima hubungan antar anggota keluarga
  • Apabila pasangan suami isteri tersebut telah mampu memandang satu sama lain sebagaimana adanya (dan bukan seperti apa yang diinginkan) dan dapat menerima perbedaan dalam nilai dan tingkah laku, dapat bekerja sama untuk membangun dasar kekuatan yang fleksibel untuk keduanya, dapat mengembangkan standar yang memungkinkan keduanya saling mengerti maka peralihan dari kecemasan menuju kenyamanan selama persalinan akan lebih lancar
  • Harapan rasa aman dan nyaman ini merupakan manifestasi keinginan berbagi rasa yang saat-saat itu memang cenderung meningkat
  • Harapan itu akan lebih mudah terwujud apabila ada kesesuaian antara suami isteri
  • Menifestasi kesesuaian terlihat dari perilaku suami yang membantu sambil menahan diri untuk tidak mengeluh
  • Optimalisasi tercapainya harapan rasa aman dan nyaman selama kehamilan dan pasca bersalin sangatlah individual tergantung dari sudut pandang tiap-tipa orang.

DUKUNGAN DARI TENAGA KESEHATAN

aktif — melalui kelas antenatal

pasif – dengan memberi kesempatan pada mereka yang mengalami masalah untuk berkonsultasi

tenaga kesehatan harus mampu mengenali tentang keadaan yang ada disekitar ibu hamil/pasca bersalin yaitu bapak (suami ibu bersalin), kakak (saudara kandung dari calon bayi/sibling), penunjang.

Bapak/suami ibu bersalin

  • Keadaan emosi dan interaksi seorang ayah dengan bayi sangatlah penting karena biasanya ia merupakan penunjang utama bagi ibu bersalin
  • Apakah bapak dapat diandalkan?
  • Apakah ia dapat terlibat dengan ibu dan bayi?
  • Apakah ia memberi respon terhadap signal dari si bayi?
  • Seberapa banyak ia memiliki informasi mengenai sifat-sifat dan pengasuhan bayi?
  • Apakah yang ia harapkan setelah isterinya pulih?
  • Apabila ia mengharapkan isterinya cepat pulih baik tenaga maupun libidonya, bial pemulihan lebih lama dari yang diharapkan ia mungkin kesal
  • Apakah pandangan yang realistik terhadap bayi (misal bayi akan tidur nyenyak sepanjang malam, penuh senyuman, mudah ditenangkan)akan menimbulkan masalah jika tidak sesuai yang diharapkan/justru kebaikannya?

Kakak (saudara kandung dari bayi)

  • Sangat penting untuk mengetahui umur kakak-kakaknya dan bagaimana perasaan mereka terhadap bayi yang baru lahir
  • Apakah mereka tertarik dan ingin membantu?
  • Apakah mereka bersikap bermusuhan dan agresif?
  • Bagaimana reaksi orang tua terhadap tingkah laku kakak-kakak si bayi?

Penunjang

  • Anggota keluarga sering merupakan sistem penunjang yang kuat dan keterlibatan mereka sangat penting untuk proses penyesuaian keluarga
  • Apakah ada kakek-nenek si bayi yang bersedia untuk dilibatkan?
  • Apakah ada kakak perempuan/laki-laki orang tua yang tinggal dekat?
  • Apakah mereka bersedia membantu orang tua baru ini?
  • Bila keluarga tidak bersedia, siapa yang akan menajdi penunjang?
  • Apakah telah dipikirkan mengenai bantuan?

Tingkah laku non verbal

  • Tingkah laku non verbal juga sama pentingnya
  • Apakah orang tua sepakat dengan apa yang akan mereka lakukan? Misal, apakah si ibu berkata puas terhadap sifat-sifat anaknya, tetapi secara non verbal terlihat lamban merespon sinyal-sinyal bayinya?

Yang harus diperhatikan bidan

  • Tegaskan kesan dan kesimpulan yang didapat pada saat penilaian psikososial
  • Salah satu cara yang terbaik adalah menanyakan, misal, “Seberapa besar pengalaman Anda denagn bayi baru lahir?”
  • Apakah terkejut mendapat anak perempuan/laki-laki?
  • Makanan apa yang diberikan pada BBL di Indonesia sebelum ASI keluar?
  • Apa rencananya kalau sudah di rumah?
  • Seberapa lama ibu/mertua anda dapat tinggal di rumah anda?

Analysis

  • Maksud penilaian keluarga adalah untuk mengidentifikasi kekuatan keluarga sekaligus menentukan intervensi yang dapat meningkatkan penyesuaian keluarga/mencegah gangguan dalam fungsi sebagai keluarga
  • Kadang-kadang keluarga yang biasanya berfungsi baik, tidak mampu mengatasi peristiwa spesifik ini
  • Peristiwa spesifik ini adalah kelahiran bayi dan yang penting dapat memasukkan bayi itu kedalam struktur keluarga yang telah ada
  • Diagnosa kebidanan adalah perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai kebutuhan dan tingkah laku bayi, stress pada minggu-minggu pertama di rumah dan persaingan kakak-adik

Rencana

  • Mengidentifikasi cara untuk meredakan stress selama berminggu-minggu pertama di rumah
  • Menguraikan tindakan yang dapat diambil untuk menurunkan persaingan kakak-adik
  • Mengidentifikasi bantuan luar dan sistem penunjang

Intervensi

  • Mengajarkan keluarga tentang bayi baru lahir (BBL)
  • Kebutuhan bayi : ada orang tua baru yang mempunyai harapan yang tidak relistis atas bayinya dan bidan ada di posisi yang baik untuk memberikan informasi tentang apa saja yang dapat dibuat oleh bayi dan apa yang diperlukan oleh bayi sehingga dapat tumbuh dengan baik

Sinyal bayi

  • Bicarakan mengenai pentingnya respon yang cepat dan lembut bila bayi memberi sinyal seperti menangis/gelisah yang menunjukkan bayi tersebut memerlukan perhatian
  • Tegaskan kepada orang tua bahwa menjawab dengan cepat tidak akan “memanjakan” bayi tetapi akan membantu membangun kepercayaan bahwa dunia merupakan tempat yang aman

Membantu keluarga menyesuaikan diri

  • Memberikan bimbingan tentang peredaan ketegangan stress

Bidan dapat memberikan bimbingan tentang minggu-minggu pertama di rumah, saat keluarga harus penyesuaian diri dengan tuntutan bayi

  • Ini merupakan saat dimana kebutuhan istirahat sangat besar tetapi kesempatan untuk tidur yang tidak terganggu sangat kecil
  • Akibatnya timbul kelelahan, yang merupakan masalah umum

Cara untuk mengurangi persaingan kakak-adik

  • Berikan anjuran agar orang tua membuat rencana untuk menghabiskan waktu dengan sang kakak dan sering memberikan pujian dan menegaskan kembali tempat mereka dalam keluarga
  • Orang tua harus memperlihatkan kasih sayang mereka
  • Selain itu, pengunjung maupun keluarga lainnya tidak boleh hanya memberikan perhatian kepada si bayi tetapi juga mengikutsertakan anak yang lebih tua dalam memberi hadiah/ucapan tentang BBL
  • Tekankan pentingnya merespon dengan tenang dan pengertian bila si kakak menajdi lebih kekanak-kanakan tingkah lakunya/sikap bermusuhan dengan bayi
  • Sangat bermanfaat untuk memperhatikan perasaan anak tersebut dan menegaskan kembali tentang kasih sayang orang tua
  • Ada anak-anak, terutama yang lebih dari 3 tahun, yang senang menjadi abang/kakak dan mau diikutsertakan dalam asuhan si bayi
  • Keikutsertaan ini tidak dapat dilakukan oleh anak yang lebih muda, sehingga akan lebih baik bila orang tua memberikan waktu yang terpisah untuk melakukan kegiatan yang disenangi anak tersebut

Identifikasi bantuan

  • Pada rumah tangga umumnya wanita yang mendapat beban pekerjaan rumah yang lebih besar
  • Dengan kelahiran bayi, pekerjaan ini akan menjadi lebih sulit
  • Harus dilakukan persetujuan/negosiasi tentang pembagian pekerjaan untuk mencegah stress/kelelahan tambahan
  • Pembagian kerja sangat penting bila ada anak-anak lain yang juga memerlukan waktu dan perhatian
  • Pembantu utama bagi ibu adalah bapak si bayi, namun anggota keluarga lainnya terutama nenek si bayi atau saudara perempuan juga dapat memberikan bantuan yang berharga
  • Bantuan komunitas/lingkungan dapat berupa asuhan harian (daycare)

PERSIAPAN MENJADI ORANG TUA

Peran orang tua : proses peralihan berkelanjutan

  • Peralihan menjadi orang tua merupakan suatu proses dan bukan suatu keadaan statis
  • Proses ini berawal dari kehamilan, dengan bunga ucapan selamat, merupakan saat kewajiban menjadi orang tua dimulai

Konsep-konsep lain mengenai peran orang tua

  • Peran orang tua yang membawa perubahan negatif pada kualitas hidup
  • Peran orang tua tertuju pada bagaimana perubahan kualitas kehidupan pribadi maupun perkawinan setelah kelahiran bayi. Selain itu, cenderung diwarnai oleh batasan kualitas hidup yang diukur dari sudut pandang yang individualistik
  • Dalam ukuran individualistik ini, fokus kualitas hidup tertuju pada tingkat keberhasilan seseorang mengatasi berbagai hambatan, termasuk gangguan alamiah maupun tatanan kerja untuk memenuhi keinginan/tujuan pribadinya
  • Ukuran individualistik tentang asuhan, misal tertuju pada sejauh mana perasaan terganggunya seorang wanita yang harus keluar masuk RS akibat penyakit diabetes selama kehamilannya. Bila perasaan terganggunya rendah, maka asuhan kesehatannya baik

Peran orang tua sebagai krisis dibandingkan sebagai masa peralihan

  • Seberapa besarkah menjadi orang tua menimbulkan “krisis”?
  • Perubahan ini dianggap suatu krisis apabila sangat hebat, sangat mengganggu dan merupakan perubahan yang negatif
  • Apakah ada kebiasaan yang terganggu seperti perubahan kehidupan seksual, pola tidur dan hal-hal yang serupa

Kepentingan tentang kehadiran dari BBL adalah temperamen, cara pasangan mengertikan stress dan bantuan serta  bagaimana orang tua berkomunikasi dan mengubah peran sosial mereka merupakan hal yang harus diperhitungkan.

Peralihan menjadi orang tua

Fase penantian (anticipatory)

  • Fase penantian berkaitan dampaknya pada kehamilan dan bukan pada peran orang tua
  • Kehamilan merupakan tahap penantian menjadi orang tua dan calon orang tua perlu menyelesaikan beberapa tugas mereka
  • Pembuatan keputusan dan harapan-harapan mereka mempengaruhi perannya sebagai orang tua nantinya, seperti pembagian tugas dalam keluarga. Hal ini menjadi sangat penting bila bayi telah lahir
  • Mengamati bagaimana aktivitas sehari-hari yang dijalankan keluarga seringkali menggambarkan seberapa berhasilnya seseorang menerima perubahan peran mereka
  • Hal ini juga memberi gambaran peran yang akan dimainkan anak dalam keluarga kelak. Bidan harus memperhatikan apakah ada negosiasi/fleksibilitas antar pasangan saat pembagian tugas
  • Bagaimana keluarga menggunakan kehamilan untuk membagi tugas dalam keluarga akan sangat berdampak pada peralihan peran
  • Bila salah satu anggota secara sepihak meminta pasangannya untuk bertanggung jawab/bila ada pandangan kaku mengenai kerja pria dan kerja wanita, mungkin akan timbul perlawanan halus/tugas berlebihan dengan meningkatnya tanggung jawab akibat adanya bayi yang baru lahir
  • Pasangan dalam fase penantian, akan mengalami perasaan yang hebat, tantangan dan tanggung jawab. Bila digunakan secara baik, kesempatan ini akan digunakan untuk menguji kemampuan dalam mempersiapkan untuk menerima dan mengintegrasikan anggota keluarga yang baru kedalam sistem.

Fase bulan madu (honeymoon)

  • Fase bulan madu akan sangat berdampak apad masa puerperium(nifas), hal ini perlu mendapat perhatian pada asuhan kebidanan yang diberikan oleh bidan
  • Fase bulan madu ini bersifat psikis dan bukan merupakan saat damai dan gembira
  • Hubungan personal pasangan juga tidak kalah penting, tetapi sebagian besar tenaga difokuskan pada pengembangan hubungan baru dengan bayi

Ketertarikan dan keterkaitan (bonding and attachment)

  • Kemampuan BBL untuk mengendalikan tingkah laku merupakan rangsang kuat untuk orang tua yang siap untuk melanjutkan hubungan dari ketertarikan awal (initial bonding) menuju keterkaitan (attachment)
  • Ketertarikan merupakan awal tertariknya dan keinginan untuk lebih mengenal
  • Sedangkan keterkaitan merupakan suatu kerja keras dan lama untuk mencintai seseorang
  • Oleh karena itu, ketertarikan dapat dianggap langkah awal dalam proses saling tertarik dan respon antara orang tua dan BBL berkembang dan menjadi kasih sayang dan afiliasi

Pelayanan asuhan kesehatan

  • Pelayanan asuhan harus hati-hati bila menasihati pasien, sehingga tidak menimbulkan rasa bersalah pada orang tua yang tidak dapat atau tidak turut berpartisipasi dalam proses persalinan dan yang tidak langsung tertarik pada bayi barunya.
  • Proses keterkaitan bervariasi dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain

SIBLING (KAKAK-KAKAK)

  • Respon kakak-kakak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan
  • Biasanya balita kurang sadar akan adanya kelahiran
  • Mereka mungkin melihat “pendatang baru” itu sebagai saingan atau mereka takut akan kehilangan kasih sayang orang tua
  • Tingkah laku negatif mungkin muncul dan merupakan petunjuk derajat stress pada kakak-kakak ini
  • Tingkah laku negatif ini mungkin berupa masalah tidur, peningkatan upaya menarik perhatian, kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti ngompol, atau menghisap jempol.
  • Beberapa anak mungkin memperlihatkan tingkah laku bermusuhan terhadap sang ibu, terutama bial ibu menggendong bayi atau memeberi makan
  • Tingkah laku ini merupakan manifestasi rasa iri dan frustasi yang dirasakan kakak-kakak ini bila mereka melihat perhatian sang ibu diberikan kepada orang lain.
  • Orang tua harus mencari kesempatan-kesempatan untuk menegaskan kembali kasih sayang mereka untuk kakak yang sedang rapuh ini
  • Anak prasekolah mungkin akan lebih banyak melihat daripada menyentuh
  • Sebagian besar akan menghabiskan waktu dekat dengan bayi dan berbicara kepada ibu tentang bayi ini
  • Lingkungan yang relaks dan biasa tanpa dibatasi waktu yang akan mempermudah interaksi anak-anak yang muda dengan bayi
  • Sang kakak harus diberikan perhatian khusus oleh orang tua, pengunjung dan bidan yang sepadan dengan yang diberikan kepada bayi baru

Adaptasi kakak

Balita

  • Bagaimana cara kakak menyesuaikan diri dengan kelahiran bayi akan sangat bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan anak-anak
  • Anak-anak yang sangat muda, 2 tahun atau kurang, tidak menyadari perubahan pada ibunya yang sedang hamil dan tidak mengerti bahwa akan lahir seorang adik laki-laki atau perempuan karena balita belum mempunyai persepsi waktu
  • Banyak orang tua yang menangguhkan pemberitahuan sampai dekat dengan saat kelahiran
  • Meskipun sulit untuk mempersiapkan anak yang masih sangat muda untuk menyongsong kelahiran bayi, seorang bidan dapat memberikan saran yang membantu
    • Pertama, segala perubahan dalam susunan tidur bersama harus dibuat beberapa minggu sebelum kelahiran supaya balita tersebut tidak merasa disingkirkan oleh bayi yang baru
    • Kedua, orang tua dapat mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan mereka untuk menanyakan balita tersebut apakah dia iri dan menyesali adanya adik, apabila si balita harus dapat berbagi waktu dan perhatian dengan si bayi
    • Hanya apabila si balita merasa aman terhadap kasih sayang orang tuanya, baru dapat diharapkan seorang anak berumur 2 tahun dapat menyongsong kedatangan “orang lain”
    • Sangat penting diyakinkan secara berulang kali yang utama bagi orang tua adalah kasih sayang mereka kepada si balita
    • Dapat diajarkan kepada orang tua untuk menerima perasaan kuat/hebat yang diperlihatkan balita, seperti marah, iri atau kesal, tanpa menghakimi dan selalu memperkuat kasih sayang terhadap anak tersebut

Anak yang lebih tua

  • Anak yang lebih tua, dari usia 3-12 tahun, lebih sadar akan perubahan-perubahan tubuh ibunya dan mungkin menyadari akan terjadinya kelahiran bayi
  • Anak-anak ini mungkin akan tertarik untuk memperhatikan perut ibu, dan merasakan pergerakan janin. Mereka akan senang mendengarkan denyut jantung janin, dan mungkin mempunyai beberapa pertanyaan tentang cara bayi dikeluarkan dari perut
  • Mereka umumnya mengerti si bayi akan merupakan adik laki-laki atau perempuan dan sangat menunggu kehadiran bayi
  • Namun mereka mungkin mengharapkan bayi yang lahir langsung sudah dapat dibuat bermain dan sering kaget melihat betapa kecil dan tak berdayanya si bayi
  • Anak-anak yang telah sekolah akan mendapat keuntungan bila diikutsertakan dalam persiapan menyongsong bayi
  • Mereka sering senang mengukur besar dan perkembangan janin dan mencatat di kalender
  • Mereka tertarik untuk mempersiapkan tempat untuk bayi tidur dan mengumpulkan barang-barang keperluan bayi
  • Anak-anak ini harus diajak untuk merasakan pergerakan janin, dan banyak diantara mereka yang mendekat ke perut ibunya dan berbicara dengan si janin
  • Anak-anak yang lebih tua juga mendapat rasa tenteram dan menikmati waktu bersama orang tua
  • Anak-anak yang berumur 3 tahun pun akan mendapat keuntungan dari kelas-kelas (kelas khusus persiapan menjadi orang tua/parent education program) untuk persiapan sebagai kakak
  • Mereka diajak untuk membawa boneka sehingga mereka dapat belajar cara mengasuh bayi
  • Kelas-kelas ini juga merupakan kesempatan untuk dapat berdiskusi mengenai perubahan-perubahan dalam keluarga akibat adanya bayi yang baru
  • Dalam beberapa keadaan, anak berumur 3 tahun sudah diperbolehkan hadir saat persalinan
  • Bila anak yang muda ini akan hadir untuk peristiwa persalinan, mereka harus mengikuti kelas yang akan mempersiapkan mereka untuk peristiwa tersebut
  • Seseorang yang sudah dikenal harus hadir untuk dapat menerangkan apa yang sedang terjadi dan menenangkan mereka atau membawa mereka keluar ruangan kalau mereka takut

Remaja

  • Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka
  • Ada remaja yang malu karena kehamilan berarti ada hubungan seksual antara orang tua mereka
  • Mereka mungkin jijik melihat perubahan fisik ibu
  • Banyak remaja yang sangat larut dalam perkembangan mereka sendiri yang meliputi :
    • Pengenduran ikatan kepada orang tua dan menghadapi perkembangan seksualitas mereka sendiri
    • Mereka mungkin tidak peduli terhadap kehamilan kecuali bila mengganggu kegiatan mereka sendiri, namun ada remaja yang justru menjadi sangat terlibat dan ingin membantu dengan persiapan untuk bayi.
Posted by: lenteraimpian | March 5, 2010

MASALAH-MASALAH YANG LAZIM TERJADI PADA BAYI DAN ANAK

1. MUNTAH  ATAU GUMOH

Muntah atau emesis adalah keadaan dimana dikeluarkannya isi lambung secara ekspulsif atau keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak lama makanan masuk kedalam lambung. Usaha untuk mengeluarkan isi lambung akan terlihat sebagai kontraksi otot perut.

Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering kali dijumpai dan dapat terjadi pada berbagai gangguan. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin muntah lendir, bahkan kadang-kadang disertai sedikit darah.

Muntah ini tidak jarang menetap setelah pemberian makanan pertama, suatu keadaan yang mungkin disebabkan adanya iritasi mukosa lambung oleh sejumlah benda yang tertelan selama proses kelahiran, jika muntahnya menetap pembilasan lambung dengan larutan garam fisiologis akan dapat menolongnya.

Refluks gastroesofagus adalah kembalinya isi lambung kedalam esofagus tanpa terlihat adanya usaha dari anak

Regurgitasi adalah bila bahan dari lambung tersebut dikeluarkan melalui mulut

Secara klinis kadang-kadang sukar dibedakan antara muntah, refluks dan regurgitasi. Muntah sering dianggap sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan racun yang tertelan.

Penyebab muntah

Pada neonatus

Organik

  • Gastrointestinal

Obstruksi : atresia esofagus

Non obstruksi : perforasi lambung

  • Ekstra gastrointestinal

Insufisiensi ginjal, obstruksi urethra

  • Susunan syaraf pusat

Peningkatan tekanan intra cranial (TIK)

Non organik

Teknik pemberian minum yang salah, makanan/minuman yang tidak cocok atau terlalu banyak, keracunan, obat-obat tertentu, kandidasis oral.

Pada anak

Organik

  • Gastrointestinal

Obstruksi : stenosis pylorus

Non obstruksi : refluk esofagal, infeksi/peritonitis

  • Luar gastrointestinal

Infeksi (OMA, pertusis, tonsilofaringitis)

uremia

Non organik

  • Sama dengan neonatus
  • Mabuk perjalanan
  • Keracunan makanan (1-8 jam sesudah makan)
  • Food borne disease (salmonellosis) lebih lama dari keracunan makanan

Perlu anamnesa yang teliti :

  • Pola pemberian makan
  • Berat badan lahir
  • Jumlah yang dimuntahkan, frekuensi
  • Disertai diare, batuk atau panas
  • Terjadi sebelum/sesudah makan
  • Menyemprot/proyektil atau tidak

Sifat muntah

  • Keluar cairan terus menerus maka kemungkinan obstruksi esophagus
  • Muntah proyektil kemungkinan stenosis pylorus (pelepasan lambung ke duodenum)
  • Muntah hijau (empedu) kemungkinan obstruksi otot halus, umumnya timbul pada beberapa hari pertama, sering menetap, biasanya tidak proyektil.
  • Muntah hijau kekuningan kemungkinan obsruksi dibawah muara saluran empedu
  • Muntah segera lahir dan menetap kemungkinan tekanan intrakranial tinggi atau obstruksi usus

Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan secara radiologis yaitu apabila didapatkan gambaran suatu keadaan kelainan kongenital bawaan seperti obstruksi usus halus, atresia esophagus dan lain-lain. Selain dengan pemeriksaan radiologis, juga dapat ditegakkan dengan pemeriksaan uji coba memasukan kateter kedalam lambung. Diagnosis harus dapat segera dibuat sebelum anak tersedak sewaktu makan dengan kemungkinan terjadinya aspirasi pneumonia.

Muntah (kelainan bedah) adalah gangguan passage gastrointestinal dengan tanda-tanda muntah, perut membuncit, kegagalan evakuasi mekonium (pada BBL).

Gambaran muntah yang perlu dicurigai sebagai kelainan bedah

  • Muntah hijau (gangguan pada empedu)
  • Muntah proyektil (menyemprot)
  • Muntah persisten
  • Muntah bercampur darah
  • Muntah disertai penurunan berat badan

Komplikasi

  • Kehilangan cairan tubuh/elektrolit sehingga dapat menyebabkan dehidrasi
  • Karena sering muntah dan tidak mau makan/minum dapat menyebabkan ketosis
  • Ketosis akan menyebabkan asidosis yang akhirnya bisa menjadi renjatan (syok)
  • Bila muntah sering dan hebat akan terjadi ketegangan otot perut, perdarahan, konjungtiva, ruptur, esophagus, infeksi mediastinum, aspirasi muntah jahitan bisa lepas pada penderita pasca operasi dan timbul perdarahan.

Penatalaksanaan

  • Utamakan penyebabnya
  • Berikan suasana tenang dan nyaman
  • Perlakukan bayi/anak dengan baik dan hati-hati
  • Kaji sifat muntah
  • Simptomatis dapat diberi anti emetik (atas kolaborasi dan instruksi dokter)
  • Kolaborasi untuk pengobatan suportif dan obat anti muntah (pada anak tidak rutin digunakan) :
    • Metoklopramid
    • Domperidon (0,2-0,4 mg/Kg/hari per oral)
    • Anti histamin
    • Prometazin
    • Kolinergik
    • Klorpromazin
    • 5-HT-reseptor antagonis
    • Bila ada kelainan yang sangat penting segera lapor/rujuk ke rumah sakit/ yang berwenang

GUMOH/REGURGITASI

Gumoh adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah minum susu botol atau menyusui pada ibu dan jumlahnya hanya sedikit.

Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan normal terutama pada bayi dibawah usia 6 bulan

Penyebab

  • Anak/bayi yang sudah kenyang
  • Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk kedalam lambung
  • Posisi botol yang tidak pas
  • Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap
  • Akibat kebanyakan makan
  • Kegagalan mengeluarkan udara

Diagnosis

Sebagian besar gumoh terjadi akibat kebanyakan makan atau kegagalan mengeluarkan udara yang ditelan. Oleh karena itu, sebaiknya diagnosis ditegakkan sebelum terjadi gumoh. Pengosongan lambung yang lebih sempurna, dalam batas-batas tertentu penumpahan kembali merupakan kejadian yang alamiah, terutama salam 6 bulan pertama. Namun, penumpahan kembali tersebut diturunkan sampai jumlah yang bisa diabaikan dengan pengeluaran udara yang tertelan selama waktu atau sesudah makan.

Dengan menangani bayi secara hati-hati dengan emghindari konflik emosional serta dalam menempatkan bayi pada sisi kanan, letak kepala bayi tidak lebih rendah dari badannya. Oleh karena pengeluaran kembali refleks gastroesofageal lazim ditemukan selama masa 4-6 bulan pertama.

Penatalaksanaan gumoh

  • Kaji penyebab gumoh
  • Gumoh yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal pada bayi yang umurnya dibawah 6 bulan, dengan memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu.
  • Saat memberikan ASI/PASI kepala bayi ditinggikan
  • Botol tegak lurus/miring jangan ada udara yang terisap
  • Bayi/anak yang menyusui pada ibu harus dengan bibir yang mencakup rapat puting susu ibu
  • Sendawakan bayi setelah minum ASI/PASI
  • Bila bayi sudah sendawa bayi dimiringkan kesebelah kanan, karena bagian terluas lambung ada dibawah sehingga makanan turun kedasar lambung ynag luas
  • Bila bayi tidur dengan posisi tengkurap, kepala dimiringkan ke kanan

2. KEMBUNG

Kembung adalah keadaan perut yang membesar dan berisi angin

Penyebab

  • Bayi kembung karena menelan angin waktu menyusui

hal ini terjadi karena teknik menyusui yang salah, puting terlalu besar atau terlalu kecil

  • Bayi yang minum susu formula dengan botol

Angin ikut tertelan karena lubang dot terlalu kecil, sehingga bayi menghisap terlalu kuat dan angin masuk melalui pinggiran dot

Penatalaksanaan

  • Bayi menyusui ASI dengan teknik yang benar (menutupi areola)
  • Bayi minum susu formula dengan dot :
    • Lubang dot diperiksa (tidak terlalu kecil/besar)
    • Jika botol hampir kosong, pantat botol dinaikkan
    • Tidak diberi empeng
    • Menyendawakan bayi setelah minum
    • Minum air hangat
    • Beri minyak kayu putih, minyak telon pada daerah perut

3. KONSTIPASI/OBSTIPASI

Konstipasi/sembelit adalah keadaan dimana anak jarang sekali buang air besar dan kalau buang air besar keras

Obstipasi : obstruksi intestinal (konstipasi yang berat)

Penyebab

Faktor  non organik

  • Kurang makanan yang tinggi serat
  • Kurang cairan
  • Obat/zat kimiawi
  • Kelainan hormonal/metabolik
  • Kelainan psikososial
  • Perubahan mikroflora usus
  • Perubahan/kurang exercise

Faktor organik

  • Kelainan organ (mikrocolon, prolaps rectum, struktur anus, tumor)
  • Kelainan otot dasar panggul
  • Kelainan persyarafan : M. Hirsprung
  • Kelainan dalam rongga panggul
  • Obstruksi mekanik : atresia ani, stenosis ani, obstruksi usus

Tanda dan gejala

  • Frekuensi BAB kurang dari normal
  • Gelisah, cengeng, rewel
  • Menyusu/makan/minum kurang
  • Fese keras

Pemeriksaan penunjang

  • Laboratorium (feses rutin, khusus)
  • Radiologi (foto polos, kontras dengan enenma)
  • Manometri
  • USG

Penatalaksanaan

  • Banyak minum
  • Makan makanan yang tinggi serat (sayur dan buah)
  • Latihan
  • Cegah makanan dan obat yang menyebabkan konstipasi
  • ASI lebih baik dari susu formula
  • Enema perotal/peranal
  • Kolaborasi untuk intervensi bedah jika ada indikasi
  • Perawatan kulit peranal

4. DIARE

Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999)

Penyebab

  • Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan
  • Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene dan sanitasi yang buruk
  • Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan
  • Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)
  • Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani
  • Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus
  • Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)
  • Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)
  • Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)

Jenis diare

  • Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam
  • Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut, sakit pada saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus
  • Diare persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun disentri

Tanda dan gejala

  • Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti muntah dan diare
  • Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir dan berair serta frekuensinya bertambah sering
  • Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia
  • Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
  • Pucat anus dan sekitarnya lecet
  • Pengeluaran urin berkurang/tidak ada
  • Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan terdapat butiran lemak
  • Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa
  • Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah

Komplikasi

  • Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam)
  • Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian
  • Penurunan berat badan dan malnutrisi
  • Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah)
  • Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah)
  • Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)
  • Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam tubuh)

Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1997)

  • Dehidrasi ringan, BB menurun 3-5% dengan volume cairan yang hilang < 50 ml/kgBB
  • Dehidrasi sedang, BB menurun 6-9% dengan volume cairan yang hilang 50-90% ml/kgBB
  • Dehidrasi berat, BB menurun lebih dari 10% dengan volume cairan yang hilang ≥100 ml/kgBB

Penatalaksanaan

  • Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit
  • Terapi rehidrasi
  • Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman penyebabnya
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan
  • Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik
  • Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental feses

5. DERMATITIS ATOPIK (EKSIM SUSU)

Dermatitis atopik adalah penyakit kulit tersering pada bayi dan anak, sering kambuh, diturunakn dalam keluarga, tidak menular dan merupakan pertanda timbulnya asma.

Penyebab

Belum jelas, sangat kompleks

  • “Eksim susu” dulu disangka penyebabnya adalah ASI, hal ini terbukti salah karena Asi justru mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi
  • Faktor kulit yang ekring
  • Faktor kebersihan diri (personal hygiene) dan kebersihan lingkungan yang kurang
  • Faktor hidup kurang sehat, yaitu istirahat dan asupan nutrisi yang kurang
  • Faktor perilaku dan emosi
  • Alergi terhadap makanan seperti susu, telur, ikan, kacang, coklat, jeruk dan lain-lain

Gambaran klinik

  • Lokasi pada bayi biasanya di muka terutama kedua pipi. Pada dewasa ditengkuk, lekukan siku, lutut biasanya lebih kering
  • Terasa sangat gatal
  • Warna kulit kemerahan, ukuran kecil sebesar koin sampai dengan telapak tangan, basah atau berdarah. Setelah itu akan mengering dan menjadi keropeng, kekuningan atau kehitaman, kulit bersisik dan kering
  • Mudah terkena infeksi bakteri, virus atau jamur

Penatalaksanaan

Mencegah kekambuhan

  • Mencegah makanan penyebab alergi dan memberikan makanan pengganti
  • Cegah allergen lingkungan seperti debu rumah, tungau, serbuk-serbuk, kapuk dan lingkungan yang bersih
  • Kebersihan perseorangan yang terjaga  (seperti kulit lembab dan bersih)
  • Hindari suasana sedih, kesal dan depresi

Pengobatan (kolaborasi)

  • Hindari faktor pencetus dan pemeliharaan kulit
  • Obat anti gatal
  • Kortikosteroid salep (berikan tipis-tipis)

Efek samping kortikosteroid : penipisan kulit, gangguan pertumbuhan tulang, gangguan siklus hormon

6. DIAPER RASH (RUAM POPOK)

Diaper rash adalah ruam kulit akibat radang pada daerah yang tertutup popok, yaitu pada alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Berupa bercak-bercak iritasi kemerahan, kadang menebal dan bernanah.

Iritasi terjadi karena kontak terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik. Diaper rash juga merupakan reaksi kulit dengan amonia dari urin kontaminasi bakteri dari maternal fecal

Penyebab

  • Sering terjadi pada usia 9-12 bulan, tidak sering mengganti pampers, modifikasi diet
  • Kebersihan kulit yang tidak terjaga
  • Udara atau suhu lingkungan yang teralu panas atau lembab
  • Kulit bayi masih peka sehingga mudah iritasi
  • Popok yang basah karena urin dan feses yang tidak segera diganti (enzim protease dan lipase)
  • Lebih parah pada bayi yang mengkonsumsi susu formula (pada susu formula kandungan protein lebih tinggi sehingga kadar amonia/urea lebih pekat)
  • Infeksi jamur Candida albicans dan infeksi bakteri Staphylococcus menyebabkan perubahan sistem imun
  • Popok yang mengiritasi akibat sabun, karet, plastik dan detergen yang keras
  • Diare sehingga menyebabkan iritasi kulit

Tanda dan gejala

  • Iritasi pada kulit yang terkena muncuul sebagai erithema
  • Erupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti pantat, alat kelamin, perut bawah, paha bagian atas dan lipatan-lipatan kulit
  • Erupsi dapat berupa bercak kering, merah dan bersisik
  • Keadaan lebih parah terdapat pada papila erythemetosa, vesicula dan ulcerasi
  • Bayi menjadi rewel karena rasa nyeri

Penatalaksanaan

  • Menjaga kebersihan dan kelembaban daerah kulit bayi, terutama didaerah alat kelamin, bokong, lipatan selangkangan
  • Daerah yang terkena iritasi tidak boleh dalam keadaan basah (terbuka dan tetap kering)
  • Menjaga kebersihan pakaian danperlengkapan
  • Setiap BAB dan BAK bayi segera dibersihkan
  • Untuk membersihkan kulit yang iritasi dengan menggunakan kapas halus yang dioleskan dengan minyak atau sabun mild dan air hangat
  • Popok dicuci dengan detergen yang lembut
  • Mengangin-anginkan kulit sebelum pampers baru dipasang dan menggunkan pampers dengan daya serap yang tinggi dan pas pemakaiannya
  • Menggunakan popok yang tidak terlalu ketat (terbuka atau longgar) untuk memperbaiki sirkulasi udara.
  • Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit yang teriritasi
  • Pengobatan
    • Mengoleskan krim dan lotion yang mengandung zinc pada daerah yang sedang meradang
    • Memberikan salep/krim yang mengandung kortikosteroid 1%
    • Salep anti jamur dan bakteri (miconazole, ketokonazole, nystatin)

7. MILIARIASIS/SUDAMINA/LIKEN TROPIKUS/BIANG KERINGAT

Miliariasis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, disertai dengan gelembung kecil berair yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat yaitu di dahi, leher, bagian yang tertutup pakaian (dada, punggung), tempat yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian dan juga kepala.

Faktor penyebab

  • Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang
  • Pakaian yang terlalu ketat, bahan tidak menyerap keringat
  • Aktivitas yang berlebihan
  • Setelah menderita demam atau panas
  • Penyumbatan dapat ditimbulkan oleh bakteri yang menimbulkan radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar dan di absorbsi oleh stratum korneum

Bentuk miliariasis

Miliaria kristalina

  • Kelainan kulit berupa gelembung kecil 1-2 mm berisi cairan jernih disertai kulit kemerahan
  • Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian pakaian yang tertutup pakaian
  • Umumnya tidak menimbulkan keluhan dan sembuh dengan sisik halus
  • Pada keadaan histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal
  • Asuhan : pengobatan tidak diperlukan, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik serta menggunakan pakaian yang menyerap keringat.

Miliaria rubra

  • Sering dialami pada anak yang tidak biasa tinggal didaerah panas
  • Kelainan berupa papula/gelembung merah kecil dan dapat menyebar atau berkelompok dengan rasa sangat gatal dan pedih
  • Staphylococcus juga diduga memiliki peranan
  • Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis
  • Asuhan : gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik, dapat diberikan bedak salicyl 2% dibubuhi menthol 0,25-2%

Miliaria profunda

  • Timbul setelah miliaria rubra
  • Papula putih, kecil, berukuran 1-3 mm
  • Terdapat terutama di badan ataupun ekstremitas
  • Karena letak retensi keringat lebih dalam maka secara klinik lebih banyak berupa papula daripada vesikel
  • Tidak gatal, jarang ada keluhan, tidak ada dasar kemerahan, bentuk ini jarang ditemui
  • Pada keadaan histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada dermis bagian atas atau tanpa infiltrasi sel radang
  • Asuhan : hindari panas dan lembab berlebihan, mengusahakan regulasi suhu yang baik, menggunakan pakaian yang tipis, pemberian losio calamin dengan atau tanpa menthol 0,25% dapat pula resorshin 3% dalam alkohol

Penatalaksanaan

  • Perawatan kulit yang benar
  • Biang keringat yang tidak kemerahan dan kering diberi bedak salycil atau bedak kocok setelah mandi
  • Bila membasah, jangan berikan bedak, karena gumpalan yang terbentuk memperparah sumbatan kelenjar
  • Bila sangat gatal, pedih, luka dan timbul bisul dapat diberikan antibiotik
  • Menjaga kebersihan kuku dan tangan (kuku pendek dan bersih, sehingga tidak menggores kulit saat menggaruk)

8. DERMATITIS SEBOROIK/CRADLE CAP

Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamasi kronik yang berhubungan dengan kelenjar sebaseus. Dermatitis seboroik juga merupakan kerak pada kulit kepala bayi yang disebabkan oleh vernix kaseosa yang tidak bersih dan dapat terinfeksi staphylococcus.

Penyakit ini biasanya dimulai dari kulit kepala kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan badan.  Ada yang mengatakan bahwa penyakit radang ini berdasarkan gangguan konstitusionil dan sering terdapat faktor hereditas. Tidak dapat disangkal bahwa penderita yang mengalami penyakit ini terjadi pada kulit yang berlemak (sebaseus), tetapi bagaimana hubungan antara kelenjar lemak dengan penyakit ini masih belum jelas. Ada yang menganggap bahwa kambuhnya penyakit ini akibat makanan yang berlemak, makanan berkalori tinggi, minuman beralkohol dan gangguan emosi.

Penyebab

  • Kurang jelas
  • Berkaitan dengan sistem imun dan hygiene yang buruk
  • Karena adanya vernix kaseosa/lemak pada kepala bayi yang kemudian terinfeksi staphylococcus
  • Sering terjadi pada penderita HIV-AIDS dan anak-anak

Gejala

  • Semacam noda berwarna kuning yang berminyak, bersisik, yang kemudian mengeras dan akhirnya menjadi semacam kerak. Kerak ini sering timbul di kulit kepala (cradle cap), kadang di alis/bulu mata dan telinga.
  • Exudat seborrhoic pada kulit kepala (masalah kosmetik)

Diagnosis banding

Atopik dermatitis dengan gejala eritema, edema eksudasi, krusta dan bersisik terutama pada bayi muda.

Penatalaksanaan

  • Oleskan atau basahi kerak dengan baby oil atau vaselin selama 24 jam, sesudah itu urut pelan-pelan kulit kepala yang berkerak itu dengan handuk lembut hingga kerak mengelupas
  • Mengeluarkan kerak yang tersangkut di rambut dengan hati-hati (dicukur untuk memudahkan perawatan)
  • Dapat juga digunakan sikat rambut yang lembut, sisir yang halus atau kapas untuk menghindari iritasi pada kulit kepala bayi
  • Pada keadaan tertentu dapat diberi kortikosteroid, antifungi dan antibiotika tropical
  • Menjaga kebersihan bayi dengan memandikan dan mencuci rambutnya dengan shampo khusus untuk bayi atau shampo anti seboroik

9. BERCAK MONGOL

Bercak mongol adalah bercak kebiruan, kehitaman atau kecoklatan yang lebar, difus, terdapat didaerah bokong atau lumbosakral yang akan menghilang setelah beberapa bulan atau tahun.

Bercak mongol adalah pigmentasi yang datar dan berwarna gelap didaerah pinggang bawah dan bokong yang ditemukan pada saat lahir pada beberapa bayi yang akan menghilang secara perlaan-lahan selama tahun pertama.

Patofisiologi

Bercak mongol rata-rata muncul pada umur kehamilan 38 minggu. Mula-mula terbatas di fossa koksigea lalu menjalar ke regio lumbosakral. Tempat lain yaitu didaerah orbita : sclera atau fundus mata dan daerah zigomaticus (nevus ota), daerah deltotrapezeus (nevus ito).

Nevus ota dan nevus ito biasanya menetap, tidak perlu diberikan pengobatan, cukup dengan tindakan konservatif saja. Namun bila penderita telah dewasa, pengobatan dapat diberikan dengan alasan estetika. Akhir-akhir ini dianjurkan pengobatan dengan sinar laser.

Penyebab

  • Belum jelas
  • Timbulnya bercak akibat ditemukannya lesi yang berisi sel melanosit pada lapisan dalam dermis atau sekitar folikel rambut

Penatalaksanaan

  • Bercak mongol biasanya akan menghilang setelah beberapa pekan sampai 1 tahun, sehingga tidak perlu pengobatan dan cukup dilakukan tindakan konservatif
  • Informasikan kepada keluarga untuk mengurangi kekhawatiran/kecemasan
  • Pengobatan dapat diberikan dengan alasan estetika

10. HEMANGIOMA (TUMOR JINAK DI KULIT)

  • adalah malformasi vascular local yang disebut juga nevi vascular atau hemangima yang sering ditemukan pada kelopak mata atas neonatus.
  • Adalah tumor jinak atau hamartoma/gumpalan yang terjadi akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah dan dapat terjadi disegala organ seperti hati, limfa, otak, tulang dan kulit
  • Kelainan yang terjadi pada kulit akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah yang terletak di superficial (kutan), subkutan atau campuran.

Penyebab

  • Masih belum jelas
  • Timbulnya hemangioma dikarenakan pembuluh darah yang melebar dan berhubungan dengan proliferasi endotel

Jenis hemangioma

  • Hemangioma kapiler

Terdiri dari pembuluh darah yang melebar dan berhubungan dengan proliferasi endotel. Bila menghilang terjadi gangguan fibrotik

Terdiri atas :

  • Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus)
  • Granuloma piogenik
  • Cherry spot (ruby-spot), angioma senilis
  • Hemangioma kavernosa

Berasal dari lapisan dermis bagian bawah, disertai rongga-rongga besar yang tidak teratur dan berisi darah

Terdiri atas :

  • Hemangioma kavernosum (hemangioma matang)
  • Hemangioma keratotik
  • Hemangioma vaskular
  • Telangiektasis
    • Nevus flameus
    • Angiokeratoma
    • Spider angioma

Tipe hemangioma kutan pada kelopak mata neonatus

  • Hemangioma telangietaksis dasar tipis (flat telang relatic hemangiomas)
  • Hemangioma yang menonjol berupa kapiler, kaverna atau campuran (hemangioma besar : proptosis sampai dengan trelihat dibawah konjungtiva tarsal)

Gejala klinis

Hemangioma kapiler

  • Strawberry hemangioma (hemangioma simpleks)

Hemangioma kapiler terdapat pada waktu lahir atau beberapa hari sesudah lahir. Tampak sebagai bercak merah yang semakin lama semakin besar. Warnanya menjadi merah menyala, tegang dan berbentuk lobular, berbatas tegas, tegang dan keras pada perabaan. Ukuran dan dalamnya sangat bervariasi, ada yang superfisial berwarna merah terang dan ada yang subkutan berwarna kebiruan. Involusi kurang tegang dan lebih mendatar.

  • Granuloma piogenik

Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah trauma, jadi bukan oleh karena proses peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder. Lesi biasanya soliter, dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak dan tersering pada bagian distal tubuh  yang sering mengalami trauma. Mula-mula berbentuk papul sritematosa dengan pembesaran yang cepat. Beberapa lesi dapat mencapai pembesaran 1 cm dan dapat bertangkai. Lesi mudah berdarah.

Hemangioma kavernosum

Lesi ini tidak berbatas tegas, dapat berupa makula eriternatosa atau nodus yang berwarna merah sampai ungu. Bila ditekan mengempis dan akan cepat menggembung lagi apabila lepas. Lesi terdiri atas elemen vaskular yang matang. Bentuk kavernosum jarang mengadakan involusi spontan.

Hemangioma campuran

Jenis ini terdiri atas campuran antara jenis kapiler dan jenis kavernosum. Gambaran klinisnya juga terjadi atas gambaran kedua jenis tersebut. Sebagian besar ditemukan pada ekstremitas inferior, biasanya unilateral, soliter, dapat terjadi sejak lahir atau masa anak-anak. Lesi berupa tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang kemudian pada perkembangannya dapat gambaran keratotik dan verukosa.

Diagnosis

Secara klinis diagnosis hemangioma tidak sukar, terutama pada lesi yang khas. Gambaran klinis umum ialah adanya bercak merah yang timbul sejak lahir atau beberapa saat setelah lahir. Pertumbuhannya relatif cepat dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, warnanya merah terang bila jenis strawberry atau biru bila jenis kavernosa. Bil besar maksimum sudah tercapai, biasanya pada umur 9-12 bulan, warnanya menjadi merah gelap.

Diagnosis banding

Diagnosis banding ialah terhadap tumor kulit lainnya, yaitu limfangioma, higroma, lipoma, dan neurofibroma.

Penatalaksanaan

  • Umumnya hemangioma akan menghilang dengan sendirinya
  • Tetapi bila terdapat prognosis yang berat lakukan rujukan dan kolaborasi dengan tenaga medis dan berikan prednison 2-3 mg/kgBB/hari selama 10-14 hari, jika hemangioma menipis/menghilang dosis diturunkan secara bertahap

11. FURUNKEL ATAU BISUL

Furunkel adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh staphylococcus profunda yang berbentuk nodul-nodul lemak eritematosa dan letaknya didalam, biasanya daerah muka, pantat, leher, ketiak dan lain-lain.

Nodul ini mengandung cairan yang dalam waktu beberapa hari akan mengeluarkan bahan nekrotik bernanah.

Berbentuk

  • Furunkel (boil)
  • Karbunkel (furunkel multipel)

Furunkel dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan terletak didaerah nasal, aksila dan telinga

Penatalaksanaan

  • Furunkel diobati dengan drainase pembedahan, dengan kompres basah
  • Pemberian antibiotika sistemik

12. KANDISOSIS/MONILIASIS/ORAL TRUSH

Oral trush adalah infeksi Candida yang didapat bayi melalui jalan lahir atau perkontinuitatum. Biasanya infeksi terjadi didaerah mukokutan, mulut dan bibir. Lesi berupa bercak putih yang lekat pada lidah, bibir dan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan sisa susu. Infeksi ini dapat meluas ke saluran terutama di lipatan kulit, bahkan ke berbagai alat dalam.

Kandidosis oral

Infeksi candida pada daerah mulut, sering terjadi pada bayi normal dan makin jarang sejalan dengan pertambahan usia.

Penyebab

  • Infeksi melalui jalan lahir pada ibu yang menderita kandidosis vagina (Candida albicans)
  • Infeksi silang dari penderita kandidiasis lain
  • Candida albicans dapat menyebabkan infeksi apabila ada faktor predisposisi
  • Peralatan minum terutama yang menggunakan PASI
  • Bayi yang mendapatkan terapi antibiotika atau immunosupresi

Faktor predisposisi

  • Faktor endogen : perubahan fisiologik, umur, imunologik
  • Faktor eksogen : iklim, kebersihan, kontak dengan penderita

Gejala

  • Terdapat bercak putih pada lidah, bibirdan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan sisa susu
  • Jika sisa susu mudah diangkat, namun jika moniliasis sulit diangkat dan jika dilepaskan dari dasarnya akan menyebabkan basah, merah dan berdarah
  • Diagnosa dapat diketahui dengan sediaan hapusan yang berwarna biru metilen dan tampak miselium dan spora yang khas

Pencegahan

  • Menghindari/menghilangkan faktor predisposisi
  • Setiap bayi selesai minum susu berikan 1-2 sendok teh air matang untuk membilas sisa susu dalam mulut bayi
  • Pemeliharaan kebersihan mulut dan perawatan payudara

Komplikasi

  • Kesukaran minum dapat mengakibatkan kekurangan makanan
  • Diare bila tidak diobati dapat menjadi penyebab dehidrasi

Penatalaksanaan

  • Membersihkan mulut dan lidah yang dibasahi air matang hangat
  • Kandidiasis pada bayi sehat biasanya sembuh sendiri, tapi lebih baik diobati
  • Beri gentian violet 0,5% dioleskan pada luka didalam mulut /bibir
  • Nistatin 100.000 U dioleskan 3x sehari atau dalam bentuk tetes kedalam mulut bayi, pemberian nistatin tidak boleh lebih dari 7 hari.
  • Mengolesi puting susu dengan cream nistatin/gentian violet setiap selesai menyusui selama bayi diobati

13. IKTERUS FISIOLOGIS

Ikterus fisiologis adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah dalam satu minggu pertama kehidupannya. Pada hari ke 2-3 dan puncaknya di hari ke 5-7, kemudian akan menurun pada hari ke 10-14, peningkatannya tidak melebihi 10 mg/ddl pada bayi atterm dan < 12 mg/dl pada bayi permatur. Keadaan ini masih dalam batas normal.

Manifestasi klinis

Pengamatan ikterus paling baik dilakukan dengan cahaya sinar matahari. Salah satu cara pemeriksaan derajat kuning pada BBL secara klinis, sederhana dan mudah adalah dengan penilaian menurut Kramer (1969). Caranya dengan jari telunjuk ditekankan kepada tempat-tempat yang tulangnya menonjol seperti hidung, dada, lutut dan lain-lain. Tempat yang ditekan akan tampak pucat atau kuning. Penilaian bilirubin pada masing-masing tempat tersebut disesuaikan dengan tabel derajat ikterus menurut kramer (1969).

Zona Bagian tubuh yang kuning Rata2 serum bilirubin indirek (umol/l)
1 Kepala dan leher 100
2 Pusat-leher 150
3 Pusat-paha 200
4 Lengan+tungkai 250
5 Tangan+kaki >250

Tanda dan gejala

Warna ikterus (kuning) pada kulit, konjungtiva dan mukosa

Pencegahan

  • Pengawasan ANC yang baik
  • Menghindari pemberian obat-obatan pada masa kehamilan seperti sulfanamida dan lain-lain
  • Pemberian ASI sedini mungkin (early feeding)
    • Mempercepat metabolisme bilirubin, yaitu dengan menambahkan glukosa yang terdapat dalam ASI
    • Pengeluaran bilirubin

Protein albumin dalam ASI merupakan transportasi bilirubin, albumin mengikat bilirubin agar mempermudah proses ekstraksi bilirubin jaringan kedalam plasma. Hal ini mengakibatkan bilirubin plasma meningkat, tetapi tidak berbahaya karena bilirubin ada dalam ikatan albumin.

Penatalaksanaan

  • Pemberian ASI yang adekuat

Anjurkan ibu menyusui sesuai dengan keinginan bayinya, paling tidak setiap 2-3 jam

  • Jemur bayi dalam keadaan telanjang dengan sinar matahari pukul 7-9 pagi

Pemberian terapi sinar matahari sehingga bilirubin diubah menajdi isomer foto yang tidak toksik dan mudah dikeluarkan tubuh karena mudah larut dalam air

Tujuan utama penatalaksaan ikterus fisiologis adalah mengendalikan agar kadar bilirubin tidak meningkat 4-5 mg/dl dalam 24 jam, karen adapat menyebabkan ensefalopati bilirubin yaitu bilirubin indirek (tak terkonjugasi) akan direabsorpsi kembali melalui sirkulasi enterohepatik ke aliran darah dan menembus sawar otak yang akan menimbulkan bayi lethargi, kejang, bayi malas menghisap dan malas minum.

Posted by: lenteraimpian | March 5, 2010

TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK KEBIDANAN

1. TEORI REVA RUBIN

Penekanan rubin dalam teorinya adalah pencapaian peran ibu. Untuk mencapai peran tersebut seorang wanita membutuhkan proses belajar melalui serangkaian aktivitas berupa latihan-latihan dan adalam peran ini diharapkan seorang wnaita mampu mengidentifikasi peran sebagai seorang ibu.

Perubahan yang umum terjadi pada waktu hamil

  • Cenderung tergantung dan membutuhkan peran lebih untuk berperan sebagai calon ibu
  • Mempu memperhatikan perkembangan janinnya
  • Membutuhkan sosialisasi

Reaksi yang umum pada kehamilan

  • Trimester 1 : ambivalent, takut, fantasi, khawatir
  • Trimester 2 : perasaan lebih nyaman, kebutuhan mempelajari tumbuh kembang janin, pasif, introvert, egosentris, self centered
  • Trimester 3 : perasaan aneh, merasa jelek, sembrono, lebih introvert, merefleksikan terhadap pengalaman waktu kecil.

3 aspek yang diidentifikasi dalam peran ibu

  • Ideal image : gambaran tentang idaman diri
  • Self image : gambaran tentang diri
  • Body image : gambaran tentang perubahan tubuh

4 tahapan psikososial

  • Anticipatori stage : ibu melakukan latihan peran, dan memerlukan interaksi dengan anak yang lain
  • Honeymoon stage : ibu mulai memahami peran dasarnya, dan memerlukan bantuan anggota keluarga lain
  • Plateu stage : ibu mencoba peran sepenuhnya, membutuhkan waktu
  • Disengagement : tahap penyelesaian dimana latihan peran dihentikan

Adaptasi psikososial postpartum

Konsep dasar

  • Peride post partum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru, bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat saat melahirkan
  • Faktor yang mempengaruhi :
    • Respon dan dukungan dari keluarga dan teman
    • Hubungan pengalaman saat melahirkan terhadap harapan
    • Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
    • Pengaruh budaya
    • Periode diuraikan rubin dalam 3 fase, taking in, taking hold dan letting go

Periode taking-in

  • Terjadi pada 1-2 hari post partum, umumnya ibu pasif dan ketergantungan, perhatiannya tertuju pada diri sendiri
  • Ia mungkin akan mengulang-ulang pengalamannya waktu melahirkan
  • Kebutuhan akan istirahat sangat penting, pusing, iritabel
  • Peningkatan kebutuhan nutrisi

Periode taking-hold

  • Berlangsung 2-4 hari post partum, ibu menjadi lebih perhatian pada kemampuannya menjadi orang tua
  • Berkonsenterasi terhadap pengontrolan fungsi tubuhnya, seperti BAK, BAB, kekuatan dan ketahanan fisiknya
  • Ibu berusaha keras untuk merawat bayinya sendiri, agak sensitif, cenderung menerima nasihat bidan karena terbuka untuk menerima pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi

Periode letting go

  • Biasanay terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan keluarga
  • Beradaptasi dengan kebutuhan bayinya, menyebabkan berkurangnya hak ibu dan kebebasan hubungan sosial
  • Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini

Depresi post partum

  • Banyak ibu mengalami perasaan “let-down” setelah melahirkan, sehubungan dengan seriusnya pengalaman melahirkan dan keraguan akan kemampuan untuk mengatasi masalah secara efektif dalam membesarkan anak
  • Umumnya depresi sedang dan dapat diatasi 2 pekan kemudian
  • Jarang menjadi patologis sampai psikosis post partum

2. TEORI RAMONA MERCER

  • Fokus teorinya lebih menekankan pada stress antepartum dalam pencapaian peran ib
  • Memperhatikan wanita pada wkatu persalinan
  • Mengidentifikasi pada hari awal post partum
  • Menunjukan bahwa wanita lebih mendekatkan diri pada bayi daripada melakukan tugasnya sebagai seorang ibu

Pokok pembahasan dalam teori Ramona Mercer

a. Efek stress antepartum

Antepartum stress adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negatif dalam kehidupan. Tujuannya memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi lemahnya lingkungan serta dukungan sosial dan kurangnya percaya diri.

Faktor yang mempunyai hubungan dengan status kesehatan

  • Hubungan interpersonal
  • Peran keluarga
  • Stress antepartum
  • Dukungan sosial
  • Rasa percaya diri
  • Penguasaan rasa takut, keraguan dan depresi

Maternal role (peran ibu)

  • Menjadi seorang ibu berarti memperoleh identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penguraian yang lengkap tentang diri sendiri (Mercer, 1986)
  • 1-2 juta ibu di Amerika yang gagal memerankan peran ini, terbukti dengan tingginya jumlah anak yang mendapat perlakuan yang kejam

b. Pencapaian peran ibu

  • Peran ibu dicapai dalam kurun wkatu tertentu dimana ibu menajdi dekat dengan bayinya, yang membutuhkan pendekatan yang kompeten termasuk peran dalam mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran
  • Peran aktif wanita sebagai ibu dan pasangannya berinteraksi satu dengan yang lain

4 langkah dalam pelaksanaan peran ibu

  • Anticipatory

Suatu masa sebelum wanita menjadi ibu, dimana wanita memulai penyesuaian sosial dan psikologis terhadap peran barunya nanti dengan mempelajari apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu

  • Formal

Tahap ini dimulai dengan peran ibu sesungguhnya, bimbingan peran secara formal dan sesuai dengan apa yang diharapkan sistem sosial

  • Informal

Tahap ini dimulai saat wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan peran ibu yang tidak disampaikan oleh sosial sistem

  • Personal

Merupakan tahap akhir pencapaian peran, dimana wanita telah mahir melaksanakan perannya sebagai seorang ibu. Ia telah mampu menentukan caranya sendiri dalam melaksanakan peran barunya

Faktor yang mempengaruhi wanita dalam pencapaian peran

Faktor ibu

  • Usia ibu saat bersalin
  • Persepsi ibu pada waktu persalinan pertama kali
  • Memisahkan ibu dan anak secepatnya
  • Stress sosial

Faktor bayi

  • Temperamen
  • Kesehatan bayi

Faktor lain

  • Latar belakang etnik
  • Status perkawinan
  • Status ekonomi

Pengaruh bayi (infant’s personality) pada waktu ibu melaksanakan peran sebagai ibu

  • Emotional support

Perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti

  • Informational support

Membantu individu untuk menolong dirinya sendiri dengan memberikan informasi yang berguna dan berhubungan dengan masalah atau situasi

  • Physical support

Pertolongan yang langsung, seperti membantu merawat bayi, memberikan dukungan dana

  • Appraisal support

Informasi yang menjelaskan tentang peran pelaksanaan, bagaimana ia menampilkannya dalam peran, hal ini memungkinkan individu mampu mengevalusi dirinya sendiri yang berhubungan dengan penampilan peran orang lain.

4 faktor dalam masa adaptasi

  • Physical recovery phase (mulai lahir sampai 1 bulan)
  • Achievement phase (2-4/5 bulan)
  • Disruption phase (6-8 bulan)
  • Reorganisation phase (8-12 bulan)

Peran bidan yang diharapkan Mercer dalam teorinya

  • Adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugasnya dalam adaptasi peran fungsi ibu
  • Mengidentifikasi faktor apa yang mempengaruhi peran ibu dalam pencapaian peran fungsi ini dan kontribusi dari stress antepartum

3. TEORI ERNESTINE WIEDENBACH

Wiedenbach mengemukakan teorinya secara induktif berdasarkan pengalaman dan observasinya dalam praktek.

Konsep asuhan, terdiri dari :

  • The agent (midwife/bidan)

Untuk memenuhi kebutuhan ibu dan ayah dalam persiapan menjadi orang tua

  • The recipient (wanita, keluarga, masyarakat)

Wanita/masyarakat yang oleh sebab tertentu tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Wiedenbach sendiri berpandangan bahwa recipient adalah individu yang berkompeten dan mampu menentukan kebutuhannya sendiri

  • The goal (purpose/tujuan dari intervensi)

Disadari bahwa kebutuhan masing-masing individu perlu diketahui sebelum menentukan goal. Bila sudah diketahui kebutuhan ini, maka dapat diperkirakan goal yang akan dicapai dengan mempertimbangkan tingkah laku fisik, emosional atau fisiological yang berbeda dari kebutuhan normal.

  • The means (metode untuk mencapai tujuan)

Untuk mencapai tujuan dari asuhan kebidanan ada beberapa tahap, yaitu :

  • Identifikasi kebutuhan klien
  • Memberikan dukungan dalam pelayanan yang dibutuhkan
  • Validation/bantuan yang diberikan
  • Koordinasi dengan tenaga yang direncanakan untuk memberikan bantuan
  • The framework (organisasi sosial, lingkungan profesional)

Untuk mengidentifikasi kebutuhan diperlukan pengetahuan, judgement/pengambilan keputusan, dan keterampilan.

4. TEORI ELA JOY LEHRMAN

Teori ini menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek praktek kebidanan dalam memberikan asuhan pada wanita hamil dan memberikan pertolongan pada persalinan, teori ini juga menjelaskan perbedaan antara pengalaman seorang wanita dengan kemampuan bidan untuk mengaplikasikan konsep kebidanan dalam praktek

8 konsep penting dalam pelayanan kebidanan

  • Asuhan yang berkesinambungan
  • Keluarga sebagai pusat asuhan
  • Pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan
  • Tidak ada intervensi dalam asuhan
  • Keterlibatan dalam asuhan
  • Advokasi dari klien
  • Waktu
  • Asuhan partisipatif

Asuhan partisipatif

  • Bidan dapat melibatkan klien dalam pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
  • Pasien/klien ikut bertanggung jawab atau ambil bagian dalam pelayanan antenatal
  • Dalam pemeriksaan fisik, misalnya klien ikut melakukan palpasi pada tempat tertentu atau ikut mendengarkan detak jantung.

Kedelapan komponen yang dibuat oleh Lehrman ini, kemudian diujicobakan oleh Morten (1991) pada klien post partum. Selanjutnya Morten menambahkan 3 komponen

Konsep Morten

Teknik komunikasi terapeutik

Proses komunikasi sangat penting dalam perkembangan dan penyembuhan. Misalnya, mendengarkan aktif, mengkaji, klarifikasi, humor, sikap yang tidak menuduh, pengakuan, fasilitasi, pemberian izin.

Pemberdayaan (empowerment)

Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan. Bidan dalam penampilan dan pendekatannya akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengoreksi, memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.

Hubungan sesama (lateral relationship)

Menjalin hubungan yang baik terhadap klien, bersikap terbuka, sejalan dengan klien, sehingga antara bidan dan kliennya tampak akrab. Misalnya : sikap empati atau berbagi pengalaman.

5. TEORI JEAN BALL

Teori kursi goyang

  • Keseimbangan emosional ibu, baik fisik maupun psikologis
  • Psikologis dalam hal ini agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan menjadi orang tua terpenuhi
  • Kehamilan, persalinan dan masa post partum adalah masa untuk mengadopsi yang baru

Dalam teori kursi goyang, kursi dibentuk dalam 3 elemen

  • Pelayanan kebidanan
  • Pandangan masyarakat terhadap keluarga
  • Support terhadap kepribadian wanita

Teori Ball yaitu

  • Teori perubahan,
  • Teori stress, coping, dan support
  • Teori dasar

Hipotesa Ball

  • Respon emosional wanita terhadap perubahan yang terjadi bersamaan dengan kelahiran anak, dipengaruhi oleh personality/kepribadian
  • Persiapan yang harus diantisipasi oleh bidan dalam masa post natal akan dipengaruhi oleh respon emosional wanita dalam perubahan yang dialaminya pada proses kelahiran anak

Kesimpulan hipotesa Ball

Wanita yang boleh dikatakan sejahtera setelah melahirkan sangat bergantung kepada kepribadiannya, sistem dukungan pribadi, dan dukungan yang dipersiapkan pelayanan kebidanan.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers