Posted by: lenteraimpian | March 2, 2010

EMBRIOTOMI

Embriotomi adalah persalinan buatan dengan cara merusak atau memotong bagian janin tanpa melukai ibu, supaya janin dapat lahir secara pervaginam

Jenis embriotomi

Kraniotomi

Adalah memperkecil ukuran kepala janin dengan cara melubangi tengkorak janin dan mengeluarkan isinya sehingga kepala mengecil dan janin dapat dilahirkan pervaginam

Dekapitasi

Adalah memisahkan kepala janin dari tubuhnya dengan jalan memotong lehernya

Kleidotomi

Adalah memotong/mematahkan tulang klavikula janin sehingga lingkar bahu mengecil

Eviserasi/eksenterasi

Adalah tindakan merusak dinding abdomen/thorax dan mengeluarkan organ-organ visera

Spondilotomi

Adalah memotong ruas tulang belakang

Pungsi

Adalah mengeluarkan cairan tubuh janin

Indikasi

  • Janin sudah meninggal, dengan ibu dalam keadaan bahaya (maternal distress)
  • Janin mati yang tidak dapat dilahirkan spontan pervaginam
  • Janin dengan kelainan kongenital, misalnya hidrop fetalis, hidrosefalus

Syarat

  • Konjugata vera lebih besar dari 6 cm
  • Pembukaan serviks  >7 cm
  • Selaput  ketuban sudah pecah/dipecahkan
  • Tidak ada tumor jalan lahir yang dapat mengganggu persalinan pervaginam
  • NEC merupakan inflamasi usus akut
  • Angka kejadian tinggi pada bayi prematur dan resiko tinggi
  • Paling sering dijumapi pada bayi prematur dengan BB <2000 gram

Faktor utama terjadinya NEC

  • Iskemia intestinal
  • Kolonisasi bakteri

Gejala

Gejala klinik non spesifik

  • Lethargi/badan lemah
  • Tidak mau minum
  • Hipotensi
  • Muntah
  • Apnea /henti nafas
  • Output urin rendah
  • Suhu tidak stabil
  • Jaundice

Gejala spesifik

  • Distensi abdomen
  • Ada darah pada feses/cairan lambung
  • Retensi gaster
  • Eritema terlokalisis pada dinding abdomen
  • Muntahan kuning

Patogenesis

  • Sangat kompleks
  • Trias klasik dari faktor resiko
  • Prematuritas (faktor utama terjadinya NEC)
  • NEC merupakan hasil akhir dari suatu rentetan interaksi yang terjadi bersamaan antara perusakan mukosa usus oleh berbagai faktor (iskemi, infeksi) dan reaksi penjamu terhadap perusakan tersebut (sirkulasi, imunologi, dan inflamasi)

Pemeriksaan laboratorium

  • Roentgenogram

Pemotretan abdomen, menilai adanya edema dinding usus, nampak dalam foto diduga adanya massa, pneumoperitoneum  ada udara didalam ven ahepar atau portal

  • Pemeriksaan darah

Pemeriksaan trombosit biasanya menurun, ada asidosis metabolik dan hiponetremia berat

  • Analisa

Biasanya dari feses ditemukan adanya darah dan karbohidrat

Diagnosa banding

  • Pneumonia dan sepsis

Abdomen yang distensi dan lembut merupakan karakteristik NEC

  • Infeksi enterokolitis

Kadang ditemukan juga keadaan enterokolitis walaupun jumlahnya jarang tetapi harus disertai diare

  • Penyakit metabolik berat

Galactosemia disertai E.Coli sepsis dapat berlanjut pada asidosis berat, kadang bertumpang tindih dengan gejala NEC

  • Feeding intakrance

Bayi prematur yang mengalami ketidakmatangan sistem pencernaan biasanya mengalami retensi lambung dan perut distensi mungkin ada hubungannya dengan pemberian makanan berlanjut, perbedaannya dengan NEC kadang sulit perlu evaluasi penyebab.

Penatalaksanaan

  • Dihentikannya minum oral
  • Pemberian cairan intravena
  • Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit hisapan nasogastrik
  • Memberi antibiotik sistemik
  • Waspadai adanya distensi (ukur lingkar perut, isi gaster sebelum memberi minum, mendengarkan adanya bising usus)
  • Observasi TTV, jangan mengukur suhu rectal karena bahaya perforasi
  • Cegah nosokomial
  • Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi
  • Antibiotik
  • ASI
  • Waspadai komplikasi seperti septikemia, hipoglikemia

Puasa pada EKN

  • Tersangka EKN-sepsis kembung, puasa selama 3-5 hari saja bila kultur darah negatif
  • Gas intramural, puasa selama 7-10 hari
  • Komplikasi asidosis, syok, trombositopenia, gangguan pembekuan, gas portal, puasa selama 10-14 hari

Pemberian nutrisi pada EKN

  • Pemberian cairan parenteral menjadi enteral/oral diberikan secara bertahap
  • Waktu pemberian nutrisi ditentukan oleh dokter
  • ASI tetap menjadi nutrisi yang terbaik

Gejala sisa

  • EKN berulang
  • Perdarahan pasca EKN
  • Sirosis hepatis (peradangan pada hati) karena nutrisi parenteral total lama

Tata laksana

  • Setiap persangkaan EKN (pengobatan konservatif)
    • Lakukan pemeriksaan lengkap ke arah sepsis
    • Pemberian antibiotika parenteral dengan spektrum luas
    • Puasa per oral
    • Pasang sonde lambung terbuka
    • Foto rontgen abdomen, bila perlu serial
    • Jika konservatif gagal maka lakukan pembedahan

Prognosa

Pengenalan dini dan treatment secara cepat dan tepat dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan pengelolaan medis

Posted by: lenteraimpian | March 2, 2010

IMUNISASI

Pengertian

  • Suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit
  • Suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu

Tujuan

  • Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan mneghilangkan penyakit tertentu dari dunia
  • Apabila terjadi penyakit tidak akan terlalu parah dan dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat atau kematian
  • Melindungi seseorang terhadap penyakit tertentu (intermediate goal)

Respon imun

  • Respon imun primer ialah respon imun yang terjadi pada pajanan pertama kalinya dengan antigen
  • Respon imun sekunder ialah respon imun yang diharapkan akan memberi respon adekuat bila terpajan pada antigen yang serupa. Diberikannya vaksinasi berulang beberapa kali adalah agar mendapat titer antibodi yang cukup tinggi dan mencapai nilai protektif.

Jenis kekebalan

Dilihat dari cara timbulnya

  • Kekebalan pasif

Kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh , bukan dibuat dari individu itu sendiri.

Kekebalan pasif alamiah, kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu dan tidak berlangsung lama(difteri,morbili, tetanus)

Kekebalan pasif buatan, kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan zat penolak (imunoglobulin).

  • Kekebalan aktif

Kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi atau terpajan secara alamiah.

Kekebalan aktif biasanya prosesnya lambat tapi dapat berlangsung lama, akibat adanya memori imunologik.

Kekebalan aktif terbagi menjadi dua jenis, yaitu :

Kekebalan aktif alamiah, kekebalan yang diperoleh setelah mengalami atau sembuh dari suatu penyakit. Contoh : anak yang pernah menderita campak maka tidak akan terserang campak lagi

Kekebalan aktif buatan, kekebalan yang dibuat oleh tubuh setelah mendapat vaksin atau imunisasi. Contoh : BCG, DPT, polio dll.

Status imun penjamu

  • Antibodi maternal spesifik terhadap virus campak pada fetus
  • ASI (IgA sekretori) terhadap virus polio
  • Maturitas imunologik, pada neonatus fungsi makrofag dan pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang
  • Yang sedang mendapat imunosupresan
  • Gizi buruk, dapat menurunkan fungsi sel sistem imun sehingga imunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik dan respon terhadap vaksin berkurang

Faktor genetik penjamu

Interaksi antara sel-sel sistem imun, secara genetik respon imun manusia dibagi atas responden baik, cukup dan rendah terhadap antigen tertentu, sehingga  ditemukan keberhasilan vaksinasi yang tidak 100%.

Kualitas dan kuantitas vaksin

Vaksin adalah mikroorganisme yang diubah sedemikian rupa sehingga patogenisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung sifat antigenesitas

Faktor kualitas dan kuantitas yang dapat menentukan kkeberhasilan vaksinasi

  • Cara pemberian
  • Dosis
  • Frekuensi dan jarak pemberian
  • Jenis vaksin

Jenis vaksin

Live Attenuated yaitu bakteri atau virus hidup yang dilemahkan

Virus : campak, gondongan, rubella, Polio sabin, demam kuning

Bakteri : kuman TBC (BCG) dan demam tifoid oral

Inactivated yaitu bakteri atau virus atau komponennya yang dibuat tidak aktif atau dimatikan

Virus : influenza, Polio salk, rabies, hepatitis A

Bakteri : pertusis (DPT), typoid, kolera

Racun kuman seperti toksoid : dipteri toksoid (DPT), tetanus (TT)

Polisakarida murni : pneumokokkus, meningokokus dan haemophylus influenza

Vaksin yang dibuat dari protein : hepatitis B

Rantai vaksin

Adalah suatu prosedur yang digunakan untuk menjaga vaksin pada suhu tertentu yang telah ditetapkan agar memiliki potensi yang baik mulai dari pembuatan vaksin sampai pada saat pemberinanya pada sasaran

Sifat vaksin

Vaksin yang sensitif terhadap beku

Yaitu golongan vaksin yang akan rusak bila terpapar dengan suhu dingin atau suhu pembekuan. Contoh : hepatitis B, DPT-HB, DPT, DT, dan TT

Vaksin Pada suhu Dapat bertahan selama
Hep B, DPT-HB -0,5 ᴼC Max ½ jam
DPT, DT, TT -0,5ᴼC sd -10ᴼC Mak 1,5-2 jam
DPT, DPT-HB, DT Beberapa ᴼC diatas suhu udara luar (ambient temperatur <34ᴼC) 14  hari
Hep B dan TT Beberapa C diatas suhu udara luar (ambient temperatur <34ᴼC) 30 hari

Vaksin yang sensitif terhadap panas

Yaitu golongan yang akan rusak bila terpapar dengan suhu panas yang berlebihan. Contoh : polio, BCG dan campak

Vaksin Pada suhu Dapat bertahan selama
Polio Beberapa C diatas suhu udara luar (ambient temperatur <34ᴼC) 14 hari
Campak dan BCG Beberapa C diatas suhu udara luar (ambient temperatur <34ᴼC) 30 hari

Penanganan vaksin sisa

  • Sisa vaksin yang telah dibuka pada pelayanan di posyandu tidak boleh dipergunakan lagi
  • Sedang pelayanan imunisasi statis (di puskesmas, poliklinik), sisa vaksin dapat dipergunakan lagi dengan ketentuan sebagai berikut :
    • Vaksin tidak melewati tanggal kadaluarsa
    • Tetap disimpan dalam suhu +2ᴼC sd 8ᴼC
    • Kemasan vaksin tidak pernah tercampur/terendam dengan air
    • VVM tidak menunjukan indikasi paparan panas yang merusak
    • Pada label agar ditulis tanggal pada saat vial pertama kali dipakai/dibuka
    • Vaksin DPT, DT, TT, hepatitis B dan DPT-HB dapat digunakan kembali hingga 4 minggu sejak vial vaksin dibuka
    • Vaksin polio dapat digunakan kembali hingga 3 minggu sejak vial dibuka
    • Vaksin campak karena tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan tidak lebih dari 8 jam sejak dilarutkan. Sedangkan vaksin BCG hanya boleh digunakan 3 jam setelah dilarutkan

Tata cara pemberian imunisasi

  • Memberitahukan secara rinci tentang resiko vaksinasi dan resiko apabila tidak divaksinasi
  • Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan bila terjadi reaksi ikutan yang tidak diharapkan
  • Baca tentang teliti informasi tentang produk (vaksin) yang akan diberikan, jangan lupa mengenai persetujuan yang telah diberikan
  • Melakukan tanya jawab dengan orang tua atau pengasuhnya sebelum melakukan imunisasi
  • Tinjau kembali apakah ada kontra indikasi terhadap vaksin yang akan diberikan
  • Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan
  • Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan dengan baik
  • Periksa vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda-tanda perubahan, periksa tanggal kadaluarsa dan catat hal-hal istimewa, misalnya perubahan warna menunjukan adanya kerusakan
  • Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal dan ditawarkan pula vaksin lain untuk imunisasi tertinggal bila diperlukan
  • Berikan vaksin dengan teknik yang benar yaitu mengenai pemilihan jarum suntik, sudut arah jarum suntik, lokasi suntikan dan posisi penerima vaksin

Setelah pemberian vaksin

  • Berilah petunjuk kepada orang tua atau pengasuh apa yang harus dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi ikutan yang lebih berat
  • Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam catatan klinis
  • Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya dan tawarkan vaksinasi untuk mengejar ketinggalan bila diperlukan
  • Dalam situasi yang dilaksanakan untuk kelompok besar, pengaturan secara rinci bervariasi, namun rekomendasi tetap seperti diatas dan berpegang pada prinsip-prinsip higienis, surat persetujuan yang valid dan pemeriksaan/penilaian sebelum imunisasi harus dikerjakan

Pengenceran

Vaksin kering yang beku harus diencerkan dengan cairan pelarut khusus dan digunakan dalam periode tertentu

Pemberian vaksin pada bayi

Vaksin BCG BCG, DPT-Hep B, Hep B
Tempat suntikan Lengan kanan atas luar Paha tengah luar
Cara penyuntikan Intracutan Intramuscular/subcutan dalam
Dosis 0,05 cc 0,5 ml
Ukuran jarum 10 mm, ukuran 26 25 mm, ukuran 23
jenis Bubuk+pelarut Siap pakai
Vaksin Campak Polio
Tempat suntikan Lengan kiri atas Mulut
Cara penyuntikan Subcutan Diteteskan di mulut
Dosis 0,5 ml 2 tetes
Ukuran jarum 25 mm, ukuran 23
Jenis Siap pakai Botol dengan alat tetes mulut

Teknik dasar dan petunjuk keamanan pemberian vaksin

  • Bagian tengah tutup botol metal dibuka sehingga kelihatan karet (tutup karet di desinfeksi)
  • Tiap suntikan harus digunakan semprit dan jarum baru sekali pakai dan steril
  • Sebaiknya tidak digunakan botol vaksin yang multidosis
  • Kulit yang akan disuntik dibersihkan
  • Semprit dan jarum harus dibuang dalam tempat tertutup dan diberi label tidak mudah robek dan bocor
  • Tempat pembuangan jarum suntik bekas harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak

JADWAL IMUNISASI WAJIB (PPI)

VAKSIN PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI (PPI)

  • Vaksin BCG
  • Vaksin Hepatitis B
  • Vaksin Difteria, Pertusis, Tetanus (DPT)
  • Vaksin Polio
  • Vaksin Campak

VAKSIN BCG (Bacille Calmette Guerin)

  • BCG adalah vaksin hidup yang dibuat dari mycobacterium bovis yang dibiakkan secara berulang selama 13 tahun (basil tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas)
  • Indikasi yaitu untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit tuberculosis (TBC) dimana vaksin BCG tidak mencegah infeksi TBC tetapi mengurangi resiko TBC berat seperti meningitis, TBC tulang
  • Efek proteksi timbul 8-12 minggu setelah penyuntikan
  • Cara pemberian dan dosis vaksin

Yaitu vaksin dilarutkan dulu dengan 4 cc pelarut, vaksin yang dilarutkan harus dibuang dalam 3 jam, dosis pada bayi < 1 tahun 0,05 ml sedangkan pada anak > 1 tahun 0,10 ml. Vaksin ini disuntikan secara intracutan pada daerah lengan kanan atas (insertio musculus deltoideus)

  • Penyimpanan vaksin

Vaksin disimpan pada suhu 2-8ᴼC, tidak boleh beku dan tidak boleh terkena sinar matahari

  • Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat dari 3 jam

Jadwal pemberian

  • Diberikan pada bayi 0-12 bulan tapi sebaiknya diberikan pada umur ≤2 bulan
  • Apabila diberikan >3 bulan harus terlebih dahulu dilakukan uji tuberkulin (mantoux)
  • Vaksinasi ulang, yaitu 5-7 tahun dan 12-15 tahun (jika uji tuberkulin negatif)
  • Khasiat BCG selama 3 tahun dan lama kekebalan selama 9 tahun

Efek samping

  • Tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum
  • Pada tempat penyuntikan terjadi ulkus lokal yang timbul 2-3 minggu setelah penyuntikan dan meninggalkan luka parut dengan diameter 4-8 mm
  • Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional di axila (ketiak) atau leher. Tergantung pada umur dan dosis yang dipakai, biasanya akan sembuh sendiri

Indikasi kontra

  • Reaksi uji tuberkulin > 5 mm
  • Sedang menderita HIV atau resiko tinggi infeksi HIV, imunokompromais akibat pengobatan kortikosteroid (leukimia), mendapat pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau sistem limfe
  • Anak menderita gizi buruk
  • Menderita demam tinggi
  • Menderita infeksi kulit yang luas
  • Pernah/masih menderita TBC
  • Kehamilan

Proteksi

  • Mulai 8-12 minggu pasca vaksinasi
  • Daya lindung hanya 42% (WHO 50-78%)
  • Mencegah TB berat 60-80%

VAKSIN HEPATITIS B

  • Untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit hepatitis B
  • Rekombinan DNA sel ragi tidak infeksius
  • Pencegahan dapat diberikan dengan imunisasi pasif ataupun imunisasi aktif

Imunisasi pasif

  • Dilakukan dengan pemberian imunoglobulin

IG/ISG (Immune Serum Globulin)

HBIG (Hepatitis B Immune Globulin)

  • Diberikan baik sebelum terjadinya paparan (preexposure) maupun setelah terjadinya paparan (postexposure)
  • Indikasi utama pemberian imunisasi pasif
    • Paparan dengan darah yang mengandung HbsAg, baik melalui kulit maupun mukosa
    • Paparan seksual dengan pengidap HbsAg (+)
    • Paparan perinatal ibu dengan HbsAg (+)

Pemberian vaksin

  • Pada kecelakaan jarum suntik

Dosis : 0,06 ml/kg maks 5 ml harus diberikan dalam waktu 24 jam, diulangi 1 bulan kemudian

  • Paparan seksual

Dosis tunggal 0,06 ml/kg, dosis maks 5 ml harus diberikan dalam jangka waktu 2 minggu

  • Paparan perinatal

Dosis : 0,5 ml harus diberikan sebelum 48 jam

Imunisasi aktif

Dilakukan dengan pemberian partikel HbsAg yang tidak infeksius

Ada 3 jenis vaksin hepatitis B

  • Vaksin yang berasal dari plasma
  • Vaksin yang dibuat dengan teknik rekayasa genetika
  • Vaksin polipeptida

Vaksin yang beredar di Indonesia

  • Hevac-B (dosis ; dewasa 5 ug, anak 2,5 ug, pada ibu HbsAg (+) dosis 2x lipat)
  • Hepaccine (dosis : dewasa 2 ug, anak 1,5 ug)
  • B-Hepavac II (dosis ; dewasa 10 ug, anak 5 ug)
  • Hepa-B (dosis : dewasa 20 ug)
  • Engerix-B (dosis : anak 10 ug)
  • Penyuntikan dilakukan secara intramuscular, didaerah deltoid atau paha anterior (jangan dilakukan didaerah bokong)
  • Efek samping yang terjadi umumnya ringan, seperti nyeri, bengkak, panas, mual, nyeri sendi maupun otot

Jadwal pemberian

  • Imunisasi Hb diberikan sedini mungkin setelah lahir
  • Pemberian imunisasi Hb harus berdasarkan status HbsAg ibu pada saat melahirkan

Bayi lahir dari ibu yang tidak diketahui status HbsAg nya

Vaksin rekombinan (Hb Vax-II 5 ug at Engerix-B10ug) atau vaksin plasma derived 10 ug (dalam waktu 12 jam), dosis kedua pada usia 1-2 bulan, dosis ketiga pada usia 6 bulan

Bayi lahir dari ibu yang HbsAg nya (+)

Diberikan 0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan secara bersamaan di sisi tubuh yang berbeda dalam waktu 12 jam, dosis kedua pada usia 1-2 bulan, dosis ketiga pada usia 6 bulan

Bayi lahir dari ibu yang HbsAg nya (-)

Diberikan vaksin rekombinan atau vaksin plasma derived pada umur 2-6 bulan, dosis kedua pada 1-2 bulan kemudian, dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah imunisasi kesatu

  • Idealnya dilakukan Px anti HbsAg (paling cepat 1 bulan)
  • Imunisasi ulang Hb (pada umur 10-12 tahun)

Kejadian ikutan pasca imunisasi

  • Reaksi lokal kemerahan, nyeri, bengkak, demam ringan 2 hari
  • Reaksi sistemik : mual muntah, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi

Indikasi kontra

Sampai saat ini belum dipastikan adanya kontra indikasi absolut terhadap pemberian imunisasi hb terkecuali pada ibu hamil, laergi pada komponen vaksin, demam tinggi.

VAKSIN DPT

Tujuan pemberian vaksin ini adalah untuk memberikan kekebalan aktif yang bersamaan terhadap penyakit Difteri, Pertusis dan Tetanus

Difteri dan tetanus : toksoid yang dimurnikan

Pertusis : bakteri mati, terabsorbsi dalam alumunium fosfat

Tiap 1 ml terdiri dari 40Lf toksoid difteria, 24 OU pertusis, 15 Lf toksoid tetanus, alumunium fosfat 3 mg, thimerosal 0,1 mg

Toksoid Difteria

  • Untuk imunisasi primer terhadap difteri digunakan toksoid difteri (alum precipitated formol toxoid) yang digabung dengan tetanus toxoid dan vaksin pertusis
  • Imunisasi rutin pada anak, diberikan dengan 5 dosis yaitu pada usia 2, 4, 6 bulan yang diberikan bersamaan dengan polio. Dosis ulangan pada 15-18 bulan dan saat masuk sekolah harus diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah dosis ketiga
  • Kombinasi toxoid difteri dan tetanus (DT)

Vaksin pertusis

  • Untuk imunisasi yang dipakai adalah vaksin pertusis whole-cell (alum precipitated vaccine) yaitu vaksin yang merupakan suspensi kuman B pertusis mati
  • Umumnya diberikan kombinasi bersama toxoid difteri dan tetanus

Toksoid tetanus

  • Vaksin tetanus dikenal 2 macam vaksin yaitu :

Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif adalah toxoid tetanus yang telah dilemahkan

  • Kemasan tunggal (TT)
  • Kemasan dengan vaksin difteri (DT)
  • Kemasan dengan vaksin difteri dan pertusis (DPT)

Kuman yang telah dimatikan yang digunakan untuk imunisasi pasif (ATS)

Jadwal pemberian

Upaya depkes dan kesos melaksanakan program eliminasi tetanus neonatorum (ETN) DPT I, DT atau TT dilaksanakan berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai berikut :

  • Imunisasi DPT 3x akan memberikan imunitas 1-3 tahun. Dengan 3 dosis toxoid tetannus pada bayi, dihitung setara dengan 2 dosis toxoid pad anak besar atau dewasa
  • Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT 4) akan memperpanjang imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7 tahun. Dengan 4 dosis toxoid tetanus pada bayi dan anak dihitung setara dengan 3 dosis pada dewasa
  • Toxoid tetanus kelima (DPT 5) diberikan pada usia sekolah, akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi sampai umur 17-18 tahun. Dengan 5 toxoid tetanus pada anak dihitung setara dengan 4 dosis toxoid dewasa
  • Tetanus toxoid tambahan yang diberikan pada tahun berikutnya di sekolah (DT 6 atau DT) akan memperpanjang imunitas 20 tahun lagi. Dengan 6 dosis toxoid tetanus pada anak dihitung setara dengan 5 dosis toxoid pada dewasa
  • Jadi PPI merekomendasikan tetanus toxoid (DPT, DT, TT) 5x untuk memberikan perlindungan seumur hidup sehingga wanita usia subur (WUS) mendapat perlindungan terhadap bayi yang dilahirkan terhadap tetanus neonatorum.
Imunisasi Spacing Masa perlindungan Tujuan
T1 Mengembangkan kekebalan tubuh pada infeksi
T2 4 pekan setelah T1 3 tahun Menyempurnakan kekebalan
T3 6 bulan setelah T2 5 tahun Menguatkan kekebalan
T4 1 tahun setelah T3 10 tahun Menguatkan kekebalan
T5 1 tahun setelah T4 25 tahun Mendapatkan kekebalan penuh

Indikasi kontra

  • Riwayat anafilaksis
  • Ensefalopati pasca DPT sebelumnya

KIPI

  • Lokal : bengkak, kemerahan, nyeri pada tempat suntikan
  • Demam, gelisah, menangis terus menerus
  • Reaksi anafilaktik, ensefalopati 1/50.000 dosis

VAKSIN POLIO

Ada 2 macam jenis vaksin polio

  • Vaksin virus polio oral (OPV)
  • Vaksin polio inactivated (IPV)

Vaksin virus polio oral (OPV)

  • OPV berisi virus polio tipe 1, 2 dan 3 adalah strain/suku sabin yang masih hidup tapi sudah dilemahkan (attenuated), vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera yang distabilkan dengan sukrosa
  • Vaksin ini digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan dosis 2 tetes oral. Virus vaksin ini kemudian menempatkan diri di usus san memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun pada epitelium usus, yang menghasilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar yang datang masuk kemudian
  • Vaksin polio oral harus disimpan tertutup pada suhu 2-8ᴼC. OPV dapat disimpan beku pada temperatur 20ᴼC. Vaksin yang beku dapat cepat dicairkan dengan cara ditempatkan antara kedua telapak tangan dan digulir-gulirkan, dijaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai orange muda (sebagai indikator pH). Bila keadaan tersebut dapat terpenuhi, maka sisa vaksin yang telah terpakai dapat dibekukan lagi, kemudian dipakai lagi sampai warna berubah dengan catatan tanggal kadaluarsa harus selalu diperhatikan.

Vaksin polio inactivated (IPV) atau vaksin polio injeksi

  • IPV berisi tipe 1, 2 dan 3 dibiakan pada sel-sel fero ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formaldehid
  • IPV harus disimpan pada suhu 2-8ᴼC dan tidak boleh dibekukan
  • Pemberian dengan dosis 0,5 ml, SC 3x berturut-turut  dengan jarak masing-masing dosis 2 bulan
  • Imunitas mukosa yang ditimbulkan IPV lebih rendah dibandingkan dengan yang ditimbulkan OPV
  • OPV diberikan pada BBL sebagai dosis awal, sesuai dengan Pengembangan Program Imunisasi (PPI) dan Program Eradiksi Polio (ERAPO) tahun 2000
  • Kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai umur 2-3 bulan yang diberikan 3 dosis terpisah berturut-turut dengan interval waktu 6-8 minggu
  • Satu dosis sebanyak 2 tetes (0,1 ml) diberikan per oral pada umur 2-3 bulan dapat diberikan bersama-sama waktunya dengan suntikan vaksin DPT dan hepatitis B

Imunisasi penguat (booster)

  • Dosis  penguat OPV harus diberikan sebelum masuk sekolah, yaitu bersamaan pada saat diberikan dosis DPT sebagai penguat
  • Dosis OPV berikutnya harus diberikan pada umur 15-19 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah
  • Orang dewasa yang telah mendapatkan imunisasi sebelumnya, tidak diperlukan vaksinasi penguat, kecuali mereka yang dalam resiko khusus,

Imunisasi untuk orang dewasa

  • Untuk orang dewasa sebagai imunisasi primer (dasar) dianjurkan diberikan 3 dosis berturut-turut OPV 2 tetes dengan jarak 4-8 minggu
  • Interval minimal antara 2 dosis vaksinasi dapat diperpanjang dan dapat menyelesaikan vaksinasinya tanpa mengulang lagi
  • Demua orang dewasa seharusnya divaksinasi terhadap poliomielinitis dan tidak boleh ada yang tertinggal

KIPI

Setelah vakisnasi, sebagian kecil resipien dapat mengalami gejala

  • Pusing-pusing
  • Diare ringan
  • Sakit pada otot

Kontrai indikasi pemberian OPV

  • Penyakit akut atau demam (suhu >38,5 C)
  • Muntah atau diare
  • Sedang dalam proses pengobatan kortikosteroid atau imuno supresif oral maupun suntikan, juga pengobatan radiasi umum
  • Keganasan (untuk pasien dan kontak) yang berhubungan dengan sistem retikuloendotelial seperti limfoma, leukimia, dan anak dengan mekanisme imunologik yang terganggu, misal pada hipo-gamaglobulinemia
  • Menderita infeksi HIV/anggota keluarga sebagai kontak

VAKSIN CAMPAK

Tahun 1963 dibuat dua jenis vaksin campak

  • Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan, jangan terkena sinar matahari
  • Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam alumunium)
  • Tiap 0,5 ml mengandung 1000 u virus strain CAM 70, 100 mcg kanamisin, 30 mg eritromisin

Dosis dan cara pemberian

  • Dosis minimal untuk vaksin yang dilemahkan adalah 0,5 ml secara subcutan atau intra muscular
  • Jadwal pemberian campak pada bayi umur 9-11 bulan
  • Imunisasi ulangan diberikan pada saat anak masuk sekolah usia 6-7 tahun dalam program BIAS

Reaksi KIPI

  • Demam >39,5 C, biasanya setelah hari ke 5-6 dan berlangsung selama 2 hari
  • Ruam, timbul pada hari ke 7-10 dan berlangsung selama 2-4 hari

Kontra indikasi

  • Demam tinggi
  • Sedang memperoleh pengobatan imunosupresi
  • Hamil
  • Mempunyai riwayat alergi

JADWAL IMUNISASI ANJURAN (NON PPI)

  • Vaksin Haemophilus Influenza B (Hib)
  • Vaksin Mumps Morbili Rubela (MMR)
  • Vaksin Demam Thypoid
  • Vaksin Hepatitis A
  • Vaksin Varicella

Vaksin Haemophilus Influenza type B

  • Yaitu Polisakarida H. Influenza tipe b dikonjugasikan pada toksoid tetanus, trometamol, sukrosa dan NaCl
  • Suspensi berkabut keputihan
  • Kombinasi dengan DTaP/DTwP
  • Lokasi penyuntikan umur <2 tahun di paha mid anterolateral dan usia > 2 tahun di  deltoid

Vaksin Mumps Morbili Rubela (MMR)

  • Virus campak Schwarz hidup yang dilemahkan dalam embrio ayam
  • Virus gondong Urabe dibiak dalam telur ayam
  • Virus rubela Wistar dibiak pada sel deploid manusia
  • Penyuntikan dilakukan secara subcutan atau intramuscular
  • Direkomendasikan pada usia 12-18 bulan
  • Serokonversi pada >95% kasus
  • Kontraindikasi : imunodepresi, hamil, pasca imunoglobulin, transfusi darah (tunda 6-12 minggu).
  • Tetap diberikan pada anak yang pernah campak, gondongan ataupun rubella
  • Tidak ada bukti sahih berkaitan dengan autisme

Vaksin Demam Thypoid

  • Komposisi terdiri dari polisakarida kapsul VI Salmonella typhi, Fenol, Nacl, NaHPO3H
  • Diberikan secara intramuscular,  pada usia > 2 tahun
  • Imunitas 2-3 minggu pasca vaksinasi
  • Imunogenitas rendah pada umur < 2 tahun
  • Perlindungan 3 tahun
  • Tidak melindungi terhadap Salmonella paratyphi A dan B

Vaksin Hepatitis A

  • Virus inaktif dalam formaldehid
  • Indikasi : anak usia > 2 tahun, endemis, sering transfusi (hemofilia), tinggal di panti asuhan
  • Indikasi kontra : demam, infeksi akut, hipersensitif terhadap komponen vaksin
  • Diberikan secara intramuscular
  • Protektif pada 95-100%

Vaksin Varisela

  • Virus hidup dilemahkan, strain Oka
  • Diberikan secara  subcutan
  • Kontra indikasi : demam, sakit akut
  • Jangan diberikan bersama vaksin hidup lain
  • Jangan hamil dalam 2 bulan
  • Tidak efektif bila transfusi gamma globulin
  • Diberikan pada anak usia 1-13 tahun
  • Rekomendasi IDAI muali usia 5 tahun
  • Serokonversi : 94% (2 minggu setelah vaksinasi), 100% (6 minggu setelah vaksinasi)
  • Aman, efektif dan ekonomis

Vaksin Influenza-1

  • Virus tidak aktif dalam prefilled syringe (PFS)
  • Bahan lain : telur, neomisin, formaldehid
  • Penyimpanan pada suhu 2-8ᴼC , jangan terkena sinar matahari maupun beku
  • Tiap tahun starin dapat berbeda berdasarkan rekomendasi WHO : selatan dan utara
  • Strain 2004 untuk daerah selatan
    • H1N1 (new Caledonia/20/99)
    • H3N2 (Fujian/411/2002)
    • Hongkong/330/2001
    • Penyuntikan dilakukan secara  intramuscular atau subcutan

6-35 bulan dosis 0,25 ml, >36 bulan dosis 0,5 ml, <8 tahun perlu booster 4 minggu kemudian

  • Vaksinasi diulang tiap tahun

Vaksin kombinasi  (tetract-Hib dan Infantrix-Hib)

  • Tetract-Hib : kombinasi DPwT+Hib
  • Infanrix-Hib : kombinasi DPaT+Hib

DPwT/DpaT dalam vial, Hib dalam PFS (prefilled syringe)

  • Sebelum disuntikan, dicampur dengan menyedot DPwT/DpaT ke dalam PFS Hib
  • Kontra indikasi

Sama dengan komponen masing-masing vaksin

Vaksin Pneumokokkus (Prevenar)

  • Terdiri dari 7 sakarida yang berbeda (serotipe 4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F, 23F)
  • Konjugasi dengan 20 ug dari masing-masing 6 serotipe
  • Bebas pengawet dan bebas thimerosal
  • Dosis 0,5 ml diberikan secara intramuscular
  • Manfaat : mengurangi resiko invasive pneumococcal disease (IPD), radang paru (pneumonia), radang telinga tengah dan pengobatannya, pembawa kuman (nashoparyngeal carriage), Occult becteremia, dan mungkin efektif pada anak yang tak responsif dengan vaksin pneumokokkus polisakarida (PPV)

Sumber

Diktat kuliah

Modul 2 : EPI vaccines. 1998. Hal 2. Geneva

Pedoman imunisasi di Indonesia. 2005. hal 88

Vademecum biofarma. 2002

WHO : expanded programme or immunization . immunization in practice

Posted by: lenteraimpian | March 2, 2010

KEJANG PADA BAYI BARU LAHIR

kejang pada bayi baru lahir

  • adalah kejang yang terjadi pada bayi sampai dengan usia 28 hari
  • Kejang pada BBL merupakan keadaan darurat karena kejang merupakan suatu tanda adanya penyakit sistem sayarf pusat (SSP), kelainan metabolik atau penyakit lain.
  • Sering tidak dikenali karena berbeda dengan kejang pada anak
  • Kejang umum tonik klonik jarang terjadi pada BBL
  • Kejang berulang menyebabkan berkurangnya oksigenisasi, ventilasi dan nutrisi otak

MANIFESTASI

Kejang tersamar

  • Hampir tidak terlihat
  • Menggambarkan perubahan tingkah laku
  • Bentuk kejang :
    • Otot muka, mulut, lidah menunjukan gerakan menyeringai
    • Gerakan terkejut-kejut pada mulut dan pipi secara tiba-tiba menghisap, mengunyah, menelan, menguap
    • Gerakan bola mata ; deviasi bola mata secara horisontal, kelopak mata berkedip-kedip, gerakan cepat dari bola mata
    • Gerakan pada ekstremitas : pergerakan seperti berenang, mangayuh pada anggota gerak atas dan bawah
    • Pernafasan apnea, BBLR hiperpnea
    • Untuk memastikan : pemeriksaan EEG

Kejang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai

Kejang klonik

  • Berlangsung selama 1-3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran
  • Dapat disebabkan trauma fokal
  • BBL dengan kejang klonik fokal perlu pemeriksaan USG, pemeriksaan kepala untuk mengetahui adanya perdarahan otak, kemungkinan infark serebri
  • Kejang klonik multifokal sering terjadi pada BBL, terutama bayi cukup bulan dengan BB>2500 gram
  • Bentuk kejang : gerakan klonik pada satu atau lebih anggota gerak yang berpindah-pindah atau terpisah secara teratur, misal kejang klonik lengan kiri diikuti kejang klonik tungkai bawah kanan

Kejang tonik

  • Terdapat pada BBLR, masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan pada bayi dengan komplikasi perinatal berat
  • Bentuk kejang : berupa pergerakan tonik satu ekstremitas, pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai, menyerupai sikap deserebasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi

Kejang mioklonik

  • Gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat, gerakan menyerupai refleks moro

Gemetar

  • Sering membingungkan
  • Kadang terdapat pada bayi normal yang dalam keadaan lapar (hipoglikemia, hipokalsemia, hiperiritabilitas neuromuscular)
  • Gerakan tremor cepat
  • Tidak disertai gerakan cara melihatabnormal atau gerakan bola mata
  • Dapat timbul dengan merangsang bayi, sedangkan kejang tidak timbul dengan perangsangan
  • Gerakan dominan adalah gerakan tremor
  • Pergerakan ritmik anggota gerak pada gemetar dihentikan dengan melakukan fleksi anggota gerak

Apnea

  • Pada BBLR pernafasan tidak teratur, diselingi dengan henti nafas 3-6 detik, sering diikuti dengan hiperapnea 10-15 detik
  • Berhentinya pernafasan tidak disertai perubahan denyut jantung, tekanan darah, suhu badan, warna kulit
  • Bentuk pernafasan disebut pernafasan periodik disebabkan belum sempurnanya pusat pernafasan di batang otak
  • Serangan apnea tiba-tiba disertai kesadaran menurun pada BBLR dicurigai adanya perdarahan intracranial
  • Perlu pemeriksaan USG

Manifestasi kejang pada BBL

  • Tremor/gemetar
  • Hiperaktif
  • Kejang-kejang
  • Tiba-tiba menangis melengking
  • Tonus otot hilang diserati atau tidak dengan hilangnya kesadaran
  • Pergerakan tidak terkendali
  • Nistagmus atau mata mengedip ngedip paroksismal

ETIOLOGI

  • Kejang bayi dengan asfiksia disertai oleh hipoglikemia, hipokalsemia, perdarahan intracranial, edema otak
  • Pada bayi cukup bualn penyebab kejang yang terjadi
    • 48 jam pertama : asfiksia, trauma lahir, hipoglikemia
    • Antara hari ke 5-ke 7 : hipokalsemia yang terjadi bukan karena komplikasi
    • Antara hari ke 7-ke 10 : infeksi, kelainan genetik

PENILAIAN

Jenis kejang?

Bagian mana dari tubuh yang mengalami kejang?

Sudah berapa lama kejang terjadi?

Merupakan kejang yang ke berapa kali?

DIAGNOSIS

Anamnesa

Keluarga, riwayat kehamilan, riwayat persalinan dan kelahiran

Riwayat kehamilan

  • Bayi kecil untuk masa kehamilan
  • Bayi kurang bulan
  • Ibu tidak disuntik TT
  • Ibu menderita DM

Riwayat persalinan

  • Persalinan dengan tindakan
  • Persalinan presipitatus
  • Gawat janin

Riwayat kelahiran

  • Trauma lahir
  • Lahir asfiksia
  • Pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril

Pemeriksaan kelainan fisik

  • Kesadaran
  • Suhu tubuh
  • Tanda-tanda infeksi lain

Penilaian kejang

  • Bentuk kejang : gerakan bola mata abnormal, nistagmus, gerakan mengunyah, gerakan otot-otot muka, timbulnya episode apnea, adanya kelemahan umum yang periodik, tremor, gerakan klonik sebagian ekstremitas, tubuh kaku
  • Lama kejang

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

  • Pemeriksaan gula darah, elektrolit darah, AGD, darah tepi, lumbal pungsi
  • EKG
  • EEG
  • Biakan darah
  • Titer untuk toksoplasmosis, rubela, citomegalovirus, herpes
  • Foto rontgen kepala
  • USG kepala

PENANGANAN

Prinsip tindakan untuk mengatasi kejang

  • Menjaga jalan nafas tetap bebas
  • Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang
  • Mengobati penyebab kejang

Penanganan kejang pada BBL

  • Bayi diletakan dalam tempat hangat, pastikan bayi tidak kedinginan, suhu dipertahankan 36,5-37ᴼC
  • Jalan nafas dibersihkan dengan tindakan penghisapan lendir diseputar mulut, hisung dan nasofaring
  • Pada bayi apnea, pertolongan agar bayi bernafas lagi dengan alat Bag to Mouth Face Mask oksigen 2 liter/menit
  • Infus
  • Obat antispasmodik/anti kejang : diazepam 0,5 mg/kg/supp/im setiap 2 menit sampai kejang teratasi dan luminal 30 mg im/iv
  • Nilai kondisi bayi tiap 15 menit
  • Bila kejang teratasi berikan cairan infus dextrose 10% dengan tetesan 60ml/kgBB/hr
  • Cari faktor penyebab
    • Apakah mungkin bayi dilahirkan dari ibu DM
    • Apakah mungkin bayi prematur
    • Apakah mungkin bayi mengalami asfiksia
    • Apakah mungkin ibu bayi emnghisap narkotika
    • Kejang sudah teratasi, diambil bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk mencari faktor penyebab, misalnya : darah tepi, elektrolit darah, gula darah, kimia darah, kultur darah, pemeriksaan TORCH
    • Kecurigaan kearah sepsis (pemeriksaan pungsi lumbal)
    • Kejang berulang, diazepam dapat diberikan sampai 2 kali
      • Masih kejang : dilantin 1,5 mg/kgBB sebagai bolus iv diteruskan dalam dosis 20 mg iv setiap 12 jam
      • Belum teratasi : phenytoin 15 mg/kgBB iv dilanjutkan 2 mg/kg tiap 12 jam
      • Hipokalsemia (hasil lab kalsium darah <8mg%) : diberi kalsium glukonas 10% 2 ml/kg dalam waktu 5-10 menit . apabila belum juga teratasi diberi pyridoxin 25-50 mg
      • Hipoglikemia (hasil lab dextrosit/gula darah < 40 mg%) : diberi infus dextrose 10%
Posted by: lenteraimpian | March 2, 2010

SEPSIS NEONATORUM

Sepsis neonatorum

  • Infeksi umum bakteri dalam darah
  • Sindrom klinis dengan ciri penyakit sistemik simptomatik dan bakterimia
  • Lebih sering ditemukan pada BBLR
  • Lebih sering terjadi pada bayi yang lahir di RS dibandingkan dengan diluar RS
  • BBL mendapatkan kekebaln/imunitas transplasenta terhadap kuman yang berasal dari ibu
  • Sesudah lahir, bayi terpapar kuman, bayi tidak mempunyai imunitas
  • Bayi berisiko mempunyai kesempatan 4x untuk mendapat septicemia dibanding BBL normal

Bayi berisiko

Riwayat kehamilan

  • Infeksi pada ibu selama kehamilan antara lain TORCH
  • Ibu menderita eklampsia
  • Ibu dengan DM
  • Ibu mempunyai penyakit bawaan

Riwayat kelahiran

  • Persalinan lama
  • Persalinan dengan tindakan (ekstraksi cunam/vakum, SC)

Riwayat bayi baru lahir

  • Trauma lahir
  • Lahir kurang bulan
  • Bayi kurang mendapat cairan dan kalori
  • Hipotermi pada bayi

Kejadian yang meningkatkan resiko infeksi

  • Prematuritas
  • Prosedur infeksi
  • Endotrakheal tube
  • Nosokomial

FAKTOR RESIKO

Faktor resiko mayor

  • Ketuban pecah > 24 jam
  • Ibu demam saat intrapartum (suhu >38ᴼC)
  • Chorioamnionitis
  • DJJ menetap >160x/menit

Faktor resiko minor

  • Ketuban pecah >12jam
  • Ibu demam saat intrapartum (suhu >37ᴼC)
  • Leukosit ibu >15.000/ul
  • Nilai apgar sedang (menit ke 1 <5, menit ke 2 <7)
  • BB lahir sangat rendah (<1500 gram)
  • Usia gestasi <37 minggu
  • Kehamilan ganda
  • Lokhea berbau busuk
  • Riwayat infeksi streptokokus grup B

Infeksi melalui cara :

Infeksi antenatal

  • Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta
  • Kuman yang menyerang janin :
    • Virus : rubella, poliomyelitis, variola
    • Spirochaeta : syphilis
    • Bakteri : E. Coli, listeria, monocytogenesis

Infeksi intranatal

  • Lebih sering terjadi
  • Mikroorganisme dapat masuk kedalam rongga amnion

Contoh :pada kehamilan dengan KPD, partus lama sering dilakukan manipulasi vagina, kontak langsung dengan jaringan ibu saat janin melewati jalan lahir

Infeksi postnatal

  • Terjadi setelah bayi lahir
  • Merupakan infeksi yang didapat
  • Akibat pemakaian alat yang terkontaminasi atau sebagai infeksi silang

Infeksi terjadi dengan cara ;

  • Pemberian susu formula (pengolahan tidak hygienis, kontaminasi dari lingkungan)
  • Masuknya mikroorganisme melalui umbilicus, pharynx, telinga, sistem pernafasan, saluran kemih, gastro intestinal
  • Kontaminasi dengan bayi, individu atau lingkungan seperti pemakaian alat suction, pemasangan infus
  • Bakteri disebut water bugs (karena mampu tumbuh dalam air) ditemukan pada :
    • Sumber air
    • Alat pengatur kelembaban
    • Saluran cuci tangan
    • Mesin penghisap lendir
    • Alat bantu pernafasan
    • Daur kateter vena ddan arteri
    • Sampel darah
    • Alat monitor TTV

SUMBER INFEKSI

Periode perinatal

Sepsis dini (< 3 hari)

  • Melalui plasenta 2%, persalinan 10%
  • Didapat selama masa perinatal karena kontak langsung dengan organisme saluran kemih dan saluran cerna ibu
  • Organisme streptokokus grup B dan E. Coli
  • Organisme lain : gonococcus, herpes simplex, candida albicans, listeria, chlamidia

Sepsis lambat (1-3 minggu setelah lahir)

  • Resiko tinggi pada bayi prematur, kelahiran sulit
  • Merupakan infeksi nosokomial
  • Organisme : Staphylococcus, Klebsiela, Enterococcus, Pseudomonas

Infeksi terjadi melalui : ujung stump umbilical, kulit, selaput mukosa, hidung, faring, telinga, sistem respirasi, sistem syaraf, sistem perkemihan, sistem slauran pencernaan

Sepsis neonatal terjadi pada

  • Bayi prematur
  • Bayi lahir setelah persalinan sukar/traumatik

Infeksi sistemik

  • Ciri fisik tidak jelas
  • Tidak spesifik

Adanya infeksi terdeteksi melalui :

  • Observasi
  • Analisa perawatan yang cermat terhadap perubahan

Gejala awal tidak spesifik

  • Hipotermi
  • Perubahan warna
  • Tonus otot
  • Kegiatan dan perilaku minum

Tanda klinik yang menyebabkan sepsis neonatal

Tanda umum

  • Bayi secara umum nampak tidak sehat
  • Buruknya kontrol suhu : hipotermia (umum), hipertermia (jarang)

Sistem sirkulasi

Pucat, sianosis, kulit dingin, hipotensi, edema, denyut jantung abnormal (bradikardi, takikardi, aritmia)

Sistem pernafasan

Pernafasan tidak teratur, apneu/takipneu, sianosis, dipneu, retraksi

Sistem syaraf

Kurangnya aktivitas (letargi, hiporefleksi, koma), tonus meningkat/menurun, meningkatnya aktivitas, fontanella cembung, gerakan mata tidak normal

Sistem saluran cerna

Tidak mau minum, muntah, meningkatnya residu lambung stelah makan, diare/berkurangnya feses, adanya darah dalam feses, distensi abdomen, hepatomegali

Sistem hemopoietik

Jaundice, pucat, petekie (bintik merah), ekimosis (memar), splenomegali (pembengkakan limfa secara abnormal)

EVALUASI DIAGNOSTIK

Pemeriksaan laboratorium (kultur darah, urine, cairan CSF)

Pemeriksaan anemia, leukositosis, leukopenia

Pemeriksaan radiografi

PENILAIAN

Persangkaan adanya infeksi

Gejala infeksi pada BBL

  • Malas minum
  • Gelisah atau mungkin tampak lethargis
  • Frekuensi pernafasan meningkat
  • BB tiba-tiba turun
  • Muntah
  • Diare

Selain itu dapat terjadi edema, purpura, perdarahan ikterus, hepatosplenomegali, kejang, suhu dapat meninggi/normal/kurang dari normal

PENATALAKSANAAN

  • Kaji riwayat maternal, identifikasi bayi terkena infeksi
  • Cegah transmisi infeksi
    • Teknik cuci tangan
    • Personil dengan penyakit infeksi hindari berhubungan dengan bayi
    • Ajarkan pada orang tua/orang lain yang masuk ruang rawat
    • Pertahankan teknik terilitas pada tiap tindakan
    • Tingkatkan kebersihan lingkungan perawatan
    • Observasi bayi

Observasi

  • Kelemahan, penurunan aktivitas dan melemahnya tonus otot
  • Minum sedikit
  • Perubahan TTV
  • Kondisi warna kulit
  • Perubahan suhu (terutama hipotermi)
  • Intake output
  • Amati setiap sistem tubuh

Konsisten dalam merencanakan perawatan terhadap bayi (catat pola perilaku)

Lapor dokter bila ada gejala

Observasi tanda-tanda komplikasi, seperti :

  • Meningitis
  • Infeksi saluran perkemihan
  • Pneumonia

Observasi adanya sesak nafas dan kenali gejala yang merangsang pernafasan

  • Observasi bayi terhadap apnea/tempatkan bayi dengan monitor pernafasan
  • Rangsang bayi ketika terjadi apnea
  • Laporkan frekuensi apnea pada dokter
  • Laporkan lamanya periode apnea dan respon yang timbul

Observasi bayi terhadap kejang yang menyertai sepsis

  • Segera lapor dokter bila terjadi kejang
  • Bayi jangan ditinggal
  • Suction bila ada secret
  • Miringkan kepala ke samping berlawanan arah dengan radiasi panas inkubator
  • Berikan oksigen bila sianosis atau distress pernafasan , berikan pengobatan yang perlu jika terjadi kejang
  • Catat lama dan tipe kejang, bagian tubuh yang kejang, penampilan sebelum dan selama kejang, respon setelah diberi terapi
  • Pastikan evaluasi tes diagnostik tepat dan benar
    • Tes harus lengkap terutama terhadap sensitivitas antibiotika
    • Sejak terjadi infeksi (kultur darah untuk mencari antibiotika yang tepat)
    • Berikan nutrisi sesuai kebutuhan kalorinya
      • Fase akut

Bayi tidak toleransi terhadap makanan oral, monitor pemberian cairan intravena NGT untuk mencegah distensi abdomen

  • Kondisi baik berikan makanan per oral

Pemberian mulai dari jumlah kecil (lihat dari reaksinya : muntah, distensi abdomen, kemampuan menghisap), ASI, secara teratur tambah jumlah minuman (jangan dipaksa karena bisa memicu muntah), buat jadwal minum sesuai kemampuan menerima minuman

  • Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal
    • Ukur suhu bayi tiap jam
    • Pertahankan suhu 36,5-37,5ᴼC
    • Saat diletakan tempat tidu terbuka tapi tetap diberi selimut
    • Lapor jika terjadi hipotermi ataupun hipertermia
    • Beri terapi antibiotika untuk kontrol infeksi
      • Waspadai pengaruh dan efek samping
      • Observasi respon
      • Transfusi (jika syok)
      • Observasi kejadian sepsis syok
        • Monitor denyut nadi perifer
        • Monitor output urine tiap jam (untuk mengetahui fungsi ginjal)
        • Berikan kehangatan dan kebutuhan emosi pada bayi
          • Tempatkan di temapt terang
          • Bicara jelas dan tenang saat bayi menangis
          • Berikan sentuhan dan tepukan sayang
          • Anjurkan orang tua mendampingi bayi sesering mungkin

PENGOBATAN

  • Terapi sepsis diberikan 10-14 hari atau 5-7 hari sesudah tampak tanda perbaikan klinis dan tidak disertai oleh adanya abses atau kerusakan jaringan yang dalam
  • Biakan darah dilakukan 24-48 jam sesudah pengobatan harus negatif. Bila biakan positif atau ada abses yang tersembunyi, maka terapi harus diganti
  • Tindakan pendukung
    • Observasi TTV
    • Isolasi bayi dalam inkubator
    • Pemberian cairan (koreksi ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa)
    • Pemberian oksigen bila distress pernafasan, sianosis
    • Suhu lingkungan yang normal
    • Transfusi untuk koreksi anemia

KOMPLIKASI

  • Syok karena lepasnya toksin kedalam cairan darah, yang dimana gejalanya sukar untuk dideteksi
  • Meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang)
  • Gangguan metabolic
  • Pneumonia (penyakit radang paru-paru)
  • Infeksi saluran kemih
  • Gagal jantung kongestif
  • kematian
Posted by: lenteraimpian | March 2, 2010

HIPOGLIKEMIA

Glukosa

  • Pengaturan bahan bakar manusia
  • Sumber penyimpanan energi dalam bentuk glikogen, lemak dan protein
  • Sumber energi cepat
  • Penting untuk metabolisme energi cerebral

Penelitian

  • Otak bayi dapat menggunakan glukosa pada kecepatan melebihi 4-5 mg/100 gr berat otak/menit
  • Otak neonatus cukup bulan beratnya 420 gram, pada bayi BB 3500 gram memerlukan glukosa dengan kecepatan 20 mg/menit
  • Otak tumbuh cepat pada 1 tahun pertama  karena proporsi pergantian glukosa lebih besar yang digunakan untuk metabolisme otak maka hipoglikemia dapat berulang

Hipoglikemia pada neonatus

  • Untuk setiap neonatus manapun, kadar glukosa <40-45mg/dL dianggap tidak normal
  • Menurut WHO hipoglikemi adalah bila kadar glukosa/gula darah <47 mg/dL
  • Gejala sering tidak jelas/asimptomatik, semua tenaga kesehatan perlu mewaspadai kemungkinan adanya hipoglikemia
  • Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat mencegah konsekuensi yang serius

Penyebab dan mekanisme hipoglikemia

Berkurangnya persediaan dan menurunnya produksi glukosa

Neonatus yang mempunyai resiko untuk keadaan ini :

  • Janin yang mengalami pertumbuhan janin terhambat(PJT) atau kecil masa kehamilan
  • Bayi prematur atau pun lebih bulan
  • Neonatus yang mengalami penundaan pemberian asupan
  • Neonatus yang menderita asfiksia perinatal
  • Neonatus dengan hipotermia dan atau stress dingin

Peningkatan pemakaian glukosa (hiperinsulinisme)

Neonatus yang berisiko untuk keadaan ini :

  • IDM-BMK (besar masa kehamilan)
  • Neonatus dengan polisitemia
  • Neonatus yang menderita eritroblastosis fetalis (isoimunisasi Rh-berat)
  • Neonatus dengan sindrom Beckwith-Wiedemann
  • Neonatus dengan nesidioblastosis atau adenoma pankretik
  • Malposisi kateter UA

Kedua mekanisme tersebut

Lain-lain

  • Insufisiensi adrenal
  • Sepsis
  • Penyakit penyimpanan glikogen (glycogen storage)
  • Transfusi tukar
  • Penyakit jantung kongenital
  • Obat untuk ibu (steroid, beta blocker)

Insiden

  • 2-3/1000 kelahiran hidup
  • Kejadian meningkat pada :
    • Prematuritas, hal ini terkait dengan penyimpanan glikogen hati, protein otot rendah, asuoan tidak adekuat, hipotermi, asfiksia dan lemak badan yang tidak cukup
    • Ibu DM (75%)

Batasan

  • Timbul bila kadar glukosa serum lebih rendah daripada kisaran bayi normal sesuai usia pasca lahir
  • Bayi atterm BB 2500 gr : gula darah <30 mg/dl : 72 jam, selanjutnya 40mg/dl
  • BBLR : GD <25 mg/dl

Faktor resiko

  • Bayi dari ibu dengan dibetes melitus (IDM)
  • Neonatus yang besar untuk massa kehamilan (BMK)
  • Bayi prematur dan lebih bulan
  • BBLR yang KMK/bayi kembar dapat terjadi penurunan cadangan glikogen hati dan lemak tubuh
  • Bayi sakit berat karena meningkatnya kebutuhan metabolisme yang melebihi cadangan kalori
  • Neonatus yang sakit atau stress (sindrom gawat napas, hipotermia)
  • Bayi dengan kelainan genetik/gangguan metabolik (penyakit cadangan glikogen, intoleransi glukosa)
  • Neonatus puasa
  • Neonatus dengan polisitemia
  • Neonatus dengan eritroblastosis
  • Obat-obat maternal misalnya steroid, beta simpatomimetik dan beta blocker

Diagnosis

  • Untuk mencegah abnormalitas perkembangan syaraf, identifikasi dan pengobatan tepat waktu untuk hipoglikemia adalah sangat penting
  • Pemantauan glukosa di tempat tidur adalah tindakan tepat untuk penapisan dan deteksi awal
  • Hipoglikemia harus dikonfirmasi oleh nilai serum dari laboratorium jika memungkinkan

Anamnesis

  • Riwayat bayi asfiksia, hipotermi, hipertemi, gangguan pernafasan, prematur
  • Riwayat bayi dengan ibu DM

Manifestasi klinis

Kasus bisa menunjukan gejala ataupun tidak. Kecurigaan tinggi harus selalu diterapkan dan selalu antisipasi hipoglikemia pada neonatus dengan faktor risiko

  • Tremor
  • Sianosis
  • Apatis
  • Kejang
  • Apnea intermitten
  • Tangisan lemah/melengking
  • Letargi
  • Kesulitan minum
  • Gerakan mata berputar/nistagmus
  • Keringat dingin
  • Pucat
  • Hipotermi
  • Refleks hisap kurang
  • Muntah

Penatalaksanaan

Memantau kadar glukosa darah

Semua neonatus berisiko tinggi harus ditapis :

  • Pada saat lahir
  • 30 menit setelah lahir
  • Kemudian setiap 2-4 jam selama 48 jam atau sampai pemberian minum berjalan baik dan kadar glukosa normal tercapai

Pencegahan hipoglikemia

  • Menhindari faktor resiko yang dapat dicegah, contohnya hipotermia
  • Pemberian makan enteral merupakan tindakan preventif tunggal paling penting
  • Jika bayi tidak mungkin menyusui, mulailah pemberian minum dengan menggunakan sonde dalam waktu 1-3 jam setelah lahir
  • Neonatus yang berisiko tinggi harus dipantau nilai glukosanya sampai asupannya penuh dan 3x pengukuran normal sebelum pemberian minum berada diatas 45 mg/dL
  • Jika ini gagal, terapi intravena dengan glukosa 10% harus dimulai dan kadar glukosa dipantau

Perawatan hipoglikemia

  • Koreksi segera dengan bolus 200 mg/kg dengan dekstrosa 10% = 2 cc/kg dan diberikan melalui intravena selama 5 menit dan diulang sesuai keperluan
  • Infus tak terputus (continual) glukosa 10% dengan kecepatan 6-8 mg/kg/menit harus dimulai
  • Kecepatan infus glukosa (GIR) dihitung menurut formula berikut :

GIR (mg/kg/min)= kecepatan cairan (cc/jam) x konsenterasi dextrose(%)

6x berat (Kg)

  • Pemantauan glukosa ditempat tidur (bed side) secara sering diperlukan untuk memastikan bahwa neonatus mendapatkan glukosa yang memadai
  • Ketika pemberian makan telah dapat ditoleransi dan nilai pemantauan glukosa di tempat tidur (bed side) sudah normal maka infus dapat diturunkan secara bertahap. Tindakan ini mungkin memerlukan waktu 24-48 jam atau lebih untuk menghindari kambuhnya hipoglikemia

Hipoglikemia refraktori

Kebutuhan glukosa >12 mg/kg/menit menunjukan adanya hiperinsulinisme. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan

  • Hidrokortison 5 mg/kg IV atau IM setiap 12 jam
  • Glukagon 200 ug IV (segera atau infus berkesinambungan 10 ug/kg/jam)
  • Diazoxide 10 mg/kg/hari setiap 8 jam menghambat sekresi insulin pankreas

Terapi

  • Tanpa kejang, bolus intravena 200 mg/BB (2 ml/kgBB) glukosa 10%
  • Ada kejang, larutan glukosa 10-25%, dosis total 1-2 gr/kgBB, dilanjutkan infus glukosa 4-8 mg/kgBB/menit
  • Hipoglikemi berulang, infus glukosa 15-20%, bila tidak mencukupi beri hidrokortison 2,5 mg/kgBB/12 jam atau prednison 1 mg/kgBB/24 jam
  • Pemeriksaan gula darah sampai kadar diatas 40 mg/dl kemudian pemeriksaan dilanjutkan tiap 4-6 jam
  • Bila gula darah normal terapi dihentikan
  • Berikan ASI
  • Penanganan penyulit

Prognosa

  • Bila tidak ada kelainan bawaan
  • Dengan pengobatan adekuat kejadian hipoglikemia masih berulang pada 10-15%
  • Hipoglikemia berat dan berlangsung lama, dapat menimbulkan gejala sisa neurologik dan kematian

BAYI DARI IBU DENGAN DIABETES MELITUS (IDM)

Pengendalian diabetes pada ibu merupakan faktor kunci dalam menentukan hasil keluaran (outcome) janin. Data terbaru menunjukan bahwa angka kesakitan dan kematian perinatal pada anak dari ibu ynag mengidap diabetes melitus membaik dengan adanya tata laksana diit dan terapi insulin

Insiden

  • Diabetes yang bergantung pada insulin terjadi pada 0,5% kehamilan
  • 1-3% ibu menunjukan kelainan biokimia selama kehamilan adalah konsisten dengan diabetes kehamilan

Patofisiologi

  • Makrosomia

Karena hiperglikemia ibu-alur hiperinsulinemia janin

  • Kecil untuk masa kehamilan

Ibu dengan penyakit ginjal, retinal atau jantung mempunyai kecenderungan melahirkan bayi kecil untuk masa kehamilan atau prematur, melahirkan bayi dengan kondisi yang buruk, gawat janin atau kematian janin

Gangguan spesifik yang sering ditemui pada IDM

Gangguan metabolik

Hipoglikemia

  • Terjadi pada hampir 40% IDM
  • Terjadi dalam waktu 1-2 jam setelah persalinan
  • Pada saat persalinan, pasokan glukosa melalui plasenta terhenti, dan karena tingginya konsentrasi plasma insulin, kadar glukosa darah menurun tajam

Hipokalsemia

  • Terjadi pada hampir 50% IDM
  • Tingkat keparahan berkaitan dengan keparahan diabetes ibu dan melibatkan penurunan fungsi kelenjar parathyroid
  • Paling rendah pada usia 24-72 jam

Hipomagnesemia

  • Berkaitan dengan hipomagnesemia ibu dan keparahan diabetes ibu

Gangguan kardiorespiratori

Asfiksia perinatal

  • Terjadi pada hampir 25% IDM
  • Diakibatkan oleh prematuritas, SC, intrauterine hipoksia yang disebabkan oleh penyakit vaskuler ibu atau makrosomia

Penyakit membran hyaline (HMD)

  • Terjadi karena persalinan prematur
  • Tertundanya kematangan produksi surfaktan pulmonar (hiperinsulinisme bertentangan dengan kerja kortisol)
  • Persalinan melalui SC elektif

Gangguan hematologis

Polistemia dan hiperviskositas

Penyebabnya tidak jelas tapi mungkin berhubungan dengan ;

  • Meningkatnya kadar erythropoietin
  • Meningkatnya produksi sel darah merah sekunder terhadap hipoksia janin pada ibu dengan penyakit vaskular
  • Transfusi plasenta intrauterus yang disebabkan oleh hipoksia akut selama persalinan dan melahirkan

Hiperbilirubinemia

  • Sekunder terhadap prematuritas, makrosomia, hipoglikemia, dan polisitemia
  • Menurunnya usia sel darah merah dan menurunkan konjugasi hepatik karena imaturitas enzim

Trombosis vena ginjal

  • Komplikasi jarang
  • Paling mungkin disebabkan oleh hiperviskositas, hipotensi dan koagulasi intravaskular diseminata
  • Mungkin terlihat sebagai hematuria dan masa abdomen yang di diagnosis oleh USG abdomen

Gangguan morfologis dan fungsional

Cidera lahir

  • Mungkin termasuk fraktur klavikula, Erb’s palsy dan cidera sistem syaraf karena makrosomia dan prematuritas

Malformasi kongenital

  • Terjadi pada 6,4% IDM
  • Pengendalian diabetes yang buruk pada trimester pertama berkaitan dengan semakin tingginya persentase malformasi kongenital
  • Cacat jantung (TGA, VSD atau ASD)
  • Cacat renal, misalnya agenesis
  • Cacat saluran gastrointestinal, misalnya small left colon syndrome atau situs inversus
  • Cacat neurologis, misalnya anensefali atau meningocele syndrome
  • Wajah abnormal
  • Micropthalmos

Presentasi klinis

Pada saat lahir

  • Sembab, wajah plethoric
  • Tremulous dan hipereksitasia
  • Mungkin besar atau kecil untuk masa kehamilan

Setelah lahir

  • Hipoglikemia
  • Tanda gawat nafas
  • Mungkin ada penyakit jantung. Didiagnosis dengan adanya pembesaran cardiothymic ratio pada X-ray dada atau bukti fisis kegagalan jantung
  • Anomali kongenital mungkin diketahui pada saat pemeriksaan fisis

Diagnosis

Pemeriksaan laboratorium

Kadar glukosa serum

  • Diperiksa dengan dextrostix pada saat persalinan dan pada usia ½, 1, 2, 4, 8, 12, 24, 36, dan 48 jam
  • Pengukuran <45 mg/dL dengan dextrostix harus diverifikasi oleh pengukuran serum glukosa

Kadar serum kalsium

  • Pada usia 6, 24 dan 48 jam
  • Jika kadar serum kalsium rendah, kadar serum magnesium harus diukur

Hematokrit

  • Pada saat lahir dan pada usia 24 jam

Kadar serum bilirubin

  • Sesuai indikasi pemeriksaan fisis

Tes lain

  • Kadar gas darah arteri
  • Hitungan sel darah lengkap (CBC), kultur dan pewarnaan gram dilakukan sesuai indikasi klinis

Pemeriksaan radiologi

Tidak diperlukan kecuali ada bukti masalah jantung, pernafasan atau kerangka

Electrocardiography dan echocardiography

Jika dicurigai adanya hypertropic cardiomyopathy atau malformasi jantung

Penatalaksanaan

Tata laksana metabolik

Hipoglikemia

  • 2 ml/kg dextrose 10% selama 5 menit, ulangi sesuai kebutuhan
  • Infusion terus menerus glukosa 10% dengan kecepatan 6-8 mg/kg/min
  • Mulai pemberian minum enteral secepatnya
  • Kortikosteroid : pada hipoglikemia persisten (hidrokortison : 5 mg/kg/12 jam) pertimbangkan pemberian glukagon dan epinefrin

Hipokalsemia

  • Dosis awal 1-2 ml/kg/dosis IV kalsium glukonat 10% yang diberikan perlahan selama 10 menit
  • Pantau tanda ekstravasasi
  • Dosis pemeliharaan diberikan melalui infus intravena terus menerus, 2-8 ml/kg/hari berespon dalam waktu 3-4 hari

Hipomagnesemia

  • Magnesium sulfat – 2mEq/kg/dosis setiap 6 jam IV atau IM

Masalah kardiorespiratori

  • Asfiksia perinatal
  • Penyakit membran hyaline
  • Kardiomyopati

Rawat dengan propanolol. Digoxin merupakan kontraindikasi karena kemungkinan obstruksi aliran darah dari ventrikular

Masalah hematologis

Hiperbilirubinemia

  • Pantau kadar serum bilirubin
  • Fototerapi dan transfusi tukar jika diperlukan

Polisitemia

Tata laksana makrosomia dan cidera lahir

Prognosis

  • Penurunan kesakitan dan kematian terjadi dengan adanya pengendalian kehamilan diabetes yang tepat
  • Resiko diabetes melitus pada bayi dari IDM sedikitnya 10x lebih besar daripada populasi normal
  • Perkembangan fisis normal tapi obesitas pada anak mungkin terjadi

Ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) atau ketuban pecah prematur (KPP) adalah keluarnya cairan dari jalan lahir/vagina sebelum proses persalinan.

Ketuban pecah prematur yaitu pecahnya membran khorio-amniotik sebelum onset persalinan atu disebut juga Premature Rupture Of Membrane = Prelabour Rupture Of Membrane = PROM.

Ketuban pecah prematur pada preterm yaitu pecahnya membran Chorio-amniotik sebelum onset persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau disebut juga Preterm Premature Rupture Of Membrane = Preterm Prelabour Rupture Of Membrane = PPROM

Insiden

  • PROM             : 6-19% kehamilan
  • PPROM          : 2% kehamilan

Etiologi

  • Penyebab dari KPD tidak atau masih belum diketahui secara jelas maka usaha preventif tidak dapat dilakukan, kecuali dalam usaha menekan infeksi.
  • Faktor yang berhubungan dengan meningkatnya insidensi KPD antara lain :
    • Fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal
    • Inkompetensi serviks
    • Infeksi vagina/serviks
    • Kehamilan ganda
    • Polihidramnion
    • Trauma
    • Distensi uteri
    • Stress maternal
    • Stress fetal
    • Infeksi
    • Serviks yang pendek
    • Prosedur medis

Diagnosa

Secara klinik diagnosa ketuban pecah dini tidak sukar dibuat anamnesa pada klien dengan keluarnya air seperti kencing dengan tanda-tanda yang khas sudah dapat menilai itu mengarah ke ketuban pecah dini. Untuk menentukan betul tidaknya ketuban pecah dini bisa dilakukan dengan cara :

  • Adanya cairan yang berisi mekonium (kotoran janin), verniks kaseosa (lemak putih) rambut lanugo atau (bulu-bulu halus) bila telah terinfeksi bau
  • Pemeriksaan inspekulo, lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis servikalis pada bagian yang sudah pecah, atau terdapat cairan ketuban pada forniks posterior
  • USG : volume cairan amnion berkurang/oligohidramnion
  • Terdapat infeksi genital (sistemik)
  • Gejala chorioamnionitis

Maternal : demam (dan takikardi), uterine tenderness, cairan amnion yang keruh dan berbau, leukositosis (peningkatan sel darah putih) meninggi, leukosit esterase (LEA) meningkat, kultur darah/urin

Fetal : takikardi, kardiotokografi, profilbiofisik, volume cairan ketuban berkurang

Cairan amnion

Tes cairan amnion, diantaranya dengan kultur/gram stain, fetal fibronectin, glukosa, leukosit esterase (LEA) dan sitokin.

Jika terjadi chorioamnionitis maka angka mortalitas neonatal 4x lebih besar, angka respiratory distress, neonatal sepsis dan pardarahan intraventrikuler 3x lebih besar

  • Dilakukan tes valsava, tes nitrazin dan tes fern

Normal pH cairan vagina 4,5-5,5 dan normal pH cairan amnion  7,0-7,5

  • Dilakukan uji kertas lakmus/nitrazine test
    • Jadi biru (basa)            : air ketuban
    • Jadi merah (asam)       : air kencing

Prognosis/komplikasi

Adapun pengaruh ketuban pecah dini terhadap ibu dan janin adalah :

Prognosis ibu

  • Infeksi intrapartal/dalam persalinan

Jika terjadi infeksi dan kontraksi ketuban pecah maka bisa menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas

  • Infeksi puerperalis/ masa nifas
  • Dry labour/Partus lama
  • Perdarahan post partum
  • Meningkatkan tindakan operatif obstetri (khususnya SC)
  • Morbiditas dan mortalitas maternal

Prognosis janin

  • Prematuritas

Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya adalah respiratory distress sindrome, hypothermia, neonatal feeding problem, retinopathy of premturity, intraventricular hemorrhage, necrotizing enterocolitis, brain disorder (and risk of cerebral palsy), hyperbilirubinemia, anemia, sepsis.

  • Prolaps funiculli/ penurunan tali pusat
  • Hipoksia dan Asfiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi)

Mengakibatkan kompresi tali pusat, prolaps uteri, dry labour/pertus lama, apgar score rendah, ensefalopaty, cerebral palsy, perdarahan intrakranial, renal failure, respiratory distress.

  • Sindrom deformitas janin

Terjadi akibat oligohidramnion. Diantaranya terjadi hipoplasia paru, deformitas ekstremitas dan pertumbuhan janin terhambat (PJT)

  • Morbiditas dan mortalitas perinatal

Penatalaksanaan

  • Penatalaksanaan ketuban pecah dini tergantung pada umur kehamilan dan tanda infeksi intrauterin
  • Pada umumnya lebih baik untuk membawa semua pasien dengan KPD ke RS dan melahirkan bayi yang berumur > 37 minggu dalam 24 jam dari pecahnya ketuban untuk memperkecil resiko infeksi intrauterin
  • Tindakan konservatif (mempertahankan kehamilan) diantaranya pemberian antibiotik dan cegah infeksi (tidak melakukan pemeriksaan dalam), tokolisis, pematangan paru, amnioinfusi, epitelisasi (vit C dan trace element, masih kontroversi), fetal and maternal monitoring. Tindakan aktif (terminasi/mengakhiri kehamilan) yaitu dengan sectio caesarea (SC) atau pun partus pervaginam
  • Dalam penetapan langkah penatalaksanaan tindakan yang dilakukan apakah langkah konservatif ataukah aktif, sebaiknya perlu mempertimbangkan usia kehamilan, kondisi ibu dan janin, fasilitas perawatan intensif, kondisi, waktu dan tempat perawatan, fasilitas/kemampuan monitoring, kondisi/status imunologi ibu dan kemampuan finansial keluarga.
  • Untuk usia kehamilan <37 minggu dilakukan penanganan konservatif dengan mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan matur.
  • Untuk usia kehamilan 37 minggu atau lebih lakukan terminasi dan pemberian profilaksis streptokokkus grup B. Untuk kehamilan 34-36 minggu lakukan penatalaksanaan sama halnya dengan aterm
  • Untuk usia kehamilan 32-33 minggu lengkap lakukan tindakan konservatif/expectant management kecuali jika paru-paru sudah matur (maka perlu dilakukan tes pematangan paru), profilaksis streptokokkus grup B, pemberian kortikosteroid (belum ada konsensus namun direkomendasikan oleh para ahli), pemberian antibiotik selama fase laten.
  • Untuk previable preterm (usia kehamilan 24-31 minggu lengkap) lakukan tindakan konservatif, pemberian profilaksis streptokokkus grup B, single-course kortikosteroid, tokolisis (belum ada konsensus) dan pemberian antibiotik selama fase laten (jika tidak ada kontraindikasi)
  • Untuk non viable preterm (usia kehamilan <24 minggu), lakukan koseling pasien dan keluarga, lakukan tindakan konservatif atau induksi persalinan, tidak direkomendasikan profilaksis streptokokkus grup B dan kortikosteroid, pemberian antibiotik tidak dianjurkan karena belum ada data untuk pemberian yang lama)
  • Rekomendasi klinik untuk PROM, yaitu pemberian antibiotik karena periode fase laten yang panjang, kortikosteroid harus diberikan antara 24-32 minggu (untuk mencegah terjadinya resiko perdarahan intraventrikuler, respiratory distress syndrome dan necrotizing examinations),tidak boleh dilakukan digital cervical examinations jadi pilihannya adalah dengan spekulum, tokolisis untuk jangka waktu yang lama tidak diindikasikan sedangkan untuk jangka pendek dapat dipertimbangkan untuk memungkinkan pemberian kortikosteroid, antibiotik dan transportasi maternal, pemberian kortikosteroid setelah 34 minggu dan pemberian multiple course tidak direkomendasikan
  • Pematangan paru dilakukan dengan pemberian kortikosteroid yaitu deksametason 2×6 mg (2 hari) atau betametason 1×12 mg (2 hari)
  • Agentokolisis yaitu B2 agonis (terbutalin, ritodrine), calsium antagonis (nifedipine), prostaglandin sintase inhibitor (indometasin), magnesium sulfat, oksitosin antagonis (atosiban)
  • Tindakan epitelisasi masih kotroversial, walaupun vitamin C dan trace element terbukti berhubungan dengan terjadinya ketuban pecah terutama dalam metabolisme kolagen untuk maintenance integritas membran korio-amniotik, namun tidak terbukti menimbulkan epitelisasi lagi setelah terjadi PROM
  • Tindakan terminasi dilakukan jika terdapat tanda-tanda chorioamnionitis, terdapat tanda-tanda kompresi tali pusat/janin (fetal distress) dan pertimbangan antara usia kehamilan, lamanya ketuban pecah dan resiko menunda persalinan
  • KPD pada kehamilan < 37 minggu tanpa infeksi, berikan antibiotik eritromisin 3×250 mg, amoksisillin 3×500 mg dan kortikosteroid
  • KPD pada kehamilan  > 37 minggu tanpa infeksi (ketuban pecah >6 jam) berikan ampisillin 2×1 gr IV dan penisillin G 4×2 juta IU, jika serviks matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak matang lakukan SC
  • KPD dengan infeksi (kehamilan <37 ataupun > 37 minggu), berikan antibiotik ampisillin 4×2 gr IV, gentamisin 5 mg/KgBB, jika serviks matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak matang lakukan SC

POLIHIDRAMNION

Polihidramnion atau disebut juga dengan hidramnion adalah keadaan dimana air ketuban melebihi 2000 ml. Hidramnion akut adalah penambahan air ketuban secara mendadak dan cept dalam beberapa hari, biasanya terdapat pada kehamilan yang agak muda, bulan ke 5 dan ke 6. Hidramnion kronis adalah penambahan air ketuban secara perlahan-lahan, biasanya terjadi pada kehamilan lanjut. Diagnosis pasti bisa didapatkan dari pemeriksaan ultrasonografi (USG). Insidensi hidramnion adalah 1% dari semua kehamilan. Biggio dkk (1999) melaporkan dari Alabama, insisden hidramnion 1% diantara lebih dari 36.000 kehamilan.

Etiologi

Sampai sekarang penyebab hidramnion masih belum jelas. Pada banyak kasus hidramnion berhubungan dengan kelainan malformasi janin, khususnya kelainan sistem syaraf pusat dan traktus gastrointestinal. Namun secara teori, hidramnion bisa terjadi karena :

  • Produksi air ketuban bertambah

Diduga air ketuban dibentuk oleh sel-sel amnion, tetapi air ketuban dapat bertambah cairan lain masuk kedalam ruangan amnion, misalnya air kencing janin dan cairan otak anensefalus.

Naeye dan Blanc (1972) mengidentifikasi dilatasi tubulus ginjal, bladder (vesica urinaria) ukuran besar, akan meningkatkan output urine pada awal periode pertumbuhan fetus, hal inilah yang meningkatkan produksi urine fetus yang mengakibatkan hidramnion.

  • Pengaliran air ketuban terganggu

Air ketuban yang dibentuk, secara rutin dikeluarkan dan diganti dengan yang baru. Salah satu cara pengeluaran adalah ditelan oleh janin, diabsorpsi oleh usus kemudian dialirkan ke plasenta untuk akhirnya masuk kedalam peredaran darah ibu. Ekskresi air ketuban ini akan terganggu bila janin tidak bisa menelan seperti pada atresia esofagus dan anensefalus.

Damato dan koleganya (1993) melaporkan bahwa dari 105 wanita yang diteliti cairan amnionnya, ditemukan hampir 65% dinyatakan hidramnion. Ada 47 orang hamil tunggal dengan satu atau lebih mengalami kelainan kongenital. Diantaranya kelainan gastrointestinal, sistem syaraf pusat, thorax, skeletal, kelainan kromosom (2 janin mempunyai trisomi 18—Edward syndrome dan dua janin dengan trisomi 21—Down syndrome), dan kelainan jantung. 19 orang wanita hamil kembar. Hidramnion berhubungan dengan kehamilan kembar monozigotik, hipotesis telah dibuktikan bahwa salah satu fetus menguasai satu bagian sirkulasi dari janin lainnya, dimana fetus yang satu ini mengalami cardiac hypertrofi dan produksi output urine yang meningkat.

Diagnosis

1. Anamnesis

  • Perut terasa lebih besar dan lebih berat dari biasa
  • Sesak nafas, beberapa ibu mengalami sesak nafas berat, pada kasus ekstrim ibu hanya bisa bernafas bila berdiri tegak
  • Nyeri ulu hati dan sianosis
  • Nyeri perut karena tegangnya uterus
  • Oliguria. Kasus sangat jarang terjadi. Hal ini terjadi karena urethra mengalami obstruksi akibat uterus yang membesar melebihi kehamilan normal.

2. Inspeksi

  • Perut terlihat sangat buncit dan tegang, kulit perut mengkilat, retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar
  • Ibu terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah karena kehamilannya
  • Edema pada kedua tungkai, vulva dan abdomen. Hal ini terjadi karena kompresi terhadap sebagian besar sistem pembuluh darah balik (vena) akibat uterus yang terlalu besar

3. Palpasi

  • Perut tegang dan nyeri tekan
  • Fundus uteri lebih tinggi dari usia kehamilan sesungguhnya
  • Bagian-bagian janin sukar dikenali

4. Auskultasi

  • Denyut jantung janin sukar didengar

5. Pemeriksaan penunjang

  • Foto rontgen (bahaya radiasi)
  • Ultrasonografi
    • Banyak ahli mendefinisikan hidramnion bila index cairan amnion (ICA) melebihi 24-25 cm pada pemeriksaan USG.
    • Dari pemeriksaan USG, hidramnion terbagi menjadi :

Mild hydramnion (hidramnion ringan), bila kantung amnion mencapai 8-11 cm dalam dimensi vertikal. Insiden sebesar 80% dari semua kasus yang terjadi.

Moderate hydramnion (hidramnion sedang), bila kantung amnion mencapai 12-15 cm dalamnya. Insiden sebesar 15%.

Severe hydramnion (hidramnion berat), bila janin ditemukan berenang dengan bebas dalam kantung amnion yang mencapai 16 cm atau lebih besar. Insiden sebesar 5%.

Weeks gestation Fetus (gr) Placenta (gr) Amnionic fluid (ml) Fluid (%)
16 100 100 200 50
28 1000 200 1000 45
36 2500 400 900 24
40 3300 500 800 17

From Queenan (1991)

Diagnosa banding

  • Gemelli (kembar)
  • Asites (pengumpulan cairan serosa dalam rongga perut)
  • Kista ovarium
  • Kehamilan dengan tumor

Prognosis

Janin

  • Kelainan kongenital
  • Prematuritas
  • Prolapsus tali pusat

Ibu

  • Solusio plasenta
  • Atonia uteri
  • Perdarahan postpartum

Penanganan

Pada masa hamil

Pada hidramnion ringan tidak perlu pengobatan khusus. Hidramnion sedang dengan beberapa ketidaknyamanan biasanya dapat diatasi, tidak perlu intervensi sampai persalinan atau sampai selaput membran pecah spontan. Jika terjadi sesak nafas atau nyeri pada abdomen, terapi khusus diperlukan. Bed rest, diuretik dan air serta diet rendah garam sangat efektif. Terapi indomethacin biasa digunakan untuk mengatasi gejala-gejala yang timbul menyertai hidramnion. Kramer dan koleganya (1994) melalui beberapa hasil penelitiannya membuktikan bahwa indomethacin mengurangi produksi cairan dalam paru-paru atau meningkatkan absorpsi, menurunkan produksi urine fetus dan meningkatkan sirkulasi cairan dalam membran amnion. Dosis yang boleh diberikan 1,5-3 mg/Kg per hari. Tetapi pada hidramnion berat maka penderita harus dirawat dan bila keluhan terlalu hebat dapat dilakukan amniosentesis (pengambilan sampel cairan ketuban melalui dinding abdomen). Prinsip dilakukan amniosintesis adalah untuk mengurangi distress pada ibu. Selain itu, cairan amnion juga bisa di tes untuk memprediksi kematangan paru-paru janin.

Pada masa persalinan

Bila tidak ada hal-hal yang mendesak maka sikap kita adalah menunggu. Jika pada waktu pemeriksaan dalam ketuban tiba-tiba pecah, maka untuk menghalangi air ketuban mengalir keluar dengan deras, masukanlah tinju kedalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan. Maksudnya adalah supaya tidak terjadi solusio plasenta, syok karena tiba-tiba perut kosong atau perdarahan postpartum karena atonia uteri.

Pada masa nifas

Observasi perdarahan postpartum

OLIGOHIDRAMNION

Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari 500 mL. Marks dan Divon (1992) mendefinisikan oligohidramnion bila pada pemeriksaan USG ditemukan bahwa index kantong amnion 5 cm atau kurang dan insiden oligohidramnion 12% dari 511 kehamilan pada usia kehamilan 41 minggu.

Etiologi

Penyebab pasti terjadinya oligohidramnion masih belum diketahui. Beberapa keadaan berhubungan dengan oligohidramnion hampir selalu berhubungan dengan obstruksi saluran traktus urinarius janin atau renal agenesis.

Fetal Maternal
Chromosomal abnormalities Uteroplacental insufficiency
Congenital anomalies Hypertension
Growth restriction Preeclampsia
Postterm pregnancy Diabetes
Ruptured membranes
Placenta
Abruptio placenta

From Peipert and Donnenfeld (1991)

Gambaran klinis

  • Perut ibu kelihatan kurang membuncit
  • Denyut jantung janin sudah terdengar lebih dini dan lebih jelas
  • Ibu merasa nyeri di perut pada setiap gerakan anak
  • Persalinan lebih lama dari biasanya
  • Sewaktu his/mules akan terasa sakit sekali
  • Bila ketuban pecah, air ketuban akan sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar

Prognosis

Prognosis oligohidramnion tidak baik terutama untuk janin. Bila terjadi kehamilan muda akan mengakibatkan gangguan bagi pertumbuhan janin, bahkan bisa terjadi foetus papyreceous, yaitu picak seperti kertas karena tekanan-tekanan. Bila terjadi pada kehamilan lanjut akan terjadi cacat bawaan, cacat karena tekanan atau kulit menjadi tebal dan kering. Selain itu, dapat mengakibatkan kelainan musculoskeletal (sistem otot).

Oligohidramnion yang berkaitan dengan PPROM pada janin yang kurang dari 24 minggu dapat mengakibatkan terjadinya hipoplasia paru-paru. Ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu:

  • Kompresi toraks, mengakibatkan pengembangan dinding dada dan paru-paru terhambat
  • Terbatasnya pernapasan janin menurunkan pengembangan paru-paru
  • Terganggunya produksi serta aliran cairan paru-paru berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan paru-paru

Penatalaksanaan

Penanganan oligohidramnion bergantung pada situasi klinik dan dilakukan pada fasilitas kesehatan yang lebih lengkap mengingat prognosis janin yang tidak baik. Kompresi tali pusat selama proses persalinan biasa terjadi pada oligohidramnion, oleh karena itu persalinan dengan sectio caesarea merupakan pilihan terbaik pada kasus oligohidramnion. Selain itu, pertimbangan untuk melakukan SC karena :

  • Index kantung amnion (ICA) 5 cm atau kurang
  • Deselerasi frekuensi detak jantung janin
  • Kemungkinan aspirasi mekonium pada kehamilan postterm.

Sumber :

Abdul bari, Saifuddin. 2002. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.YBPSP. Jakarta

Aria wibawa dept obstetri dan ginekologi FKUI-RSUPN CM

Cunningham, F.G., Et all. 2005. William Obstetrics, 22nd edition. Chapter 21 Disorders of Aminic Fluid Volume. Pages 525-533. USA: McGRAW-HILL

Manuaba, IBG. 1998. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. EGC. Jakarta

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1. EGC. Jakarta

Varney, Helen. 2000. Buku Saku Bidan. EGC. Jakarta

Winkjosastro, hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. 2006.  YBPSP. Jakarta

Posted by: lenteraimpian | February 27, 2010

KEHAMILAN GANDA/KEMBAR

Kehamilan ganda dapat didefinisikan sebagai suatu kehamilan dimana terdapat dua atau lebih embrio atau janin sekaligus. Kehamilan ganda terjadi apabila dua atau lebih ovum dilepaskan dan dibuahi atau apabila satu ovum yang dibuahi membelah secara dini hingga membentuk dua embrio yang sama pada stadium massa sel dalam atau lebih awal. Kehamilan kembar dapat memberikan resiko yang lebih tinggi terhadap ibu dan janin. Oleh karen aitu, dalam menghadapi kehamilan ganda harus dilakukan perawatan antenatal yang intensif.

Faktor-faktor predisposisi

Faktor ras

Frekuensi kelahiran janin multiple memperlihatkan variasi yang nyata diantara berbagai ras yang berbeda. Myrianthopoulos (1970) mengidentifikasi kelahiran ganda terjadi 1 diantara 100 kehamilan kehamilan pada orang kulit putih, sedangkan pada orang kulit hitam 1 diantara 80 kehamilan.

Pada kawasan di Afrika, frekuensi terjadinya kehamilan ganda sangat tinggi. Knox dan Morley (1960) dalam suatu survey pada salah satu masyarakat pedesaan di Nigeria, mendapatkan bahwa kehamilan ganda terjadi sekali pada setiap 20 kelahiran, kehamilan pada orang Timur atau Oriental tidak begitu sering terjadi. Perbedaan ras yang nyata ini merupakan akibat keragaman pada frekuensi terjadinya kehamilan kembar dizigot. Perbedaan kehamilan ganda ini disebabkan oleh perbedaan tingkat Folikel Stimulating Hormone yang akan mengakibatkan multiple ovulasi

Faktor keturunan

Sebagai penentu kehamilan ganda genotip ibu jauh lebih penting dari genotip ayah. White dan Wyshak (1964) dalam suatu penelitian terhadap 4000 catatan mengenai jemaat gereja kristus orang-orang kudus hari terakhir, menemukan bahwa para wanita yang dirinya sendiri dizigot dengan frekuensi 1 per 58 kelahiran. Namun, wanita yang bukan kembar tapi mempunyai suami kembar dizigot, melahirkan bayi kembar dengan frekuensi 1 per 116 kehamilan. Lebih lanjut, dalam analisis Bulmer (1960) terhadap anak-anak kembar, 1 dari 25 (4%) ibu mereka ternyata juga kembar,  tetapi hanya 1 dari 60 (1,7%) ayah mereka yang kembar, keterangan didapatkan bahwa salah satu sebabnya adalah multiple ovuasi yang diturunkan.

Faktor umur dan paritas

Untuk peningkatan usia sampai sekitar 40 tahun atau paritas sampai dengan 7, frekuensi kehamilan ganda akan meningkat. Kehamilan ganda dapat terjadi kurang dari sepertiga pada wanita 20 tahun tanpa riwayat kelahiran anak sebleumnya, bila dibandingkan dengan wanita yang berusia diantara 35 sampai 40 tahun dengan 4 anak atau lebih. Di Swedia, Petterson dkk (1976), memastikan peningkatan yang nyata pada angka kehamilan ganda yang berkaitan dengan meningkatnya paritas. Dalam kehamilan pertama, frekuensi janin kembar adalah 1,3% dibandingkan dengan kehamilan keempat sebesar 2,7%.

Faktor nutrisi

Nylander (1971) mengatakan bahwa peningkatan kehamilan ganda berkaitan dengan status nutrisi yang direfleksikan dengan berat badan ibu. Ibu yang lebih tinggi dan berbadan besar mempunyai resiko hamil ganda sebesar 25-30% dibandingkan dengan ibu yang lebih pendek dan berbadan kecil. McGillivray (1986) juga memaparkan bahwa kehamilan dizigotik lebih sering ditemui pada wanita berbadan besar dan tinggi dibandingkan pada wanita pendek dan bertubuh kecil.

Faktor terapi infertilitas

Induksi ovulasi dengan menggunakan FSH plus chorionic gonadotropin atau chlomiphene citrate menghasilkan ovulasi ganda. Insiden kehamilan ganda seiring penggunaan gonadotropin sebesar 16-40%, 75% kehamilan dengan dua janin (Schenker & co-workers, 1981). Tuppin dkk (1993) melaporkan dari Prancis, insiden persalinan gemelli dan triplet terjadi karena induksi ovulasi dengan terapi human menopause gonadotropin (hMG). Faktor resiko untuk kehamilan ganda setelah ovarium distimualsi dengan hMG berpengaruh terhadap peningkatan jumlah estradiol dan injeksi chorionic gonadotropin pada saat bersamaan akan berpengaruh terhadap karakteristik sperma, meningkatkan konsenterasi dan motilitas sperma (Dickey, dkk 1992, Pasqualato dkk,1999). Induksi ovulasi meningkatkan insiden kehamilan ganda dizigotik dan monozigotik.

Faktor assisted reproductive technology (ART)

Teknik ART didesain untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan, dan juga meningkatkan kemungkinan kehamilan ganda. Pasien pada kasus ini, pembuahan dilakukan melalui teknik fertilisasi in vitro dengan melakukan seleksi terhadap ovum yang benar-benar berkualitas baik, dan dua dari empat embrio ditransfer kedalam uterus. Pada umumnya, sejumlah embrio yang ditransfer kedalam uterus maka sejumlah itulah akan berisiko kembar dan meningkatkan kehamilan ganda.

Jenis kehamilan ganda

1. Kehamilan monozigotik

Merupakan kehamilan ganda yang berasal dari satu ovum yang dibuahi dan membelah secara dini hingga membentuk dua embrio yang sama, kehamilan ini juga disebut hamil ekmbar identik atau hamil kembar homolog atau ahmil kembar uniovuler, karena berasal dari satu ovum.

Ciri-ciri :

  • Jenis kelamin sama
  • Rupanya sama (seperti bayangan)
  • Golongan darah sama, cap kaki dan tangan sama
  • Sebagian hamil ganda dalam bentuk :

2 amnion, 2 korion, 2 plasenta

2 amnion, 2 korion, 1 plasenta

2 amnion, 1 korion, 1 plasenta

Pada kembar monozigotik dapat terjadi kelainan pertumbuhan seperti kembar siam. Insiden kelainan malformasi tinggi pada kehamilan ganda monozigotik.

2. Kehamilan dizigotik

Merupakan kehamilan ganda yang berasal dari 2 atau lebih ovum yang telah dibuahi, sebagian besar kehamilan ganda adalah dizigotik atau kehamilan kembar fraternal.

Ciri-ciri :

  • Jenis kelamin dapat sama atau berbeda
  • Persamaan seperti adik-kakak
  • Golongan darah tidak sama
  • Cap tangan dan kaki tidak sama
  • Sebagian hamil ganda dalam bentuk

2 amnion, 2 korion, 2 plasenta

2 amnion, 2 korion, 1 plasenta

Gejala

  • Anemia
  • Keluhan subjektif
    • Sesak nafas
    • Sering BAK
    • Gerak banyak
    • Edema varises
    • Keluhan objektif
      • Hiperemesis
      • Preeklampsi-eklampsia
      • Hidramnion

Diagnosis

Anamnesis

  • Riwayat adanya keturunan kembar
  • Mendapat pengobatan infertilitas
  • Uterus yang membesar lebih dari 4 cm dari amenore
  • Gerakan janin yang banyak

Pemeriksaan klinis

  • Besarnya kehamilan melebihi lamanya terlambatnya menstruasi
  • Besarnya rahim bertambah lebih cepat dari biasanya
  • Berat badan bertambah lebih cepat
  • Dapat diraba banyaknya bagian kecil janin
  • Dapat diraba tiga bagian janin dan teraba dua ballotemen
  • Terdengar 2 DJJ dengan perbedaan 10 denyut atau lebih

Pemeriksaan USG

Terlihat dua bayangan janin dengan 1 atau 2 kantong amnion. Diagnosis dengan USG sudah dapat ditegakkan pada kehamilan 10 minggu.

Pemeriksaan X-ray

Sudah jarang dilakukan karena terdapat bahaya radiasi dari penyinaran

Diagnosis pasti

  • Teraba 2 kepala
  • Teraba 2 bokong atau 2 punggung
  • Terdengar dua denyut jantung janin  dengan perbedaan jumlah lebih dari 10 denyut
  • Dengan alat bantu ultasonografi dan foto abdominal akan tempak dua janin dalam rahim

Komplikasi

Komplikasi kehamilan

  • Hidramnion
  • Prematuritas
  • Kelainan letak
  • Plasenta pervia
  • Solusio plasenta
  • Monster fetus

Komplikasi postpartum

  • Atonia uteri
  • Retensio plasenta
  • Plasenta rest
  • Perdarahan postpartum
  • Mudah infeksi

Penatalaksanaan

Sebelum persalinan

Dibandingkan dengan kehamilan tungga, kehamilan ganda lebih mungkin terkait dengan komplikais kehamilan. Pada kehamilan kebutuhan ibu untuk pertumbuhan hamil kembar lebih besar sehingga terjadi defisiensi nutrisi seperti anemia dalam kehamilan yang dapat mengganggu pertumbuhan janin dalam rahim. Ada argumen kuat yang menyatakan bahwa pasien harus mendapat asam folat 5 mg dan satu tablet zat besi setiap hari. Ferkuensi hidramnion pada hamil kembar sekitar 10 kali lebih besar dari kehamilan tunggal.

Solusio plasenta dapat terjadi setelah persalinan anak pertama karena retraksi otot yang berlebihan. Persalinan dapat berlangsung lebih lama, karena keregangan otot rahim yang melampaui batas. Setelah persalinan, terjadi gangguan kontraksi otot rahim yang menyebabkan atonia uetri yang menimbulkan perdarahan dan retensio plasenta.

Seorang wanita dengan kehamilan ganda mempunyai volume darah yang lebih besar dan mendapatkan beban ekstra pada sistem kardiovaskuler, peregangan otot rahim yang menyebabkan iskemia uteri yang dapat meningkatkan kemungkinan preeklampsia dan eklampsia. Biasanya dokter menganjurkan ibu dengan kehamilan ganda agar beristirahat lebih banyak, misalnya 2 jam pada sore hari, diharapkan dapat mengurangi resiko hipertensi yang di induksi kehamilan dan persalinan preterm. Dengan janin yang berat badannya relatif lebih rendah menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

Keluhan pada kehamilan ganda biasanya terasa sesak nafas, sering BAK, edema tungkai, pembesaran pembuluh darah (varises). Untuk memperkecil kemungkinan penyulit ibu dan janin, pada kehamilan ganda penanganan yang lebih intensif dengan melakukan pengawasan hamil lebih sering, melakukan pemeriksaan laboratorium dasar dan pengobatan intensif terhadap kekurangan nutrisi dan preparat Fe.

Ibu yang bekerja sebaiknya berhenti bekerja pada umur kehamilan 28 minggu , istirahat yang cukup, coitus ditinggalkan pada 3 bulan terakhir.

Persalinan

Untuk memilih metode yang optimal untuk kelahiran presentasi janin-janin itu harus diketahui dengan tepat. Presentasi kepala paling sering terjadi (50% dari semua kombinasi), diikuti dengan kelahiran kepala-bokong, bokong-kepala, bokong-bokong.

Untuk presentasi kepala-kepala, persalinan pervaginam diperbolehkan seperti halnya pada presentasi kepala tunggal. Frekuensi DJJ harus dipantau terus menerus selama persalinan.

Setelah kelahiran dari kembar yang pertama, tali pusat dengan segera di klem, yang dikenali sebagai kembar A, dan dipotong. Pemeriksaan dalam kemudian dilakukan untuk menilai presentasi dan stasion kembar kedua. Kalau kembar kedua masih dalam presentasi kepala, persalinan dibiarkan berlanjut. Frekuensi DJJ kedua terus dipantau. Bial kontraksi rahim tidak efektif, oksitosin harus diberikan dalam larutan encer dan persalinan dibiarkan berjalan.

Selang waktu optimal antara kehamilan kembar pertama dan kedua adalah 5-15 menit. Kelahiran kembar kedua setelah 30 menit dapat mengakibatkan insufisiensi uteroplasenta yang daapt mengakibatkan menurunnya aliran darah uteroplasenta yang diakibatkan oleh berkurangnya volume dalam rahim. Selain itu, selang waktu terlalu lama dapat mengakibatkan perdarahan janin dari kembar kedua sebagai akibat pelepasan plasenta dini. Selang waktu yang lebih lama hanya dapat dibiarkan melalui kembar kedua dengan cermat dipantau.

Pada presentasi lain

Ditangan yang kurang berpengalaman , SC rutin harus dilakukan untuk mencegah cedera kelahiran dan asfiksia potensial yang mungkin terjadi pada versi kaki dan ekstraksi sungsang total.

Setelah kelahiran kembar yang pertama, USG dapat berguna untuk menentukan presentasi kembar kedua dan letak tungkai janin secara tepat.  Kalau janin letak oblik atau melintang lakukan versi luar agar menjadi presentasi kepala dan kelahiran kepala berikutnya mungkin dapat dilakukan.

Syarat versi luar :

  • Pada letak lintang usia kehamilan 34 minggu atau lebih
  • Tidak ada bekas jaringan parut operasi
  • Tidak hipertensi
  • Tidak preeklampsi dan eklampsia
  • Tidak ada perdarahan antepartum
  • Tidak polihidramnion dan oligohidramnion
  • Hati-hati dalam melakukan versi luar pada kehamilan ganda
  • SC merupakan pilihan bijaksana untuk dilakukan

Bila anak kedua presentasi sungsang (frank breech), dahulu dilakukan ekstaksi bokong (dengan syarat jika bokong sudah turun didasar panggul). Ekstraksi bokong sudah tidak dilakukan pada sekarang ini, karena meningkatkan morbiditas dan mortalitas janin. SC merupakan pilihan yang bijaksana.

Untuk presentasi sungsang-kepala, SC diindikasikan untuk menghindari fenomena anak kembar yang saling mengunci. Disamping komplikasi potensial pada persalinan sungsang pervaginam. Interlocking anak kembar dapat terjadi jika kembar yang pertama lahir sebagian dagunya tersangkut pada leher dan dagu kedua.

Kalau kembar yang pertama complete breech (bokong sempurna), frank breech (bokong murni) atau footling breech (bokong kaki), SC diindikasikan tidak peduli pada presentasi kembar kedua, karena jenis presentasi ini disertai dengan insidensi yang lebih tinggi terhadap prolaps tali pusat dan terperangkapnya kepala berikutnya. Bila kembar pertama terletak  melintang, SC juga diindikasikan.

Suatu pengecualian dari petunjuk yang tersebut diatas melibatkan kelahiran gestasi ganda yang disertai komplikasi persalinan kurang bulan aktif dan ketidakmatangan janin (misalnya umur gestasi 25-26 minggu).

Sumber

Christina, Y. 2001. Esensial Obstetri dan Ginekologi. Bab 2. Bab 21. Hal 265-274. Jakarta :EGC

Cunningham, F.G., et all. 2005. William Obstetrcs. 22nd Edition. Chapter 39.pages 911-43. USA :McGRA-HILL.

