Posted by: lenteraimpian | February 24, 2010

HIV/AIDS

HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus), sejenis retrovirus. Merusak sel T helper dan sel tubuh lainnya, yaitu sel otak, sel usus dan sel paru. Sel T helper merupakan titik pusat sistem pertahanan tubuh, dimana jika sistem pertahanan tubuh lemah, maka kondisi ini disebut AIDS.

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndroma) yaitu sindrom atau kumpulan gejala dan tanda penyakit akibat ketidakmampuan atau menurunnya sistem pertahanan tubuh oleh karena adanya virus HIV dalam tubuh.

HIV positif, sebagian besar tidak menampakan gejala, namun adapula yang timbul gejala umum seperti influenza, yang akan hilang dengan sendirinya (6 bulan-10 tahun), pada masa ini penderita dapat menularkan penyakit pada orang lain. Sebelum timbul gejala AIDS, timbul gejala non spesifik yang disebut AIDS RELATED COMPLEX (ARC) yang berupa gejala mayor dan minor.

Gejala mayor

  1. Pada orang dewasa
  • Penurunan BB lebih dari 10 kg
  • Diare kronik lebih dari 1 bulan
  • Demam kontinu/intermitten lebih dari 1 bulan
  1. Pada anak-anak
  • Penurunan BB atau pertumbuhan lambat yang abnormal
  • Diare kronik lebih dari 1 bulan
  • Demam lebih dari 1 bulan

Gejala minor

  1. Pada orang dewasa
  • Batuk lebih dari 1 bulan
  • Dermatitis pruritus umum
  • Herpes zooster rekurens
  • Candidiasis orofaring
  • Limfadenopati umum
  • Herpes simpleks diseminata kronis progresif
  1. Pada anak-anak
  • Limfadenopati umum
  • Candidiasis orofaring
  • Infeksi umum yang berulang (otitis, faringitis dan lain-lain)

Gejala AIDS yang lengkap adalah gejala ARC disertai satu atau dua penyakit oportunistik

  • Pneumocytis carinii (infeksi parasit pada paru-paru)
  • Sarcoma kaposi (sejenis kanker  yang tersebar pada kulit/mulut)
  • Infeksi oportunistik lainnya (infeksi jamur pada esofagus, virus sitomegali pada otak paru, infeksi lainnya pada otak antara lain toksoplasmosis, kriptospordiosis)

Penyakit-penyakit pada AIDS

  • Kandidiasis bronkus, trakea atau paru
  • Kandidiasis esofagus
  • Kanker cervix, invasif
  • Koksidioidomikosis diseminata
  • Kriptokokosis ekstrapulmoner
  • Kriptosporidiosis intestinal kronis (>1 bulan)
  • Sitomegalovirus (diluar hati, limfa, dan kelenjar getah bening)
  • Retinitis sitomegalovirus (dengan kehilangan penglihatan)
  • Ensefalopati yang berhubungan dengan HIV
  • Herpes simplex : ulkus kronik (>1 bulan), bronkhitis, pneumonitis, esofagitis
  • Histoplasmosis diseminata
  • Isosporiasis intestinal kronik (>1 bulan)
  • Sarcoma kaposis
  • Limfoma burkitt
  • Limfoma immunoblastik
  • Limfoma primer pada otak (limfoma sistem syaraf pusat)
  • Mycobacterium avium kompleks atau penyakit yang disebabkan M. Kansasil diseminata
  • Penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis
  • Penyakit yang disebabkan spesies lain mycobacterium atau spesies tidak teridentifikasi diseminata
  • Pneumonia karena pneumocystis jiroveci (dahulu carinii)
  • Pneumonia rekuren
  • Leukoensefalopati multifokla progresiv
  • Septikemia salmonella rekurens
  • Toxoplasmosis otak (ensefalitis)
  • Sindrom penurunan berat badan karena HIV

Penyakit AIDS pada anak tetapi tidak ada pada orang dewasa

  • Infeksi bakterialis rekuren ganda
  • Pneumonia interstitialis limfoid/hiperplasia limfoid pulmoner

Virus HIV hidup didalam 4 cairan tubuh manusia

  • Cairan darah
  • Cairan sperma
  • Cairan vagina
  • Air susu ibu

Penularan HIV

Terjadi bila ada kontak atau pertukaran cairan tubuh yang mengandung virus

  • Hubungan seksual baik homo maupun heteroseksual
  • Transfusi darah dan transplantasi organ
  • Jarum suntik, akupuntur, tindik, tato
  • Ibu hamil kepada janinnya
  • Lewat cairan darah

Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misal pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna narkotika, penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit (tindik, tato, akupuntur, alat facial)

  • Lewat cairan sperma dan cairan vagina

Melalui hubungan seksual penetratif (penis masuk ekdalam vagina atau anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seksual lewat vagina) atau tercampurnya cairan sperma dengan darah yang mungkin terjadi dalam hubungan seksual lewat anus.

  • Lewat ASI

Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif dan melahirkan lewat vagina kemudian menyusui bayinya dengan ASI. Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (mother-to-child) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.

HIV tidak ditularkan melalui

  • Bersalaman, bersentuhan, berciuman, berpelukan dan kegiatan sehari-hari lainnya
  • Keringat, gigitan serangga atau pun nyamuk
  • Makan dan minum bersama atau pemakaian lata makan dan minum bersama
  • Pemakaian fasilitas umum bersama seperti telepon umum, WC umum dan kolam renang
  • Batuk, bersin, ingus, meludah

Hal-hal yang perlu diketahui tentang HIV/AIDS

  • Sekali virus HIV masuk kedalam tubuh, virus tersebut akan menetap dalam tubuh selamanya
  • Virus HIV hidup dalam darah, air mani, cairan didalam jalan lahir, air liur, air mata  dan cairan tubuh lainnya
  • Sebagian besar infeksi HIV ditularkan melalui hubungan seksual, disamping penularan melalui jarum suntik dan transfusi darah serta penularan dari ibu kepada janinnya
  • HIV tidak hanya menular pada kaum homoseksual
  • Perempuan 5X lebih mudah tertular HIV/AIDS daripada laki-laki, karena bentuk alat kelamin perempuan yang lebih luas permukaannya sehingga mudah terpapar oleh cairan sperma yang tinggal lebih lama
  • Perlukaan pada saluran genital memudahkan masuknya virus HIV
  • Hubungan seksual melalui anus lebih berisiko dalam penularan daripada cara hubungan seksual lainnya, karena jaringan anus lebih lembut.
  • Kekerasan seksual atau hubungan seksual dengan gadis remaja lebih mudah terjadi penularan

Pencegahan penularan HIV/AIDS

  • Melakukan hubungan seksual hanya dengan satu pasangan yang setia
  • Mempunyai perilaku seksual yang bertanggung jawab dan setia pada pasangan serta menghindari hubungan seksual diluar nikah
  • Setiap darah transfusi dicek terhadap HIV, dan donor darah kepada sanak saudara lebih sehat dan aman daripada donor darah profesional.
  • Menghindari injeksi, pemeriksaan dalam prosedur pembedahan yang tidak steril dari petugas kesehatan yang tidak bertanggung jawab
  • Selalu menggunakan jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan injeksi atau proses lain yang mengakibakan terjadinya luka
  • Pada mereka yang mempunyai pasangan HIV positif harus menggunakan kondom dengan hati-hati, benar dan konsisten
  • Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif harus mengetahui semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya sehingga dapat bijaksana dalam mengambil keputusan untuk menyusui bayinya dengan ASI
  • Untuk bidan sudah seharusnya menerapkan prinsip langkah APN dalam menolong persalinan

Tes HIV

Adalah suatu tes yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terifeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi adanya antibodi HIV didalam sampel darahnya

Manfaat tes HIV

  • Semakin cepat diketahui status HIV, semakin banyak hal positif yang bisa dilakukan penderita, sehingga ODHA akan berupaya untuk tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain
  • Untuk mengetahui perkembangan kasus HIV/AIDS serta untuk meyakinkan bahwa darah untuk transfusi dan organ untuk transplantasi tidak terinfeksi HIV

Persyaratan uji HIV

  • Sukarela
  • Informed consent
  • Pre dan post konseling
  • Rahasia

Prosedur uji

  • Konseling pra uji/pre test yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang yang menjalani test diambil, dimana hal ini bermanfaat untuk meyakinkan orang terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak serta mempersiapkan dirinya bila hasil tes ternyata positif.
  • Pernyataan tertulis kesediaan
  • Pengambilan sampel darah
  • Hasil uji disampaikan langsung oleh konselor, dirahasiakan dan dibaca sendiri
  • Konseling pasca uji/post test, yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil test diketahui baik hasilnya negatif ataupun positif. Konseling post test sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengetahui cara menghindari penularan pada orang lain serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin hidup secara positif. Untuk yang hasilnya negatif konseling post test bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa datang.

Tempat uji

  • RS atau laboratorium tertentu
  • Balai laboratorium kesehatan yang ada disetiap provinsi
  • PMI

Jenis uji untuk mendeteksi infeksi HIV

  • Uji ELISA (enzyme linked immunosorbent assay), memiliki sensitivitas tinggi namun spesifikasinya rendah. Bila tes ELISA positif maka harus dikonfirmasi dengan Test Western Blot
  • Uji Western blot, yaitu jenis tes yang mempunyia spesifikasi tinggi namun sensitifitasnya rendah. Karena sifat test ELISA dan Western Blot berbeda, maka biasanya harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang akurat.
  • Nucleic acid amplification technologies (NAT), yaitu tes yang mampu mendeteksi antigen/bagian dari virus
  • Immuno fluorocent assay
  • Dot enzyme immuno assay
  • Uji antigen PCR (polymerase chain reaction)
  • CD4/cluster differentiation (sel limfosit T), yaitu jenis tes dengan menghitung jumlah sel darah putih
  • VL, yaitu jenis tes yang digunakan untuk menghitung jumlah virus

Pengobatan

Berguna untuk menghambat perkembangan virus HIV adalah AZT (azidothimidine), DDI (dideoxynosine), DDC (dideoxycydine).

Bila seseorang ingin memulai pengobatan antiretroviral (ARV), WHO telah mensyaratkan 4 hal, yaitu :

  • Hasil test ELISA positif
  • Ada gejala klinis
  • Pemeriksaan CD4 < 200
  • Pemeriksaan hitung limfosit total < 1200

Terapi pada HIV/AIDS

Pemberian terapi ARV ada 4 tahap yaitu :

  1. Tahap 1, keadaan dimana pasien terinfeksi HIV tapi tidak mnimbulkan gejala simptomatis
  2. Tahap 2, yaitu tahap 1 ditambah penurunan BB<10 kg dari BB semula, cacar air, sariawan, ISPA
  3. Tahap 3, kehilangan BB >10kg dari BB semula ditambah diare kronis yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, demam berkepanjangan, sariawan parah, tumbuhnya rambut pada lidah, TBC, infeksi-infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan kondisi lain yang menyebabkan pasien harus lebih banyak terbaring di tempat tidur sampai setengah bulan dalam sebulan terakhir.
  4. Tahap 4, meliputi semua gejala klinis yang terkait dengan AIDS ditambah dengan jumlah hari dimana pasien terbaring sakit lebih dari setengah bulan dalam sebulan terakhir.

Obat-obatnya adalah AZT/3TC diberikan bersama Abacavir, efavirens, nevirapine, nelfinavir atau ritonavir yang diperkuat dengan indinavir, iopinavir atau saquinavir.

Program penanggulangan HIV/AIDS

  • Program KIE=BCC=KPP

Behaviour Change Communication (BCC) atau Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) merupakan kegiatan penjangkauan/pendampingan untuk memberikan informasi dan pendidikan keterampilan tentang pencegahan HIV/AIDS serta promosi penerapan pola hidup sehat bagi populasi beresiko yang diberikan secara teratur dalam jangka waktu tertentu.

  • Program kondom 100%

Kegiatan yang memberikan penekanan pada pendidikan dan promosi pemakaian kondom sebagai upaya menekan meluasnya penularan HIV/AIDS

  • Program Infeksi Menular Seks (IMS)

Layanan kesehatan IMS merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengobatan rutin masalah IMS bagi pekerja seks perempuan, pria dan waria.

  • Program Harm Reduction

Pencegahan dan penanganan HIV/AIDS yang dilaksanakan dengan pendekatan, harm reduction of IDUs atau diterjemahkan menjadi pengurangan dampak buruk pengguna narkoba suntik, merupakan pendekatan pragmatis kesehatan guna merespon ledakan infeksi HIV/AIDS secara khusus dikalangan IDUs

  • Program VCT (Voluntary Counceling & Testing)

Layanan VCT adalah program pencegahan sekaligus jembatan untuk mengakses layanan manajemen kasus (MK) dan CST (perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA). Mencakup pre test konseling, testing HIV dan post test konseling.

  • Program CST (Care, Support & Treatment)

Program perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA adalah bagian hilir dari program penanggulangan HIV/AIDS secara komprehensif, layanan CST merupakan layanan lanjutan dari layanan VCT, CST tidak dilakukan tanpa layanan VCT.

Pendampingan

Tujuannya membantu ODHA beradaptasi terhadap kondisinya, termasuk rasa malu, bersalah dan marah sehingga ia bersikap lebih positif dalam menghadapi problemanya.

Konseling keluarga

Bertujuan untuk membantu keluarga untuk menerima kondisi ODHA, termasuk dalam melewati fase kritis sehingga bersikap mendukung ODHA.

Terapi kelompok

Berupa terapi terhadap kelompok ODHA dengan tujuan saling memberi dukungan, serta saling membantu menyelesaikan problem individual yang sering dihadapi oleh tiap-tiap ODHA.

Pengaruh infeksi HIV terhadap kehamilan

  • Abortus
  • Prematuritas
  • Gangguan pertumbuhan intrauterin
  • Kematian janin
  • Penularan pada janin

Pilihan reproduksi pasangan ODHA

  • Tidak mempunyai anak (adopsi)
  • Memiliki anak denagn pencegahan infeksi, yaitu pada laki-laki dengan pencucian sperma dan pada perempuan dilakukan inseminasi buatan
  • ARV (anti retrovirus)
  • Seksio caesarea
  • Tidak menyusui

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: