Posted by: lenteraimpian | February 25, 2010

TROMBOFLEBITIS

Tromboflebitis adalah invasi/perluasan mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah disepanjang vena dan cabang-cabangnya. Tromboflebitis didahului dengan trombosis, dapat terjadi pada kehamilan tetapi lebih sering ditemukan pada masa nifas.

Penyebab

  • Perubahan susunan darah
  • Perubahan laju peredaran darah
  • Perlukaan lapisan intema pembuluh darah

Pada masa hamil dan khususnya persalinan saat terlepasnya plasenta kadar fibrinogen yang memegang peranan penting dalam pembekuan darah meningkat sehingga memudahkan timbulnya pembekuan.

Faktor predisposisi

  • riwayat bedah kebidanan
  • usia lanjut
  • multi paritas
  • varices
  • infeksi nifas

Trombosis bisa terdapat pada vena-vena kaki juga pada vena-vena panggul. Trombosis pada vena-vena yang dekat pada permukaan biasanya disertai peradangan, sehingga merupakan tromboflebitis. Adanya septikhema, dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah.

Klasifikasi

Pelvio tromboflebitis

Pelvio tromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum latum yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipogastika. Vena yang paling sering terkena adalah vena ovarika dextra perluasan infeksi dari vena ovarika sinistra ke vena renalis, sedangkan perluasan infeksi dari vena ovarika dextra adalah ke vena cava inferior.

Gejala

  • Nyeri terdapat pada perut bagian bawah atau perut bagian samping, timbul pada hari ke 2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas
  • Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut :
    • Menggigil berulang kali, menggigil terjadi sangat berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadang-kadang 3 hari. Pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
    • Suhu badan naik turun secara tajam (36ᵒC-40ᵒC)
    • Penyakit dapat berlangsung selama 1-3 bulan
    • Cenderung terbentuk pus yang menjalar kemana-mana terutama ke paru-paru
    • Gambaran darah
      • Terdapat leukositosis
      • Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat sebelum mulai menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
      • Pada pemeriksaan dalam hampir tidak ditemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika

Komplikasi

  • Komplikais pada paru-paru infark, abses, pneumonia
  • Komplikasi pada ginjal sinistra, yaitu nyeri mendadak yang diikuti dengan proteinuria dan hematuria
  • Komplikasi pada mata, persendian dan jaringan subkutan.

Penanganan

  • Rawat inap, penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakitnya dan mencegah terjadinya emboli pulmonal.
  • Therapi medik, pemberian antibiotika  atau pemberian heparin jika terdapat tanda-tanda atau dugaan adanya emboli pulmonal
  • Therapi operati , peningkatan vena cava inferior dan vena ovarika jika emboli septik terus berlangsung sampai mencapai paru-paru meskipun sedang dilakukan heparisasi

Tromboflebitis femoralis (Flegmasia alba dolens)

Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai misalnya pada vena femoralis, vena poplitea dan vena safena.

Edema pada salah satu tungkai kebanyakan disebabkan oleh suatu trombosis yaitu suatu pembekuan darah balik dengan kemungkinan timbulnya komplikasi emboli paru-paru yang biasanya mengakibatkan kematian

Penilaian klinik

  • Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris 7-10 hari kemudian suhu mendadak baik kira-kira pada hari ke 10-20 yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
  • Pada salah satu kaki yang terkena, akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
    • Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan dengan kaki yang lain
    • Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas
    • Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
    • Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, dan nyeri
    • Edema kadang-kadang terjadi selalu atau setelah nyeri, pada umumnya terdapat pada paha bagian atas tetapi lebih sering dimulai dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki kemudian meluas dari bawah keatas
    • Nyeri pada betis
    • Pada trombosis vena femoralis, vena dapat teraba didaerah lipat paha
    • Oedema pada tungkai dapat dibuktikan dengan mengukur lingkaran dari betis dan dibandingkan dengan tungkai sebelah lain yang normal.

Penanganan

  • Perawatan
    • Kaki ditinggikan untuk mengurangi oedema lakukan kompres pada kaki
    • Setelah mobilisasi kaki hendaknya tetap dibalut elastik atau memakai kaos kaki yang panjang elastik selama mungkin
    • Jangan menyusui bayinya, mengingat kondisi ibu yang sangat jelek
    • Terapi pemberian antibiotik dan anti analgesik
Posted by: lenteraimpian | February 25, 2010

KOMPLIKASI DAN PENYULIT PADA KEHAMILAN TRIMESTER III

PERDARAHAN ANTEPARTUM

Perdarahan pada kehamilan harus selalu dianggap sebagai suatu kelainan yang berbahaya. Yang dimaksud dengan perdarahan antepartum adalah perdarahan pada triwulan terakhir dari kehamilan. Batas teoritis antara kehamilan muda dan kehamilan tua adalah kehamilan 22 minggu, mengingat kemungkinan hidup janin diluar uterus. Perdarahan setelah kehamilan 22 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 22 minggu, oleh karena itu memerlukan penanganan yang berbeda.

Pada setiap perdarahan antepartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta, karena perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan kelainan serviks tidak seberapa berbahaya.

Komplikasi yang terjadi pada kehamilan trimester 3 dalam hal ini perdarahan antepartum, masih merupakan penyebab kematian ibu yang utama. Oleh karena itu, sangat penting bagi bidan mengenali tanda dan komplikasi yang terjadi pada penderita agar dapat memberikan asuhan kebidanan secara baik dan benar, sehingga angka kematian ibu yang disebabkan perdarahan dapat menurun.

Perdarahan antepartum dikelompokan sebagai berikut :

Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan

  • Plasenta previa
  • Solusio plasenta
  • Perdarahan pada plasenta letak rendah
  • Pecahnya sinus marginalis
  • Pecahnya vasa previa

Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan

  • Pecahnya varises vagina
  • Perdarahan polipus servikalis
  • Perdarahan perlukaan serviks
  • Perdarahan karena keganasan serviks

Frekuensi perdarahan antepartum sekitar 3%-4% dari semua persalinan, sedangkan kejadian perdarahan antepertum di rumah sakit lebih tinggi karena menerima rujukan.

Penanganan perdarahan antepartum memerlukan perhatian karena dapat saling mempengaruhi dan merugikan janin dan ibunya. Setiap perdarahan antepartum yang dijumpai oleh bidan, sebaiknya dirujuk ke rumah sakit atau ke tempat dengan fasilitas yang memadai karena memerlukan tata laksana khusus.

PLASENTA

Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal ± 2,5 cm dan berat rata-rata 500 gram. Plasenta berhubungan dengan tali pusat, jika letak tali pusat ditengah plasenta maka keadaan ini disebut insertio sentralis, jika letak tali pusat agak ke pinggir, disebut insertio lateralis, dan bila dipinggir disebut insertio marginalis. Namun, terkadang tali pusat terletak diluar plasenta dan hubungan antara tali pusat dan plasenta melalui selaput janin, jika demikian maka keadaan ini disebut insertio velamentosa.

Fungsi plasenta ialah mengusahakan janin tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan ini dibutuhkan adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu ke janin, dan pembuangan CO2 serta sampah metabolisme janin ke peredaran darah ibu.

Fungsi plasenta, antara lain

  • Sebagai alat yang memberikan nutrisi pada janin (nutritif)
  • Sebagai alat yang mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi)
  • Sebagai alat yang memberikan zat asam dan mengeluarkan CO2 (respirasi)
  • Sebagai alat yang membentuk hormon
  • Penyalur antibodi ke janin

PERDARAHAN YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN KEHAMILAN

A. SOLUSIO PLASENTA

Pengertian

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500 gram. Istilah solusio plasenta juga dikenal dengan istilah abruptio plasenta atau separasi prematur dari plasenta. Plasenta dapat lepas seluruhnya yang disebut solusio plasenta totalis atau terlepas sebagian yang disebut solusio plasenta parsialis atau terlepas hanya pada sebagian kecil pinggir plasenta yang sering disebut ruptur sinus marginalis.

Pelepasan sebagian atau seluruh plasenta dapat menyebabkan perdarahan baik dari ibu maupun janin. Kejadian ini merupakan peristiwa yang serius dan merupakan penyebab sekitar 15% kematian prenatal. 50% kematian ini disebabkan oleh kelahiran prematur dan sebagian besar dari sisa jumlah tersebut meninggal karena hipoksia intrauterin. Terlepasnya plasenta sebelum waktunya menyebabkan timbunan darah antara plasenta dan dinding rahim yang dapat menimbulkan gangguan penyulit terhadap ibu maupun janin.

Penyulit terhadap ibu dapat dalam bentuk :

  • Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah umum
  • Terjadi penurunan tekanan darah, peningkatan nadi dan pernapasan
  • Penderita tampak anemis
  • Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah, karena terjadi pembekuan intravaskuler yang diikuti hemolisis darah sehingga fibrinogen makin berkurang dan memudahkan terjadinya perdarahan
  • Setelah persalinan dapat menimbulkan perdarahan postpartum karena atonia uteri atau gangguan pembekuan darah
  • Menimbulkan gangguan fungsi ginjal dan terjadi emboli yang menimbulkan komplikasi sekunder
  • Peningkatan timbunan darah dibelakang plasenta dapat menyebabkan rahim yang keras, padat dan kaku
  • Penyulit terhadap janin dalam rahim, tergantung luas plasenta yang lepas, dimana dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai kematian janin dalam rahim.

Perdarahan yang terjadi karena terlepasnya plasenta dapat menyelundup keluar dibawah selaput ketuban, yaitu pada solusio plasenta dengan perdarahan keluar, atau tersembunyi dibelakang plasenta membentuk hematoma retroplasenter. Hematoma retroplasenter yaitu pada solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi, atau kedua-duanya atau perdarahannya menembus selaput ketuban masuk kedalam kantung ketuban. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi menimbulkan tanda yang lebih khas dan pada umumnya lebih berbahaya daripada solusio plasenta dengan perdarahan keluar.

Solusio plasenta dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

1)      Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi, biasanya pada jenis ini keadaan penderita lebih jelek, plasenta terlepas luas, uterus keras/tegang, sering berkaitan dengan hipertensi.

2)      Solusio plasenta dengan perdarahan keluar, pada jenis ini biasanya keadaan umum penderita relatif lebih baik, plasenta terlepas sebagian atau inkomplit dan jarang berhubungan dengan hipertensi.

Etiologi/penyebab

Etiologi solusio plasenta belum diketahui. Keadaan berikut merupakan faktor predisposisi/pemicu timbulnya solusio plasenta, yaitu:

Trauma langsung terhadap uterus ibu hamil

  • Terjatuh terutama tertelungkup
  • Tendangan anak yang sedang digendong
  • Trauma eksternal lainnya

Traum kebidanan, artinya terjadi karena tindakan kebidanan yang dilakukan

  • Setelah dilakukan versi luar
  • Setelah memecahkan ketuban
  • Persalinan anak kedua hamil kembar

Faktor predisposisi

  • Hipertensi esensialis atau hipertensi
  • Tali pusat pendek
  • Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior
  • Hamil pada usia lanjut
  • Multiparitas
  • Bersamaaan dengan pre-eklampsia atau eklampsia
  • Defisiensi asam folat

Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. Apabila sebagian besar atau seluruhnya terlepas, anoksia akan menyebabkan kematian janin. Apabila sebagian kecil yang terlepas, mungkin tidak berpengaruh sama sekali atau tidak mengakibatkan gawat janin.

Gambaran klinik

Solusio plasenta ringan

Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak (plasenta terlepas kurang dari ¼ luasnya), sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ibu ataupun janinnya. Apabila terjadi perdarahan pervaginam, warnanya akan kehitam-hitaman dan sedikit sekali. Perut mungkin terasa agak sakit, atau terus menerus agak tegang. Walaupun demikian bagian-bagian janin masih muda teraba. Uterus yang agak tegang ini harus diawasi terus menerus apakah akan menjadi lebih tegang lagi karena perdarahan yang berlangsung terus. Salah satu tanda yang menimbulkan kecurigaan akan kemungkinan solusio plasenta ringan ialah perdarahan pervaginam  yang berwarna kehitam-hitaman, yang berbeda dengan perdarahan plasenta previa yang berwarna merah segar. Apabila dicurigai keadaan demikian, sebaiknya dilakukan pemeriksaan ultrasonografi.

Solusio plasenta sedang

Dalam hal ini plasenta telah terlepas lebih dari seperempatnya, tetapi belum sampai duapertiganya luas permukaannya. Tanda dan gejalanya dapat timbul perlahan-lahan seperti pada solusio plasenta ringan, atau mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus, yang tidak lama kemudian disusul dengan perdarahan pervaginam. Walaupun perdarahan pervaginam nampak sedikit , seluruh perdarahannya mungkin mencapai 1000ml. Ibu mungkin telah jatuh kedalam syok, demikian pula janinnya kalau masih hidup dalam keadaan gawat.

Dinding uterus teraba tegang terus menerus dan nyeri tekan sehingga bagian-bagian janin sukar diraba. Apabila janin masih hidup, bunyi jantungnya sukar didengar dengan stetoskop biasa, harus dengan stetoskop ultrasonik. Tanda-tanda persalinan telah ada, dan persalinan itu akan selesai dalam waktu 2 jam. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin telah terjadi, walaupun kebanyakan terjadi pada solusio plasenta berat.

Solusio plasenta berat

Plasenta telah terlepas lebih dari dua pertiga permukaannya. Terjadinya sangat tiba-tiba. Biasanya ibu telah jatuh kedalam syok, dan janinnya telah meninggal. Uterusnya sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tampaknya tidak sesuai dengan keadaan syok ibunya, malah perdarahan pervaginam mungkin belum sempat terjadi. Besar kemungkinan telah terjadi kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal. Solusio plasenta berat dengan couvelaire uterus terjadi gangguan kontraksi dan atonia uteri.

Diagnosis

Diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan dengan melakukan :

a. Anamnesa

  • Terdapat perdarahan disertai rasa nyeri
  • Terjadi spontan atau karena trauma
  • Perut terasa nyeri
  • Tampak anemis
  • Diikuti penurunan sampai terhentinya gerakan janin dalam rahim

b. Pemeriksaan

Pemeriksaan fisik umum

  • Keadaan umum penderita tampak tidak sesuai dengan jumlah perdarahan
  • Tekanan darah menurun, nadi dan pernapasan meningkat
  • Penderita tampak anemis

Pemeriksaan khusus

  • Palpasi abdomen

Perut tegang terus menerus

Terasa nyeri saat di palpasi

Bagian janin sukar ditentukan

  • Auskultasi

Denyut jantung janin bervariasi dari asfiksia ringan sampai berat

  • Pemeriksaan dalam

Terdapat pembukaan

Ketuban tegang menonjol

c. Pemeriksaan penunjang, dengan ultrasonografi dijumpai perdarahan antara plasenta dengan dinding abdomen

Tanda dan gejala solusio plasenta berat

  • sakit perut terus menerus
  • nyeri tekan pada uterus
  • uterus tegang terus menerus
  • perdarahan pervaginam
  • syok
  • bunyi jantung janin tidak terdengar lagi
  • air ketuban mungkin telah berwarna kemerah-merahan karena bercampur darah

Pada solusio plasenta sedang tidak semua tanda dan gejala perut itu lebih nyata, seperti sakit perut terus menerus, nyeri tekan pada uterus dan uterus tegang terus menerus. Akan tetapi dapat dikatakan tanda ketegangan uterus yang terus menerus merupakan tanda satu-satunya yang selalu ada pada solusio plasenta, juga ada pada solusio plasenta ringan. Menegakkan diagnosis solusio plasenta dengan menggunakan ultrasonografi sangat membantu apabila mengalami keragu-raguan dalam menegakkan diagnosis.

Komplikasi

Komplikasi pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung.  Komplikasi yang dapat terjadi adalah :

Komplikasi pada ibu

  • Perdarahan
    • Variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok
    • Perdarahan tidak sesuai dengan keadaan penderita yang anemis sampai syok (waspada perdarahan tersembunyi)
    • Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma
    • Gangguan pembekuan darah
      • Masuknya tromboplastin kedalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah intravaskuler dan disertai hemolisis
      • Terjadi penurunan fibrinogen, sehingga hipofibrinogen dapat mengganggu pembekuan darah
      • Oliguria
        • Terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang
        • Perdarahan postpartum
          • Pada solusio plasenta sedang sampai berat terjadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga mengganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri
          • Kegagalan pembekuan darah menambah beratnya perdarahan
          • Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah selesai, penderita belum bebas dari bahaya perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala 3 dan kelainan pembekuan darah. Kontraksi uterus yang tidak kuat itu disebabkan ekstravasasi darah diantara otot-otot miometrium, seperti yang terjadi pada uterus couvelaire.

Komplikasi pada janin

  • Perdarahan yang tertimbun dibelakang plasenta mengganggu sirkulasi dan nutrisi ke arah janin sehingga dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan kematian janin dalam rahim
  • Rintangan kejadian asfiksia sampai kematian janin tergantung pada seberapa bagian plasenta telah lepas dari implantasinya si fundus uteri

Penatalaksanaan

Lakukan uji pembekuan darah, kegagalan terbentuknya bekuan darah setelah 7 menit atau terbentuknya bekuan darah lunak yang mudah terpecah menunjukan adanya koagulapati.

Transfusi darah segar

Jika terjadi perdarahan hebat (nyata atau tersembunyi) lakukan persalinan segera.

Seksio caesarea dilakukan jika:

  • janin hidup, gawat janin tetapi persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera (pembukaan belum lengkap)
  • janin mati tetapi kondisi serviks tidak memungkinkan persalinan pervaginam dapat berlangsung dalam waktu singkat
  • persiapan, cukup dilakukan penanggulangan awal dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan

Partus pervaginam, dilakukan apabila :

janin hidup, gawat janin, pembukaan lengkap dan bagian terendah didasar panggul.

  • Amniotomi (bila ketuban belum pecah) kemudian percepat kala 2 dengan ekstraksi forcep/vakum
  • Janin telah meninggal dan pembukaan serviks lebih dari 2 cm
  • Lakukan amniotomi (bila ketuban belum pecah) kemudian akselerasi dengan 5 unit oksitosin dalam dextrose 5% atau RL, tetesan diatur sesuai dengan kondisi kontraksi uterus.
  • Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik dalam waktu 24 jam, kecuali bila jumlah trombosit sangat rendah (perbaikan baru terjadi dalam 2-4 hari kemudian.

Sikap bidan dalam menghadapi solusio plasenta

Bidan merupakan tenaga andalan masyarakat untuk dapat memberikan pertolongan kebidanan, sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal. Dalam menghadapi perdarahan pada kehamilan, sikap bidan yang paling utama adalah melakukan rujukan ke rumah sakit.

Dalam bentuk rujukan diberikan pertolongan darurat

  • Pemasangan infus
  • Tanpa melakukan pemeriksaan dalam/vaginal toucher
  • Diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan
  • Mempersiapkan donor dari keluarga atau masyarakat
  • Menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama

B. PLASENTA PREVIA

Pengertian

Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat yang tidak normal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Implantasi yang normal ialah pada dinding depan atau dinding belakang rahim didaerah fundus uteri. klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. Pembagian plasenta previa :

  • Plasenta previa totalis : jika seluruh pembukaan (ostium uteri internum) tertutup oleh jaringan plasenta
  • Plasenta previa parsialis : hanya sebagian pembukaan yang tertutup oleh jaringan plasenta
  • Plasenta previa marginalis : tepi plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan
  • Plasenta letak rendah : plasenta yang implantasinya rendah tapi tidak sampai ke ostium uteri internum, pinggir plasenta kira-kira 3 atau 4 cm diatas pinggir pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir

Tingkatan dari plasenta previa ini tergantung dari besarnya ukuran dilatasi serviks. Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik dilatasi serviks. Sehingga klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Umpamanya, plasenta previa total pada pembukaan 2 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previa parsialis pada pembukaan 8 cm karena dilatasi serviks telah melebihi tepi plasenta.

Pada keadaan ini, baik plasenta parsialis maupun totalis akan terjadi pelepasan sebagian plasenta yang tidak dapat dihindari, sebagai akibat dari pembentukan segmen bawah rahim dan dilatasi serviks. Pelepasan ini akan menyebabkan terjadinya perdarahan yang disebut perdarahan antepartum.

Etiologi

Etiologi tentang mengapa plasenta tumbuh pada segmen bawah rahim tidak dapat diterangkan dengan jelas. Faktor resiko terjadinya plasenta previa antara lain adalah pertambahan usia ibu multiparitas. Dalam sebuah penelitian dari 314 wanita denagn paritas 5 atau lebih, Babinski (1999) melaporkan bahwa 2,2% insiden dari previa meningkat secara signifikan seiring dengan pertambahan usia masing-masing kelompoknya. Ekstrimnya, 1 dari 1500 wanita berusia 19 tahun kebawah dan 1 banding 100 pada wanita berusia lebih dari 35 tahun.

William dkk juga menerangkan bahwa dengan merokok resiko terjadinya plasenta previa meningkat 2x lipat. Teori yang diberikan adalah bahwa hipoksemi menyebabkan terjadinya kompensasi dari plasenta sehingga terjadi hipertropi.

Secara ultrasonografi pada usia kehamilan muda sering didapatkan adanya plasenta letak rendah. Hal ini disebabkan pada kehamilan muda segmen bawah rahim belum terbentuk, tetapi dengan meningkatnya usia gestasi, perlahan-lahan didapatkan perubahan letak plasenta.

Perubahan plasenta tampaknya terjadi karena pembesaran segmen atas rahim dan pembentukan segmen bawah rahim, sehingga disarankan bagi wanita hamil untuk melakukan USG pada usia kehamilan 32-34 minggu untuk melihat apakah terjadi perubahan letak plasenta atau tidak.

Faktor terpenting terjadinya plasenta previa adalah vaskularisasi yang kurang pada desidua sehingga menyebabkan atrofi dan peradangan pada endometrium. Keadaan ini misalnya terdapat pada :

  • Multipara, terutama kalau jarak kehamilan yang pendek
  • Pada mioma uteri
  • Kuretase yang berulang-ulang

Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta tumbuh/berimplantasi mendekati atau menutupi ostium internum untuk mencukupi kebutuhan janin. Implantasi palsenta pada segmen bawah rahim menyebabkan kanalis servikalis tertutup dan mengganggu proses persalinan dengan terjadinya perdarahan.

Implantasi plasenta yang kurang baik disebabkan oleh :

  • Endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi
  • Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan bagi plasenta untuk mampu memberikan nutrisi pada janin
  • Villi korealis pada korion leave yang persisten

Gambaran klinik

  • Perdarahan tanpa sebab, tanpa rasa nyeri serta berulang, darah berwarna merah segar
  • Perdarahan pertama biasanya tidak banyak, tetapi perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya
  • Timbulnya penyulit pada ibu yaitu anemia sampai syok dan pada janin dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim
  • Bagian terbawah janin belum masuk pintu atas panggul dan atau disertai dengan kelainan letak plasenta yang berada dibawah janin
  • Pemeriksaan dalam dilakukan diatas meja operasi, teraba jaringan plasenta

Diagnosis

Pemeriksaan inspekulo

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum ataukah dari kelainan serviks dan vagina. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai.

Penentuan letak plasenta tidak langsung

Dapat dilakukan dengan radiografi, radio isotop dan ultrasonografi. Akan tetapi pada pemeriksaan radiografi dan radio isotop, ibu dan janin akan dihadapkan pada bahaya radiasi sehingga cara ini ditinggalkan. Sedangkan ultrasonografi (USG) tidak menimbulkan bahaya radiasi dan rasa nyeri sehingga cara ini dianggap sangat tepat untuk mengetahui letak plasenta.

Penentuan letak secara langsung

Pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perdarahan hebat. Sehingga pemeriksaan secara langsung lewat pemeriksaat dalam harus dilakukan di meja operasi, dimana jari-jari masuk secara hati-hati ke dalam ostium uteri internum (OUI) untuk meraba adanya jaringan plasenta.

Komplikasi

Pada ibu

  • Perdarahan pascasalin
  • Syok hipovolemik
  • Infeksi-sepsis
  • Laserasi serviks
  • Plasenta akreta
  • Emboli udara (jarang)
  • Kelainan koagulapati sampai syok
  • Kematian

Pada anak

  • hipoksia
  • anemia
  • prolaps tali pusat
  • prolaps plasenta
  • prenaturiotas atau lahir mati
  • kematian

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan plasenta previa tergantung dari usia gestasi dimana akan dilakukan penatalaksanaan aktif, yaitu mengakhiri kehamilan (terminasi) ataupun mempertahankan kehamilan selama mungkin (ekspektatif).

Semua pasien dengan perdarahan pervaginam pada kehamilan trimester ketiga, dirawat di rumah sakit tanpa dilakukan pemeriksaan dalam. Bila pasien dalam keadaan syok karena perdarahan banyak, harus segera diperbaiki keadaan umumnya dengan pemberian infus atau transfusi darah.

Perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa merupakan keadaan darurat kebidanan yang memerlukan penanganan dengan baik. Tindakan yang akan kita pilih tergantung dari faktor-faktor :

  • jumlah perdarahan banyak/sedikit
  • keadaan umum ibu/anak
  • umur kehamilan/taksiran BB janin
  • besarnya pembukaan/kemajuan persalinan
  • tingkat plasenta previa
  • paritas

Penanganan ekspektatif

kriteria

  • keadaan umum ibu dan anak baik
  • janin masih kecil
  • perdarahan sudah berhenti atau masih sedikit sekali
  • kehamilan kurang dari 37 minggu
  • belum ada tanda-tanda persalinan

rencana penanganan

  • istirahat baring mutlak
  • infus dextrose 5% dan elektrolit
  • spasmolitik, tokolitika, plasentotrofik, roborantia
  • periksa Hb, HCT, C OT, golongan darah
  • USG
  • Awasi perdarahan terus menerus, TD, nadi dan DJJ

Penanganan aktif/terminasi

Yaitu kehamilan harus segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan yang membawa maut, bila keadaan umum ibu dan anak tidak baik, perdarahan banyak (lebih dari 500 cc), ada tanda-tanda persalinan, umur kehamilan lebih dari 37 minggu.

  • Persalinan dengan seksio caesarea

Segera melahirkan bayi dan plasenta sehingga memungkinkan uterus berkontraksi dan perdarahan dapat segera dihentikan, selain itu juga mencegah terjadinya laserasi serviks. Misalnya pada penderita dengan perdarahan yang banyak, pembukaan kecil, nullipara dan tingkat plasenta previa yang berat.

Indikasi SC

  • Plasenta previa totalis
  • Plasenta previa pada primigravida
  • Plasenta previa janin letak lintang atau sungsang
  • Anak berharga dan fetal distress
  • Plasenta previa lateralis jika :

Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak

Sebagian besaar OUI ditutupi plasenta

Plasenta terletak disebelah belakang

  • Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir cepat
  • Persalinan pervaginam

Dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada multipara dan anak sudah meninggal atau prematur. Dengan adanya penurunan kepala diharapkan dapat menekan plasenta pada tempat implantasinya didaerah terjadinya perdarahan selama proses persalinan berlangsung. Sehingga bagian terbawah janin berfungsi sebagai tampon untuk mencegah perdarahan yang lebih banyak.

Indikasi partus pervaginam

  • Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm), ketuban dipecahkan (amniotomi) jika his lemah, berikan oksitosin per drip
  • Bila perdarahan masih terus berlangsung, lakukan SC
  • Tindakan versi Braxton-hicks dengan pemberat untuk menghentikan perdarahan (kompresi atau tamponade bokong kepada janin terhadap plasenta) hanya dilakukan pada keadaan darurat, janin masih kecil atau sudah meninggal dan tidak ada fasilitas untuk dilakukan operasi

C. PERDARAHAN KARENA PECAHNYA VASA PREVIA

Vasa previa adalah menyilangnya pembuluh darah plasenta yang berasal dari insertio velamentosa pada kanalis servikalis. Insersi velamentosa adalah insersi tali pusat pada selaput janin. Insersi velamentosa sering terjadi pada kehamilan ganda. Pada insersi velamentosa, tali pusat dihubungkan dengan plasenta oleh selaput janin. Kelainan ini merupakan kelainan insersi funiculus umbilikalis dan bukan merupakan kelainan perkembangan plasenta. Karena pembuluh darahnya berinsersi pada membran, maka pembuluh darahnya berjalan antara funiculus umbilikalis dan plasenta melewati membran. Bila pembuluh darah tersebut berjalan didaerah ostium uteri internum, maka disebut vasa previa.

Untuk menegakan diagnosis vasa previa agak sukar dan memerlukan pengalaman, disamping jumlahnya tidak terlalu banyak bila dapat ditemukan pada pembukaan dalam, maka satu-satunya sikap adalah mengirim penderita ke rumah sakit untuk persalinan dengan primer seksio sesarea. Vasa previa ini sangat berbahaya karena pada waktu ketuban pecah, vasa previa dapat terkoyak dan menimbulkan perdarahan yang berasal dari anak. Gejalanya ialah perdarahan segera setelah ketuban pecah dan karena perdarahan ini berasal dari anak maka dengan cepat bunyi jantung anak menjadi buruk.

D. PECAHNYA SINUS MARGINALIS

Pecahnya sinus marginalis merupakan perdarahan yang sebagian besar baru diketahui setelah persalinan pada waktu persalinan, perdarahan terjadi tanpa sakit dan menjelang pembukaan lengkap. Karena perdarahan terjadi pada saat pembukaan mendekati lengkap, maka bahaya untuk ibu maupun janinnya tidak terlalu besar.

Selama perkembangan amnion dan korion melipat kebelakang disekeliling tepi-tepi plasenta. Dengan demikian korion ini masih  berkesinambungan dengan tepi plasenta tapi pelekatannya melipat kebelakang pada permukaan foetal.

Pada permukaan foetal dekat pada pinggir plasenta terdapat cincin putih. Cincin putih ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan disebelah luarnya terdiri dari vili yang timbul ke samping, dibawah desidua. Sebagai akibatnya pinggir plasenta mudah terlepas dari dinding uterus dan perdarahan ini menyebabkan perdarahan antepartum. Hal ini tidak dapat diketahui sebelum plasenta diperiksa pada akhir kehamilan.

PERDARAHAN YANG TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KEHAMILAN

Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan tidak akan membahayakan janin dalam rahim, tetapi lebih memberatkan ibunya. Perdarahan yang terjadi dapat berlangsung sebelum hamil trimester ketiga.

Keadaan umum penderita dan janin dalam rahim tidak terpengaruh banyak karena sifat perdarahan sedikit, spotting (bercak/flek) atau intermitten (sewaktu-waktu). Untuk dapat menegakan asal perdarahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan dalam dan melakukan pemeriksaan inspekulo. Dengan pemeriksaan tersebut dapat ditetapkan asal perdarahan

  • Varises pecah
  • Polip serviks atau endometrium
  • Perlukaan serviks
  • Keganasan pada serviks

Penanganan lebih lanjut dapat dilakukan oleh bidan dengan melakukan konsultasi ke puskesmas, dokter ataupun rumah sakit.

Sumber                :

Bobak dkk. 1995. Keperawatan maternitas. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC

Cunningham, F Gary at all. 2001. William obstetric 21th edition. United States of America : the mcGraw hill companies

JNPKKR-POGI. 2005. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. YBPSP. Hal 174-183

JNPKKR-MNH. Depkes RI. 2008. Asuhan persalinan Normal. Jakarta

Pusdiknakes. 2003. Konsep asuhan Kebidanan. WHO-JPHIEGO. Jakarta

R Sweet, Betty. 1997. Mayes Midwifery A Textbook for Midwives Twelf Edition. UK:Balliere Tindal

Saifudin, A.B. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. YBPSP. Hal M-25 — M-32

Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifey. Massachussets : Jones and bartlett Publishers

Winkjosastro, hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP

Posted by: lenteraimpian | February 24, 2010

HIV/AIDS

HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus), sejenis retrovirus. Merusak sel T helper dan sel tubuh lainnya, yaitu sel otak, sel usus dan sel paru. Sel T helper merupakan titik pusat sistem pertahanan tubuh, dimana jika sistem pertahanan tubuh lemah, maka kondisi ini disebut AIDS.

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndroma) yaitu sindrom atau kumpulan gejala dan tanda penyakit akibat ketidakmampuan atau menurunnya sistem pertahanan tubuh oleh karena adanya virus HIV dalam tubuh.

HIV positif, sebagian besar tidak menampakan gejala, namun adapula yang timbul gejala umum seperti influenza, yang akan hilang dengan sendirinya (6 bulan-10 tahun), pada masa ini penderita dapat menularkan penyakit pada orang lain. Sebelum timbul gejala AIDS, timbul gejala non spesifik yang disebut AIDS RELATED COMPLEX (ARC) yang berupa gejala mayor dan minor.

Gejala mayor

  1. Pada orang dewasa
  • Penurunan BB lebih dari 10 kg
  • Diare kronik lebih dari 1 bulan
  • Demam kontinu/intermitten lebih dari 1 bulan
  1. Pada anak-anak
  • Penurunan BB atau pertumbuhan lambat yang abnormal
  • Diare kronik lebih dari 1 bulan
  • Demam lebih dari 1 bulan

Gejala minor

  1. Pada orang dewasa
  • Batuk lebih dari 1 bulan
  • Dermatitis pruritus umum
  • Herpes zooster rekurens
  • Candidiasis orofaring
  • Limfadenopati umum
  • Herpes simpleks diseminata kronis progresif
  1. Pada anak-anak
  • Limfadenopati umum
  • Candidiasis orofaring
  • Infeksi umum yang berulang (otitis, faringitis dan lain-lain)

Gejala AIDS yang lengkap adalah gejala ARC disertai satu atau dua penyakit oportunistik

  • Pneumocytis carinii (infeksi parasit pada paru-paru)
  • Sarcoma kaposi (sejenis kanker  yang tersebar pada kulit/mulut)
  • Infeksi oportunistik lainnya (infeksi jamur pada esofagus, virus sitomegali pada otak paru, infeksi lainnya pada otak antara lain toksoplasmosis, kriptospordiosis)

Penyakit-penyakit pada AIDS

  • Kandidiasis bronkus, trakea atau paru
  • Kandidiasis esofagus
  • Kanker cervix, invasif
  • Koksidioidomikosis diseminata
  • Kriptokokosis ekstrapulmoner
  • Kriptosporidiosis intestinal kronis (>1 bulan)
  • Sitomegalovirus (diluar hati, limfa, dan kelenjar getah bening)
  • Retinitis sitomegalovirus (dengan kehilangan penglihatan)
  • Ensefalopati yang berhubungan dengan HIV
  • Herpes simplex : ulkus kronik (>1 bulan), bronkhitis, pneumonitis, esofagitis
  • Histoplasmosis diseminata
  • Isosporiasis intestinal kronik (>1 bulan)
  • Sarcoma kaposis
  • Limfoma burkitt
  • Limfoma immunoblastik
  • Limfoma primer pada otak (limfoma sistem syaraf pusat)
  • Mycobacterium avium kompleks atau penyakit yang disebabkan M. Kansasil diseminata
  • Penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis
  • Penyakit yang disebabkan spesies lain mycobacterium atau spesies tidak teridentifikasi diseminata
  • Pneumonia karena pneumocystis jiroveci (dahulu carinii)
  • Pneumonia rekuren
  • Leukoensefalopati multifokla progresiv
  • Septikemia salmonella rekurens
  • Toxoplasmosis otak (ensefalitis)
  • Sindrom penurunan berat badan karena HIV

Penyakit AIDS pada anak tetapi tidak ada pada orang dewasa

  • Infeksi bakterialis rekuren ganda
  • Pneumonia interstitialis limfoid/hiperplasia limfoid pulmoner

Virus HIV hidup didalam 4 cairan tubuh manusia

  • Cairan darah
  • Cairan sperma
  • Cairan vagina
  • Air susu ibu

Penularan HIV

Terjadi bila ada kontak atau pertukaran cairan tubuh yang mengandung virus

  • Hubungan seksual baik homo maupun heteroseksual
  • Transfusi darah dan transplantasi organ
  • Jarum suntik, akupuntur, tindik, tato
  • Ibu hamil kepada janinnya
  • Lewat cairan darah

Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misal pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna narkotika, penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit (tindik, tato, akupuntur, alat facial)

  • Lewat cairan sperma dan cairan vagina

Melalui hubungan seksual penetratif (penis masuk ekdalam vagina atau anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seksual lewat vagina) atau tercampurnya cairan sperma dengan darah yang mungkin terjadi dalam hubungan seksual lewat anus.

  • Lewat ASI

Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif dan melahirkan lewat vagina kemudian menyusui bayinya dengan ASI. Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (mother-to-child) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.

HIV tidak ditularkan melalui

  • Bersalaman, bersentuhan, berciuman, berpelukan dan kegiatan sehari-hari lainnya
  • Keringat, gigitan serangga atau pun nyamuk
  • Makan dan minum bersama atau pemakaian lata makan dan minum bersama
  • Pemakaian fasilitas umum bersama seperti telepon umum, WC umum dan kolam renang
  • Batuk, bersin, ingus, meludah

Hal-hal yang perlu diketahui tentang HIV/AIDS

  • Sekali virus HIV masuk kedalam tubuh, virus tersebut akan menetap dalam tubuh selamanya
  • Virus HIV hidup dalam darah, air mani, cairan didalam jalan lahir, air liur, air mata  dan cairan tubuh lainnya
  • Sebagian besar infeksi HIV ditularkan melalui hubungan seksual, disamping penularan melalui jarum suntik dan transfusi darah serta penularan dari ibu kepada janinnya
  • HIV tidak hanya menular pada kaum homoseksual
  • Perempuan 5X lebih mudah tertular HIV/AIDS daripada laki-laki, karena bentuk alat kelamin perempuan yang lebih luas permukaannya sehingga mudah terpapar oleh cairan sperma yang tinggal lebih lama
  • Perlukaan pada saluran genital memudahkan masuknya virus HIV
  • Hubungan seksual melalui anus lebih berisiko dalam penularan daripada cara hubungan seksual lainnya, karena jaringan anus lebih lembut.
  • Kekerasan seksual atau hubungan seksual dengan gadis remaja lebih mudah terjadi penularan

Pencegahan penularan HIV/AIDS

  • Melakukan hubungan seksual hanya dengan satu pasangan yang setia
  • Mempunyai perilaku seksual yang bertanggung jawab dan setia pada pasangan serta menghindari hubungan seksual diluar nikah
  • Setiap darah transfusi dicek terhadap HIV, dan donor darah kepada sanak saudara lebih sehat dan aman daripada donor darah profesional.
  • Menghindari injeksi, pemeriksaan dalam prosedur pembedahan yang tidak steril dari petugas kesehatan yang tidak bertanggung jawab
  • Selalu menggunakan jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan injeksi atau proses lain yang mengakibakan terjadinya luka
  • Pada mereka yang mempunyai pasangan HIV positif harus menggunakan kondom dengan hati-hati, benar dan konsisten
  • Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif harus mengetahui semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya sehingga dapat bijaksana dalam mengambil keputusan untuk menyusui bayinya dengan ASI
  • Untuk bidan sudah seharusnya menerapkan prinsip langkah APN dalam menolong persalinan

Tes HIV

Adalah suatu tes yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terifeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi adanya antibodi HIV didalam sampel darahnya

Manfaat tes HIV

  • Semakin cepat diketahui status HIV, semakin banyak hal positif yang bisa dilakukan penderita, sehingga ODHA akan berupaya untuk tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain
  • Untuk mengetahui perkembangan kasus HIV/AIDS serta untuk meyakinkan bahwa darah untuk transfusi dan organ untuk transplantasi tidak terinfeksi HIV

Persyaratan uji HIV

  • Sukarela
  • Informed consent
  • Pre dan post konseling
  • Rahasia

Prosedur uji

  • Konseling pra uji/pre test yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang yang menjalani test diambil, dimana hal ini bermanfaat untuk meyakinkan orang terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak serta mempersiapkan dirinya bila hasil tes ternyata positif.
  • Pernyataan tertulis kesediaan
  • Pengambilan sampel darah
  • Hasil uji disampaikan langsung oleh konselor, dirahasiakan dan dibaca sendiri
  • Konseling pasca uji/post test, yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil test diketahui baik hasilnya negatif ataupun positif. Konseling post test sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengetahui cara menghindari penularan pada orang lain serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin hidup secara positif. Untuk yang hasilnya negatif konseling post test bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa datang.

Tempat uji

  • RS atau laboratorium tertentu
  • Balai laboratorium kesehatan yang ada disetiap provinsi
  • PMI

Jenis uji untuk mendeteksi infeksi HIV

  • Uji ELISA (enzyme linked immunosorbent assay), memiliki sensitivitas tinggi namun spesifikasinya rendah. Bila tes ELISA positif maka harus dikonfirmasi dengan Test Western Blot
  • Uji Western blot, yaitu jenis tes yang mempunyia spesifikasi tinggi namun sensitifitasnya rendah. Karena sifat test ELISA dan Western Blot berbeda, maka biasanya harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang akurat.
  • Nucleic acid amplification technologies (NAT), yaitu tes yang mampu mendeteksi antigen/bagian dari virus
  • Immuno fluorocent assay
  • Dot enzyme immuno assay
  • Uji antigen PCR (polymerase chain reaction)
  • CD4/cluster differentiation (sel limfosit T), yaitu jenis tes dengan menghitung jumlah sel darah putih
  • VL, yaitu jenis tes yang digunakan untuk menghitung jumlah virus

Pengobatan

Berguna untuk menghambat perkembangan virus HIV adalah AZT (azidothimidine), DDI (dideoxynosine), DDC (dideoxycydine).

Bila seseorang ingin memulai pengobatan antiretroviral (ARV), WHO telah mensyaratkan 4 hal, yaitu :

  • Hasil test ELISA positif
  • Ada gejala klinis
  • Pemeriksaan CD4 < 200
  • Pemeriksaan hitung limfosit total < 1200

Terapi pada HIV/AIDS

Pemberian terapi ARV ada 4 tahap yaitu :

  1. Tahap 1, keadaan dimana pasien terinfeksi HIV tapi tidak mnimbulkan gejala simptomatis
  2. Tahap 2, yaitu tahap 1 ditambah penurunan BB<10 kg dari BB semula, cacar air, sariawan, ISPA
  3. Tahap 3, kehilangan BB >10kg dari BB semula ditambah diare kronis yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, demam berkepanjangan, sariawan parah, tumbuhnya rambut pada lidah, TBC, infeksi-infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan kondisi lain yang menyebabkan pasien harus lebih banyak terbaring di tempat tidur sampai setengah bulan dalam sebulan terakhir.
  4. Tahap 4, meliputi semua gejala klinis yang terkait dengan AIDS ditambah dengan jumlah hari dimana pasien terbaring sakit lebih dari setengah bulan dalam sebulan terakhir.

Obat-obatnya adalah AZT/3TC diberikan bersama Abacavir, efavirens, nevirapine, nelfinavir atau ritonavir yang diperkuat dengan indinavir, iopinavir atau saquinavir.

Program penanggulangan HIV/AIDS

  • Program KIE=BCC=KPP

Behaviour Change Communication (BCC) atau Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) merupakan kegiatan penjangkauan/pendampingan untuk memberikan informasi dan pendidikan keterampilan tentang pencegahan HIV/AIDS serta promosi penerapan pola hidup sehat bagi populasi beresiko yang diberikan secara teratur dalam jangka waktu tertentu.

  • Program kondom 100%

Kegiatan yang memberikan penekanan pada pendidikan dan promosi pemakaian kondom sebagai upaya menekan meluasnya penularan HIV/AIDS

  • Program Infeksi Menular Seks (IMS)

Layanan kesehatan IMS merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengobatan rutin masalah IMS bagi pekerja seks perempuan, pria dan waria.

  • Program Harm Reduction

Pencegahan dan penanganan HIV/AIDS yang dilaksanakan dengan pendekatan, harm reduction of IDUs atau diterjemahkan menjadi pengurangan dampak buruk pengguna narkoba suntik, merupakan pendekatan pragmatis kesehatan guna merespon ledakan infeksi HIV/AIDS secara khusus dikalangan IDUs

  • Program VCT (Voluntary Counceling & Testing)

Layanan VCT adalah program pencegahan sekaligus jembatan untuk mengakses layanan manajemen kasus (MK) dan CST (perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA). Mencakup pre test konseling, testing HIV dan post test konseling.

  • Program CST (Care, Support & Treatment)

Program perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA adalah bagian hilir dari program penanggulangan HIV/AIDS secara komprehensif, layanan CST merupakan layanan lanjutan dari layanan VCT, CST tidak dilakukan tanpa layanan VCT.

Pendampingan

Tujuannya membantu ODHA beradaptasi terhadap kondisinya, termasuk rasa malu, bersalah dan marah sehingga ia bersikap lebih positif dalam menghadapi problemanya.

Konseling keluarga

Bertujuan untuk membantu keluarga untuk menerima kondisi ODHA, termasuk dalam melewati fase kritis sehingga bersikap mendukung ODHA.

Terapi kelompok

Berupa terapi terhadap kelompok ODHA dengan tujuan saling memberi dukungan, serta saling membantu menyelesaikan problem individual yang sering dihadapi oleh tiap-tiap ODHA.

Pengaruh infeksi HIV terhadap kehamilan

  • Abortus
  • Prematuritas
  • Gangguan pertumbuhan intrauterin
  • Kematian janin
  • Penularan pada janin

Pilihan reproduksi pasangan ODHA

  • Tidak mempunyai anak (adopsi)
  • Memiliki anak denagn pencegahan infeksi, yaitu pada laki-laki dengan pencucian sperma dan pada perempuan dilakukan inseminasi buatan
  • ARV (anti retrovirus)
  • Seksio caesarea
  • Tidak menyusui
Posted by: lenteraimpian | February 24, 2010

MASALAH-MASALAH GIZI DI INDONESIA

1. KURANG ENERGI PROTEIN (KEP)

2. OBESITAS

3. ANEMIA

4. DEFISIENSI VITAMIN A

5. GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)

KURANG ENERGI PROTEIN (KEP)/PROTEIN ENERGI MALNUTRITION (PEM)/PROTEIN CALORI MALNUTRITION (PCM)

  • Adalah penyakit gizi akibat defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama.
  • Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki)
  • Pada derajat ringan pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal malnutrition)
  • Derajat berat adalah tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep marasmik-kwashiorkor
  • Terdapat gangguan pertumbuhan, muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas

Penyebab

  • Masukan makanan atau kuantitas dan kualitas rendah
  • Gangguan sistem pencernaan atau penyerapan makanan
  • Pengetahuan yang kurang tentang gizi
  • Konsep klasik diet cukup energi tetapi kurang pprotein menyebabkan kwashiorkor
  • Diet kurang energi walaupun zat gizi esensial seimbang menyebabkan marasmus
  • Kwashiorkor terjadi pada hygiene yang buruk , yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai kebiasaan memberikan makanan tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI
  • Terjadi karena kemiskinan sehingga timul malnutrisi dan infeksi

Gejala klinis KEP ringan

  • Pertumbuhan mengurang atau berhenti
  • BB berkurang, terhenti bahkan turun
  • Ukuran lingkar lengan menurun
  • Maturasi tulang terlambat
  • Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun
  • Tebal lipat kulit normal atau menurun
  • Aktivitas dan perhatian kurang
  • Kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan

Pembagian

  • Marasmus
  • Kwashiorkor
  • Marasmus-kwashiorkor

Marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi “kurus” dan “emosional”. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau terjadi pada bayi yang sering diare.

Penyebab

  • Ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori didalam makanan
  • Kebiasaan makanan yang tidak layak
  • Penyakit-penyakit infeksi saluran pencernaan

Tanda dan gejala

  • Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
  • Mata besar dan dalam, sinar mata sayu
  • Mental cengeng
  • Feces lunak atau diare
  • Rambut hitam, tidak mudah dicabut
  • Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang
  • Kulit keriput, dingin, kering dan mengendur
  • Torax atau sela iga cekung
  • Atrofi otot, tulang terlihat jelas
  • Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya
  • Frekuensi nafas berkurang
  • Kadar Hb berkurang
  • Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin

Kwashiorkor adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.

Meski penyebab utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.

Penyebab

  • Kekurangan protein dalam makanan
  • Gangguan penyerapan protein
  • Kehilangan protein secara tidak normal
  • Infeksi kronis
  • Perdarahan hebat

Tanda dan gejala

  • Wajah seperti bulan “moon face”
  • Pertumbuhan terganggu
  • Sinar mata sayu
  • Lemas-lethargi
  • Perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis)
  • Rambut merah, jarang, mudah dicabut
  • Jaringan lemak masih ada
  • Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput)
  • Iga normal-tertutup oedema
  • Atrofi otot
  • Anoreksia
  • Diare
  • Pembesaran hati
  • Anemia
  • Sering terjadi acites
  • Oedema

Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor

Penatalaksanaan

Secara umum

  • Ruangan cukup hangat dan bersih
  • Posisi tubuh diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus)
  • Pencegahan infeksi nosokomial
  • Penimbangan BB tiap hari

Secara khusus

Resusitasi dan terapi komplikasi

  • Koreksi dehidrasi dan asidosis (pemberian cairan oralit atau infus)
  • Mencegah atau mengobati defisiensi vitamin A
  • Terapi Ab bila ada tanda infeksi atau sakit berat

Dietetik

  • Prinsip TKTP dan suplemen vitamin mineral
  • Bentuk makanan disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan dengan porsi sedikit-sedikit tapi sering)
  • Pemantauan masukan makanan tiap hari (perubahan diet biasanya dilakukan setiap saat)

Persiapan pulang

  • Gejala klinik tidak ada
  • Nafsu makan baik
  • Pembekalan terhadap orang tua tentang gizi, perilaku hidup dan lingkungan yang sehat

Komplikasi

  • Infeksi saluran pencernaan
  • Defisiensi vitamin
  • Depresi mental

Program pemerintah –penanggulangan KEP

Diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama

  • Ibu hamil
  • Bayi
  • Balita
  • Anak-anak sekolah dasar

Keterpaduan kegiatan

  • Penyuluhan gizi
  • Peningkatan pendapatan
  • Peningkatan pelayanan kesehatan
  • Keluarga berencana
  • Peningkatan peran serta masyarakat

Kegiatan

Peningkatan upaya pemantauan tumbuh kembang anak melalui keluarga, dasawisma dan posyandu

Penanganan secara khusus KEP berat

  • Rujukan pelayanan gizi di posyandu
  • Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi
  • ASI eksklusif

OBESITAS

  • adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh.
  • Merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh
  • Gizi lebih (over weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik dengan obesitas

BB >>> tidak selalu obesitas

Penyebab

  • Perilaku makan yang berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan
  • Aktifitas fisik yang rendah
  • Gangguan psikologis (bisa sebagai sebab atau akibat)
  • Laju pertumbuhan yang sangat cepat
  • Genetik atau faktor keturunan
  • Gangguan hormon

Gejala

  • Terlihat sangat gemuk
  • Lebih tinggi dari anak normal seumur
  • Dagu ganda
  • Buah dada seolah-olah berkembang
  • Perut menggantung
  • Penis terlihat kecil

Terdapat 2 golongan obesitas

  • Regulatory obesity, yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan
  • Obesitas metabolik, yaitu kelainan metabolisme lemak dan karbohidrat

Resiko/dampak obesitas

  • Gangguan respon imunitas seluler
  • Penurunan aktivitas bakterisida
  • Kadar besi dan seng rendah

Penatalaksanaan

  • Menurunkan BB sangat drastis dapat menghentikan pertumbuhannya. Pada obesitas sedang, adakalanya penderita tidak memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya kurang, sehingga latihan fisik yang intensif menjadi pilihan utama
  • Pada obesitas berat selain latihan fisik juga memerlukan terapi diet. Jumalh energi dikurangi, dan tubuh mengambil kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi pertumbuhan, dimana diet harus tetap mengandung zat gizi esensial.
  • Kurangi asupan energi, akan tetapi vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu dengan mengubah perilaku makan
  • Mengatasi gangguan psikologis
  • Meningkatkan aktivitas fisik
  • Membatasi pemakaian obat-obatan yang untuk mengurangi nafsu makan
  • Bila terdapat komplikasi, yaitu sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk ke rumah sakit
  • Konsultasi (psikologi anak atau bagian endokrin)

ANEMIA

Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit.

Keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan eritrosit lebih rendah dari nilai normal, akibat defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut.

Macam-macam anemia

Anemia defisiensi besi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa hemoglobin

Anemia megaloblastik adalah terjadinya penurunan produksi sel darah merah yang matang, bisa diakibatkan defisiensi vitamin B12

Anemia aplastik adalah anemia yang berat, leukopenia dan trombositopenia, hipoplastik atau aplastik

ANEMIA DEFISIENSI BESI

  • Prevalensi tertinggi terjadi didaerah miskin, gizi buruk dan penderita infeksi
  • Hasil studi menunjukan bahwa anemia pada masa bayi mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya disfungsi otak permanen
  • Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan, otot kerangka, menurunnya kemampuan berfikir serta perubahan tingkah laku.

Ciri

  • Akan memperlihatkan respon yang baik dengan pemberian preparat besi
  • Kadar Hb meningkat 29% setiap 3 minggu

Tanda dan gejala

  • Pucat (konjungtiva, telapak tangan, palpebra)
  • Lemah
  • Lesu
  • Hb rendah
  • Sering berdebar
  • Papil lidah atrofi
  • Takikardi
  • Sakit kepala
  • Jantung membesar

Dampak

  • Produktivitas rendah
  • SDM untuk generasi berikutnya rendah

Penyebab

Sebab langsung

  • Kurang asupan makanan yang mengandung zat besi
  • Mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi
  • Infeksi penyakit

Sebab tidak langsung

  • Distribusi makanan yang tidak merata ke seluruh daerah

Sebab mendasar

  • Pendidikan wanita rendah
  • Ekonomi rendah
  • Lokasi ggeografis (daerah endemis malaria)

Kelompok sasaran prioritas

  • Ibu hamil dan menyusui
  • Balita
  • Anak usia sekolah
  • Tenaga kerja wanita
  • Wanita usia subur

Penanganan

  • Pemberian Komunikasi,informasi dan edukasi (KIE) serta suplemen tambahan pada ibu hamil maupun menyusui
  • Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk multivitamin kepada balita
  • Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia sekolah serta pemeberian suplemen tambahan kepada anak sekolah
  • Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian suplemen kepada tenaga kerja wanita
  • Pemberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur (WUS)

DEFISIENSI VITAMIN A

Prevalensi tertinggi terjadi pada balita

Penyebab

  • Intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah
  • Rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada bumil sampai melahirkan akan memberikan kadar vitamin A yang rendah pada ASI
  • MP-ASI yang kurang mencukupi kebutuhan vitamin A
  • Gangguan absorbsi vitamin A atau pro vitamin A (penyakit pankreas, diare kronik, KEP dll)
  • Gangguan konversi pro vitamin A menjadi vitamin A pada gangguan fungsi kelenjar tiroid
  • Kerusakan hati (kwashiorkor, hepatitis kronik)

Sifat

  • Mudah teroksidasi
  • Mudah rusak oleh sinar ultraviolet
  • Larut dalam lemak

Tanda dan gejala

  • Rabun senja-kelainan mata, xerosis konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea
  • Kadar vitamin A dalam plasma <20ug/dl

Tanda hipervitaminosis

Akut

  • Mual, muntah
  • Fontanela meningkat

Kronis

  • Anoreksia
  • Kurus
  • Cengeng
  • Pembengkakan tulang

Upaya pemerintah

  • Penyuluhan agar meningkatkan konsumsi vitamin A dan pro vitamin A
  • Fortifikasi (susu, MSG, tepung terigu, mie instan)
  • Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi pada balita 1-5 tahun (200.000 IU pada bulan februari dan agustus), ibu nifas (200.000 IU), anak usia 6-12 bulan (100.000 IU)
  • Kejadian tertentu, ditemukan buta senja, bercak bitot. Dosis saat ditemukan (200.000 IU), hari berikutnya (200.000 IU) dan 4 minggu berikutnya (200.000 IU)
  • Bila ditemukan xeroptalmia. Dosis saat ditemukan :jika usia >12 bulan 200.000 IU, usia 6-12 bulan 100.000 IU,  usia < 6 bulan 50.000 IU, dosis pada hari berikutnya diberikan sesuai usia demikian pula pada 1-4 minggu kemudian dosis yang diberikan juga sesuai usia
  • Pasien campak, balita (200.000 IU), bayi (100.000 IU)

Catatan

  • Vitamin A merupakan nutrient esensial, yang hanya dapat dipenuhi dari luar tubuh, dimana jika asupannya berlebihan bisa menyebabkan keracunan karena tidak larut dalam air
  • Gangguan asupan vitamin A bisa menyebabkan morbili, diare yang bisa berujung pada morbiditas  dan mortalitas, dan pneumonia

GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)

  • Adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama.
  • Merupakna masalah dunia
  • Terjadi pada kawasan pegunungan dan perbukitan yang tanahnya tidak cukup mengandung yodium
  • Defisiensi yang berlangsung lama akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan menyebabkan pembesaran kelenjar gondok

Dampak

  • Pembesaran kelenjar gondok
  • Hipotiroid
  • Kretinisme
  • Kegagalan reproduksi
  • Kematian

Defisiensi pada janin

  • Dampak dari kekurangan yodium pada ibu
  • Meningkatkan insiden lahir mati, aborsi, cacat lahir
  • Terjadi kretinisme endemis
  • Jenis syaraf (kemunduran mental, bisu-tuli, diplegia spatik)
  • Miksedema (memperlihatkan gejala hipotiroid dan dwarfisme)

Defisiensi pada BBL

  • Penting untuk perkembangan otak yang normal
  • Terjadi penurunan kognitif dan kinerja motorik pada anak usia 10-12 tahun pada mereka yang dilahirkan dari wanita yang mengalami defisiensi yodium

Defisiensi pada anak

  • Puncak kejadian pada masa remaja
  • Prevalensi wanita lebih tinggi dari laki-laki
  • Terjadi gangguan kinerja belajar dan nilai kecerdasan

Klasifikasi tingkat pembesaran kelenjar menurut WHO (1990)

  • Tingkat 0 : tidak ada pembesaran kelenjar
  • Tingkat IA : kelenjar gondok membesar 2-4x ukuran normal, hanya dapat diketahui dengan palpasi, pembesaran tidak terlihat pada posisi tengadah maksimal
  • Tingkat IB : hanya terlihat pada posisi tengadah maksimal
  • Tingkat II : terlihat pada posisi kepala normal dan dapat dilihat dari jarak ± 5 meter
  • Tingkat III : terlihat nyata dari jarak jauh

Sasaran

  • Ibu hamil
  • WUS

Dosis dan kelompok sasaran pemberian kapsul yodium

  • Bayi < 1tahun : 100 mg
  • Balita 1-5 tahun : 200 mg
  • Wanita 6-35 tahun : 400 mg
  • Ibu hamil (bumil) : 200 mg
  • Ibu meneteki (buteki) : 200 mg
  • Pria 6-20 tahun : 400 mg

GAKY tidak berhubungan denga tingkat sosek melainkan dengan geografis

Spektrum gangguan akibat kekurangan yodium

  • Fetus : abortus, lahir mati, kematian perinatal, kematian bayi, kretinisme nervosa (bisu tuli, defisiensi mental, mata juling), cacat bawaan, kretinisme miksedema, kerusakan psikomotor
  • Neonatus : gangguan psikomotor, hipotiroid neonatal, gondok neonatus
  • Anak dan remaja : gondok, hipotiroid juvenile, gangguan fungsi mental (IQ rendah), gangguan perkembangan
  • Dewasa : gondok, hipotiroid, gangguan fungsi mental, hipertiroid diimbas oleh yodium

Sumber makanan beryodium yaitu makanan dari laut seperti ikan, rumput laut dan sea food. Sedangkan penghambat penyerapan yodium (goitrogenik) seperti kol, sawi, ubi kayu, ubi jalar, rebung, buncis, makanan yang panas, pedas dan rempah-rempah.

Pencegahan/penanggulangan

  • Fortifikasi : garam
  • Suplementasi : tablet, injeksi lipiodol, kapsul minyak beryodium

Posted by: lenteraimpian | February 24, 2010

PELVIC INFLAMANTORY DISEASE (PID)/ PENYAKIT RADANG PANGGUL (PRP)

Penyakit radang panggul (PRP) merupakan infeksi genitalia bagian atas wanita yang sebagian besar akibat hubungan seksual. Biasanya disebabkan oleh Neisseria gonore dan Klamidia trakomatis dapat pual oleh organisme lain yang menyebabkan vaginosis bakteria

Faktor resiko

  • Terpajan organisme penyebab
  • Pasangan seks lebih dari satu
  • Irigasi vagina
  • Pemasangan IUD/spiral
  • Berusia 25 tahun atau kurang

Tanda dan gejala (dapat tidak terlihat)

  • Nyeri ringan sampai berat pada abdomen bagian bawah
  • Rabas abnormal dari vagina
  • Uretritis
  • Metrorargia
  • Peritonitis (demam, mual, muntah)
  • Nyeri tekan pada gerakan serviks
  • Nyeri tekan pada adneksa uteri bilateral, kemungkinan terjadi pembesaran

Diagnosis

  • Kombinasi dari tanda dan gejala yang ada dengan atau tanpa gonore atau biakan klamidia positif
  • Abaikan kemungkinan lain yang dapat menjadi penyebab nyeri abdomen bagian bawah
  • Peningkatan leukosit pada sediaan basah
  • Peningkatan laju sedimentasi eritrosit

Dampak

  • Infertilitas
  • Kehamilan ektopik
  • Nyeri kronis abdomen bagian bawah
  • Jika hamil, persalinan prematur

Sikap bidan

  • Konsultasi
  • Merujuk

Servisitis akuta adalah infeksi dibawah endoserviks, seperti pada gonorhoe, post abortus atau post partum yang disebabkan streptococcus, staphylococcus dan lain-lain.

Tanda-tanda servisistis akuta :

  • Serviks merah
  • Edema serviks
  • Mengeluarkan cairan mukopurulen

Pengobatan

  • Pengobatan infeksi
  • Penyakit dapat sembuh tanpa bekas/menjadi servisitis kronika

Servisitis kronika adalah infeksi menahun akibat luka-luka pada serviks karena partus/abortus yang disebabkan masuknya kuman-kuman kedalam endoserviks dan kelenjar-kelenjarnya.

Gambaran patologis dapat ditemukan :

Serviks

  • Kelihatan normal
  • Pada pemeriksaan mikroskop ditemukan leukosit dalam stroma endoserviks
  • Pengeluaran secret agak putih-kuning

Portio

  • Sekitar ostium eksternum tampak kemerahan
  • Secret yang dikeluarkan terdiri atas mucus bercampur nanah

Sobekan pada serviks uteri lebih luas

  • Mukosa endoserviks lebih kelihatan dari luar (ekstroplon)
  • Mukosa lebih mudah kena infeksi dari vagina
  • Karena radang menahun, serviks bisa menjadi hipertropi dan mengeras
  • Secret mukosa purulen bertambah banyak

Pengobatan

  • Pap smear
  • Biopsi untuk memastikan tidak adanya Ca

Therapi

  • Dilakukan kanterisasi radial sehingga terjadi nekrosis
  • Jaringan yang meradang terlepas kira-kira 2 minggu, lambat laun diganti jaringan sehat
  • Bila radang menahun mencapai endoserviks jauh kedalam kanalis servikalis dilakukan ronisasi dengan mengangkat sebagian besar mukosa endoserviks
  • Jika infeksi sangat luas dilakukan amputasi serviks

Piometra adalah pengumpulan nanah di kavum uteri karena stenosis kanalis servikalis

Penyebab

  • Ca serviks uteri
  • Endometritis tuberkulosa
  • Amputasi serviks
  • Akibat radiasi
  • Penutupan ostium uteri karena involusio uterus sesudah menopause
  • Pada gonorhoe, ada kecenderungan perlengketan fibria pada ostium tuba abdominalis, menyebabkan penutupan ostium

Pada salpingitis GO akut, ada kecenderungan gonokokus menghilang dalam waktu kira-kira 10 hari, sehingga pembiakannya negatif. Salpingitis akut piogenik banyak ditemukan pada :

  • Infeksi puerperal atau pada abortus septic
  • Dapat juga disebabkan adanya tindakan misalkan kerokan

Infeksi dapat disebabkan oleh bermacam-macam kuman :

  • Streptococcus (aerob dan anaerob)
  • Staphylococcus
  • Eschericia
  • Clostridium welchii

Infeksi ini menjalar

  • Dari serviks uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limpeke parametrium terus ke tuba
  • Dapat pula ke peritonium pelvic disini timbul salpingitis interstisialis akuta

Salpingo Oofiritis/Adneksitis akuta

Terdiri dari :

  • Hidro salping : terdapat penutupan ostiumtuba abdominalis
  • Piosalping : dalam stadium menahun merupakan kantung dengan dinding tebal yang berisi nanah
  • Salpingitis interstisialis kronika : dinding tuba menebal dan banyak fibrosis serta ditemukan pengumpulan nanah sedikit ditengah-tengah jaringan otot
  • Kista tuba ovarial, abses tuba ovarial : bersatu dengan folikel ovarium, pada abses tuba ovarial piosalping bersatu dengan abses ovarium
  • Abses ovarial : jarang terdapat sendiri dari stadium akut dapat memasuki stadium menahun
  • Salpingitis tuberkulosa : merupakan bagian penting dari tuberculosis genital

Gejala-gejala :

  • Panas
  • Nyeri cukup kuat dibagian bawah sebelah kiri dan kanan
  • Bertambah sakit pada pekerjaan berat disertai sakit pinggang
  • Leukorea disebabkan oleh servisitis kronika
  • Haid lebih banyak dari biasa dengan siklus yang tidak teratur

Therapi keadaan sub akut :

  • Antibiotik spektrum luas
  • Tidak melakukan pekerjaan yang berat
  • Terapi diatermi
  • Terapi oerasi bila ada indikasi

Parametritis akuta terjadi bila kuman-kuman masuk limpe atau darah melewati batas uterus sampai ke jaringan ikat parametrium,kejadian ini muncul karena infeksi puerperal atau post abortus, juga akibat dari tindakan intra uterin

Penyebab : streptococcus dan staphylococcus

Gambaran klinik

  • Demam
  • Sakit perut bagian bawah sebelah kanan atau kiri
  • Disebelah uterus teraba tumor

Terapi

  • Sama dengan adneksitis
  • Jika ditemukan abses dilakukan pembukaan tumor

Peritonitis pelvika (pelvioperitonitis) sering terjadi bersamaan dengan adneksitis akuta

Gejala-gejala

  • Demam dan mual
  • Leucositosis
  • Nyeri lebih hebat
  • Terdapat defencemusculaire
  • Gerakan uterus menyebabkan rasa nyeri
  • Jika ada abses di kavum Douglas, teraba tumor di belakang uterus yang menonjol ke forniks vagina posterior

Terapi

  • Jika ada abses yaitu dengan kolpotomia posterior dan drainase
Posted by: lenteraimpian | February 24, 2010

MACAM-MACAM GANGGUAN MENSTRUASI

Menstruasi merupakan peluruhan dinding rahim yang terdiri dari darah dan jaringan tubuh. Kejadian tersebut akan berlangsung tiap bulan dan merupakan suatu proses normal bagi perempuan pada umumnya.

Usia normal perempuan mendapatkan haid untuk pertama kalinya (menarche) adalah 12 atau 13 tahun., tetapi ada juga sebagian perempuan yang mengalami haid lebih awal (usia 8 tahun) atau lebih lambat yaitu diatas 18 tahun. Menstruasi ini akan berhenti pada usia sekitar 40-50 tahun. Siklus normal terjadi setiap 21-35 hari sekali dengan lama 4-7 hari, jumlah darah haid normal sekitar 30-40 ml. Menurut hitungan para hitungan para ahli perempuan akan mengalami 566 kali haid selama hidupnya.

Sebagian perempuan mengalami haid yang tidak normal. Gangguan ini jangan didiamkan karena dapat berdampak serius, haid yang tidak teratur mislanya dapat menjadi pertanda seorang perempuan kurang subur (infertil). Gangguan yang terjadi saat haid dinilai normal jika terjadi selama dua tahun pertama setelah haid pertama kali.

Gangguan dan kelainan menstruasi ada beberapa macam, yaitu :

NYERI HAID (DISMENORRHOE)

Pada saat menstruasi perempuan kadang mengalami nyeri. Sifat dan tingkat nyeri bervariasi, tergantung dari ambang batas sakit perempuan tersebut masing-masing. Rasa nyeri yang berlebihan disebut dismenorrhoe.

Nyeri haid ada 2 macam:

  • Primer, timbul dari haid pertama dan akan hilang sendiri dengan berjalannya waktu, hal ini disebabkan oleh kestabilan hormon dalam tubuh atau posisi rahim setelah menikah dan melahirkan. Gejala ini tidak membahayakan. Gejala ini bisa timbul berlebihan karena dipengaruhi faktor psikis dan fisik (ketahanan tubuh)
  • Sekunder, biasanya baru muncul kemudian, yaitu jika ada penyakit atau kelainan menetap, seperti infeksi rahim, kista, tumor atau kelainan kedudukan rahim.

SINDROM PRAMENSTRUASI (Pre Menstrual Syndrome/Pre Menstrual Tension/PMT)

Adalah kumpulan gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus saat haid dan ovulasi.

Penyebab

  • Tidak seimbang antara hormon estrogen dan progesteron, antara lain defisiensi progesteron
  • Perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor dan sistem pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon seks dalam sel
  • Gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial
  • PMT lebih mudah terjadi pada wanita yang lebih peka terhadap efek siklus hormon ovarium yang normal

Kunjungan pasien ke klinik

a. Gejala pramenstrual fisiologis

  • Hanya terjadi pada fase luteal
  • Hilang total saat menstruasi
  • Tidak berat dan tidak mengganggu fungsi normal

b. Sindrom pramenstruasi

  • Hanya pada fase luteal siklus menstruasi
  • Hilang total saat menstruasi
  • Gejala berat menimbulkan efek besar pada fungsi normal dan hubungan  antar pribadi

c. Eksaserbasi penyakit medis pada premenstruasi

d. Eksaserbasi penyakit psikologis pada pramenstruasi

e. PMT yang sudah ada dan penyakit psikologis yang mendasari

  • Sulit dibedakan
  • Gejala mereda pada menstruasi tetapi hanya sampai ke tingkat penyakit yang mendasari

f. Penyakit psikologis nonsiklis

  • Gejala mirip PMT, tetapi tidak mereda sampai akhir menstruasi
  • Perlu diagnosis alternatif, antara lain gangguan kepribadian, depresi, penyalahgunaan obat-obatan dan lain-lain.

Gejala

  • Gejala psikologis yang khas, iritabilitas agresi, ketegangan, depresi, mood berubah-ubah, perasaan lepas kendali, emosi yang labil
  • Rasa malas dan mudah lelah
  • Nafsu makan meningkat, BB bertambah karena tubuh menyimpan air dalam jumlah yang banyak
  • Gejala fisik yang sering adalah pembengkakan dan nyeri pada payudara, dismenorrhoe (kram perut), sakit kepala, sakit pinggang, pegal-pegal, pingsan
  • Paling sering menyebabkan distress adalah gejala psikologis

Faktor yang meningkatkan resiko PMT

  • Wanita yang pernah melahirkan
  • Status perkawinan
  • Usia
  • Stress
  • Diet
  • Kekurangan zat gizi

Tipe dan gejala PMT, menurut Dr. Guy E. Abraham

  1. PMT tipe A (anxiety), ditandai dengan adanya rasa cemas, labil, sensitif dan rasa tegang
  2. PMT tipe H (hyperhidration), gejala ditandai pembengkakan, perut kembung, nyeri pada payudara, peningkatan BB
  3. PMT tipe C (craving), ditandai dengan rasa lapar, ingin mengkonsumsi makanan yang manis dan berkarbohidrat
  4. PMT tipe D (depretion), ditandai rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa

Waktu

  • Pada fase luteal siklus menstruasi dan reda pada akhir menstruasi
  • Adapula gejala yang timbul beberapa hari segera sebelum menstruasi atau sejak ovulasi langsung melalui fase luteal sampai akhir menstruasi

Dampak

  • Psikososial (berkurang kinerja, masalah perkawinan, bunuh diri, pembunuhan, pemukulan anak)
  • Kelainan medis(masalah perilaku, migrain, epilepsi, asma)

Kriteria diagnosis

  • Terjadi pada fase luteal
  • Menimbulkan dampak besar pada fungsi normal
  • Menghilang pada akhir menstruasi

Pengobatan

Tujuan

  • Memperbaiki anomali neuroendokrin
  • Menekan pemicu di ovarium

Hal-hal yang perlu dilakukan saat mengalami PMT

  • Mengurangi makanan bergaram, berupa tepung, gula, kafein dan coklat
  • Meningkatkan makanan tinggi kalsium dan vitamin C seminggu sebelum menstruasi
  • Konsumsi makanan berserat dan banyak minum air putih
  • Jika darah yang kelauar banyak, memperbanyak makanan yang emngandung zat besi

Hal-hal yang dilakukan untuk mengatasi sakit/kram perut saat menstruasi

  • Kompres dengan botol panas pada bagian yang terasa sakit
  • Mandi air hangat, sebagai aroma terapi menenangkan diri
  • Minum-minuman hangat yang mengandung kalsium tinggi
  • Menggosok perut atau pinggang yang sakit
  • Ambil posisi menungging sehingga rahim tergantung ke bawah dan relaksasi
  • Tarik nafas dalam-dalam untuk relaksasi
  • Minum analgetik/obat-obatan yang dinajurkan petugas kesehatan

Pertimbangan pada terapi

  • Usia pasien dan keinginan untuk hamil dalam waktu dekat atau lama (apakah mememrlukan kontrasepsi, pendekatan yang bersifat kontraseptif ataukah dapat dilakukan histerektomi?)
  • Beratnya gejala (apakah memerlukan tindakan invasif?)
  • Wanita mungkin hanya menerima metode non hormon, psikotropik, bedah
  • Sifat gejala
  1. SSRI (selevtive serotonin re-uptake inhibitor), efektif untuk gejala psikologis juga somatik
  2. Gejala payudara (evening primrose oil, danazol fase luteal, bromokriptin)
  3. Nyeri (anti inflamasi non steroid)
  4. Gejala somatik terutama kembung berespon terhadap spironolakton

Pendekatan terapi

Terapi non hormon

  • Anjuran untuk sering mengkonsumsi karbohidrat, tidak ditunjang oleh percobaan
  • Pemberian B6
  • Evening primrose oil (untuk gejala pada payudara)
  • Mineral (Ca dan Mg) mungkin bermanfaat
  • Terapi alternatif (olahraga dan relaksasi)
  • Psikoterapi
  • Obat psikotropik
  • Diuretik (spironolakton)
  • Inhibitor Pg (asam mefenamat dan natrium naproksen)

Terapi hormon

  • Progesteron/progestogen
  • Estrogen
  • Danazol
  • Analog agonis GnRH
  • Bromokriptin
  • Pil kontrasepsi oral

Pendekatan bedah

  • Histerektomi
  • Ooforektomi

AMENORRHOE

Yaitu tidak mendapatkan haid sama sekali

Penyebab

  • Hymen imperforate, yaitu selaput dara tidak berlubang sehingga darah menstruasi terhambat untuk keluar. Keluhan pada kejadian ini biasanya mengeluh sakit perut tiap bulan. Hal ini bisa diatasi dengan operasi
  • Menstruasi anovulatiore, yaitu rangsangan hormon-hormon yang tidak mencukupi untuk membentuk lapisan dinding rahim sehingga tidak terjadi haid/hanya sedikit. Pengobatannya dengan terapi hormon
  • Amenorrhoe sekunder, yaitu biasanya pada wanita yang pernah menstruasi sebelumnya. Penyebab amenorrhoe sekunder ini karena hipotensi, anemia, infeksi atau kelemahan kondisi tubuh secara umum, stress psikologis.

DARAH HAID YANG BANYAK

Ditandai dengan siklus menstruasi yang tidak teratur. Gangguan ini dapat disebabkan oleh infeksi penyakit kelamin, komplikasi pada kehamilan, penyakit kronis, trauma, konsumsi obat-obatan tertentu, adanya gangguan hormon atau kanker.

Tindakan-tindakan yang dilakukan

  • Pemeriksaan fisik terhadap kelenjar tiroid, hati dan vagina
  • Pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan darah, tes kehamilan, fungsi tiroid dan fungsi hati atau pemeriksaan hormonal

Pengobatan

  • Pemberian suplementasi zat besi dan antiprostaglandin selama haid
  • Pemberian asam folat
  • Pemberian anti koagulan (pembekuan darah) untuk mengatasi terjadinya anemia karena pengeluaran darah yang berlebihan.
Posted by: lenteraimpian | February 24, 2010

INFEKSI SALURAN REPRODUKSI (ISR) DAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)

Infeksi saluran reproduksi (ISR) adalah masuk dan berkembangbiaknya kuman penyebab infeksi kedalam saluran reproduksi. Kuman penyebab infeksi tersebut dapat berupa bakteri, jamur, virus dan parasit.

Perempuan lebih mudah terkena ISR dibandingkan laki-laki, karena saluran reproduksi perempuan lebih dekat ke anus dan saluran kencing. ISR pada perempuan juga sering tidak diketahui , karena gejalanya kurang jelas dibandingkan laki-laki.

Akibat ISR

Pada perempuan dapat menyebabkan kehamilan diluar kandungan, kemandulan, kanker leher rahim, meningkatkan resiko HIV, kelainan pada janin (BBLR, infeksi bawaan sejak lahir, bayi lahir mati dan bayi lahir belum cukup umur)

1. ISR endogen adalah jenis ISR yang paling umum di dunia. Timbul akibat pertumbuhan tidak normal, organisme yang seharusnya tumbuh normal didalam vagina, antara lain vaginosis bakteri dan kandidiasis yang mudah disembuhkan.

2. ISR iatrogenik atau yang berhubungan dengan prosedur medis adalah infeksi yang disebabkan masuknya mikroorganisme kedalam saluran reproduksi melalui prosedur medis yang kurang atau tidak steril, antara lain induksi haid, aborsi, pemasangan AKDR, peristiwa persalinan atau apabila infeksi sudah ada dalam slauran reproduksi bagian bawah menyebar melalui mulut rahim hingga ke saluran reproduksi bagian atas. Gejala yang mungkin timbul, antara lain rasa sakit disekitar panggul, demam tinggi secara tiba-tiba, menggigil , haid tidak teratur, cairan vagina yang tidak normal dan timbul rasa sakit saat berhubungan seksual.

3. PMS adalah sebagian ditularkan melalui hubungan seksual dengan pasangan yang telah terinfeksi.

Pencegahan ISR

  • Mencegah infeksi baru dengan memutus jalur penularannya
  • ISR endogen dapat dicegah melalui peningkatan kebersihan individu, peningkatan akses pada pelayanan kesehatan yang bermutu, promosi, mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan
  • ISR iatrogenik dapat dicegah melalui sterilisasi peralatan medis yang digunakan, skrining atau pengobatan terhadap ISR sebelum melaksanakan prosedur medis.
  • PMS dapat dicegah dengan menghindari hubungan seksual atau dengan melakukan hubungan seksual yang aman (monogami dan penggunaan kondom yang benar dan konsisten

Penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit yang cara penularannya terutama melalui hubungan seksual, baik secara heteroseksual maupun homoseksual. PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin yang ditularkan melalui hubungan seksual yang menyerang sekitar alat kelamin.

Hubungan organ-organ reproduksi dengan PMS

  • pada wanita PMS mengahncurkan dinding vagina/leher rahim, dengan atau tanpa gejala-gejala infeksi
  • pada pria, yang terinfeksi lebih dulu adalah saluran air kencing dan jika tidak diobati akan  menyebabkan keluarnya cairan dari penis dan berakibat sakit pada saat baung air kecil
  • PMS yang tidak diobati akan dapat mempengaruhi organ-organ reproduksi bagian dalam dan menyebabkan kemandulan baik pada pria maupun wanita

Bagian tubuh yang dapat terpengaruh PMS

  • Pada wanita, slauran indung telur, indung telur, rahim, kandung kemih, leher rahim, vagina, saluran kencing (urethra), anus
  • Pada pria, kandung kemih, vas deferens, prostate, penis, epididimis, testis, urethra, skrotum, seminal vesikel, anus

Alasan utama wanita lebih rentan tertular PMS dibanding pria

Saat berhubungan seksual, dinding vagina dan leher rahim langsung terpapar oleh cairan sperma, jiak sperma terinfeksi dengan PMS maka wanita tersebut akan terinfeksi. Jika wanita terinfeksi PMS, dia tidak selalu menunjukan gejala, namun besar kemungkinan infeksi meluas dan menimbulkan komplikasi. Banyak orang khususnya wanita dan remaja yang enggan untuk mencari pengobatan, karena mereka tidak ingin keluarga/masyarakat mengetahui jika mereka menderita PMS, akibatnya PMS baru diketahui saat sudah stadium lanjut.

Pada sebagian PMS terdapat beberapa kemungkinan :

  • Penularan penyakit tidak selalui melalui hubungan seksual
  • Penyakit dapat timbul pada orang yang belum pernah melakukan hubungan seksual
  • Sebagian penderita adalah korban keadaan diluar kemampuan mereka

Organisme penyebab PMS

  • Bakteri                  : gonore, sifilis dll
  • Virus                      : herpes genitalia, kondilomata akuminata,    hepatitis, AIDS dll
  • Protozoa              : trikomoniasis dll
  • Jamur                    : kandidiasis vagina dll
  • Ektoparasit         : kutu pubis

Keluhan/gejala PMS

  • Terdapat cairan nanah/keputihan yang tidak normal yang keluar dari saluran kencing (urethra) laki-laki/ vagina perempuan
  • Pada perempuan terjadi peningkatan keputihan, warnanya bis amenjadi lebih putih, kekuningan, kehijauan, kemerahmudaan dan bis aberbau tidak sedap/berlendir,
  • Pada pria rasa panas seperti terbakar atau sakit selama/sesudah BAK
  • Ulkus (borok) pada kelamin merupakan keluhan sekaligus gejala PMS yang umum dijumpai
  • Terdapat tonjolan-tonjolan kecil (papules) disekitar alat kelamin
  • Kemerahan disekitar alat kelamin
  • Rasa sakit di perut bagian bawah yang muncul dan hilang dan tidak berhubungan dengan menstruasi
  • Terdapat bercak darah setelah berhubungan seksual

Bahaya PMS

  • Morbiditas dan mortalitas
  • Infertilitas
  • Abortus
  • Kanker rahim
  • Merusak penglihatan, otak dan hati
  • Menular pada bayi
  • Rentan terhadap HIV/AIDS
  • Ada yang tidak dapat disembuhkan

Hal penting yang perlu diketahui

  • PMS dapat terjadi baik pada laki-laki ataupun perempuan
  • Penularan PMS dapat terjadi walaupun hanya sekali melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom dengan penderita PMS
  • Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap PMS
  • Perempuan lebih mudah terserang PMS dari pasangannya dibandingkan sebaliknya, karena bentuk kelaminnya dan luasnya permukaan yang terpapar oleh air mani pasangannya
  • Infeksi pada alat reproduksi perempuan sering tersembunyi dan tidak mudah terlihat oleh petugas yang kurang terlatih. Disamping itu, keluhannya pun tidak jelas dan perempuan sering merasa malu untuk menceritakan masalahnya dan diperiksa alat kelaminnya
  • ISR meningkatkan resiko penularan PMS/HIV/AIDS pada perempuan 10x besarnya
  • Beberapa PMS mungkin tidak menimbulkan gejala yang berarti pada perempuan, tetapi tetap dapat menularkan penyakit tersebut pada pasangannya
  • Tanda-tanda dan gejala PMS pada laki-laki biasanya tampak jelas sebagai luka atau duh tubuh, sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih awal
  • PMS sering tidak diobati dengan benar, sehingga mengakibatkan penularan dan penderitaan yang berkepanjangan. Kebanyakan PMS dapat diobati bila pengobatannya tepat dan pada saat yang tepat pula.
  • Komplikasi PMS seperti kemandulan sering dapat dicegah bila PMS segera diobati
  • Belum ada vaksin atau imunisasi untuk PMS
  • PMS memungkinkan kemungkinan tertular HIV/AIDS sebanyak 4x

Gonore

Etiologi : Infeksi ini disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, bakteri kokus, gram negatif

1. Anamnesis

  • Masa tunas 2-5 hari pada pria, pada wanita sulit ditentukan karena pada umumnya tidak menimbulkan keluhan/gejala (5%)
  • Keluhan

Pria

  • Gatal, panas waktu BAK, dissuria (nyeri saat berkemih), sering BAK, keluar duh putih atau kuning kehijauan dari ujung kemaluan yang kadang-kadang disertai darah, dapat timbul nyeri waktu ereksi
  • Gonore faring, akibat kontak orogenital, umumnya asimptomatik, kadang mengeluh nyeri tenggorokan
  • Infeksi rektum, pada hubungan seksual anus homoseksual, sering asimptomatik, kadang terdapat gambaran proktitis (rabas anus, nyeri, perdarahan, tenesmus)
  • Epididimo-orkitis sebagai komplikasi sekitar 5% pada pria dengan gonore uretra yang tidak diterapi

Wanita

  • Umumnya tanpa keluhan (80%), infeksi awal terutama mulut rahim. Bila ada keputihan biasanya berwarna putih, kuning kehijauan, agak kental. Bila mengenai saluran kemih timbul nyeri waktu BAK, dapat timbul bartholinitis. Infeksi lanjut menimbulkan nyeri perut bagian bawah karena salpingitis atau adneksitis.
  • Infeksi kelenjar paraurethra dimanifestasi sebagai eksudat mukopurulen pada pemijatan lembut urethra distal melalui vagina
  • Penyakit radang panggul (PRP)terjadi sebagai komplikasi sekitar 15% pada gonore yang tidak diobati
  • Abses bartholinitis terjadi pada 10% wanita yang terinfeksi

2. Pemeriksaan Klinis

Pria            : muara uretra kemerahan, bengkak, ektropion, disertai duh tubuh purulen

Wanita     : serviks erosi dan sekret pururlen, kadang nyeri perut bagian bawah

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan sediaan langsung duh tubuh yang diwarnai dengan pewarnaan gram. Bila memungkinkan lakukan biakan pada media Thayer-Martin

Sifilis

Etiologi : infeksi disebabkan Treponema pallidum, bersifat kronis. Sering diperoleh melalui hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi, dapat pula kongenital

1. Anamnesa

  • Masa tunas 10-90 hari
  • Stadium 1 : timbul ulkus di kemaluan, biasanya tunggal dan tidak nyeri
  • Stadium 2 : gejala prodromal, berupa nyeri sendi, sub febris, sukar menelan,    bintik merah di kedua telapak tangan dan kaki, tidak gatal
  • Stadium laten : tidak ada tanda-tanda laten
  • Stadium lanjut : kelainan ditemukan pada alat dalam atau susunan syaraf pusat

2. Pemeriksaan klinis

  • Stadium 1         : terdapat ulkus bulat/lonjong, tepi teratur, dinding tidak bergaung,   indoplen, teraba masa keras (indurasi), permukaan ulkus bersih, pembesaran kelenjar getah bening (KGB) setempat tanpa tanda radang.
  • Stadium 2         : kulit kemerahan, papul, papuloskuamosa hampir diseluruh tubuh terutama tangan dan kaki

3. Pemeriksaan penunjang

  • Menggunakan mikroskop lapangan gelap , bahan pemeriksaan dari lesi (serum) akan tampak treponema
  • Pemeriksaan antibodi dalam serum dengan tes RPR(rapid plasma reagen) /VDRL(veneral  disease research laboratory) kemudian di konfirmasikan dengan TPHA(treponema pallidum Haemagglutination Assay)

Klamidia

Pria

  • Masa inkubasi 3 minggu terdapat rabas mukopurulen pada uretra ,disuria, 25% tidak ada gejala
  • Proktitis akibat penularan klamidia melalui hubungan seksual per anus
  • Epididimitis merupakan komplikasi tersering infeksi klamidia yang tidak terobati

Wanita

  • Sebagian besar tanpa gejala , sebagian kecil peningkatan rabas vagina , disuria
  • Endoservisivitis
  • Komplikasi penyakit radang panggul (PRP) (20%)
  • Kadang kompliasi perihepatitis , dengan gejala ,nyeri, mual,anoreksia,demam ringan

Diagnosis : Deteksi DNA spesifik  dari sekresi genital

Vaginosis bakterialis

  • Belum terdapat bukti jelas ditularkan melalui hubungan seksual
  • Mungkin berkaitan dengan infeksi panggul pasca terminisasi infeksi luka operasi,  arbotus lanjut, KPD, Persalinan BBLR, infeksipostpartum.

Gambaran klinis

  • Peningkatan rabas vagina putih keabu-abuan bau seperti ikan
  • Pruritus bila terjadi candidiasis
  • Tidak terjadi vaginitis

Diagnosis : bersifat klinis yang diperkuat oleh beberapa uji mikrobiologis

Infeksi Protozoa (Trikomoniasis)

Penyebab trichomonas vaginalis , melalui hubungan seksual

Gambaran Klinis

Wanita

  • Rabas vagina kuning,encer,berbau,lecet vagina,disuria (nyeri berkemih),dispareunia (nyeri saat berhubungan)
  • Serviks strawberry (bintik-bintik kemerahan)
  • 25% tidak memperlihatkan gejala

Pria

  • Sebagian besar tanpa gejala
  • Protozoa ditemukan pada uretra dan urin

Diagnosis : pemeriksaan sediaan basah

Infeksi Jamur (kandidiasis)

Penyebab : Candida albicans, saprofit pada manusia, dapat menjadi patogen pada kehamilan, diabetes melitus (DM) tidak terkontrol, penggunaan antimikroba spektrum luas, pemakaian obat immunosuppresi, infeksi HIV

Gambaran klinis

Wanita

  • Pruritus vulva dan rasa terbakar, dispareunia
  • Eritema vulva dan sekitarnya
  • Edema labia minora
  • Jarang terjadi vaginitis

Pria

  • Nyeri dan gatal penis, rabas subpreputium
  • Preputium edematosa, fisura yang mengakibatkan fimosis

Diagnosis : secara mikroskopik sediaan dari forniks posterior vagina

Infeksi Virus

a. Herpes genitalis

Infeksi pada genital yang disebabkan oleh herpes simpleks virus (HSV) sering bersifat rekurens

1. Anamnesa

  • Masa tunas 3-7 hari, dapat lebih lama
  • Dimulai rasa terbakar dan gatal beberapa jam sebelum timbul lesi
  • Kadang disertai gejala konstitusi, lemas, demam, nyeri otot
  • Timbul gelembung cairan berkelompok, mudah pecah
  • Gejala lesi awal dapat lebih berat dan lama
  • Pada rekurens, biasanya didahului faktor pencetus (stress psikis, trauma, coitus yang berlebihan, makanan yang merangsang, alkohol, obat-obatan)

2. Pemeriksaan Klinis

  • Pada daerah genital ditemukan vesikel/erosi/ulkus yang berkelompok dan nyeri
  • Pembesaran kelenjar getah bening yang regional

3. Pemeriksaan Penunjang

  • Pemeriksaan Tzank : pewarnaan Giemsa atau Wrightt dari apusan vesikel/ulkus tampak sel raksasa berinti banyak

b. Kondilomata akuminata

Adalah penyakit seksual yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV)

1. Anamnesa

  • Masa tunas 1-8 bulan (rata-rata 2-3 bulan)
  • Pada daerah yang sering terkena trauma saat berhubungan seksual, timbul bintil-bintil seperti kutil, dapat membesar menyerupai jengger ayam di introitus atau di labia mayor, labia minora, perineum, perianal, vagina, urethra, serviks
  • Pada pria sering ditemukan di frenulum, preputium, kulit batang penis, urethra distal, perianal, skrotum. Sering ditemukan pada mereka yang tidak di sirkumsisi (sunat) atau dengan imunitas terganggu
  • Pada wanita minimal 50% mengeluh pruritus, rasa terbakar, nyeri vulva. Sering bersamaan dengan gejala keputihan

2. Pemeriksaan Klinis

Tampak papul vegetasi permukaan runcing seperti jari, atau papul dengan permukaan licin, multipel, tersebar diskret

3. Pemeriksaan Penunjang

  • Pada lesi yang meragukan lakukan pembubuhan asam asetat 5% pada lesi yang dicurigai. Setelah 5 menit lesi berwarna putih. Tes asam asetat
  • Bila ada fasilitas, lakukan kolposkopi atau histopatologi
Posted by: lenteraimpian | February 24, 2010

SIFILIS

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik. Selama perjalanan penyakit dapat menyerang seluruh organ tubuh, ada masa laten tanpa manifestasi lesi di tubuh, dapat ditularkan kepada bayi didalam kandungan.

Etiologi

Penyebab penyakit sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman (1905) berupa Treponema pallidum berbentuk spiral dan bergerak aktif memutar.

Patofisiologi

  • Ditularkan melalui kontak langsung dari lesi yang infeksius
  • Treponema masuk melalui selaput lendir yang utuh/kulit yang mengalami abrasi, menuju kelenjar limfe kemudian masuk ke peredaran darah dan diedarkan ke seluruh tubuh
  • Setelah beredar beberapa jam melalui pembuluh darah, infeksi menjadi sistemik
  • Masa laten dapat berlangsung bertahun-tahun/seumur hidup

Klasifikasi

Secara klinis sifilis dibagi menjadi 2 macam

Sifilis didapat

  • Sifilis stadium 1.2.3
  • Sifilis kardiovaskuler
  • neurosifilis

Sifilis congenital

  • sifilis congenital dini
  • sifilis congenital lanjut
  • stigmata

Tanda dan gejala

Sifilis stadium 1

  • Terjadi 10-90 hari setelah infeksi
  • Tanda klinis yang pertama berupa tukak, biasanya hanya berjumlah satu meskipun dapat juga multipel
  • Sedikit nyeri pada papula, papula berukuran 1-2 cm, teraba keras
  • Lesi bisa ditemukan di genitalia eksterna serta pada bibir, lidah, tonsil, puting susu, jari dan anus
  • Berbentuk bulat/lonjong, bersih, merah dan tidak ada tanda-tanda radang
  • Tterjadi pembesaran getah bening

Sifilis stadium 2

  • Terjadi 1-6 bulan stelah infeksi
  • Kebotakan pada rambut, alis dan bulu mata
  • Kondilomatalata
  • Lesi membran mukosa, lesi dapat berupa papula dan macula
  • Gejala penyakit sistemik mencakup demam ringan, sakit kepala, anoreksia dan nyeri pada tulang
  • Terjadi pembesaran kelanjar limfe

Sifilis stadium 3

  • Terjadi 1-2 tahun setelah infeksi
  • Lesi khas “GUMA” (jaringan tumor granuloma lunak di hati, otak, jantung. Tulang dan kulit), 3-7 tahun setelah infeksi dan besarnya bervariasi
  • Merusak semua jaringan, tulang-tulang rawan pada hidung dan palatum
  • Terdapat nodus dibawah kulit, besarnya bervariasi dari miliar sampai lentikular, merah dan nyeri bila ditekan, umumnya berbentuk lingkaran yang polistik

Sifilis kardiovaskuler

  • Terjadi 10-20 tahun setelah infeksi
  • Terjadi insufisiensi aorta/aneurisma, berbentuk kantung pada aorta torakal

Neurosifilis

  • Terjadi 10-20 tahun setelah infeksi
  • Terjadi kerusakan sisitem syaraf pusat (SSP) dan biasa terjadi di meningovaskuler dan parenkimosa
  • Terdapat gejala-gejala klinis penyakit SSP, misal :paralisis, syaraf cranial, perubahan kepribadian, hilangnya sebagian refleks

Sifilis congenital dini

  • Terjadi 3 minggu setelah bayi lahir
  • Kelainan berupa vesikel dan bula
  • Kelainan kulit berupa papula dan skuama seperti sifilis stadium 2
  • Kelainan pada selaput lendir berupa sekret yang keluar dari hidung, seringkali bercampur darah dan banyak mengandung treponema pallidum
  • Kelainan pada tulang berupa osteokondritis
  • Anemia hemilitik
  • Hepatosplenomegali
  • Kelainan cairan sumsum tulang belakang

Sifilis congenital lanjut

  • Biasanya timbul setelah 2 tahun, manifestasi klinis baru bisa ditemukan pada usia 7-9 tahun dengan adanya trias hutshinson
  1. Kelainan pada mata, keratitis interstisial  yang dapat mengakibatkan kebutaan
  2. Ketulian Neuron VIII
  3. Gigi Hutchinson ialah insivus 1 atas kanan dan kiri pada gigi, yang tetap mempunyai bentuk yang khas seperti obeng
  • Terdapat perforasi palatum, kelainan pada tulang tibia dan frontalis

Stigmata

  • Terlihat pada sudut mulut berupa garis-garis yang jalannya radian
  • Gigi hutchinson
  • Gigi molar pertama berbentuk seperti buah murbai
  • Penonjolan tulang frontal kepala

Diagnosis

Diagnosis berdasarkan

  • Anamnesa dan gambaran klinis
  • Pemeriksaan mikroskop
  • Pemeriksaan darah (tes serologic untuk sifilis, yang terdiri dari :
  1. Non treponemal : aglutinasi, VDRL (Veneral Disease Research Laboratory), RPR (Rapid Plasma Reagen), ikatan komplemen, wassermann
  2. Treponemal : FTA (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption), TPI (Treponema Pallidum Immunobilization)
  • Pemeriksaan cairan serebrospinal
  • Pemeriksaan rontgen

Pengobatan

Sifilis satdium 1, 2

  • Sifilis stadium 1 dapat sembuh secara spontan, cepat/almbat tergantung dari besar/kecilnya lesi
  • Penisilin G Benzatin 2,4 juta unit/1x suntikan IM
  • Penisilin G Prokain dalam aqua 600.000 IM selama 10 hari
  • Untuk yang lergi terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin hidroklorida 4×500 mg oral selama 15 hari, eritromisin 4×500 mg oral selama 15 hari

Sifilis stadium 3 dan sifilis kardiovaskuler

  • Penisilin G Benzatin 2,4 juta unit IM tiap minggu, selama 3 x berturut-turut, atau
  • Penisilin G Prokain 600.000 IM tiap hari selama 14 hari

Sifilis congenital

  • Benzatin penisilin 50.000 unit /Kg BB, pengobatan sifilis harus dilanjutkan dengan serangkaian tes VDRL setiap 3 bulan selama 1 tahun untuk emyakinkan bahwa pasien benar-benar sembuh
Posted by: lenteraimpian | February 13, 2010

INFERTILITAS (ketidaksuburan)

Infertilitas adalah ketidakmampuan wanita mewujudkan konsepsi, hamil, hingga melahirkan bayi atau ketidakmampuan laki-laki untuk menghamili wanita.

Infertilitas adalah kesulitan untuk memperoleh keturunan pada pasangan yang tidak menggunakan kontrasepsi dan melakukan hubungan senggama secara teratur.

Dua jenis infertilitas

1. infertilitas primer

pasangan tidak pernah mengalami konsepsi meskipun mereka melakukan hubungan seksual secara teratur (2-3 kali seminggu) selama paling sedikit 12 bulan tanpa proteksi/tanpa menggunakan alat kontrasepsi

2. infertilitas sekunder

pasangan sebelumnya mengalami konsepsi, tetapi kemudian tidak mampu konsepsi lagi meskipun mereka melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa proteksi selama 12 bulan.

Etiologi

Negara berkembang laki-laki 40%, wanita 40%, sekitar 20% karena kedua pasangan atau penyebab yang belum diketahui. Pada negara maju banyak wanita dan laki-laki yang mengidap infeksi traktus genitalis yang ditularkan secara seksual.

Faktor penyebab infertilitas pada wanita

1. penyumbatan kedua tuba

saluran telur (tuba fallopii) mempunyai fungsi yang sangat vital dalam proses kehamilan, yaitu sebagai tempat saluran spermatozoa dan ovum, tempat terjadinya konsepsi, tempat tumbuh dan berkembangnya hasil konsepsi menuju rahim, untuk dapat bernidasi. Gangguan fungsi saluran telur (tuba fallopii) akan menyebabkan pasangan infertil. Contoh gangguan tersebut antara lain terjadi perlengketan, penyempitan dan pembuntuan saluran.

2. gangguan ovulasi

gangguan yang berhubungan dengan ovulasi otomatis akan mengganggu pengelauran sel telur dari ovarium yang mengakibatkan gangguan proses konsepsi

3. masalah serviks

bentuk serviks yang abnormal (retrofleksi) akan mengakibatkan sulitnya spermatozoa masuk kedalam saluran telur yang mengakibatkan sulit terjadi proses konsepsi.

Polip (tumor jinak), stenosis, non histole mucus (kualitas lendir mulut rahim jelek)

4. masalah vagina (vaginismus, vaginistis dan lain-lain)

5. rahim (mioma, endometritis, endometriosis, uterus bicornis, arculatus, prolaps rahim)

6. ovarium

tumor, kista, gangguan menstruasi (amenore, oligomenore dengan atau tanpa ovulasi)

7. masalah endokrin

gangguan sistem hormonal wanita dan dapat disertai kelainan bawaan, gangguan pelepasan sel telur, gangguan pada korpus luteum, gangguan implantasi hasil konsepsi dalam rahim, hiper/hipotoroid.

8. faktor lain

prolaktinemia (tumor pada hipofisis)

faktor penyebab infertilitas pada pria

1. varikokel

suatu keadaan dimana pembuluh darah menuju bauh zakar terlalu besar, sehingga jumlah dan kemampuan gerak spermatozoa berkurang yang berarti mengurangi kemampuannya untuk menimbulkan kehamilan

2. hipospadia

muara saluran kencing letaknya abnormal, antara lain pada permukaan bauh zakar

3. ejakulasi retrograd

ejakulasi dimana air mani masuk kedalam kandung kemih

4. buah zakar tidak turun

5. kegagalan testikuler

dapat terjadi karena buah zakar atrofi atau bauh zakar tidak turun

6. kegagalan fungsional

kemampuan ereksi kurang, kelainan pembentukan spermatozoa, gangguan pada sperma

faktor lainnya

  • Penyakit Menular Seksual (PMS) tanpa pengobatan yang memadai
  • Kebiasaan merokok
  • Kebiasaan minum-minuman keras
  • Penggunaan NAPZA
  • Infeksi Saluran Reproduksi (ISR)

Pengelolaan infertilitas

1)      Pasangan suami isteri harus dipandang sebagai satu kesatuan biologis

2)      Kekurangan salah satu dari mereka akan dapat diatasi oleh yang lainnya sehingga kehamilan dapat berlangsung

3)      Pasangan suami isteri sebaiknya dapat mengikuti pemeriksaan yang telah dijadwalkan

4)      Suami dilakukan pemeriksaan fisik umum, fisik khusus dan analisis sperma

Langkah pemeriksaan infertilitas dilakukan sebagai berikut

1)      Anamnesa

Pada anamnesa dapat diketahui keharmonisan keluarga, lamanya menikah, hubungan seksual yang dilakukan (frekuensi, tingkat kepuasan, teknik hubungan seksual), apakah masing-masing pernah menikah dan pernah mempunyai anak, kesuburan (PMS, pengalaman operasi, merokok, minum-minuman keras, mengkonsumsi obat medis atau non medis)

2)      Pemeriksaan fisik

Tekanan darah, nadi, sushu tubuh, dan juga dilakukan foto toraks pada keduanya

3)      Pemeriksaan laboratorium

  1. Umum : dilakukan pemeriksaan laboratorium dasar secara rutin (darah, urine lengkap, fungsi hepar dan ginjal, gula darah)
  2. Khusus :

suami

pemeriksaan dan analisis sperma , syaratnya tidak berhubungan selama 3-5 hari , bahan yang ditampung harus mencapai lab dalam waktu 30 menit-1 jam, pemeriksaan setelah ejakulasi 2 jam di lab. Jumlah spermatozoa minimal 20 juta. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui volume, viscositas, bau, rupa, fruktosa, kemampuan menggumpal dan mancair kembali dari sperma

isteri

- Pemeriksaan dalam

    Diharapkan mendapat gambaran alat kelamin wanita secara umum, yaitu liang senggama, kelainan mulut rahim, kelainan rahim, pemeriksaan sonde untuk menentukan dalamnya rahim, kelainan fungsi alat reproduksi(perlekatan dengan sekitarnya, adanya tumor di ovarium, arah mulut rahim abnormal, sehingga dinasihatkan tentang teknik hubungan seksual).

    - Pemeriksaan terhadap ovulasi

    Dengan pemeriksaan suhu basal badan (Progesteron yang dikeluarkan oleh korpus luteum dapat meningkatkan suhu basal badan yang diukur segera setelah membuka mata, kapan sebenarnya terjadi ovulasi apakah saat suhu basal rendah atau meningkat masih belum jelas, biasanya saat ovulasi suhu badan bifasik)

        • Uji lendir serviks dan sitologi vagina (Dilakukan untuk mempelajari pengaruh progesteron dan estrogen pada lendir serviks dan vagina. Lendir serviks menjelang ovulasi menjadi lebih jernih, daya membenang bertambah)

        - Biopsi lapisan dalam rahim (endometrium)

          - Pemeriksaan terhadap saluran telur (Gangguan fungsi saluran telur akan menyebabkan pasangan infertilitas, gangguan perjalanan hasil konsepsi dapat menimbulkan kehamilan diluar kandungan)

          Pemeriksaan untuk menentukan potensi tuba fallopii dengan cara, antara lain:

          • Pertubasi (pemeriksaan dengan memasukan gas CO2 kedalam mulut rahim, rahim dan selanjutnya kedalam saluran tuba)
          • Hidrotubasi (memasukan cairan kombinasi antibiotik, preparat kortison dan aua steril dalam jumlah 15-20cc melalui mulut rahim menuju rahim selanjutnya ke tuba fallopii)
          • Histerosalpingografi (pemeriksaan dengan memasukan bahan kontras ke dalam rahim dan selanjutnya ke tuba fallopii)

            - Pemeriksaan khusus lainnya

            • Histeroskopi

            Pemeriksaan dengan menggunakan alat optik kedalam rahim untuk mendapat keterangan tentang mulut rahim, saluran telur, dan rahim(normal, edema, tersumbat oleh kelainan dalam rahim)tentang lapisan dalam rahim (karena pengaruh hormon, terdapat mioma, polip) dan keterangan lain yang diperlukan.

            • Laparoskopi

            Pemeriksaan dengan memasukan alat optik kedalam ruang abdomen untuk mendapatkan keterangan tentang keadaan indung telur (besarnya dan situasi permukaan, adanya folikel graff, korpus luteum/korpus albican, bentuk abnormal yang dijumpai), keadaan tuba fallopii, keadaan peritoneum, rahim dan sekitarnya, pengambilan cairan peritoneum untuk pemeriksaan sitologi

            • Ultrasonografi (USG)

            Sangat penting terutama vaginal ultrasonografi untuk mendapatkan gambaran lebih jelas situasi anatomi alat kelamin bagian dalam mengikuti tumbuh kembang folikel graff yang matang, epnuntun aspirasi ovum pada folikel graff untuk bayi tabung. USG vaginal didahului pemberian pengobatan klomifen sitrat/obat perangsang indung telur

            • Pemeriksaan uji pasca senggama

            Untuk mengetahui kemampuan tembus spermatozoa menyerbu lendir serviks, pemeriksaan jumlah spermatooa, hal ini dilakukan saat masa ovulasi hari ke 12, 13, 14 menstruasi

            • Pemeriksaan hormonal

            Untuk mengetahui tentang hipofise dan ovarial aksis, hormon yang diperiksa FSH, LH, estrogen, progesteron dan prolaktin.

            Seluruh pemeriksaan diharapkan selesai dalam waktu tiga siklus.

            Penatalaksanaan pasangan infertil

            1. Penyebab idiopatik

              • Setelah dilakukan pemeriksaan semuanya baik, tetapi pasangan tersebut belum juga hamil, faktor yang diperkirakan antara lain adalah stress karena tidak hamil misalnya karena dikejar makin tuanya umur.
              • Masalah alergi, biasanya masalah yang kompleks, masing-masing pasangan biasanya berpisah secara baik-baik dan dengan pasangan baru menjadi hamil
              • Keyakinan terhadap Alloh subhanahu wata’ala disamping berobat, juga harus disertai doa yang tulus agar dikaruniai keturunan

              2. Faktor hormonal

                Bervariasi, tergantung gangguan hormonnya, gangguan pada proses ovulasi diinduksi ovulasi dengan klomifen sitrat dan lainnya, tingginya prolaktin diobati dengan bromokriptin atau parlodel, gangguan kurangnya progesteron dapat diobati dengan progesteron atau sejenisnya

                3. Kelainan tuba

                  Infertil diobati dengan bedah rekonstruksi tuba, kegagalan fungsi tuba dapat diselesaikan dengan rekayasa canggih (bayi tabung)

                  4. Bila semua usaha yang telah diupayakan gagal, maka bersabarlah dan ikhlas dengan segala ketetapanNya dan jika menginginkan untuk mengadopsi anak, maka sebaiknya dipikirkan baik-baik terlebih dahulu, bagaimana hukumnya secara agama, peraturan hukum yang berlaku maupun adat/norma di masyarakat.

                    Posted by: lenteraimpian | February 13, 2010

                    PAPANICOLAU SMEAR (PAP SMEAR)

                    Kanker sistem reproduksi meliputi kanker leher rahim, payudara, indung telur, rahim dan alat kelamin perempuan

                    Kanker leher rahim merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di negara berkembang, dan menempati urutan kedua terbanyak setelah kanker payudara. Di Indonesia, angka kejadian kanker leher rahim diperkirakan sekitar 50 diantara 100.000 penduduk.

                    Wanita yang termasuk dalam kelompok beresiko tinggi terkena kanker leher rahim (serviks) adalah wanita yang :

                    • Melakukan hubungan seksual pertama kali dibawah umur 18 tahun
                    • Mempunyai banyak pasangan seksual
                    • Pasangan seksualnya mempunyai banyak pasangan seksual
                    • Paritasnya tinggi
                    • Mempunyai riwayat menderita ISR/PMS terutama Virus Human Papilloma (HPV)

                    Ciri-ciri yang perlu dicurigai akan adanya kanker leher rahim

                    • Adanya cairan vagina abnormal/duh vagina
                    • Perdarahan diantara waktu haid atau haid dengan perdarahan hebat
                    • Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual
                    • Paritas tinggi dan diatas usia 30 tahun

                    Cara termudah untuk mengetahui secara dini kanker leher rahim adalah melalui pemeriksaan pap smear, yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil usapan sel dan lendir leher rahim untuk mengetahui apakah ada perubahan pada sel secara mikroskopis.

                    Untuk mengetahui secara dini kanker leher rahim dianjurkan kepada para wanita untuk melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur paling tidak sekali setahun :

                    • Pada umur berapapun dalam usia subur
                    • Telah berhubungan seks lebih dari 1 tahun
                    • Ada/tidak ada cairan vagina yang mncurigakan

                    Papanicolau dan Traut, 1943

                    Mengemukakan pemeriksaan sitologi (pengecatan) dari cairan liang senggama. Dan cairan apa saja untuk menetapkan secara dini kemungkinan adanya keganasan. Dikemukakan bahwa sel yang lepas dapat di cat dan diperiksa untuk mendapatkan keterangan tentang kemungkinan keganasan secara dini.

                    Cairan yang dapat diperiksa adalah cairan liang senggama untuk kecurigaan terhadap keganasan tubuh rahim, atau keganasan saluran telur (indung telur), cairan yang berasal dari luka alat kelamin luar.

                    Teknik pengambilan cairan

                    Bagian luar

                    Dapat langsung dengan kaca objeknya memakai lidi kapas dan selanjutnya dioleskan secara merata kepada kaca objek. Memakai alat khusus dan selanjutnya diolesi pada kaca objek.

                    Liang senggama

                    Dibuka dengan spekulum cocor bebek sehingga mulut tampak. Kapas lidi atau alat khusus dipakai mengambil cairan dan selanjutnya dioleskan pada kaca objek.

                    Setelah dioleskan pada kaca objek dikeringkan, difiksasi dengan alkohol dan dikirimkan ke dokter ahli patologi untuk di cek dan diperiksa sebagaimana mestinya.

                    Syarat utama

                    Syarat utama cairan yang akan diambil adalah tidak boleh bercampur cairan lainnya yang dapat mengganggu pemeriksaan.

                    Oleh karena itu, dapat dirinci sebagai berikut

                    • Caiaran akan diambil di bagian luar genitalia. Biarkan sebagaimana adanya jangan dicuci sekalipun berbau
                    • Cairan liang senggama jangan dicuci menjelang pengambilan bahan
                    • Jangan melakukan seks sedikitnya 3 hari
                    • Terlihat disini bahwa pengambilan pap smear tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi metode ini mempunyai keuntungan yang sangat besar

                    « Newer Posts - Older Posts »

                    Categories

                    Follow

                    Get every new post delivered to your Inbox.

                    Join 26 other followers