Manuaba, IBG. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Bab 5. Hal 265. Jakarta : EGC

Sastrawinata, S. 2005. Obstetri Patologi. Edisi 2. Bab 3. Hal 52-62. Jakarta : EGC

Winkjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Edisi 2. Hal 386-397. Jakarta : YBPSP

Posted by: lenteraimpian | February 27, 2010

GIZI PADA LANSIA

Proses menua

Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua. Antara lain :

  • Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan juga jumlah cairan tubuh yang berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis-garis menetap. Oleh karena itu, pada lansia seringkali terlihat kurus.
  • Penurunan indera penglihatan akibat katarak pada lansia sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat. Sedangkan gangguan pada indera pengecap dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn yang juga menyebabkan menurunnya nafsu makan. Penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran.
  • Dengan banyaknya gigi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah yang dapat berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.
  • Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan, serta susah BAB yang dapat menyebabkan wasir.
  • Kemampuan motorik menurun, selain menyebabkan menjadi lamban, kurang aktif dan kesulitan menyuap makanan, juga dapat mengganggu aktivitas kegiatan sehari-hari.
  • Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, kesulitan berbahasa, kesulitan mengenal benda-benda, kegagalan melakukan aktivitas yang mempunyai tujuan (apraksia) dan gangguan dalam menyususn rencana, mengatur sesuatu, mengurutkan, daya abstraksi, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam emlakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun. Gejala pertama adalah pelupa, perubahan kepribadian, penurunan kemampuan untuk pekerjaan sehari-hari dan perilaku yang berulang-ulang, dapat juga disertai delusi paranoid atau perilaku anti sosial lainnya.
  • Akibat proses menua, kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga bekurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran natrium sampai dapat terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.
  • Incontinentia urine (IU) adalah pengeluaran urin diluar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang dapat menyebabkan dehidrasi.
  • Secara psikologis pada usia lanjut juga terjadi ketidakmampuan untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya, antara lain sindrom lepas jabatan yang mengakibatkan sedih yang berkepanjangan

Batasan usia lansia

Batasan : lansia adalah mereka yang telah diatas usia 65 tahun

Menurut Durmin : Young ederly (65-75 th), older ederly (75 th)

Munro dkk : older ederly dibagi 2, usia 75-84 th dan 85 th

M.Alwi Dahlan : usia diatas 60 th

Menurut usia pensiun : usia diatas 56 th

WHO : usia pertengahan(45-59), usia lanjut(60-74), usia tua(75-90), usia sangat tua(>90)

Status gizi pada usia lanjut

  • Metabolisme basal menurun, kebutuhan kalori menurun, status gizi lansia cenderung mengalami kegemukan/obesitas
  • Aktivitas/kegiatan fisik berkurang, kalori yang dipakai sedikit, akibatnya cenderung kegemukan/obesitas
  • Ekonomi meningkat, konsumsi makanan menjadi berlebihan, akibatnya cenderung kegemukan/obesitas
  • Fungsi pengecap/penciuman menurun/hilang, makan menjadi tidak enak dan nafsu makan menurun, akibatnya lansia menjadikurang gizi (kurang energi protein yang kronis)
  • Penyakit periodontal (gigi tanggal), akibatnya kesulitan makan yang berserat (sayur, daging) dan cenderung makan makanan yang lunak (tinggi klaori), hal ini menyebabkan lansia cenderung kegemukan/obesitas
  • Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencerna makanan, hal ini mengganggu penyerapan vitamin dan mineral, akibatnya lansia menjadi defisiensi zat-zat gizi mikro
  • Mobilitas usus menurun, mengakibatkan susah buang air besar, sehingga lansia menderita wasir yang bisa menimbulkan perdarahan dan memicu terjadinya anemia
  • Sering menggunakan obat-obatan atau alkohol, hal ini dapat menurunkan nafsu makan yang menyebabkan kurang gizi dan hepatitis atau kanker hati
  • Gangguan kemampuan motorik, akibatnya lansia kesulitan untuk menyiapkan makanan sendiri dan menjadi kurang gizi
  • Kurang bersosialisasi, kesepian (perubahan psikologis), akibatnya nafsu makan menurun dan menjadi kurang gizi
  • Pendapatan menurun (pensiun), konsumsi makanan menjadi menurun akibatnya menjadi kurang gizi
  • Dimensia (pikun), akibatnya sering makan atau malah jadi lupa makan, yang dapat menyebabkan kegemukan atau pun kurang gizi

Kebutuhan gizi lansia

Masalah gizi yang dihadapi lansia berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas biologis tubuhnya. Konsumsi pangan yang kurang seimbang akan memperburuk kondisi lansia yang secara alami memang sudah menurun.

Kalori

Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas. Kalori (energi) diperoleh dari lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal per gramnya. Bagi lansia komposisi energi sebaiknya 20-25% berasal dari protein, 20% dari lemak, dan sisanya dari karbohidrat. Kebutuhan  kalori untuk lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul obesitas. Sebaliknya, bila terlalu sedikit, maka cadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus.

Protein

Untuk lebih aman, secara umum kebutuhan protein bagi orang dewasa per hari adalah 1 gram per kg berat badan. Pada lansia, masa ototnya berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa, karena pada lansia efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang efisien). Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.

Lemak

Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40% dari konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis (penyumbatan pembuluh darah ke jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated faty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh.

Karbohidrat dan serat makanan

Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat makanan telah terbukti dapat menyembuhkan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial), karena dikuatirkan konsumsi seratnya terlalu banyak, yang dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh. Lansia dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian yang berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat.

Vitamin dan mineral

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D, dan E umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran, kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi menyebabkan anemia. Kebutuhan vitamin dan mineral bagi lansia menjadi penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin, mineral dan serat.

Air

Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringat dan urine), membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Pada lansia dianjurkan minum lebih dari 6-8 gelas per hari.

MENU HARIAN UNTUK LANSIA

Para ahli gizi menganjurkan bahwa untuk lansia yang sehat, menu sehari-hari hendaknya :

  • Tidak berlebihan, tetapi cukup mengandung zat gizi sesuai dengan persyaratan kebutuhan lansia.
  • Bervariasi jenis makanan dan cara olahnya
  • Membatasi konsumsi lemak yang tidak kelihatan (menempel pada bahan pangan, terutama pangan hewani)
  • Membatasi konsumsi gula dan minuman yang banyak mengandung gula
  • Menghindari konsumsi garam yang terlalu banyak, merokok dan minuman beralkohol
  • Cukup banyak mengkonsumsi makanan berserat (buah-buahan, sayuran dan sereal) untuk menghindari sembelit atau konstipasi
  • Minuman yang cukup

Susunan makanan sehari-hari untuk manula hendaknya tidak terlalu banyak menyimpang dari kebiasaan makanan, serta disesuaikan dengan keadaan psikologisnya. Pola makan disesuaikan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan dan menu makanannya disesuaikan dengan ketersediaan dan kebiasaan makan tiap daerah.

Menu makanan manula dalam sehari dapat disusun berdasarkan konsep ‘4 sehat 5 sempuna” atau “Konsep gizi seimbang”, sebagai contoh

Kelompok makanan pokok (utama) : nasi (1 porsi= 200 gram)

Kelompok lauk pauk : daging (1 potong= 50 gram), tahu (1 potong = 25 gr)

Kelompok sayuran : bayam (1 mangkok = 1001 gr)

Kelompok buah-buahan : pepaya (1 potong = 100 gr) dan susu (1 gelas = 100 gr)

Kelompok makanan jenis makanan

Karbohidrat : nasi, jagung, ketan, bihun, biskuit, kentang, mie, roti, singkong, talas, ubi-ubian, pisang, nangka, makaroni

Protein hewani : daging sapi, daging ayam, hati (ayam atau sapi), telur unggas, ikan, baso daging

Protein nabati : kacang-kacangan, tahu, tempe, oncom

Buah-buahan : pepaya, belimbing, alpukat, apel, jambu biji, jeruk, mangga, nangka, pisang, awo, sirsak, semangka

Sayuran : bayam, buncis, beluntas, daun pepaya, daun singkong, katuk, kapri, kacang panjang, kecipir, sawi, wortel, selada

Makanan jajanan : bika ambon, dadar gulung, getuk lindri, apem, kroket, kue putu, risoles

Susu : susu kambing, susu kedelai, skim

10 Langkah agar dapat hidup lebih lama, sehat, dan berarti untuk lansia

1. Menciptakan pola makan yang baik, kemudian bersahabat dengannya

Cobalah menciptakan suasana yang menyenangkan di meja makan semenarik mungkin sehingga dapat menimbulkan selera

2. Memperkuat daya tahan tubuh

Makanlah makanan yang mengandung zat gizi yang mengandung zat gizi yang penting untuk kekebalan, seperti : biji-bijian utuh, sayuran berdaun hijau, makanan laut.

3. Mencegah tulang agar tidak menjadi keropos dan mengerut

Santaplah makanan yang mengandung vitamin D. Pada usia diatas 60 tahun kemampuan penyerapan kalsium menurun, vitamin D membantu penyerapan kalsium dalam tubuh, contoh makanan sumber vitamin D adalah susu

4.  Memastikan agar saluran pencernaan tetap sehat, aktif dan teratur

Karena itu harus makan sedikitnya 20 gram makanan yang mengandung serat, seperti biji-bijian, jeruk dan sayuran yang berdaun hijau tua

5. Menyelamatkan penglihatan dan mencegah terjadinya katarak

Santaplah makanan yang mengandung vitamin C, E dan B karoten (antioksidan), seperti : sayuran berwarna kuning dan hijau, jeruk sitrun dan buah lain

6.  Mengurangi resiko penyakit jantung

Yaitu dengan membatasi makanan berlemak yang banyak mengandung kolesterol dan natrium dan harus banyak makan makanan yang kaya vitamin B6, B12, asam folat, serat yang larut, kalsium dan aklium, seperti biji-bijian utuh, susu tanpa lemak, kacang kering daging tidak berlemak, buah, termasuk nanas dan sayuran.

7. Agar ingatan tetap baik dan sistem syaraf tetap bagus, harus banyak makan vitamin B6, B 12 dan asam folat

8. Mempertahankan berat badan ideal dengan jalan tetap aktif secara fisik, makan rendah lemak dan kaya akan karbohidrat kompleks

9. Menjaga agar nafsu makan tetap baik dan otot tetap lentur

Dengan jalan melakukan olah raga aerobik (berjalan atau berenang). Olah raga dilakukan menurut porsi masing-masing usia serta tingkat kebugaran setiap orang.

10. Tetaplah berlatih

Kecukupan gizi

Kebutuhan gizi lansia setiap individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dibawah ini

  • Umur
  • Jenis kelamin
  • Aktivitas/kegiatan fisik dan mental
  • Postur tubuh
  • Pekerjaan
  • Iklim/suhu udara
  • Kondisi fisik tertentu
  • lingkungan

Angka kecukupan energi dan zat gizi yang dianjurkan untuk manula dalam sehari

Pola susunan makanan untuk manula dalam sehari

KOMPOSISI LAKI-LAKI PEREMPUAN
Energi (kal) 1960 1700
Protein (gram) 50 44
Vitamin A (RE) 600 700
Thiamin (mg) 0,8 0,7
Riboflavin (mg) 1,0 0,9
Niasin (mg) 8,6 7,5
Vitamin B12 (mg) 1 1
Asam folat (mcg) 170 150
Vitamin C (mg) 40 30
Kalsium (mg) 500 500
Fosfor (mg) 500 450
Besi (mg) 13 16
Seng (mg) 15 15
Iodium (mcg) 150 150


KELOMPOK MAKANAN JENIS PANGAN PER PORSI JUMLAH PORSI DALAM SEHARI
LAKI-LAKI PEREMPUAN
Bahan pokok Nasi

(1 piring=200 gr)

3 2
Lauk pauk Daging (1 ptg=50gr)

Tahu (1 ptg=25 gr)

1,5

5

2

4

Sayuran Bayam

(1 mgk=100 gr)

1,5 1,5
Buah-buahan Pepaya

(1 ptg=100 gr)

2 2
susu Skim

(1 gls=100 gr)

1 1

Menu untuk manula dalam sehari

WAKTU MENU PORSI
Pagi Roti-telur-susu 1 tangkep 1 gelas
Selingan Papais 2 bungkus
Siang Nasi 1 piring
Semur 1 potong
Pepes tahu 1 bungkus
Sayur bayam 1 mangkok
Pisang 1 buah
Selingan Kolak pisang 1 mangkok
Malam Mie baso 1 mangkok
Pepaya 1 buah

Sumber

Pedoman tata laksana gizi usia lanjut untuk tenaga kesehatan. 2003. Direktorat gizi masyarakat DJBKM. Depkes RI

Buku ajar ilmu gizi

Gizi dalam kesehatan reproduksi

Posted by: lenteraimpian | February 27, 2010

TETANUS NEONATORUM

Tetanus neonatorum merupakan suatu penyakit akut yang dapat dicegah namun dapat berakibat fatal, yang disebabkan oleh produksi eksotoksin dari kuman Clostridium tetani gram positif, dimana kuman ini mengeluarkan toksin yang dapat menyerang sistem syaraf pusat.

Masa inkubasi kuman 3-28 hari, namun biasanya 6 hari, dimana kematian 100% terjadi terutama pada masa inkubasi < 7 hari.

Faktor predisposisi

  • Adanya spora tetanus
  • Adanya jaringan yang mengalami injury, mislanya pemotongan tali pusat
  • Kondisi luka tidak bersih, yang memungkinkan perkembangan mikroorganisme host yang rentan

Faktor resiko

  • Imunisasi TT tidak dilakukan/tidak sesuai dengan ketentuan program
  • Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai APN
  • Perawatan tali pusat tidak memenuhi standar kesehatan

Pencegahan

  • Imunisasi TT
  • Memperhatikan sterilitas saat pemotongan dan perawatan tali pusat

Kekebalan diperoleh melalui imunisasi TT

Sembuh tidak berarti kebal terhadap tetanus

Toksin tetanus ;

  • Menyebabkan penyakit tetanus
  • Tidak cukup merangsang pembentukan zat antibody terhadap tetanus
  • Harus tetap imunisasi TT

Imunisasi TT merangsang pembentukan antibody spesifik yang mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu hamil mendapatkan imunisasi TT, sehingga terbentuk antibody dalam tubuhnya. Antibody tetanus termasuk golongan Ig G, melewati sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin yang dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum.

Gejala

  • Bayi yang semula dapat menetek, kemudian sulit menetek karena kejang otot rahang dan faring
  • Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan
  • Kejang terutama bila terkena rangsang cahaya, suara, sentuhan
  • Kadang disertai sesak nafas dan mulut bayi membiru
  • Suhu tubuh meningkat
  • Kaku kuduk
  • Kekakuan disertai sianosis
  • Nadi meningkat
  • Berkeringat banyak
  • Tidak dapat menangis lagi
  • Mata terus tertutup
  • Dinding perut keras
  • Kesadaran baik

Komplikasi

  • Bronkopneumonia
  • Asfiksia
  • Sianosis akibat obstruksi jalan nafas oleh lendir/sekret

Prognosa

  • Bayi mengalmi panas atau peningkatan suhu (prognosa buruk)
  • Bayi dapat bertahan lebih dari 4 hari (dapat disembuhkan)
  • Untuk penyembuhan sempurna membutuhkan waktu beberapa minggu
  • Angka mortalitas 30%
  • Penyakit ini fatal pada BBL

Penanganan

  • Mengatasi kejang dengan memberikan suntikan antispasmodik
  • Membersihkan jalan nafas agar bayi dapat menghirup udara dengan bebas
  • Pemasangan spatel lidah yang dibungkus dengan kain untuk mencegah lidah tergigit
  • Mencari tempat masuknya spora tetanus pada tali pusat atau telinga
  • Mengobati penyebab tetanus dengan antibiotika
  • Melakukan perawatan yang adekuat, dengan pemberian oksigen, nutrisi serta menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
  • Ditempatkan di ruang tenang dengan sedikit sinar

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers